
Andra menjemput Narra untuk fitting baju lamaran di butik milik sahabat bunda Serena.
Miss Brenda Tamara, seorang desainer ternama yang merupakan sahabat bunda Serena dari SMA.
Mereka menghampiri bunda Serena yang duduk di sofa sambil membuka majalah fashion.
"Bunda.." sapa Andra pada bundanya yang sudah menunggu.
Bunda Serena yang sedang melihat isi majalah menoleh kepada putranya, dia tersenyum melihat wanita yang berada disamping putranya.
"halo, ibu Flanella tidak ikut Na ?" tanya bunda Serena menyadari ada yang kurang dari kedatangan putra dan calon menantunya itu.
"maaf bunda, ibu menemani ayah mengurus permintaan catering. Tidak bisa ditinggal soalnya sudah langganan" jelas Narra.
Bunda Serena mengangguk paham. Dia mengajak keduanya menemui miss Brenda untuk melihat gaun lamaran mereka.
"calon mantu kamu punya badan yang perfect" kata miss Brenda pada bunda Serena.
Bunda Serena hanya tersenyum. Narra memang mempunyai tubuh yang bagus. Tubuh tinggi, tidak terlalu kurus dan tidak juga terlalu gemuk tapi berisi. Rambut hitam panjang sebahu tampak berkilau menambah pesona kecantikan Narra.
"kamu mau gak jadi model tante ?" tanya miss Brenda pada Narra.
Narra hanya tersenyum, "Narra tidak ada bakat jadi model tante" katanya.
"gampang, tante bisa ajarin kamu" sahut miss Brenda lagi.
"Narra pikir-pikir dulu tante" kata Narra sopan.
Andra yang duduk di sofa melirik kekasihnya. Dia tidak mau Narra jadi model, dia tidak ingin Narra meninggalkan dia karena karier. Terus terang, dia takut kalau Narra seperti Jeniffer.
"setelah menikah, aku ingin Narra menghabiskan waktunya dirumah setelah pulang kantor. Aku tidak mau dia terlalu banyak kerja" sahut Andra.
Semua memandang Andra dan lelaki itu dengan cueknya melihat ponselnya setelah mengeluarkan kalimat tadi. Dia tidak sadar dengan tatapan mata yang tertuju kearahnya.
"sudah, nanti saja di bahas. Kamu pilih yang mana Na ?" tanya bunda Serena mengalihkan pembicaraan.
Narra lalu mengambil gaun kebaya warna putih tulang yang berada di hadapannya. Dia sebenarnya sedikit sensitif dengan kata-kata Andra tadi tapi dia mencoba bersikap biasa karena tidak enak dengan bunda Serena dan miss Brenda.
"yang ini bunda" katanya.
"baiklah, kamu pas dulu ya" kata bunda Serena.
"kamar gantinya disebelah sana, kamu antar nona Narra ya" pinta miss Brenda kepada salah satu pegawainya yang dari tadi mengikuti mereka.
Pegawai itu pun mengiringi langkah Narra menuju ruang ganti.
"maaf ya Ser, aku keruanganku sebentar ya. Ada rancangan yang harus aku kirim filenya" pamit miss Brenda.
"iya" jawab bunda Serena.
Bunda Serena duduk di sofa bersebelahan dengan Andra yang masih sibuk dengan ponselnya.
"An, dengar bunda" katanya.
"iya bunda" Andra fokus pada bundanya.
"bunda hanya ingin mengingatkanmu, jaga sikapmu sayang. Jangan sampai kamu buat Narra tidak nyaman" katanya.
"maksud bunda ?" Andra tidak mengerti.
"ya perkataanmu tadi, sebaiknya kamu jangan ambil keputusan sendiri. Bicarakan dulu pada Narra. Dia berhak mengeluarkan pendapatnya. Kamu tidak mau kan, kalo Narra marah lagi sama kamu ?" nasehat bunda Serena.
Andra terdiam. Dia memikirkan perkataan bundanya.
"maaf bunda, aku hanya tidak ingin kehilangan dia. Jadi model seperti Jeniffer, Andra takut bunda" ucap Andra lirih.
Bunda Serena menghela nafas.
"bunda mengerti, tapi bunda yakin kamu tidak akan kehilangan dia" bunda Serena menepuk pundak putranya.
Narra menemui mereka dengan gaun kebaya yang telah dipilihnya.
