FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 91


__ADS_3

Andra mengusap puncak kepala Narra. Mereka berbaring di tempat tidur mereka dalam kamar Andra.


Setelah tadi makan malam dan bercerita dengan keluarga, Andra dan Narra pamit untuk istirahat. Sementara Indra pamit untuk mengantar Rea pulang.


Andra menggunakan kesempatan sebelum tidur untuk bicara dari hati ke hati dengan istrinya. Dia tidak mau istrinya terus kepikiran perkataan orang lain.


"sayang, sekarang cerita sama aku apa yang mengganggumu ?" tanya Andra lembut.


Narra menatap suaminya. Dia dilema ingin bercerita karena hal itu menyangkut urusan bisnis Andra, dia tidak mau suaminya langsung mengambil keputusan karena emosi.


"tapi ka Nda janji jangan langsung emosi. Mungkin aku saja yang terlalu sensi" kata Narra.


Andra mengangguk.


"tadi Monalisa bilang aku biasa saja jadi istrimu" ujar Narra.


"trus kenapa kamu pikirkan ? dia bukan siapa-siapa kita" kata Andra.


"tapi dia rekan bisnismu, kalo dia saja bilang begitu berarti aku tidak layak untuk mendampingimu dalam acara penting yang nantinya bertemu rekan bisnismu yang lain" jelas Narra.


Andra menangkup wajah istrinya.


"hey, apa aku mempermasalahkannya ? keluargaku ? Tidak sayang... Kami semua sangat menyayangimu. Kami akan selalu menjagamu dari orang-orang seperti Monalisa. Sudah, jangan dipikirkan. Kamu itu istimewa karena aku bisa tergila-gila sama kamu. Aku tidak sanggup kalo sampai kehilanganmu" jelas Andra.


Narra memegang pipi suaminya.


"terima kasih ka Nda, aku juga sangat cinta sama ka Nda. Aku ingin pantas jadi istri ka Nda" katanya.


"kamu pantas, sangat pantas" kata Andra seraya memeluk istrinya.


"ka Nda, aku tidak ingin ka Nda memutuskan hubungan bisnis dengan Monalisa. Aku sudah merasa lebih baik" kata Narra.


"baiklah sayang, kalo itu maumu. Padahal tadinya aku ingin memutuskan hubungan kerjasama dengan dia karena tidak ingin kamu merasa tidak nyaman" kata Andra.


"aku baik-baik saja ka Nda" Narra meyakinkan suaminya.


Pelukan Andra terlepas.


"bolehkah aku ?" Andra menatap Narra isyarat meminta.


Narra mengangguk.


Setelah mendapat persetujuan dari istrinya, Andra mulai mencium bibir istrinya. Dan mereka melakukan moment penuh cinta mereka.


*


Paginya, Narra membantu pelayan membuat sarapan. Bunda Serena yang baru datang, hanya menggelengkan kepala melihat menantunya.


Mereka tidak pernah mengharuskan Narra untuk membantu di dapur karena pelayan bisa mengurusnya. Hanya saja menantunya itu ingin melakukannya.


"Na, sudah.. Kamu duduk disini saja dengan bunda" tegur bunda Serena.


"iya bunda, sedikit lagi. Narra akan membuat kopi dan teh dulu" sahut Narra.


"bik, saya mau jus tomat ya" kata bunda Serena pada pelayannya.


"biar Narra buatkan bunda" tawar Narra.


"baiklah sayang, terima kasih" ucap bunda Serena.


Tak lama, ayah Hadinata dan yang lainnya sudah duduk di mengelilingi meja makan. Hanya Andra yang belum ada disana.

__ADS_1


"Narra kenapa kamu ikut bantu ? Sudah kamu gabung disini saja" kata Diandra.


"tidak apa kak Di" jawab Narra.


Narra bergegas membawa nampan minumannya ke meja makan. Dia menyuguhkan jus tomat di depan bunda Serena.


"terima kasih Na" ucap bunda.


"sama-sama bunda"


"aku mau dong, bik... Buatkan aku jus buah naga ya" kata Diandra.


"Vinand juga... Aku mau jus jeruk mom" ujar keponakan Andra itu.


"biar aku yang buat ya kak" kata Narra.


"sudah sayang, kamu liat suamimu dulu. Biar bibik yang buat jus mereka" cegah bunda Serena.


"iya Na, nanti lain kali saja. Kamu sebaiknya ke suamimu. Tumben, Andra lambat keluar kamar" kata Diandra.


"hmm kakak pengantin lama, lupa ya pengantin baru bagaimana" goda Indra.


Narra tersipu malu.


"kamu... makanya kamu cepat juga jadi manten. Biar tau rasanya" sergah ayah Hadinata.


Indra hanya nyegir.


"apa Andra belum bangun ya, waktu awal kalian menikah dia langsung keluar kamar begitu kamu tidak ada di sebelahnya" komen bunda Serena.


"pastinya masih tidur, kecapean bunda. Rambut Narra saja masih basah" goda Indra lagi.


Narra hanya tersenyum.


"gampang, aku tinggal berlindung pada Narra" sahut Indra.


Semuanya terkekeh.


