FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 57.1


__ADS_3

Rania dan Adryan menuju ruang tempat Narra di rawat.


Tadi mereka tidak ikut menemani kerumah sakit kepolisian karena pihak rumah sakit A Medika menelfon bahwa ibu Flanella shock mendengar berita tentang kecelakaan Rayyan dan Narra.


Rania segera menuju rumah sakit untuk menenangkan ibunya. Menurut suster Marina yang menemani ibu Flanella, tadi ibunya menerima telfon dari salah satu keluarganya dan beliau langsung berteriak histeris dan tidak sadarkan diri.


Setelah ibunya sadar, Rania menerangkan kondisi Rayyan dan Narra. Ibu Flanella sangat bersedih, kondisi suaminya belum pulih ditambah lagi musibah yang menimpa kedua anaknya.


"ibu yang kuat, aku tidak bisa tanpa semangat ibu" kata Rania.


"maafkan ibu Ran, ibu masih kalut dengan kondisi ayahmu sekarang kedua saudaramu mengalami musibah. Ibu tidak sanggup" ucap ibu Flanella lirih menahan tangis.


"ibu Flanella tidak sendiri, kami akan bersama kalian" bunda Serena masuk kedalam ruang IGD tempat ibu Flanella dirawat.


Dia meraih telapak tangan kanan calon besannya lalu menepuk punggung tangannya.


"terima kasih ibu Serena" sahut ibu Flanella tersenyum pada calon besannya.


"kalo kamu ingin kerumah sakit mengecek kondisi Narra dan Rayyan, pergilah. Kami akan bersama ibumu disini" kata Diandra yang menemani bundanya.


"terima kasih Di" ucap Rania.


"ibu tidak apa kalo Rania tinggal ? Rania ingin mengetahui keadaan mereka. Walaupun Andra dan om Hadinata sudah disana tapi Rania perwakilan keluarga bu" jelas Rania.


"pergilah Ran, ibu tidak apa-apa. Kabari ibu nanti tentang kondisi kedua saudaramu" ucap ibu Flanella.


"iya ibu, ibu istirahat ya" kata Rania.


"terima kasih tante Mar, tadi tante sudah menemani ibu" ucap Rania pada tetangganya itu.


"sama-sama Rania" balas suster Marina.


Setelah berpamitan pada semuanya, Rania dan Adryan bergegas menuju rumah sakit pemerintah.


*


Indra keluar dari mobilnya. Langkahnya terhenti begitu melihat mobil keluarga mewah melintasinya masuk ke area parkir.


Langkahnya terhenti begitu mendengar panggilan namanya.


"In, aku juga ingin melihat Narra dan kak Rayyan. Kita sama-sama ya" kata Rea.


"baiklah" jawab Indra singkat.


Dia melangkah duluan, sementara Rea terus berada di belakangnya.


Indra terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan dengan Rea. Dan tanpa dia sadari, Rea menatap punggungnya dengan harapan semuanya baik-baik saja untuk hubungan mereka.


"aku duluan" kata Indra seraya bergegas meninggalkan Rea di belakangnya setelah mereka sudah melihat orang-orang yang mereka kenal duduk di depan sana.


Entah kenapa Indra merasa sangat cemburu melihat Faya dan Erga disana. Erga begitu menyayangi Rea dan Faya orang yang disukai kekasihnya itu. Walaupun Rea sudah bilang kalo itu dulu dan sekarang hatinya hanya untuk dirinya tapi sebelum Rea menentukan sikapnya, Indra akan terus menghindari Rea.


"tapi In" cegah Rea.


"kita akan bicara nanti kalo kamu sudah menentukan pilihanmu" balas Indra tanpa menoleh.


Rea tertegun, "aku sudah menentukan pilihanku In" ucapnya pelan.


Tapi Indra tidak bisa mendengarnya karena dia sudah melangkah menjauh menghampiri kakak dan ayahnya.


