
Ardhan membanting pintu kantornya dengan keras. Dia menyapu barang pecah yang berada dalam jangkauan pandang dan tangannya hingga jatuh berserakan.
"boss, ada apa ?" Mike masuk kedalam ruangan Ardhan.
"kenapa kamu bisa lengah Mike ?!!!" Ardhan mendorong Mike ke tembok.
Dia marah, sangat marah.
Mike tertunduk, pasti kabar tentang acara lamaran Narra sudah sampai pada Ardhan. Mike tidak bisa memberitahu Ardhan karena dia punya alasan untuk itu.
"jelaskan padaku !" bentak Ardhan.
"karena Andra mengancam saya melalui asistennya boss" ucap Mike.
Ardhan melepaskan tangannya. Dia menatap tajam.
"Andra bertindak lebih dari yang kita bayangkan boss. Dia mengawasi anak saya di rumah sakit negara P. Entah dari mana dia tau keadaan anak saya. Kalo saya memberitahu tentang Narra pada boss, anak saya akan di hentikan pengobatannya. Hanya anak saya yang saya punya boss setelah istri saya tiada" jelas Mike.
Ardhan mundur beberapa langkah lalu berputar seraya mengacak kasar rambutnya.
Andra ternyata mengawasi pergerakannya selama ini.
"jadi apa yang harus aku lakukan sekarang ? aku tidak mungkin membiarkan Narraku bersama Andra" Ardhan merasa frustasi.
"maafkan saya boss" ucap Mike tidak tahu harus berkata apa untuk membantu Ardhan.
"keluar !" teriak Ardhan.
"tapi boss.." Mike terlihat ragu.
"keluar !!!" ulang Ardhan, kali ini teriakannya lebih keras dari tadi.
Mike akhirnya keluar dari ruangan Ardhan.
Ardhan menjatuhkan dirinya di sofa. Dia meraih ponselnya.
"iya kak" sahut yang diseberang.
"apa yang bisa kamu lakukan Arini ?? tidak ada !" Ardhan kesal.
"apaan sih kak.. marah-marah" balas Arini.
"Narra dan Andra akan mengelar lamaran beberapa hari lagi dan kamu tidak ada pergerakan sama sekali ?" jelas Ardhan.
"apa ?? aku tidak tahu hal itu kak" sahut Arini.
"lakukan sesuatu Arini.. berpikir !!" Ardhan menutup pembicaraannya.
*
Arini marah, dia menyapu alat kosmetiknya di meja rias dengan tangannya.
"pasti papa dan mama yang sudah menahan berita ini dariku" ujar Arini geram.
"aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan !" katanya lagi.
Arini menyambar tas kecil dan kunci mobilnya. Dia akan pergi menemui seseorang.
*
"tuan Alex, Ardhan marah besar tapi dia tidak akan bisa apa-apa tanpa Mike" lapor seseorang dari seberang telfon Alex.
"bagus terus awasi mereka" kata Alex kemudian menutup pembicaraan.
"ada apa ?" tanya Andra.
"Ardhan tidak bisa apa-apa tanpa asistennya" jawab Alex mengulang laporan anak buahnya.
"bagus.. dia tidak akan mengacau di acara lamaranku" ucap Andra.
Semua berawal dari rekan sesama dokternya meminta bantuan pendapatnya untuk pengobatan pasien kelenjar getah bening stadium tiga.
Setelah melihat data pasien dan menemukan kalau penanggung jawab biaya pengobatan adalah Ardhan Pratama, Andra mencari tahu apa hubungan Ardhan dengan pasien.
Ternyata pasien itu adalah putri dari asisten Ardhan, Mike. Timbul ide Andra untuk menekan Ardhan melalui asistennya.
Ponsel Alex berdering.
"iya halo, baik.. terus awasi dia" kata Alex seraya menutup pembicaraannya.
"bro, Arini bergerak. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu" lapor Alex.
"terus awasi, aku tidak mau dia mengacaukan acaraku" perintah Andra.
"baik bro" Alex membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan Andra.
*
Setelah paginya Ardhan meeting dengan Narra untuk membicarakan proyek iklan, tim Narra langsung mengatur jadwal dengan model terpilih dari klien, Jeniffer Lindley.
Ternyata jadwal Jeniffer sangat padat. Hanya ada waktu kosong hari ini.
Team Narra gerakan cepat dengan mengadakan pemotretan dadakan sore harinya.
Jeniffer bersandar di sofa ruang ganti studio tempat dia melakukan pemotretan untuk iklan property Ardhan.
Dia tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan tim pemotretannya kalau Narra dan Andra akan menjelang lamaran.
Air mata Jeniffer jatuh. Dia bersedih. Seharusnya dia yang bersama Andra sekarang.
Kebodohannya membuat dia kehilangan sosok yang dulu sangat mencintainya.
Seharusnya dia tidak pergi dari Andra. Seharusnya waktu itu dia tidak percaya begitu saja omongan Ardhan.
Jeniffer sangat menyesal.
"Jen, ayo ganti baju untuk sesi selanjutnya" tegur manajer sekaligus merangkap asistennya.
