FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 82


__ADS_3

Friends berkumpul di bangku dekat kolam renang hotel Sheva. Mereka sibuk dengan makanan dan minuman di atas meja sambil menunggu Narra datang.


"sebenarnya Narra mau bicara apa ?" tanya Erga.


"aku juga tidak tau, dia hanya minta agar aku mengumpulkan kalian tanpa Faya karena ada yang mau dia bicarakan" jelas Sheva.


"hmmm apa ini tentang sikap Faya ?" tanya Imel.


Sheva mengangkat bahunya.


"sudah, daripada kita penasaran lebih baik kita duduk santai tunggu Narra" usul Desta.


Tak lama Narra datang bersama Andra dan Alen.


"aku balik ke kantor ya, nanti kamu pulang dengan Alen" ucap Andra seraya mengusap kepala istrinya itu.


"iya suamiku sayang" balas Narra seraya mengalungkan tangannya di leher suaminya.


Andra tersenyum. Dia mencium kening istrinya.


"bye sayangku" katanya.


Narra tersenyum lalu melepaskan tangannya.


Andra pamit kepada para sahabat istrinya kemudian dia berbicara sebentar dengan Alen lalu beranjak pergi dengan diantar Alen.


"cieeeee manten baru bikin iri eh" sergah Rea seraya mengibaskan tangannya.


"apaan sih adik ipar" balas Narra.


"tapi sebenarnya kak Andra itu romantis Na ?" tanya Imel.


Narra mengangguk.


"iya, dia kaku dan cuek pada orang lain tapi kalo sama aku hmmmmm sangat manis" komen Narra.


"hmmmm iya iya istri bucin" sahut Rea.


"ya tidak apa, kan bucin sama suami sendiri" Narra tersenyum.


"kamu mau minum apa Na ? Aku pesankan" tanya Sheva.


"seperti biasa saja Shev dan kopi untuk Alen" jawab Narra.


Sheva lalu mengambil phone yang terletak di dinding, dia menghubungi bagian resto untuk memesan minuman buat Narra dan Alen.


Suasana hening. Tak lama, minuman Narra datang. Mereka semua menunggu Narra meminum jus alpukatnya.


Kopi Alen diantarkan ke meja dekat mereka dimana Alen duduk disitu menunggu Narra selesai dengan urusannya.


"kenapa kalian memandangku seperti itu ?" tanya Narra setelah selesai minum.


"kami semua penasaran, ada apa ini Na ?" tanya Desta.


Narra menghela nafas. Dia kemudian menceritakan semuanya tentang dugaannya selama ini lalu dia meminta Alen mengungkapkan tentang penyelidikan yang dilakukan oleh Andra.


"aku tidak percaya ini" Erga menggelengkan kepalanya usai Alen selesai memberi penjelasan dan kini sudah kembali lagi ke mejanya.


"Faya bisa jadi putra salah satu orang terkaya di kota ini" komen Desta.


"trus apa yang bisa kami bantu ?" tanya Sheva.


"bagaimana caranya agar Faya bisa ikut test DNA dan satu hal lagi kita harus melihat tanda lahir di punggung Faya agar semakin meyakinkan" jelas Narra.


"aku punya ide" sergah Rea. Dia memandang para sahabatnya dengan tatapan penuh arti.


"bagaimana kalo kita buat cerita seolah kita ini mau pergi liburan. Setelah kejadian yang kita alami, kita ingin kembali membangun kebersamaan kita yang canggung karena masalah perasaan" terangnya.


Semua mangut.


"ide yang cerdas" puji Erga.

__ADS_1


"hmmmm" sergah Desta.


"gak ada maksud Ta, hanya komentar saja" sahut Erga.


"bagaimana ?" tanya Rea seolah tidak mengerti maksud Erga dan Desta. Dia tidak ingin membahasnya.


"aku setuju. Kita seolah liburan ke luar negeri jadi butuh cek kesehatan dulu sebelum pergi" sahut Sheva.


"sekalian juga sebagai pertemuan pamitan aku" sambungnya.


