
Diandra menceritakan tentang perjodohan sepihaknya dengan Ardhan.
Kenapa dikatakan sepihak ? karena yang menginginkan itu adalah papa Ardhan, Raihan Kusuma dan tante Hera, kakak ayahnya.
Ayahnya tidak ingin adanya perjodohan karena tidak ingin memaksakan kehendak pada anaknya tapi beliau juga tidak bisa mengambil keputusan karena kakaknya ikut mendesak.
Diandra waktu itu menjalani hubungan LDRan dengan Smith, yang akhirnya menjadi suaminya. Dan Diandra juga tahu kalau Ardhan juga mempunyai pacar. Karena itu mereka menolak perjodohan.
Tapi desakan tante Hera membuat Hadinata Wijaya tidak bisa berkata apa-apa untuk melawan kakaknya.
Jadi satu-satunya cara agar pernikahan itu tidak terjadi dan perjodohan batal adalah salah satu ada yang pergi.
Karena Diandra waktu itu masih terikat dengan karier dokternya, akhirnya mereka sepakat Ardhan yang pergi.
Ardhan pergi ke negara P, hanya Diandra dan Smith yang tahu.
Smith yang mengurus segala sesuatunya untuk Ardhan di negara P.
Setelah Ardhan pergi, Diandra mengundang Smith untuk bertemu keluarganya. Semua keluarga inti Hadinata Wijaya setuju dengan pria yang Diandra kenal sewaktu mengambil spesialis di negara S, kecuali tante Hera karena beliau tetap ingin menjodohkan anak Hadinata Wijaya dengan anak Raihan Kusuma.
Pernikahan Diandra diadakan setahun setelahnya dan beberapa bulan kemudian Ardhan pulang.
"aku pergi untuk kamu juga, agar papaku berhenti berbuat kasar padamu, keluargamu dan orang-orang disekitarmu" sahut Ardhan.
Ardhan lalu menceritakan bagaimana dia di negara P dengan bantuan dari Smith.
Ardhan melanjutkan kuliah arsiteknya disana dan bekerja pada perusahaan property terbesar disana.
Begitu pulang, Ardhan membangun perusahaan property miliknya sendiri tanpa embel-embel nama papanya.
Dia melakukan itu semua agar dapat bersama Narra tanpa adanya tekanan dari papanya.
Dan sekarang Ardhan hidup mandiri, tinggal sendiri di apartementnya dan menjalankan perusahaannya sendiri. Semua itu untuk Narra.
"nama perusahaanku ARRA Property" kata Ardhan.
"itu singkatan dari nama kita berdua" lanjutnya lagi.
Narra hanya terdiam.
Dia sekarang sudah tahu semuanya tapi itu tidak bisa merubah keadaan dan perasaannya.
Sekarang keadaannya bersama Andra dan perasaannya untuk Andra.
"aku ingin sendiri, maafkan aku kak Diandra" Narra berbaring dan membelakangi mereka.
Diandra dan Ardhan saling pandang.
"sebaiknya kita biarkan Narra sendiri. Semua sudah di jelaskan, biarkan keadaannya tenang dulu" ucap Diandra pada Ardhan.
"baiklah Na, kalo kamu ingin aku pergi tapi aku mohon jangan hindari aku lagi. Aku akan meminta maaf pada keluarga dan para sahabatmu. Aku harap mereka mengerti keadaannya" sahut Ardhan.
Narra hanya diam, dia menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya.
Tak lama, suara pintu terbuka dan di tutup kembali.
Diandra dan Ardhan keluar dari kamar inap Narra.
Narra perlahan membuka matanya, dia memegang dadanya. Sakit, sesak. Apa yang harus dia lakukan, dia bingung.
*
Sementara itu Arini datang ke perusahaan HW Farma.
Andra yang baru saja keluar dari ruang meeting bersama Alex bersikap acuh padanya.
"kak Andra, tunggu" Arini menyusul langkah Andra.
"aku sudah bilang jangan pernah ganggu aku" ucap Andra tanpa memandang Arini yang berjalan disampingnya.