Rea pun melangkah mendekat pada kedua orang tua Imel dan duduk disebelah mama Miranda. Dia menyampaikan kalau papi dan maminya masih di luar negeri. Mereka akan segera pulang begitu urusan mereka selesai.


Imel yang tadi meninggalkan mereka pun telah kembali duduk disebelah papanya. Sementara Desta tidak jauh dari mereka duduk di lantai dengan menekuk lututnya sambil sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Rania dan Adryan yang sudah sampai lima menit yang lalu berdiri mengintip dari kaca pada pintu.


"maaf om, dari yang om lihat.. bagaimana sebenarnya kondisi mereka ?" tanya Rania pada ayah Hadinata.


Mereka kini duduk bersebelahan.


"dari penglihatan om, kemungkinan ada retak atau patah tulang karena ada luka memar dan kebiruan pada tangan dan kaki mereka karena itu mereka harus menjalani serangkaian test untuk mengecek lebih lanjut dan juga untuk kepentingan penyidikan polisi" jelas ayah Hadinata.


"seandaimya mereka di bawa kerumah sakit kita, aku sendiri yang akan memeriksa mereka" sergah Andra.


"tenang An, kamu harus bisa mengendalikan dirimu. Ayah tau kamu marah dengan kondisi ini tapi kita hanya bisa menyerahkan semuanya pada polisi" ucap ayah Hadinata menepuk pundak Andra.


Andra hanya mengangguk.


Ayahnya benar. Sejak dari rumah sakit A Medika setelah mendengar berita musibah ini, Andra mencoba menahan emosinya kebencian tentang apa yang terjadi. Siapa kira-kira orang yang tega merencanakan semua ini. Saat di tempat kejadian, dia kembali harus menahan cemburunya saat melihat Faya berada disana dan terlihat sangat khawatir dengan keadaan Narra bahkan meminta untuk ikut melihat evakuasi. Sekarang dia kembali menahan emosinya karena proses penanganan Narra yang berlangsung lama.


"In, kamu koordinasi dengan operator cctv karena mereka melaporkan ada kejanggalan terkait mobil yang Narra dan Rayyan tumpangi dari kamera tempat parkir" kata ayah Hadinata.


"apa ?" Indra, Rania dan Adryan kaget.


"iya, kita akan menyerahkan buktinya pada polisi untuk membantu penyelidikan" kata ayah Hadinata.


"astaga" Rania menutup mulutnya seraya menggelengkan kepala tidak percaya.


Adryan yang berada disebelah istrinya, merangkul dan mengusap belakang istrinya untuk menenangkannya.


"baik ayah, Indra akan mengurusnya" Indra meraih ponselnya lalu berdiri menjauh dari mereka.


*


Akhirnya Rayyan dan Narra menempati satu ruangan ICU untuk dua orang tetapi mereka masih belum sadar sehingga dokter hanya memperbolehkan dua orang saja yang masuk dan bergantian dengan yang lain.


"masuklah An" kata Adryan.


Andra memandang Rania.


Andra mengangguk, "terima kasih" ucapnya menepuk pundak Adryan.


Dia masuk kedalam ruangan bersama Rania.


Rania menuju tempat tidur Rayyan sementara Andra mendekati tempat tidur Narra.


"sayang" ucap Andra seraya mengelus pipi Narra yang masih belum sadar.


Terdapat luka goresan pada pipi Narra.


"buka matamu sayang, aku disini. Maafkan aku, seharusnya aku bersamamu" kata Andra.


Air matanya menetes.


Rania yang melihat itu hanya bisa menatap sedih. Dia mengalihkan pandangan pada adik lelakinya yang terbaring.


"Ray, bangun. Kamu sudah membuktikan kamu penjaga kami, kamu menjaga Narra dengan baik" ucap Rania.


*


Sementara itu ...


Ardhan menerima Arsen bertamu di kantornya.


