FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 58.1


__ADS_3

Andra masih berdiri disamping Narra yang terbaring memejamkan mata dengan terus memegang tangan dan memandang sendu tunangannya itu.


Rania yang sudah keluar kini berganti dengan Adryan.


Andra menghela nafas, dia masih ingin berlama-lama dengan Narra sampai kekasihnya itu membuka mata tapi hal itu terlalu egois. Di luar masih ada orang tua dan sahabat-sahabat Narra yang menunggu untuk juga bisa masuk melihat keadaan Narra.


Andra menutup matanya begitu bayangan Faya terlintas. Pasti pria itu meminta untuk melihat Narra. Tapi kecemburuannya ingin menghalangi itu, hanya saja dia merasa tidak enak dengan keluarga Narra.


"sayang, aku keluar sebentar ya. Di luar ada para sahabatmu, mereka ingin melihatmu. Aku akan bergantian dengan mereka" kata Andra seolah Narra mendengarnya.


Dia mencium kening Narra lalu beranjak keluar bersama Adryan.


*


Faya maju menemui Andra. Dia meminta untuk masuk melihat Narra. Persis seperti bayangan Andra.


Tadi dia meminta pada Rania tapi kakak tertua Narra itu mengatakan agar Faya juga memintanya pada Andra selaku tunangan Narra untuk menghargai perasaan Andra.


Rania bilang begitu bukan karena dia mengetahui kejadian kemarin diantara mereka tapi Rania tidak ingin Andra merasa tidak di hargai.


"boleh aku masuk menemuinya ?" tanya Faya lagi.


Andra mengangguk lalu menyingkir menuju ke kursi tunggu yang agak jauh dari mereka.


Faya menoleh kearah Rania, wanita itu mengangguk. Lalu Faya masuk bersama Imel kedalam melihat keadaan Narra.


Indra yang masih berada disitu mendekati dan duduk disebelah kakaknya.


"kakak baik-baik saja ?" tanya Indra.


Andra menggeleng, "aku sangat tidak baik melihat kondisi Narra seperti itu" ucapnya.


"bukan tentang itu tapi Faya, kakak baik-baik saja mengizinkan dia masuk ?" ulang Indra.


Andra menghela nafas.


"aku sangat membenci keadaan ini, kamu sangat tau aku. Sekarang aku ingin menghancurkan segala apa yang ada di hadapanku tapi aku harus tenang karena aku tidak mau drop menjaga Narra. Tentang Faya, aku ingin menghalanginya masuk tapi aku tidak bisa. Mereka bersahabat dari dulu, aku tau dia juga khawatir terlepas dia ada perasaan pada Narra" jelasnya.


"Narra pasti senang mendengarnya, kakak bisa mengontrol emosi kakak" kata Indra.


"oh iya bagaimana hasil penyelidikanmu ?" tanya Andra seraya ingin mengalihkan pembicaraan mereka.


Indra menjelaskan pada kakaknya tentang pembicaraannya dengan pihak security setelah mereka mengetahui video cctv yang menangkap gambar orang mencurigakan berada dekat mobil yang dikendarai Rayyan.


"ada seorang wanita yang meminta tolong pada mereka di pos jaga karena mendapat pelecehan. Satu orang bergegas membantu meninggalkan pos jaga, sedangkan yang satunya tetap berdiri di pos tapi tidak mengetahui ada hal yang mencurigakan" jelas Indra.


"sepertinya mereka bekerja sama" sergah Andra.


Indra mengangguk.


"aku sudah menyerahkan bukti kita pada pihak kepolisian dan sudah meminta operator cctv dan security untuk menjadi saksi. Tinggal menunggu hasil penyelidikan polisi dan mengungkap siapa pelaku kejadian ini" jelasnya.

__ADS_1


"kata pihak rumah sakit, pihak kepolisian akan segera kesini untuk menjelaskan hasil sementara penyelidikan mereka. Kamu temani aku disini ya" kata Andra.


Indra mengangguk. Dia akan menemani kakaknya. Untuk urusan perusahaan sudah di urus oleh asisten mereka berdua. Untuk tanggung jawab rumah sakit mereka mengalihkan pada dokter lain.


*


Kabar tentang kecelakaan Narra sampai juga di telinga Melani Richard Davidson. Dia segera menghubungi suaminya.


"iya sayang" sahut suaminya yang sekarang sedang rapat bersama para stafnya.


Begitulah dia, walaupun sementara kerja tapi bila istrinya yang menelfon pasti dia akan langsung mengangkatnya.


Para staf yang tahu siapa yang menelfon bossnya, memilih menunduk.


"Sayang, Narra kecelakaan. Aku ingin kerumah sakit" pinta nyonya Melani pada suaminya.


Richard Davidson menghela nafasnya, dia sebenarnya ingin memberitahu istrinya nanti tentang hal itu karena dia tahu istrinya itu pasti akan bergegas pergi tanpa memikirkan kondisinya yang masih dalam pemulihan.


