FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 32.1


__ADS_3

Alex mengatur pertemuan dengan Jeniffer di cafe dekat apartement dimana wanita itu tinggal.


Andra memandang tajam kearah Jeniffer.


Wanita itu menelan saliva, dia belum pernah melihat kemarahan Andra seperti yang dia tunjukan lewat tatapan matanya sekarang. Dari dulu pria itu selalu bersikap baik dan memanjakannya.


"kenapa kamu kembali menggangguku ?" tanya Andra.


"aku ada kerjaan disini An, aku tidak tau kalo yang menangani kerjaanku itu pacar kamu" jelas Jeniffer.


"maksud kamu ?" tanya Andra seraya bersandar di kursi lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Ardhan meminta aku menjadi model untuk perusahaannya" terang Jeniffer.


"jelas sekali dia ingin menarikmu dalam permainannya" sergah Andra.


"maksud kamu ?" kali ini Jeniffer balik bertanya.


"Narra itu mantan kekasih Ardhan, dia berusaha untuk membuat Narra kembali. Dan dia semakin berusaha begitu tau kalo kekasih Narra itu aku. Kamu tau kan bagaimana sikap Ardhan sama aku dari dulu" jelas Andra.


Jeniffer menutup mulut tidak percaya. Ardhan tidak bilang apa-apa tentang ini. Tapi baguslah, dengan begitu dia bisa mendapatkan Andra lagi. Pikir Jeniffer.


Dia masih berharap untuk kembali pada Andra karena dia merasa Andra itu hanya mencintai dia karena selama pelariannya, dia terus memantau kondisi Andra.


Dia tahu Andra mengalami depresi karena dia. Karena itu dia yakin, Andra akan kembali jadi miliknya saat dia kembali.


"kenapa kita tidak balikan saja An ?" ujar Jeniffer dengan santainya.


"kamu sadar dengan apa yang kamu bilang barusan ?" Andra memandang tidak percaya.


Sementara Alex yang berada di meja sebelah mereka hanya memandang sinis.


Bisa-bisanya wanita itu meminta kembali setelah apa yang dia lakukan pada Andra. Pikir Alex seraya menggelengkan kepalanya.


"bagiku, kamu hanya masa lalu. Aku sekarang bersyukur waktu itu kamu pergi, karena aku bisa tau kamu seperti apa" Andra memandang Jeniffer sinis.


"apa maksudmu ?" tanya Jeniffer.


"kamu pergi dengan pria lain" balas Andra.


"aku pergi bukan karena pria lain, itu hanya drama yang dibuat Ardhan agar kamu tidak mencari aku" bantah Jeniffer.


Akhirnya dugaan Andra selama ini benar. Karena itu dia semakin tidak suka saat Ardhan di jodohkan dengan Diandra. Selain perbedaan usia Diandra dan Ardhan yang terpaut dua tahun, Andra mencurigai Ardhan yang telah mempengaruhi Jeniffer untuk pergi darinya.


"aku pergi karena aku ingin menggapai cita-citaku menjadi model terkenal. Kamu selalu bilang, ingin menjadikan aku penghuni istanamu yang hanya mengurusi kamu dan anak-anak kita. Tapi aku tidak ingin begitu, aku ingin berkarier dan bersama kamu" lanjut Jeniffer.


"dan kamu tidak pernah bilang itu semua, kamu memilih pergi tanpa bicara sama aku. Kamu hanya mendengarkan semua omong kosong dari Ardhan" ketus Andra.


"aku ingin bicara tapi kamu selalu tidak memberi aku kesempatan. Ardhan, dia mendengarkan aku" balas Jeniffer.


"sudahlah, semua urusan kita sudah berakhir. Jangan pernah ganggu kehidupanku lagi. Atau aku akan membuat kamu menyesal kembali kesini" ancam Andra seraya beranjak pergi.


Alex pun beranjak berdiri. Dia tidak langsung menuju keluar tetapi singgah di kasir untuk membayar pesanan mereka.


"dengan pesanan wanita itu" tunjuk Alex kearah Jeniffer yang terdiam duduk sendirian sekarang seraya mengulurkan kartu.


Kasir itu mengangguk lalu melakukan tugasnya.


Setelah urusan pembayaran selesai, baru Alex beranjak keluar dari cafe.


*


Sementara itu..


Narra merasa tidak tenang. Dia kepikiran pertemuan Andra dan Jeniffer.


Dia menimang ponselnya, ingin hatinya menghubungi Andra tapi dia takut mengganggu.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari Imel.


"iya Mel"


"Na, pulang kantor bisa ke toko ?" tanya Imel.


"bisa, ada apa ?" tanya Narra.


"aku butuh bantuan, pegawai aku yang biasanya jaga kasir mendadak sakit padahal hari ini banyak pesanan yang mau di kirim. Semua tenaga dibutuhkan jadi aku minta tolong kamu jaga kasir sampai aku dan karyawan lain selesai packing. Bagaimana ?" Imel merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu.


"ya tidak masalah, aku bantu" Narra mengiyakan.

__ADS_1


"terima kasih ya Na, terima kasih banyak" Imel sumringah.


