FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 70.1


__ADS_3

Acara pernikahan Andra dan Narra berlangsung sangat meriah. Seluruh keluarga, teman-teman orang tua dan kedua mempelai termasuk patner bisnis datang memberi ucapan selamat.


Para wartawan dari berbagai media turut hadir mengabadikan momen bahagia tersebut karena selain keluarga Hadinata Wijaya yang merupakan dokter terkenal dan pebisnis ternama, Andra Hadinata Wijaya juga termasuk salah satu pengusaha sukses yang meraih banyak penghargaan dari berbagai ikatan lembaga dan seminar bisnis.


Narra awalnya merasa minder dengan perbedaan mereka tapi Andra dan keluarganya meyakinkan kalau mereka hanya ingin kebahagiaan putra putri mereka. Pilihan putra putri mereka, itu yang terbaik.


"selamat ya Na...." koor Rea dan Imel naik keatas panggung untuk memberi ucapan.


Mereka memakai pakaian berwarna senada. Kedua sahabat Narra itu sangat cantik mempesona selama acara. Dari akad nikah pagi tadi hingga malam hari resepsi di gelar, mereka berdua bersama Friends membantu keluarga menyambut tamu yang datang.


"selamat ya Na" giliran Faya yang memberi selamat setelah tadi sahabat-sahabatnya. Dia menjabat tangan lalu memeluk Narra.


Mata Narra langsung menoleh pada Andra. Tampak suaminya itu mencoba bersikap biasa.


Narra kaget, tidak mengira kalau Faya akan melakukannya.


"terima kasih Fay" Narra tersenyum canggung.


Setelah itu Faya menyalami Andra. Walaupun terkesan canggung tapi mereka mencoba seolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian mereka semua berfoto bersama.


Andra tidak bicara sepatah kata pun setelah kejadian itu. Narra mencoba mengerti. Nanti dia akan berbicara dengan pelan-pelan kepada suaminya lagi tentang hubungannya dengan Faya serta persahabatan mereka.


*


Setelah Narra berganti pakaian dan menghapus make up dengan di bantu MUA dan asistennya, dia pamit masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Narra keluar dengan mengenakan baju mandinya. Dia terkejut mendapati hanya Andra duduk di pinggir tempat tidur dengan mengenakan kaus dalaman warna putih dan celana bahan warna hitam.


"kamu sudah mandi ?" tanya Andra.


Narra mengangguk. Dia masih canggung dengan situasi sekarang.


"aku akan mandi" kata Andra seraya masuk kedalam kamar mandi.


Narra mengamati seluruh kamar hotel. Dia tidak membawa baju ganti, bagaimana akan berganti pakaian. Ponselnya juga masih di pegang oleh ibunya.


Tak lama Andra keluar dari kamar mandi. Dia hanya tersenyum melihat Narra yang kebingungan.


"koper kita akan segera datang. Kedua ibu kita yang mengurusnya" terang Andra.


Narra mengangguk.


Andra duduk disebelah Narra, dia hanya memakai handuk untuk menutupi area bawahnya.


Narra memandang tubuh atletis lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya.


"semuanya milikmu" kata Andra dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"ka Nda..." Narra tertunduk malu.


"sayang, hanya sayang" tegas Andra.


"baiklah, ka Nda sayang" ucap Narra.


"sayang........" Andra menekan kening Narra dengan keningnya.


"sayang" ucap Narra akhirnya.


Andra tersenyum, mata mereka kini saling menatap. Hingga jarak semakin dekat dan bibir mereka bertaut. Mereka mencurahkan perasaan rindu yang selama seminggu tertahan.


Suara bel menghentikan mereka. Andra segera beranjak memakai kembali kaus dan celananya yang tadi. Dia meminta Narra untuk tidak beranjak karena istrinya itu hanya memakai baju mandi.


"kak, ini koper kalian. Ponsel kalian juga sudah ada di dalam" terang Indra setelah Andra membuka setengah pintu.


"oke, terima kasih" jawab Andra.


"dan... Kami masih berada di hotel ini jadi besok kita akan sarapan bersama" kata Indra mengingatkan.


"baiklah" jawab Andra singkat karena dia tidak nyaman dengan mata Indra yang seakan mencari Narra di dalam kamar.


"apa kalian tidak ingin yang lain ?" tanya Indra.


"tidak, aku bisa mengurusnya" balas Andra.


Andra menutup pintu dan menguncinya setelah Indra pergi. Dia membawa dua koper miliknya dan Narra masuk kedalam.


"ini koper kita" kata Andra.


Narra mengangguk lalu membuka kopernya. Dia membulatkan matanya, di dalamnya bukan pakaian yang biasanya ada di dalam lemarinya.