Mata Andra begitu takjub melihat Narra. Kecantikan alami yang Narra miliki berbalut gaun cantik yang mempesona.
"kamu cantik sayang" puji bunda Serena.
"selalu cantik" ucap Andra.
"bagaimana ? apa kamu merasa nyaman dengan gaunnya ? kalo ada yang kurang nanti tante perbaiki" miss Brenda datang menghampiri mereka.
"bagaimana Na ?" tanya bunda Serena.
__ADS_1
"aku nyaman tante tapi aku terserah ka Nda" jawab Narra.
Andra membulatkan matanya, Narra meminta pendapatnya. Dia senang akan hal itu.
"kalo kamu suka, aku juga suka sayang" sahut Andra.
Narra tersenyum. Dia memilih gaun yang dikenakannya.
"oke, sekarang kita cari kemeja batik untuk Andra yang sesuai dengan gaun kamu. Tunggu sebentar, aku akan membawakannya kesini nanti kamu coba An" kata miss Brenda.
Andra mengangguk.
Narra mengikuti miss Brenda masuk kedalam, dia akan melepas gaunnya. Setelah itu dia kembali duduk di sofa bersama bunda Serena.
Tampak Andra sudah tidak ada di sofa. Kata bunda Serena, Andra sedang mencoba kemejanya.
Andra datang menghampiri mereka. Narra tersenyum melihat pesona ketampanan Andra dibalut kemeja batik yang dia kenakan.
"anak bunda yang paling tampan" puji bunda Serena.
"sayang ?" tanya Andra karena melihat Narra hanya terdiam memandanginya.
"selalu mempesona" ucap Narra membuat Andra tersenyum.
"baiklah Be, sepertinya mereka sudah menjatuhkan pilihan. Kita selesaikan semuanya" sahut bunda Serena.
"baiklah, kita ke ruanganku" ujar miss Brenda.
"bunda, setelah Andra ganti baju.. Andra langsung pamit pergi ya sama Narra" kata Andra.
"iya An, nanti bunda yang urus semuanya" sahut bunda Serena.
Andra meninggalkan mereka menuju keruang ganti. Sementara Narra memeluk bunda Serena tanda berpamitan.
"bunda masuk kedalam dulu ya" pamit bunda Serena pada Narra.
Narra mengangguk, "iya bunda" katanya.
*
Dalam perjalanan Andra melirik sekilas pada Narra, dia melihat kekasihnya itu tertidur.
"padahal aku ingin ajak dia jalan-jalan, baiklah kita istirahat dulu sayang" Andra bergumam sendiri.
Dia menurunkan jok mobil agar Narra tertidur dengan nyaman. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya.
Dia mengubah arah tujuannya.
Mobil Andra memasuki pelataran parkir basement apartementnya. Dia ingin membangunkan Narra tapi melihat Narra yang tertidur pulas, dia jadi tidak tega. Dia memutuskan untuk menggendong Narra.
Andra menghubungi resepsionist agar mengirimkan security untuk ke pelataran parkir basement.
Tak lama dua orang security datang menghampiri Andra.
"maaf bapak-bapak, saya jadi merepotkan kalian" ucap Andra.
Kedua security itu tersenyum. Andra termasuk penghuni apartement yang baik, ramah dan royal pada mereka.
"tidak apa pak Andra, ada yang bisa kami bantu pak ?" tanya salah satunya.
"begini pak, saya minta tolong bapak menemani saya membawa tunangan saya ke unit saya. Dia ketiduran, saya tidak tega membangunkannya" pinta Andra.
"pak Andra sangat romantis" kata mereka.
Andra tersenyum.
Salah satu security itu membantu Andra membuka pintu mobil. Begitu pintu terbuka Andra menghampiri Narra dan pelan-pelan mengangkat tubuh Narra dalam gendongan ala bridal.
"terima kasih pak" kata Andra.
Kemudian security itu kembali menutup pintu mobil dan mengunci otomatis dengan menekan tombol pada kunci mobil.
Mereka mengikuti langkah Andra karena tentunya dengan posisi sedang mengendong Narra, Andra akan susah menekan tombol lift dan mengesek keycard untuk masuk kedalam apartementnya.
"bapak tunggu disini saja, saya ke atas dulu" pamit Andra.
Andra menuju kamarnya. Setelah membaringkan Narra di tempat tidur dan menyelimutinya, Andra mengatur suhu ruangannya agar kekasihnya itu nyaman.