__ADS_1
"aku tidak mood" ucap Jeniffer.
Eryn mendelik, "kamu sakit Jen ?" tanyanya.
"aku tidak mau melanjutkan ini lagi, Ardhan brengsek !!!" umpat Jeniffer seraya pergi meninggalkan ruangan.
"Jen.. kamu tidak bisa begitu. Jen !" panggil Eryn beranjak mengikuti Jeniffer.
Tim creative J Advertising melongo heran melihat Jeniffer yang masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi pemotretan.
"kenapa modelnya pergi ? pemotretan belum selesai ?" tegur Grey, fotografer J Advertising.
"maaf, maaf.. bisa kita atur lagi jadwalnya ?" ujar Eryn.
"sebaiknya kita telfon boss kita masing-masing untuk bicarakan hal ini" usul Frey, ketua tim creative.
"ada apa ini ?" tanya Raga, ketua tim produksi.
"modelnya pergi, mereka minta pemotretannya dijadwalkan ulang" terang Frey.
"sebaiknya hubungi Narra" usul Raga.
"ponselku lowbat, kamu saja yang hubungi" Frey memamerkan senyum yang dibuat-buat.
Raga menggelengkan kepalanya, dia meraih ponselnya.
"iya Ga" jawab Narra.
"Na, modelnya pergi dari lokasi dan mereka meminta pemotretannya di cancel" jelas Raga.
"apa ? kenapa bisa begitu ?" tanya Narra.
"aku juga tidak tau, manajernya saja ditinggalkan di lokasi" sahut Raga.
"baiklah, aku akan menghubungi klien untuk membahas ini. Kalian beres-beres saja. Kita cancel sampai aku dapat kesepakatan dengan klien" kata Narra.
"baik, terima kasih Na" ujar Raga seraya menutup pembicaraan.
*
Narra menghela nafas.
Kenapa juga Jeniffer buat masalah, dengan begini dia akan memulai komunikasi duluan dengan Ardhan.
Narra kemudian tersenyum. Dia akan meminta bantuan Erick untuk mengurus masalah ini.
Dia bergegas menuju ruangan asisten bossnya itu.
*
Sementara itu..
Arini menuju pemukiman penduduk yang terletak di pinggiran kota.
Dia janjian dengan seseorang.
Arini turun dari mobil. Dia mendekati pria itu.
"apa kabar Arsen ?" kata Arini.
"aku baik nona, lama tidak bertemu" sahut Arsen dengan nada datarnya.
Arsen merupakan salah satu anak buah papanya, dia pernah menjadi bodyguard Arini. Hanya saja hal itu berlangsung tidak lama karena Arsen di pecat lantaran Raihan Kusuma mengetahui pria tinggi, atletis dengan kulit agak sedikit hitam karena kehidupan itu diam-diam menyukai putrinya.
Dan satu hal lagi yang lebih mendapat penolakan dari keluarga Raihan Kusuma. Arsen hanyalah orang biasa. Dia hidup sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal.
Setelah dipecat, Arsen kerja serabutan, apa saja yang penting bisa menopang biaya hidupnya.
"kamu semakin tampan saja" puji Arini.
Ah, kenapa aku bisa bilang itu. Tetap lebih tampan kak Andra. Batin Arini.
"terima kasih nona" balas Arsen.
Dia antara senang dan bingung. Setelah sekian lama, akhirnya Arini memintanya untuk bertemu. Padahal selama ini pria itu mencoba untuk melupakan bayang-bayang Arini yang bagaikan langit untuknya dan dia buminya.
"ikut aku, kita bicarakan di tempat lain" ajak Arini seraya melempar kunci mobil pada Arsen.
Arsen menangkap kunci itu lalu berjalan menuju mobil tanpa bicara.
Mereka masuk kedalam mobil dan melaju.
*
Narra terduduk di kursinya. Tadi dia keruangan Erick ternyata asisten Erick sedang meeting mewakili Juna.
Berarti harus dia sendiri yang menghubungi Ardhan.
"tunggu, sebaiknya aku hubungi asistennya saja"
Narra membuka buku agendanya, dia menemukan nomor ponsel dan menyalinnya di ponselnya.
Panggilan tersambung.
"selamat sore, ini dengan Ranarra Sasmita dari J Advertising" jelas Narra.
"oo iya, ada apa nona Narra ?" suara Mike, asisten Ardhan.
Narra lalu menceritakan alasannya menelfon.
"baiklah, saya akan memberitahu boss Ardhan. Nanti saya akan konfirmasi lagi pada nona" ujar Mike.
"baiklah pak Mike, terima kasih banyak" Narra menutup pembicaraan.
*
Mike kembali mengetuk pintu ruangan Ardhan. Walaupun tidak ada jawaban, Mike tetap masuk.
__ADS_1
"maaf boss"
"ada apa ? aku tidak mau di ganggu !" balas Ardhan.
"tadi nona Narra telfon, katanya Jeniffer meninggalkan lokasi pemotretan" lapor Mike.
Ardhan terdiam sejenak.
"ini menarik.." gumamnya.