Semua kaget kecuali Imel. Dia sudah tahu tentang hal itu.


"kamu mau kemana Shev ?" tanya Narra.


"aku mau sekolah Chef" kata Sheva.


Narra mengerti. Dari dulu Sheva sangat menyukai dunia masak tapi orang tuanya ingin Sheva meneruskan bisnis sehingga Sheva mengalah dan mengambil sekolah bisnis. Sekarang mungkin sudah waktunya Sheva meraih impiannya selama ini.


"hmmmmm aku akan merindukanmu" ucap Narra seraya menggenggam tangan Sheva.


"aku masih bisa videocall kalian, trus kalo kalian ada waktu kalian bisa berkunjung atau aku yang mengunjungi kalian. Dan kamu.... selain yang lainnya, ada suamimu yang akan selalu ada untukmu" kata Sheva seraya mengusap kepala Narra.


Narra mengangguk.


"jadi sebenci itukah kalian padaku sampai kalian kumpul tanpaku" tiba-tiba Faya muncul di tengah-tengah mereka.


Alen yang sedang menerima telfon sontak berdiri tapi Narra menggelengkan kepalanya sebagai kode 'tidak apa-apa' untuknya. Dia bersikap waspada, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Narra atau Andra akan murka.


"Fay, kami semua tidak sengaja berkumpul disini dan kami juga ingin memberi tahu kamu tentang apa yang kami bahas" sergah Desta.


"aku tahu sikapku salah tapi kalian tau kenapa aku bersikap seperti itu. Bukan berarti kalian tidak menganggap aku bukan bagian kalian lagi" kata Faya.


"Fay, jangan marah seperti itu. Kalo sikapmu tidak berubah mungkin kami akan nyaman tapi kamu berubah Fay jadi jangan salahkan kami kalo kami masih agak menjaga jarak" kata Narra.


Faya terdiam. Dia tidak bisa membantah kata-kata Narra.


"duduklah Fay" ajak Erga.


Faya duduk disebelah Sheva.


"kapan ?" tanya Faya, dia mulai luluh.


"nanti aku yang akan mengaturnya, yang penting kita lakukan dulu prosedurnya" kata Rea.


"hanya kita kan ?" tanya Faya.


"maksudmu ?" tanya Imel.


"karena ini untuk kebersamaan kita jadi seharusnya hanya kita yang pergi liburan" terang Faya.


Narra memandang Faya, dia cukup tersinggung dengan ucapan Faya.


"kenapa kalo aku membawa suamiku ?" tanya Narra tidak terima.


Rea menahan bahu Narra, dia menggelengkan kepalanya. Narra sontak diam, dia mengerti maksud Rea tapi ucapan Faya itu merusak moodnya.


"ya karena dia bukan Friends" balas Faya.


"Na, tenang. Kita kan sudah sepakat" kode Erga. Dia tidak ingin rencana mereka gagal.


"kalian atur saja, aku permisi duluan" balas Narra seraya beranjak. Dia melewati Faya tanpa menoleh sedikitpun kearah para sahabatnya.


Alen pun beranjak, dia menyusul Narra.


"hmmmm Narra ngambek" sahut Desta.


"kenapa sih Fay, apa salahnya Narra bawa suaminya ?" tanya Imel.


"seperti aku bilang tadi Mel, karena dia bukan Friends. Desta bilang untuk kebersamaan kita ya seharusnya hanya kita-kita saja yang pergi liburan itu. Tidak usah ajak yang lain" jelas Faya.


"kamu keras kepala Fay, kapan kamu move on kalo kamu belum bisa menerima Narra itu sudah memiliki seseorang yang membuat dia bahagia. Seharusnya kita ikut bahagia" balas Imel.

__ADS_1


"trus apa bedanya sama kamu ?" balas Faya.


"Erga tidak bisa sama kamu tapi kenapa kamu tetap memaksakan perasaanmu padanya. Disini ada Sheva yang mencintaimu" lanjutnya.


