FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 43.1


__ADS_3

"ceritakan semuanya padaku" ujar Andra.


Mereka sekarang berada di ruang VIP cafe. Andra sengaja memilih ruang khusus agar mereka dapat leluasa bicara.


"aku ingin menyelidiki tentang putra keluarga Davidson" ungkap Narra.


"kenapa kamu ingin mengetahuinya ?" tanya Andra, dia memandang Narra yang tertunduk di depannya.


"karena aku menduga, aku tahu putra mereka tapi... aku takut salah dalam hal ini ka Nda. Aku tidak berani" ucap Narra memandang Andra.


"siapa putra keluarga Davidson ?" tanya Andra.


"Faya" ucap Narra akhirnya.


Andra bersandar pada kursinya. Dia mencoba mencerna maksud pembicaraan Narra.


"aku takut salah dalam hal ini ka Nda tapi aku ingin membuktikannya"


"kenapa kamu ragu bilang padaku ?" tanya Andra.


"karena aku takut salah, karena itu aku meminta pendapat kak Rayyan dan ternyata kak Rayyan bilang aku harus berani bicara pada ka Nda karena aku tidak bisa menyimpan rahasia pada calon suamiku" jelas Narra.


Andra meraih jemari tangan Narra dan mengusap punggung tangan kekasihnya itu.


"aku akan membantumu menyelidikinya, kamu tidak perlu takut salah. Setidaknya kita sudah berusaha membuktikannya" ucapnya.


Narra mengangguk.


"tapi aku mohon kamu bersabar sebentar, kita urus dulu acara pertunangan kita setelah itu kita urus yang lain"


"iya ka Nda, maafkan aku mencoba menyimpannya sendiri"


"iya sayang, aku senang akhirnya kamu bilang semuanya padaku" ucap Andra.


Dia mengusap pipi Narra. Narra tersenyum.


*


Hari ini Narra bangun sedikit terlambat. Untungnya dia tidak masuk kerja, dia sudah meminta izin pada Arjuna untuk tidak masuk kerja tiga hari. Sebelum acara pertunangan, hari acara dan setelah acara.


Narra memeriksa ponselnya. Ada pesan dan beberapa panggilan tak terjawab.


Panggilan dan pesan dari asisten Mike.


Narra menepuk jidatnya. Kenapa dia bisa lupa kalau dia menunggu kabar untuk bertemu Ardhan hari ini.


Narra membuka pesannya.


[pagi nona Narra, boss Ardhan bersedia menemui anda jam 9 pagi ini]


Narra memandang jam dindingnya. Sudah jam delapan lewat. Dia memiliki waktu kurang dari sejam untuk bersiap.


Narra membalas pesan dari asisten Mike.


[maaf pak Mike, saya baru melihat pesan anda. Iya, saya akan segera kesana. Terima kasih]


Setelah pesannya terkirim, dengan bergegas Narra masuk kedalam kamar mandi.


Dia harus segera menemui Ardhan untuk menyelesaikan masalah kerjasama mereka.


"ayah, ibu, Narra pergi ya" pamitnya pada ayah dan ibunya yang duduk santai di teras mengawasi pegawainya beres-beres sebelum membuka kedai.


"loh bukannya kamu hari ini sudah izin Na ?" tanya ibu Flanella.


"iya bu tapi ini urusan penting yang tertunda kemarin" kata Narra seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"hati-hati Na" pesan ayah Sasmita.

__ADS_1


Narra mengangguk seraya memakai helmnya. Dia mengendarai motornya menuju kantor Ardhan.


*


Andra membaca dengan teliti berkas diatas mejanya. Dia masih belum cuti kerja karena masih banyak pekerjaan yang harus ditangani langsung olehnya.


"bro, sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri. Biar aku dan tim yang akan mengurusnya. Besok acaramu" kata Alex.


"iya aku tau bro, setelah menyelesaikan ini aku akan pulang istirahat" kata Andra.


Indra masuk kedalam ruangan Andra.


"ada yang perlu aku bantu lagi kak ?" tanyanya.


"bagaimana peninjauan pabrik ?" tanya Andra.


"aku sudah meminta asistenku untuk kesana. Aku tadi mengecek laporan penjualan" kata Indra.


"bagus ! selama aku cuti, aku menyerahkan kembali perusahaan sama kamu" kata Andra.


"baik kak, kakak tenang saja" Indra mengacungkan jempolnya.


*


Narra duduk di sofa tamu ruangan Andra. Dia sedikit tidak nyaman di ruangan ini karena fotonya bersama Ardhan masih terbingkai di meja kerja Ardhan. Dia bisa melihat jelas foto itu dari tempat duduknya.


Ardhan duduk di sofa depan Narra.


"kenapa foto itu masih ada ?" tanya Narra seraya memandang ke meja Ardhan.


Ardhan mengikuti arah pandang Narra.


"karena rasa itu masih ada" ucapnya.


"kita sudah berakhir Ardhan" kata Narra.


Narra menghela nafas.


"saya minta maaf pak Ardhan, saya meminta anda membatalkan niat anda untuk memutuskan kontrak kerjasama kita" jelasnya.