"kamu bisa keluar. Aku yang akan menghubungi Narra" Ardhan tersenyum licik.
"saya permisi boss" Mike keluar dari ruangan Ardhan.
Setelah Mike keluar dari ruangannya, Ardhan kemudian menghubungi Narra.
"iya pak Ardhan" jawab Narra formal.
"jadi bagaimana ? saya tidak mau iklan itu selesai tidak sesuai jadwal yang sudah kita sepakati" kata Ardhan juga bersikap formal.
"maaf pak Ardhan, model anda yang tidak bekerjasama dengan baik. Tim kami sudah menjalankan semuanya sesuai prosedur dan sesuai konsep yang anda mau" terang Narra.
"atau kalian mau saya membatalkan proyek iklan ini ? ingat nilai iklan ini sangat besar untuk perusahaan kalian" tekan Ardhan.
Narra menghela nafas. Dia harus berusaha sabar agar Ardhan tidak membatalkan kerjasama mereka.
Nilai iklan yang besar sangat berarti untuk kemajuan perusahaan dan citra perusahaan di mata para pesaing.
"saya minta maaf pak Ardhan, kami minta waktu untuk mengatur ulang jadwal dengan model anda. Kami harap anda membantu agar model anda tidak bersikap seenaknya, pergi dari lokasi pemotretan" sahut Narra.
"ini masih pemotretan, belum lagi proses syutingnya.. kalian masih minta waktu ?" kata Ardhan.
"maaf pak Ardhan secepatnya kami akan mengaturnya" kata Narra.
"sepertinya saya akan mencari perusahaan lain untuk menangani proyek ini" Ardhan menutup pembicaraan.
Dia tersenyum lalu menghubungi Arjuna. Dia mengancam membatalkan proyek mereka pada atasan Narra itu.
*
Narra memandang ponselnya yang sudah gelap. Ardhan menutup panggilan tanpa mendengar penjelasannya.
Dia tidak boleh kehilangan proyek ini. Batin Narra.
Layar ponselnya menyala disertai dering panggilan.
Dari Arjuna.
Narra menghela nafas, pasti atasannya itu akan membicarakan proyek Ardhan. Tebaknya.
"iya pak Juna"
"Na, pak Ardhan akan membatalkan proyek iklannya. Kamu bisa jelaskan ini ?" tanya Arjuna.
Narra kembali menceritakan kejadiannya dari awal.
"Na, saya tahu ini bukan murni kesalahan kita tapi saya tidak ingin kehilangan proyek ini. Nilainya sangat besar" kata Arjuna.
"saya mengerti pak Juna, saya akan membicarakan hal ini lagi dengan pak Ardhan" ucap Narra.
"saya sangat berharap kita bisa menyelesaikan proyek ini. Maaf Na, bukannya saya tidak mengerti hubunganmu dulu dengan pak Ardhan tapi ini masalah perusahaan" Arjuna merasa tidak enak.
"pak Juna tenang saja, saya sangat mengerti. Saya akan bicara dengan pak Ardhan" tegas Narra.
"baiklah terima kasih Na. Oh iya, kamu langsung pulang saja karena saya tidak akan kembali ke kantor. Mungkin Erick juga begitu, pembahasan iklan Alda kosmetik kita bahas besok sekalian kita bahas hal ini lebih lanjut" jelas Arjuna.
"baik pak Juna" ucap Narra.
Arjuna menutup panggilan.
Narra bersandar di kursinya, dia harus menjalin komunikasi yang baik dengan Ardhan demi perusahaan tempat dia kerja.
Nada pesan berdering dari ponselnya.
Dari ka Nda sayang.
[sayang, kamu sudah selesai kerja ? aku jemput sekarang ya]
Narra mengetik.
[iya ka Nda, aku segera siap2 & turun ke lobby]
[iya sayang, bye]
[bye ka Nda sayang]
Narra segera membereskan meja kerjanya. Tapi sebelum dia beranjak, dia menghubungi asisten Mike.
"iya nona Narra" sahut Mike.
"maaf asisten Mike, apakah besok saya bisa bertemu pak Ardhan ?" tanya Narra.
"besok boss Ardhan ada peninjauan proyek, tapi saya akan mengatur agar anda bisa bertemu sebelum boss ke proyek" kata Mike.
"baik, terima kasih banyak pak Mike. Saya tunggu kabarnya" ucap Narra.
"baik nona Narra" Mike menutup pembicaraannya.
Karena nomor ponsel Ardhan yang privat, Narra tidak bisa langsung menghubunginya. Dan lagi pula, Narra juga enggan membuka blokiran nomor Ardhan di ponselnya.
Selama ini Ardhan yang terus menghubunginya.
Narra berharap asisten Mike akan memberi kabar. Kalo tidak karena urusan pekerjaan, dia tidak mau meminta bertemu Ardhan.
Masalah mereka sudah selesai tapi Narra tidak ingin kembali dekat dengan Ardhan. Ada batasan yang harus dia jaga dan Ardhan tidak mau menerima itu.
Hal itu yang membuat Narra tidak bisa berhubungan baik dengan Ardhan selain urusan pekerjaan.
__ADS_1
***