FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 72.1


__ADS_3

Narra merasakan gejolak dalam perutnya, dari tadi sepanjang perjalanan dia bolak balik masuk kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Badannya terasa lemas, dia mencoba berjalan pelan menuju tempat tidurnya.


Ini perjalanan pertamanya menggunakan kapal pesiar, dia baru tahu kalau dia mabuk laut.


Andra dengan berat hati meninggalkannya karena ada pertemuan peserta seminar setelah meminta obat mabuk perjalanan pada panitia tim kesehatan.


Pintu kamar terbuka, Andra masuk kedalam dengan wajah cemas. Dia melihat Narra belum menyentuh makanan yang berada di troli yang di pesannya sebelum keluar kamar.


Andra mengusap kepala Narra. Sesekali dia mencium kening istrinya itu.


"maafkan aku sayang, kamu siksa dalam perjalanan ini" ucapnya sendu.


"aku tidak apa sayang, bagaimana pertemuannya ?" tanya Narra karena Andra bagian penting dalam acara, dia sebagai pembicara dalam seminar tersebut.


"setelah acara pembukaan, aku izin untuk menemanimu. Tidak apa, ini hanya acara perkenalan. Acara intinya nanti setibanya di pulau" kata Andra, dia tahu Narra pasti merasa tidak enak karena dia meninggalkan acara.


"kamu makan dulu sedikit ya, tadi setelah sarapan dan minum obat kamu tertidur. Ini sudah lewat jam makan siang sayang" kata Andra.


Narra mengangguk. Andra menyuapinya dengan penuh sayang. Narra merasa senang dengan perlakuan suaminya. Makanan Narra habis, Andra mengaturnya kembali kedalam troli dan mendorongnya ke dekat pintu kamar lalu kembali duduk di tepi tempat tidur di sisi Narra.


Suara pintu di ketuk. Andra beranjak berdiri untuk membuka pintu. Tampak Melani dan Richard berdiri diambang pintu. Andra mempersilahkan mereka masuk.


"aku juga keluar dari pertemuan, begitu Melani tau Narra tidak enak badan.. Dia meminta kesini" jelas Richard Davidson pada Andra.


"Narra kenapa ?" tanya Melani duduk di tepi tempat tidur sebelah Narra. Dia membantu Narra yang hendak bersandar.


"terima kasih tante, Narra tidak apa hanya mabuk laut" kata Narra.


"sudah minum obat ?" tanya Melani.


Narra mengangguk.


Richard duduk bersama Andra di sofa.


"tante ada disini juga ?" tanya Narra.


"iya, sama dengan kamu. Tante menemani om ikut seminar" jawab Melani.


"senangnya, aku ada temannya. Aku berpikir aku sendirian nanti disana" ucap Narra.


"setibanya disana kita quality time berdua ya saat mereka ikut seminar" kata Melani.


"iya, tante. Boleh ka Nda ?" tanya Narra.


"boleh sayang" sahut Andra seraya tersenyum.


"terima kasih" Narra tersenyum.


"sebaiknya kalian kembali saja ke pertemuan, biar aku yang disini temani Narra" kata Melani.


Richard menepuk paha Andra. Mereka berdua beranjak berdiri dan menghampiri istri masing-masing untuk berpamitan.


"kamu disini saja ya, nanti aku jemput" kata Richard seraya mengusap pipi istrinya.


"iya sayang" jawab Melani.


Andra duduk di sebelah Narra. Dia memegang pipi istrinya.


"aku hanya sebentar, kamu dengan tante Mel dulu ya" kata Andra.


"iya sayang" ucap Narra.


Andra lalu mencium kening istrinya. Begitu juga Richard pada Melani. Lalu kedua pria berjas itu berjalan bersama keluar kamar.

__ADS_1


"sekarang kamu istirahat ya" kata Melani seraya membantu Narra baring kembali.


"tapi aku tidak enak dengan tante" kata Narra.


"tidak apa, tante akan menjaga kamu sampai suamimu kembali" katanya seraya memakaikan selimut pada Narra.


Narra tersenyum. Tante Melani menganggapnya seperti putri sendiri. Tak lama, Narra pun tertidur.


*


Mereka tiba di pulau pagi harinya. Narra dan Andra menempati kamar bersebelahan dengan Richard dan Melani. Hal itu menambah intensitas pertemuan Narra dan Melani. Mereka semakin akrab layaknya ibu dan putrinya.


"sayang, nanti kamu makan siang di tempat seminar ?" tanya Narra seraya memperbaiki letak dasi Andra.


Setelah sarapan, Andra bersiap menghadiri seminar.


"kenapa sayang ?" tanya Andra seraya merapikan helai rambut Narra yang terurai menutup wajahnya.


"tante Mel pagi ini mengajak jalan-jalan liat pameran lukisan trus makan siang bersama" jelas Narra.


"ooo tapi aku ingin makan siang denganmu" rajuk Andra.


"baiklah, aku akan bilang tante Mel kalo aku akan makan siang dengan suamiku. Mungkin saja tante Mel juga akan makan siang dengan om Richard" kata Narra.