Indra benar, walau bagaimanapun kesalnya Andra tapi kalau sudah Narra yang menenangkan dia akan terdiam luluh lantak. Sifat emosional yang berlebihannya juga sudah mulai berkurang. Keluarganya bersyukur Andra sudah tidak menyakiti dirinya sendiri lagi.


"Narra pamit dulu ke kamar. Permisi ayah, bunda, semuanya" pamit Narra.


Semua mengangguk.


*


Narra membuka pintu kamar. Dia melihat suaminya masih berada dalam selimut tebalnya. Semalam mereka entah tertidur jam berapa, Narra sudah tidak melihat jam lagi karena langsung tertidur setelah mereka membersihkan diri.


Dia menutup pintu dengan pelan karena tidak ingin suaminya kaget.


Dengan pelan dia naik keatas tempat tidur. Dia mengusap pipi suaminya lalu mencium pipi suaminya.


Andra mengeliat. Matanya terbuka. Dia segera meraih tengkuk istrinya agar jarak mereka dekat. Dia mengecup bibir istrinya.


"morning kiss sayang" ucapnya setelah tautan mereka terlepas.


Narra tersenyum.


"sayang, semuanya sudah menunggu di meja makan" ujar Narra.


"jam berapa sekarang ?" tanya Andra.

__ADS_1


"hampir jam tujuh, kamu mandi ya. Aku siapkan pakaianmu" kata Narra.


Andra mengangguk. Dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


*


Pagi ini Andra tidak ke perusahaan. Dia mengajak istrinya untuk ikut ke rumah sakit karena hari ini hasil tes DNA Faya keluar.


Dia juga sudah mengabari Friends kecuali Faya tentang ini. Mereka akan segera menuju rumah sakit. Walaupun nantinya mereka tidak ikut masuk untuk mendengarnya langsung karena dokter Hadinata meminta privasi di ruangannya untuk mendengar hasil tesnya.


Friends akan menunggu di luar.


Andra dan Narra masuk kedalam ruangan ayah Hadinata. Disana tampak sudah ada papa Farid Angkasa dan mama Maya beserta Richard Davidson dan Melani Davidson. Mereka duduk bersama ayah Hadinata dan bunda Serena.


"kalian berdua duduklah" kata ayah Hadinata.


Andra dan Narra duduk di sofa antara keluarga Davidson dan keluarga Angkasa.


Tampak mama Maya membuka ponsel. Dia seperti terhubung panggilan video dengan seseorang.


"mama videocall dengan Felisha ?" tanya Narra.


Mama Maya mengangguk. Dia menunjukan layar ponselnya kearah Narra.


"halo kak Narra" sapa Felisha.


"halo juga Fel" balas Narra seraya melambaikan tangan.


Sama seperti Faya, Felisha juga anak adopsi. Dia anak adopsi kedua mama Maya dan papa Farid. Dia sekarang berkuliah di negara P mengambil jurusan Desainer berkat beasiswa yang dia peroleh.


"sekarang semuanya sudah berkumpul. Saya akan membuka amplopnya" kata ayah Hadinata.


Setelah membaca hasil yang tertulis diatas kertas dalam amplop, ayah Hadinata memandang mereka satu persatu. Dia lalu memberikan kertas hasil itu pada keluarga Angkasa lalu papa Farid menyerahkannya pada Richard agar dia dan istrinya juga dapat mengetahuinya.


"menurut hasil tes, Faya merupakan anak biologis dari Richard Davidson. Dengan kata lain, Faya adalah Regan yang hilang" terang ayah Hadinata.


Narra saling pandang dengan Andra. Dia bersyukur dalam hati karena akhirnya Faya dapat mengetahui orang tua kandungnya.


"nyonya, terima kasih sudah merawatnya dengan baik selama ini" ujar Melani pada mama Maya.


"apa masih bolehkah kami memanggilnya putra kami ?" isak mama Maya. Dia tidak ingin kehilangan Faya.


"sampai kapanpun kalian berdua adalah keluarga Faya. Kami tidak akan melarang kalian untuk bertemu. Kita akan menjadi orang tua untuk Faya" sahut Melani.


Nada panggilan telfon ponsel Narra berdering. Dia segera mengambilnya dari dalam tas selempangnya.


Dari Sheva.


Dengan segera Narra menjawab panggilan Sheva.


"iya Shev" ucap Narra.


"Faya hilang, dia tidak ada di ruang inapnya. Bodyguard yang menjaga tertidur di kursi tunggu. Mereka seperti dalam pengaruh obat. Ada yang sengaja melakukan ini" terang Sheva.


Narra terdiam. Dia memandang orang-orang sekitarnya. Semua merasa ada yang tidak beres.


"Faya hilang ! bodyguard ayah seperti dalam pengaruh obat, mereka tertidur di kursi tunggu. Sepertinya ini kesengajaan" kata Narra.


Mama Maya dan tante Melani shock dan pingsan. Dengan segera ditangkap oleh suami mereka.


"bawa mereka keruang periksa" kata bunda Serena.

__ADS_1


Om Richard dan papa Farid segera menggendong istri mereka mengikuti bunda Serena. Sementara ayah Hadinata, Andra dan Narra menuju ruangan Faya. Mereka ingin melihat secara langsung situasinya. Tak lupa Andra menelfon operator cctv untuk segera datang keruang inap Faya.


***


__ADS_2