Imel terdiam. Dia menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa membalas kata-kata Faya karena itu semua benar.


"Fay, jaga bicaramu" sergah Erga. Dia tidak ingin Faya menyudutkan Imel.


"sudahlah Ga, biar Imel mengerti kalo dia sama denganku" sahut Faya.


"aku duluan" Imel beranjak meninggalkan para sahabatnya.


"Mel, tunggu !" kejar Sheva.


"kacau !" kata Desta lalu pergi meninggalkan para sahabatnya di susul Erga yang memandang Faya sinis seraya menggelengkan kepalanya.


Tinggallah Rea dan Faya disana.


"kenapa jadi begini Fay ?" tanya Rea.


"aku hanya mengatakan yang sebenarnya, apa yang salah ?" sahut Faya tanpa merasa bersalah dengan sikapnya.


"kamu salah Fay ! salah karena kamu tidak memikirkan perasaan Narra dan Imel karena kata-katamu yang menyinggung itu. Kamu hanya memikirkan dirimu saja" balas Rea.


"aku sudah capek untuk terus mengalah dengan perasaanku. Kalo saja aku tidak menahannya mungkin sekarang Narra sudah jadi milikku" balas Faya.


"tapi Narra mencintai suaminya itu kenyataannya" balas Rea.


"seandainya dulu aku lebih cepat mengatakannya, kak Andra tidak akan masuk dalam kehidupan Narra" sahut Faya.


"sekarang semua sudah terlambat Fay, kamu kenapa tidak mengerti juga" nada bicara Rea mulai meninggi.


Faya terdiam. Apa yang dikatakan Rea benar tapi dia tidak ingin mengerti dengan hal itu. Dia menolak semua kenyataan yang ada.


"pikirkan Fay, demi kebersamaan kita" kata Rea seraya beranjak meninggalkan Faya sendirian disana.


Faya memandang kepergian Rea. Dia sendirian, tadinya dia ingin bercerita dengan Sheva tentang perasaan kesepiannya tapi emosinya tidak terima begitu tahu para sahabatnya tengah berkumpul tanpanya.


"aku sangat mencintai Narra, perasaan ini sangat dalam" ucap Faya lirih.


Dia meraih ponselnya, membuka galeri foto dan mulai mengulir melihat foto-foto kebersamaannya dengan Narra.


*


Narra memandang keluar jendela. Dia tidak habis dengan sikap Faya. Dia kecewa dengan sahabatnya itu.


Seharusnya tadi dia tidak emosi karena mereka sedang menjalankan rencana tapi kata-kata Faya sangat menyinggungnya.


Kalau misalnya mereka jadi pergi liburan, tentu saja Andra akan ikut karena mana bisa dia mengizinkan Narra pergi jika dia tahu Faya ikut pergi juga.


Alen melirik Narra dari spion dalam, dia hendak bertanya tapi sedikit takut karena Narra masih emosi.


"ada apa Alen ?" tanya Narra, dia menyadari kalau Alen memperhatikannya.


"kita langsung kerumah Sasmita atau kak Narra mau ketempat lain ?" tanya Alen.


"kita langsung kerumah Sasmita saja dan.. Aku minta tolong, soal tadi jangan sampai suamiku tau. Nanti aku sendiri yang akan bicara padanya" kata Narra.


"maaf kak Narra, sebenarnya kak Andra sudah tau" ucap Alen.


Narra membenarkan posisi duduknya.


"bagaimana bisa ?" tanyanya.


"tadi kebetulan kak Andra menelfon untuk menanyakan keberadaan kita, saat mendengar Faya datang marah-marah kak Andra meminta beralih untuk panggilan video" jelas Alen.


Narra menghela nafas. Suaminya sudah tahu semuanya.


"tidak apa Alen" kata Narra, dia bersandar lalu menutup matanya. Dia harus siap untuk memberi penjelasan kepada suaminya.


"maafkan saya kak Narra" Alen merasa bersalah.

__ADS_1


"tidak apa, bukan salah kamu" kata Narra.


***


__ADS_2