"aku tinggal sebentar sayang" ucap Andra seraya mencium kening Narra.
Dia kembali menemui security yang masih menunggunya di ruang tamu.
__ADS_1
"terima kasih banyak bapak-bapak semua" katanya seraya menyalami dan tidak lupa dia menyelipkan selembar uang merah di tangannya pada masing-masing security itu.
"maaf pak Andra, kami ikhlas menolong bapak karena selama ini bapak sudah sangat baik kepada kami" ujar salah satunya merasa tidak enak.
"tidak apa pak, ambil saja. Itu sebagai rasa terima kasih saya. Itu rejeki bapak-bapak" balas Andra.
Mereka mengucapkan terima kasih lalu pamit dan tidak lupa menyerahkan kembali kunci mobil pada Andra.
*
Narra mengeliat. Dia terbangun dari tidurnya. Seketika dia terperanjat, dia berada diatas tempat tidur. Seingatnya tadi, dia berada di dalam mobil bersama Andra.
Dia melihat sekelilingnya. Memandangi seluruh penjuru kamar. Lalu dia melihat foto diatas nakas sebelahnya, foto dirinya berdua dengan Andra.
Bukan hanya di nakas, di dinding juga tampak foto berdua mereka dalam bingkai yang indah dengan ukuran besar.
"apa aku di apartement ka Nda ?!" pikir Narra.
Dengan segera dia beranjak. Dia terlebih dulu masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka dan mengeringkannya dengan memakai handuk yang berada di dalam kamar mandi.
Narra keluar dari kamar.
Benar, dia berada di apartement Andra. Narra segera turun kelantai satu untuk mencari Andra. Dia melihat kekasihnya itu tengah sibuk di dapur.
Pelan-pelan Narra duduk di bangku mini bar mengamati Andra memasak.
"sayang, kamu bikin aku kaget" Andra terperanjat begitu berbalik mendapati Narra duduk memandangnya.
"maaf ka Nda, aku ketiduran" ucap Narra.
"tidak apa sayang. Sekarang kita makan dulu ya" kata Andra seraya menata masakannya kedalam piring dan menyajikannya didepan Narra.
"kamu cobain" kata Andra seraya mengambil spagetti itu dengan garpu lalu menyuapi kemulut Narra.
Narra membiarkan Andra memperlakukan dia begitu.
"bagaimana ?" tanya Andra tentang rasa masakannya.
"enak ka Nda" puji Narra.
"terima kasih banyak, kita makan dulu ya" kata Andra seraya duduk disebelah Narra.
Mereka makan sepiring berdua dengan Andra yang dominan. Dia menyuapi Narra dan dirinya sendiri.
Narra tersenyum senang.
"terima kasih ka Nda" ucap Narra seraya mengusap pipi Andra.
"sama-sama sayang" balas Andra seraya mengusap puncak kepala Narra.
"setelah ini kita kemana ?" tanya Andra.
"ka Nda tidak ke rumah sakit ?" tanya Narra.
"aku tidak ada pasien hari ini jadi aku bisa menemani kekasihku seharian" katanya.
"hmmm benar ?!" Narra menyenggol lengan Andra.
"iya sayang, kita mau kemana ?" ulang Andra menatap Narra.
"hmmm ada, nanti aku tunjukkan tempatnya" seru Narra.
"dimana ?" tanya Andra, dia penasaran.
"tidak terlalu jauh tapi agak di pinggiran kota. Tapi aku suka sekali disana. Nanti kita beli makanan kecil dan minuman dulu ya ka Nda" jelas Narra.
"iya sayang, apapun yang kamu mau" kata Andra seraya mencium kening Narra yang lalu di balas ciuman pipi oleh Narra.
"aku suapi lagi ya" kata Andra.
"iya tapi aku juga mau suapi ka Nda" rajuk Narra.
"ya sudah, kita gantian saja" ucap Andra senang.
Mereka melanjutkan makan siang mereka dengan saling menyuapi.
Hingga begitu selesai makan, Andra pamit sebentar ke kamar untuk bersih-bersih. Sementara Narra membersihkan dan merapikan peralatan makan mereka.
"disana nanti, aku akan bicara tentang apa yang kudengar tadi di butik. Aku tidak mau ka Nda terlalu mengekang aku" gumam Narra sedikit kepikiran dengan perkataan Andra.
***
__ADS_1