Semenjak pertemuan di rumah sakit, Melani menyayangi Narra seperti putrinya sendiri.


"baiklah, setelah aku menyelesaikan rapat ya. Aku akan segera pulang" kata tuan Richard Davidson pada istrinya.


"maaf, aku mengganggumu rapat" ucap nyonya Melani merasa bersalah.


"tidak apa sayang, aku akan makan siang di rumah" kata tuan Richard Davidson.


"baiklah sayang, bye" ucap nyonya Melani menutup panggilannya.


Dia menuju ke dapur untuk membantu pelayannya menyiapkan makan siang untuk suaminya.


*


Saat semuanya pamit untuk pulang sebentar, Andra dan Faya masih ingin menunggu Narra dan Rayyan sampai sadar.


Andra memandang tajam pada Faya. Dia ingin rasanya meminta Faya agar berhenti mendekati Narra karena Narra sekarang adalah miliknya. Tapi Andra kembali mengingat ucapan Narra bahwa Faya adalah sahabatnya dan selamanya akan tetap begitu.


"kakak ingin makan apa ? aku memesan makanan" kata Faya.


Andra menggeleng. Sungguh, dia tidak nafsu makan.


"sebaiknya paksakan diri makan karena Narra pasti sedih kalo kamu tidak memikirkan dirimu" nasehat Faya.


Andra memandang Faya. Apa yang Faya katakan itu benar, Narra pasti akan merajuk kalau dirinya menunda makan dengan segala kesibukannya.


Ah, dia sangat merindukan tunangannya itu.


"cepatlah sadar sayangku" ucap Andra pelan seraya mendongkakkan kepala menatap langit-langit.


"aku akan pesan nasi goreng daging sapi favorit Narra" kata Faya.


Andra mencoba mengabaikan Faya karena kalimat Faya tadi seolah memberi tahu kedekatan pria itu dengan tunangannya itu.

__ADS_1


"aku masuk kedalam" kata Andra meninggalkan Faya masuk kedalam menemui Narra.


Faya menghela nafas. Dia mencoba mengerti bahwa Andra masih mengingat jelas ungkapan perasaannya pada Narra dan terlihat jelas pria itu tidak suka.


"tapi aku ingin berada disini" gumam Faya.


Dia lalu memesan makanan lewat aplikasi untuknya dan Andra.


Tak lama Indra datang dengan membawa bungkusan kotak makanan.


Dia menghela nafas begitu melihat Faya, ada sesak di dadanya yang coba ditepisnya.


"kamu masih disini ?" tanya Indra agak canggung.


Faya hanya mengangguk.


Tadi mereka sama-sama mendengarkan penjelasan dari pihak rumah sakit dan pihak kepolisian dan setelah itu mereka masing-masing pamit tapi Faya masih berada disitu untuk menunggui Narra.


"kak Andra mana ?" tanya Indra lagi.


"dia masuk kedalam" jawab Faya.


Indra mengangguk lalu duduk di kursi tunggu yang berseberangan agak jauh dari Faya, yang juga kursi yang di duduki Andra tadi. Dia tidak bisa apa-apa lagi karena setiap dia melihat Faya, dia teringat pengakuan Rea tentang perasaannya pada Faya.


Ardhan datang bersama Arsen.


Faya dan Indra beranjak berdiri. Ardhan mendekati Faya.


"bagaimana keadaannya ?" tanya Ardhan.


"masih belum sadar, kata dokter dia mengalami luka dalam pada tangan, kaki, punggung selain luka ringan bagian luar dan cedera pada kepala. Kak Rayyan hanya mengalami luka ringan bagian luar. Mereka masih belum sadar" jelas Faya pada Ardhan.


"aku ingin menemuinya" kata Ardhan lagi.


Faya memandang Indra.


"aku rasa, setelah terakhir Narra bertemu denganmu.. dia sangat marah dan tidak ingin bertemu" ujar Indra.


"tapi aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan pria itu dan tidak tau tindakannya sejauh itu. Aku datang kesini sebagai orang yang mengenal Narra dengan baik" kata Ardhan.


"didalam ada kak Andra. Sebagai tunangan Narra, pihak keluarga Narra meminta dia untuk bertanggung jawab disini" jelas Indra yang disertai anggukan oleh Faya.


Ardhan menggelengkan kepalanya. Dia tahu apa yang dia hadapi setelah ini.


Kemarahan Andra mungkin karena Narra semarah itu kepadanya. Pikir Ardhan.


Pastinya pria itu tidak akan mengizinkan dia masuk karena hubungan mereka yang masih belum membaik.


Arsen mendekat dan meminta Ardhan untuk duduk agar tenang.


"sebaiknya tuan menahan emosi" kata Arsen.

__ADS_1


Ardhan menghela nafas, dia mencoba menenangkan dirinya untuk menghadapi Andra nantinya.


***


__ADS_2