"atas dasar apa kamu meminta itu ?" tanya Ardhan.


"atas dasar saya bisa menyelesaikan iklan ini tepat waktu seperti yang kita sepakati" balas Narra.


"tapi aku punya syarat untukmu"


"apa ?" tanya Narra.


"aku mau kamu seharian ini bersamaku seperti kita bersama dulu" ucap Ardhan santai.


"apa ? ini gila Ardhan. Maaf pak Ardhan, saya tidak bisa melakukannya" Narra berusaha kembali bersikap formal.


"karena besok kamu akan bertunangan ?" tanya Ardhan.


Narra mengangguk, "ada perasaan yang harus saya jaga" katanya.


"hanya itu syaratnya, anggaplah salam perpisahan kita" sahut Ardhan lagi.


Narra terdiam.


Kalau dia menolak permintaan Ardhan, dia takut akan berimbas pada perusahaan tempatnya bekerja. Tapi kalau dia mengiyakan, itu artinya dia bermasalah dengan Andra. Karena Andra pasti sangat tidak setuju dirinya menghabiskan waktu dengan Ardhan.


Andra akan sangat cemburu dan emosinya meledak. Narra tidak mau Andra menyakiti dirinya sendiri.


"aku ingin surat perjanjian diatas materai" kata Narra.


"maksudnya ?" Ardhan memicingkan matanya.

__ADS_1


"aku tidak mau kamu ingkar Ardhan. Setelah ini kamu tidak akan meminta hal di luar batasmu dan kamu tidak membatalkan proyek kerjasama kita" jelas Narra.


Dia sudah berbicara secara tidak formal. Dia berpikir, dia akan melakukan ini agar Ardhan benar-benar berhenti mengganggunya.


Kali ini Ardhan yang terdiam.


"baik, aku akan meminta sekretarisku membuat surat perjanjian itu" katanya kemudian.


"aku yang akan membuatnya" Narra meraih ponselnya.


Dia mulai mengetik pada aplikasi word di ponselnya.


Setelah membacanya dengan teliti, Narra meminjam printer yang berada di ruang kerja Ardhan. Dia mencetaknya lalu menyerahkan pada Ardhan lengkap dengan pena yang diambilnya diatas meja kerja Ardhan.


Ardhan membaca dengan teliti, kemudian dia mencoret beberapa bagian dari isi surat itu lalu menyerahkan kembali pada Narra.


Narra membaca kembali untuk menemukan point yang Ardhan koreksi. Dia memandang Ardhan, dia keberatan dengan tulisan pengganti yang menjadi permintaan Ardhan.


"atau perjanjian ini tidak ada" kata Ardhan seraya balas memandang Narra acuh.


Narra kembali memperbaiki isi perjanjian yang dibuatnya. Setelah selesai, dia menyerahkan kembali pada Ardhan.


"apa kamu senang kalo aku menjauh darimu ?" tanya Ardhan menatap Narra setelah meletakan surat perjanjian itu diatas meja.


"kita tidak bisa jadi teman kalo kamu masih ada rasa sama aku" kata Narra tenang.


"aku masih mencintaimu Na" ucap Ardhan.


"tapi kita sudah tidak mungkin Ardhan, aku sudah memilih ka Nda" balas Narra.


Ardhan menutup matanya kuat-kuat selama beberapa detik. Hingga saat dia membuka mata dan menatap Narra sendu.


Dia masih sangat mencintai Narra tapi Narra tidak ingin lagi bersamanya.


Akhirnya Ardhan menandatangani diatas materai surat perjanjian itu.


Narra juga melakukan hal yang sama setelah Ardhan. Dia menandatangani di kolom yang bersebelahan dengan tanda tangan Ardhan.


Dia lalu menuju print dan membuat salinannya.


"kamu pegang salinannya dan aku pegang aslinya" kata Narra seraya menyerahkan salinan surat perjanjian itu pada Ardhan.


Ardhan menerima salinan dari Narra lalu menuju meja kerjanya. Dia menyimpan salinan itu kedalam laci.


"waktumu dimulai dari sekarang Ranarra Sasmita" kata Ardhan.


"baik, aku tidak akan bersikap formal" ucap Narra.


Dalam hatinya campur aduk, dia seperti pencuri yang takut ketahuan.


Dia tidak ingin Andra mengetahui hal ini. Tapi kalau sampai Andra tahu, dia harus siap dengan semua penjelasan. Dia hanya bisa berharap, Andra mengerti dengan keadaannya.


*


Andra selesai dengan pekerjaannya di perusahaan. Dia juga sudah dibebaskan ayahnya untuk urusan pekerjaan di rumah sakit.


Sekarang dia ingin menemui Narra, dia sangat merindukan kekasihnya itu.


"aku singgah beli es cream dulu, Narra pasti senang" gumamnya.


Dia membelokkan mobilnya masuk ke pelataran parkir kedai es cream.


Dengan langkah riang dia masuk kedalam.


"es cream coklat mocca" katanya pada pelayan yang berdiri di balik meja.


Pelayan itu segera membuat pesanan Andra.

__ADS_1


***


__ADS_2