"tapi apa kurangnya aku dibanding wanita itu, dia dari kalangan biasa" sergah Arini.
Andra berhenti.
"kamu mau tau kurangnya kamu ?" tanyanya.
__ADS_1
Arini mengangguk.
"aku tidak mencintai kamu" ucap Andra lalu berlalu pergi.
Alex hanya tersenyum memandang Arini yang mematung.
Dia baru tahu siapa Arini. Tempo hari dia tidak mengenalinya.
"jadi dia adik Ardhan ?" tanya Alex saat mereka berada di ruangan Andra.
"iya, bukannya kamu mengenalnya dari dulu" Andra memandang Alex.
"aku benar-benar lupa, dia banyak berubah" kata Alex.
"aku tidak mengerti, kenapa om Raihan ingin menjodohkan aku dengan Arini. Dulu kak Diandra dan Ardhan, sekarang aku" Andra geleng kepala.
"boleh aku berpendapat ?" tanya Alex.
"kita sekarang bicara sebagai bro Lex" sahut Andra.
"aku merasa pak Raihan mempunyai tujuan tertentu pada keluargamu dan nyonya Hera membantunya karena mungkin satu tujuan dan menguntungkan baginya" jelas Alex.
"menurutmu apa tujuannya ?" tanya Andra.
"kita sama-sama tau apa yang keluargamu punya melebihi keluarga Raihan kusuma" Alex menaikan alisnya.
"harta, kekuasaan, dan nama besar" ujar Andra.
Alex mengangguk.
Andra melangkah menuju jendela. Dia melihat pemandangan luar jendela.
"aku tidak bisa membiarkan dia seenaknya saja merusak kebahagiaan keluargaku" gumam Andra.
"sebaiknya kamu hati-hati, karena kemarin dia gagal. Aku pikir dia pasti tidak ingin gagal lagi" sahut Alex.
Andra mengangguk setuju.
"kamu tau Lex, aku takut kalo Ardhan merebut Narra dariku. Aku tau dia akan melakukan segala cara untuk bisa unggul dari aku"
"Ardhan hanya masa lalu Narra, sekarang Narra bersamamu. Aku yakin Narra mencintaimu. Ardhan tidak penting baginya" ungkap Alex.
"jaga Narra baik-baik, coba untuk mengenalnya. Cinta saja tidak cukup, kamu harus buat dia nyaman dengan kamu" sahut Alex.
Andra memandang Alex.
"terima kasih bro" ucapnya.
"sama-sama bro" balas Alex.
"jangan ragu untuk menghubungi aku kalo kamu ada perlu, aku ada untuk itu" lanjut Alex.
"terima kasih, kamu selalu ada" sahut Andra.
*
Narra meminta bertemu dokter Firza.
Suster jaga lalu mengantarkan Narra keruangan dokter Firza.
"silahkan masuk nona Narra" sambut dokter Firza, dia mengenal Narra bukan hanya sebagai pasien tapi juga sebagai seseorang yang spesial di hati dokter Andra.
"aku ingin pulang sekarang dok" pinta Narra.
"tapi kondisi nona masih blum stabil, aku takut nona masih akan mengalami mual yang berlebihan" jelas dokter cantik itu.
"aku akan mengatasinya dok" sahut Narra yakin.
"baiklah, aku akan membuatkan surat keterangan untuk nona" kata dokter Firza.
"terima kasih dokter. Tapi maaf dokter, dokter tidak perlu bilang pada dokter Andra. Aku yang akan bilang" kata Narra.
"baiklah nona Narra. Surat keterangannya akan diantarkan keruang inap nona" ucap dokter Firza.
"terima kasih dokter" ucap Narra lalu pamit keluar dari ruangan dokter Firza.
__ADS_1
Dia menghubungi Imel untuk datang kerumah sakit tapi meminta merahasiakan pada yang lain termasuk Rea.
*
Imel membantu Narra berkemas.
Setelah mendapat surat keterangan dari dokter Firza, Narra dan Imel pun pulang.
Di lift Narra gelisah, dia tidak ingin bertemu Andra.