"iya, ya sudah aku ketempat acara dulu. Kamu baik-baik ya, kalo mau belanja.. Pake ini" Andra menyerahkan kartu hitam pada Narra.


"aku masih punya kartu yang kamu kasih" sergah Narra.


"iya, dengan ini juga. Semua untuk kamu" kata Andra seraya mencium kening lalu mengecup bibir istrinya.


"baiklah" sahut Narra.


"bye sayangku" kata Andra seraya membuka pintu.


"bye sayang" ucap Narra.


*


Setelah melihat pameran lukisan, tante Melani mengajak Narra duduk di cafe tepi pantai. Mereka berdua memesan minuman.


"tante, boleh Narra bertanya sesuatu. Maaf kalo nanti pertanyaan Narra buat tante sedih" kata Narra hati-hati setelah pesanan minuman mereka datang.


"kamu mau tanya apa ?" tanya Melani.


"tentang putra tante Mel, apa ada tanda khusus yang bisa meyakinkan kalo itu putra tante saat bertemu nanti ?" tanya Narra.


"kamu liat punggung tante" Melani menyibak rambut panjangnya.


Dia mengenakan dress santai panjang dengan tali spagetti terikat pada lehernya yang memamerkan punggung mulusnya yang tertutup rambut hitam panjangnya.


"Regan mempunyai tanda lahir bentuk bulan sabit sama seperti tante di punggungnya" jelas Melani.


Narra mangut melihat tanda lahir bentuk bulan sabit di punggung Melani. Kalau tanda lahir itu ada pada Faya, berarti lebih meyakinkan lagi untuk Narra meminta Faya untuk tes DNA.


"kenapa kamu bertanya tentang Regan ?" tanya Melani.


"Narra hanya ingin tau saja tante" sergah Narra.


Melani mengangguk.


Ponsel Narra berdering, kontak suamiku tertera di layar.


"iya sayang" jawab Narra.


"sayang dimana ? Aku dan om Richard mau makan siang bersama kalian" kata Andra.

__ADS_1


"aku dan tante Mel ada di cafe tepi pantai"


"ok, baiklah. Kami kesana"


Andra menutup pembicaraan.


"Andra ?" tanya Melani.


"iya tante, ka Nda dan om Richard menuju kesini" kata Narra.


Melani mengangguk.


"aku sangat berharap Regan segera ketemu sebelum dia menikah. Aku sangat ingin melihatnya menikah, pasti dia gagah sama seperti daddynya" ucap Melani lirih.


"kita pasti akan menemukannya tante" ucap Narra menggenggam tangan Melani.


"terima kasih Na, kamu menguatkan tante" ucap Melani.


*


Narra berjalan di tepi pantai dengan berpegangan tangan pada suaminya. Mereka menikmati sore di pantai setelah tadi setelah makan siang, Andra dan Richard kembali melanjutkan seminar. Narra dan Melani kembali ke kamar masing-masing sembari menunggu suami mereka.


"kamu senang ?" tanya Andra.


"iya, terima kasih ka Nda" sahut Narra.


"sayang" sergah Andra.


"iya sayang" balas Narra.


"kita foto-foto yuk" ajak Andra.


Narra mengangguk.


Mereka pun berfoto berdua dengan menggunakan kamera depan ponsel Andra. Lalu kemudian Andra memotret istrinya dengan berbagai gaya dan candid.


"ka Nda, kebanyakan fotoku. Foto ka Nda mana ?" tanya Narra.


"aku selalu suka melihatmu sayang.. Fotoku tidak penting" kata Andra.


Dia memeluk istrinya. Narra melihat sekitarnya. Dia malu, banyak orang di sekitar mereka.


"jangan perdulikan mereka, aku ingin romantis berdua dengan istriku" bisik Andra seraya mencium kening istrinya.


Narra menggelengkan kepalanya lalu mengajak Andra berjalan kembali.


*


Narra keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju mandinya. Andra mendekat padanya lalu memeluk dan mencium pipinya.


"aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Pakai ya" bisik Andra seraya berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Narra terdiam beberapa saat, kemudian dia melangkah menuju tempat tidur melihat lebih dekat pakaian yang disiapkan suaminya.


Narra membulatkan matanya.


Suaminya menyiapkan gaun tidur tipis yang mempelihatkan dengan sangat jelas lekuk tubuhnya.


"ini sama saja dengan tidak pake apa-apa, apalagi aku sukanya tidur tidak pake bra" gumam Narra.


Apa ka Nda memintanya malam ini ? Batin Narra.


Narra duduk di tepi tempat tidur menghadap kearah kamar mandi. Dia merasa sangat gugup sekarang. Dengan segera dia mengambil sweater abu-abu tebalnya dan celana panjang jeans warna biru serta dalaman dalam lemari. Dia lalu memakai sepatu ketsnya agar tidak merasa dingin.


Narra keluar kamar tanpa pamit pada suaminya. Dia ingin menenangkan perasaannya. Dia sangat sangat gugup sekarang.

__ADS_1


***


__ADS_2