Pakaian yang berada di dalam koper, berisi baju terusan tipis dan seksi. Sepertinya masih baru tapi sudah di cuci dan memakai pewangi.


Narra menggelengkan kepalanya. Hanya ada satu dress selutut lengan panjang dengan kerah menutupi leher yang kelihatan normal.


"kenapa sayang ?" tanya Andra yang sudah selesai mengganti baju dan celananya.


"ini bukan bajuku sayang, bagaimana bisa aku tidur pakai baju begini" kata Narra.


Andra mengintip isi koper Narra. Dia tersenyum, ternyata mertuanya menyiapkan semuanya dengan sempurna.


"ya pakai saja sayang, kita sudah sah sebagai suami dan istri jadi tidak apa kamu berpakaian seperti itu di depanku. Ingat hanya saat bersamaku" tekan Andra.


Narra memicingkan matanya. Dia lalu meraih salah satu pakaian itu lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi untu segera berganti pakaian.


*

__ADS_1


Narra mencoba untuk tidur, suaminya sepertinya sudah tidur dari tadi dengan posisi memeluknya dari belakang.


Seharusnya Narra bersikap biasa tapi dia tidak bisa. Tetap ada rasa takut dalam dirinya, entah karena apa.


"sayang, kenapa gelisah hmm ?" tanya Andra pelan tepat di telinga Narra.


"aku tidak apa sayang" ucap Narra.


"tidurlah, kita seharian lelah menerima tamu. Aku tidak akan memintanya malam ini" kata Andra.


Narra seketika menelan salivanya. Memintanya ? Apa suaminya itu akan... Ah kenapa aku jadi takut begini. Ucap Narra dalam hati.


"sayang, tidurlah" ulang Andra lagi seraya mengusap belakang leher Narra dengan hidungnya.


"iya sayang" ucap Narra gugup.


Tengah malam Narra terbangun, dia melepaskan tangan Andra yang melingkar di perutnya. Dia menuju jendela hotel yang tertutup horden coklat.


Narra memandang keindahan cahaya malam dari balik jendela. Setelah hari ini, kehidupan baru menantinya sebagai seorang istri Andra Hadinata Wijaya. Dia tidak bisa sebebas dulu lagi, dia harus mementingkan suaminya lebih dulu daripada kepentingannya. Dia juga benar-benar harus bisa menjaga sikap ketika bersama sahabatnya. Dia tidak mau nanti para wartawan sampai memotret dan memberitakan yang bukan-bukan untuk menjelekan citra Andra dan keluarga Hadinata Wijaya.


Narra merasakan tubuhnya di peluk dari belakang.


"kenapa ? Apa yang kamu pikirkan ?" tanya Andra.


"banyak yang harus aku sesuaikan dengan kehidupan baruku bersama ka Nda. Apa aku bisa melakukannya tanpa berbuat kesalahan ? Aku jadi takut sendiri" jelas Narra.


"jalani seperti biasanya saja sayang, cuma bedanya kamu sekarang istriku. Aku suamimu. Kita akan melewati semuanya bersama" kata Andra seraya mengecup puncak kepala Narra.


"apa aku masih bisa bebas seperti dulu, melakukan apa yang aku mau bersama para sahabatku ?" ucap Narra.


Andra terdiam. Dia belum punya kata-kata yang pas untuk itu. Dia takut apa yang dia bicarakan akan menyinggung perasaan Narra.


"sayang, sudah malam. Kita bicarakan lagi ini nanti ya. Besok kita ditunggu untuk sarapan bersama keluarga besar kita" Andra berusaha mengalihkan pembicaraan.


Narra mengangguk. Dia melepaskan pelukan Andra lalu beranjak masuk kedalam selimut. Dia mulai memejamkan matanya.


Andra hanya terpaku menatap istrinya. Dia tidak ingin Narra marah padanya. Dia lalu menyusul Narra masuk kedalam selimut.


"tidurlah sayangku, aku mencintaimu" bisik Andra.


"aku mencintai ka Nda" balas Narra pelan.


Andra mengelus lengan Narra, dia merasa takut bagaimana nanti kalau dia salah memperlakukan Narra. Tentunya akan membuat istrinya itu marah dan kecewa karena merasa terpenjara. Padahal yang dia inginkan hanya Narra terus berada disisinya mengurusi keperluannya saja tanpa harus bekerja karena dia yang akan mencukupi semua kebutuhan istrinya itu.


Narra mencoba berpikir tenang bahwa semua akan baik-baik saja. Dia ingin kehidupan barunya bersama Andra berjalan dengan indah tanpa ada masalah yang akan membuat mereka berselisih paham.


***

__ADS_1


__ADS_2