Selama beberapa minggu ini, Ardhan pergi mengurus bisnisnya di luar negeri dan dia menutup akses dari orang-orang yang mengenalnya selama perjalanan bisnis. Bahkan Mike yang ingin memberitahu tentang berita Narra dan kakaknya jadi urung karena Ardhan tidak mau tahu apa-apa selain bisnisnya.


"ada kamu menemuiku ?" tanyanya pada mantan anak buah papanya itu.

__ADS_1


"nona Arini mencoba menghubungi tuan tapi tidak ada balasan malah anda memblokir nomornya" kata Arsen membuka pembicaraan.


"aku tidak ingin berhubungan dengan mereka" kata Ardhan.


"tapi ada berita yang ingin dia sampaikan" balas Arsen.


"kalian masih berhubungan ?" tanya Ardhan menyipitkan matanya memandang Arsen.


"setidaknya kami berteman sekarang, walaupun dia belum menerimaku" kata Arsen.


"sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicarakan padaku" Ardhan duduk bersandar dengan melipat tangan di depan dada.


"Narra dan Rayyan mengalami kecelakaan saat menuju bandara" ucap Arsen.


Ardhan duduk dengan tegak. Dia memandang Arsen dengan tidak percaya.


"Mike !!!!" teriak Ardhan menggema di dalam ruangan.


Tak lama Mike masuk kedalam ruangan Ardhan.


"iya boss" katanya dengan nafas terengah-engah.


"kamu tidak bilang apa-apa tentang Narra !" bentaknya.


"maaf boss, aku sudah ingin bilang tapi anda yang tidak mau tau tentang hal lain selain bisnis" sergah Mike.


Ardhan menyugar kasar rambutnya. Dia harus melihat keadaan Narra sekarang.


"antar aku ketempat Narra sekarang" katanya pada Arsen.


Ardhan segera beranjak lalu di ikuti Arsen.


"kamu tangani urusan kantor" tunjuknya pada Mike seraya berlalu.


*


Arsen mengemudi mobil Ardhan sambil bercerita tentang kecelakaan yang beredar di sosial media. Polisi masih terus menyelidiki dan mengumpulkan bukti terkait musibah itu karena ada dugaan unsur kesengajaan.


"dan tuan harus tau sesuatu, aku bahkan menyembunyikan hal ini dari Arini" kata Arsen seraya merogoh kantong celananya dengan sebelah tangannya untuk mengambil ponselnya.


Dia membuka layar ponsel seraya mencari sesuatu kemudian memberikan ponselnya pada Ardhan yang berada disebelahnya.


"buka videonya tuan" kata Arsen.


Ardhan melakukan apa yang dikatakan Arsen.


Dia melihat video papanya dan anak buahnya. Mereka membicarakan tentang rencana mencelakai seseorang, walaupun tidak ada penyebutan nama disitu tapi Ardhan yakin dengan menghubungkan kejadian Narra dan kebencian papanya pada Narra dan keluarganya.


"pria itu yang melakukannya ?" tanya Ardhan seraya menyerahkan ponsel pada Arsen.


Arsen mengangguk seraya menerima ponselnya.


"aku akan membuat perhitungan dengan pria itu setelah menemui Narra. Kamu jangan bilang apapun pada Arini karena aku yakin dia melindungi pria itu" jelas Ardhan.


"Arini sekarang sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk untuknya. Dia sudah berubah sekarang" kata Arsen.


"kamu sedekat itu dengan Arini ?" tanya Ardhan.


"sedekat itu sampai aku nekat menemuinya diam-diam di rumah keluarga Kusuma" balas Arsen.


Ardhan menggelengkan kepalanya, "tapi kalian masih dalam batasan kan ?! awas sampai adikku kenapa-napa" tegasnya.


"tenang tuan, saya sangat menjaga adik anda" ucap Arsen.

__ADS_1


"bagus !" sahut Ardhan.


***


__ADS_2