Terus terang setelah mendengar penjelasan Diandra dan Ardhan, hatinya merasa iba dengan Ardhan. Bukan salah Ardhan tentang apa yang terjadi padanya.
Dan juga dia kepikiran dengan kata-kata Ardhan mengenai sikap Andra.
Ardhan benar, tapi dia berusaha tidak mempermasalahkan cara Andra mencintainya. Hanya saja dia tidak bisa terus menjadi apa yang Andra mau tanpa Andra mengerti apa maunya.
"kamu kenapa ?" tanya Imel.
"aku baik-baik saja Mel, aku hanya ingin cepat-cepat pulang" ucap Narra.
Imel mencoba tersenyum padahal dia tahu Narra sedang kepikiran sesuatu.
*
Kedua orang tua Narra menyambut putri bungsu mereka dengan sumringah. Hanya saja mereka sedikit komplain kenapa Narra tidak memberitahu kalau sudah bisa pulang.
Narra meminta izin untuk istirahat di kamarnya. Imel pun menemaninya.
"Na, apa yang kamu pikirkan ?" tanya Imel.
Dia merebahkan diri di tempat tidur Narra.
Narra lalu menceritakan semua kejadian di rumah sakit tadi.
"jadi sekarang kamu bimbang dengan perasaanmu ?" tanya Imel.
Narra terdiam.
"kamu bilang, sekarang hatimu di penuhi Andra. Kenapa begitu mendengar penjelasan Ardhan tentang kepergiannya kamu jadi bimbang dengan perasaanmu. Kamu menyakiti Andra Na" terang Imel.
Narra tertunduk.
"Na, Ardhan itu masa lalu. Andra masa sekarangmu, dan niatnya akan menjadi masa depanmu" Imel melanjutkan.
"Mel, aku merasa kosong sekarang" ucap Narra seraya bersandar di tempat tidur dan memeluk bantal bentuk stroberrynya.
Imel memandang Narra.
"pikirkan dengan baik. aku rasa dengan semua yang terjadi padamu, kamu tahu apa pilihan terbaikmu" ujar Imel seraya memejamkan matanya.
"Mel, boleh aku bertanya ?" sergah Narra.
Imel membuka matanya, "ada apa ?" tanyanya.
"siapa orang itu, orang yang kamu tunggu" Narra menatap Imel.
Imel terdiam beberapa saat. Sebenarnya dia ingin memberitahu Narra tetapi lingkaran mereka sama, dia tidak ingin orang itu tahu dan nantinya menjauh darinya. Karena itu Imel memilih untuk menyimpannya sendiri.
"selama ini aku hanya tau kamu menunggu orang yang tepat, tapi aku tau orangnya itu ada tapi kamu menyembunyikannya dariku dan semua. Kenapa kamu tidak cerita, padahal aku selalu cerita semuanya sama kamu" jelas Narra.
"Na, aku tidak bisa. Karena aku tidak tau ini benar atau salah. Aku berharap yang terbaik saja. Aku sebenarnya tidak mematahkan hati bagi yang mendekatiku seperti pendapat Desta, hanya saja aku merasa tidak nyaman dengan mereka semua. Ya kalo ada yang mendekatiku dan membuatku nyaman, mungkin itu orang yang tepat" sahut Imel.
"tapi pria itu ada ?" Narra masih penasaran.
"aku selalu membuka hati" Imel kembali memejamkan matanya.
Narra mangut dengan jawaban Imel.
Imel masih belum mau berterus terang tentang hatinya.
Narra bingung, apakah Sheva harus maju atau mundur tapi Imel bilang dia membuka hati. Berarti masih ada kesempatan untuk Sheva.
Ya, wanita yang diam-diam Sheva suka adalah Imel, hanya saja Sheva memendam rasanya karena persahabatan mereka.
Sekarang Sheva menyerah dengan perasaannya, dia ingin mengungkapkan pada Imel.
__ADS_1
Apapun jawaban Imel nantinya, Narra berharap persahabatan mereka akan baik- baik saja.
***