"sama-sama Mel. Bye" seru Narra.


"bye Na" Imel menutup panggilannya.


Narra tersenyum, Imel selalu merasa tidak enak meminta bantuannya padahal mereka sangat dekat. Narra selalu tidak masalah membantu, dia akan berusaha semampunya.


Narra segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa selesai saat waktunya pulang.


*


Andra menjemput Narra. Dia menunggu di lobby utama, setelah mengirim pesan kepada kekasihnya itu.


Tak lama Narra datang menghampiri.


Andra beranjak berdiri menghampiri Narra kemudian mengusap sayang puncak kepala kekasihnya itu.


"kita pulang sekarang sayangku ?" tanya Andra.


"iya ka Nda sayang, tapi kita ke toko Imel ya" ujar Narra.


"ada apa ?" tanya Andra.


"aku bantu jaga kasir di tokonya karena hari ini mereka sangat sibuk" jawab Narra.


Dia lalu menceritakan tentang permintaan Imel.


Andra mangut, dia bilang kalau dia akan mengantarkannya dan menjemput Narra lagi setelah pekerjaannya di rumah sakit selesai.


"kamu sudah hubungi orang rumah ?" tanya Andra begitu mereka dalam mobil.


"iya, aku sudah menghubungi ayah" jawab Narra.


"baiklah, kita jalan sekarang sayang" Andra pun mengemudikan mobilnya menuju toko sport milik Imel.


Dalam mobil, Narra sesekali memandang Andra.


Andra sebenarnya sudah bisa menebak apa yang Narra ingin tanyakan. Tapi dia berusaha untuk menahannya.


"ka Nda, bagaimana pertemuannya dengan Jeniffer ?" tanya Narra akhirnya.


Andra mengusap kepala Narra dengan tangan kirinya.


Narra mangut. Dia tidak bertanya lagi, baginya sudah cukup kalau Andra bersikap tegas pada Jeniffer.


Sekarang tinggal dia yang harus lebih tegas lagi pada Ardhan.


"apa yang kamu pikirkan ?" tanya Andra sekilas menoleh kepada Narra.


"tidak ada ka Nda sayang" jawab Narra.


Andra menepikan mobilnya setelah itu dia memperbaiki posisi duduknya agar menghadap Narra.


"yakin sayang ?" tanyanya.


"iya ka Nda sayang, aku baik-baik saja" Narra mengenggam tangan Andra.


Dia berpikir untuk tidak memberitahu pada Andra tentang pikirannya saat ini karena setelah nama Ardhan disebut pasti Andra akan jadi emosi.


"baiklah, aku tidak mau kamu kepikiran macam-macam" jawab Andra mengusap pipi Narra.


Narra menggelengkan kepalanya, dia tersenyum.


"kita jalan lagi ka Nda" kata Narra.


Andra mengangguk. Dia menangkup wajah Narra.


"maafkan aku, seharusnya kita banyak meluangkan waktu bersama. Aku terlalu disibukan dengan pekerjaanku. Perusahaan dan rumah sakit" Andra terdengar lirih.


"apa aku mengeluh ?" tanya Narra.


Andra menatap Narra.


"ka Nda sayang, aku tidak mempermasalahkannya. Yang penting kita saling menjaga kepercayaan, itu saja" ucap Narra meyakinkan.


"terima kasih sayang, aku bahagia sama kamu, aku sangat cinta sama kamu" ucap Andra seraya memeluk Narra.


"aku juga" balas Narra.

__ADS_1


Narra melepaskan pelukannya, dia merapikan kembali kemeja Andra yang kusut akibat pelukan mereka.


"kita jalan sekarang ka Nda sayang, aku tidak mau pasien dokter Andra Hadinata Wijaya menunggu lama" katanya kembali memamerkan senyumnya.


Andra mengangguk. Dia mencuri cium bibir kekasihnya lalu kembali fokus mengemudi.


Narra hanya menggelengkan kepalanya. Dia mencuri cium pipi Andra membuat kekasihnya itu tersenyum seraya mengusap kepalanya.


Mereka kembali melaju menuju toko olahraga Imel.


*


Imel menyodorkan susu coklat kepada Narra sedangkan dia minum minuman kaleng bersoda.


Akhirnya proses pengemasan barang selesai juga. Imel dan para karyawannya bisa istirahat sejenak termasuk Narra.


"maaf ya Na, aku merepotkan kamu lagi" kata Imel.


"tidak apa Mel, aku senang bisa bantu kamu" jawab Narra.


"kamu dijemput kak Andra disini ?" tanya Imel.


Narra mengangguk.


"iya, dia melarang aku kemana-mana sendiri. Jadi sekarang aku sangat merepotkan dia. Kemana-mana dia antar dan jemput" jelasnya.


"dia sangat mengkhawatirkan kamu" ucap Imel.


Narra menggeleng.


"aku merasa bukan karena itu juga tapi karena quality time kami berdua ya hanya begitu. Dia harus mengurus kantor dan rumah sakit, dia sangat sibuk tapi dia ingin meluangkan banyak waktu untuk aku" jelas Narra.


"Dia sangat butuh pengertian kamu" Imel tersenyum.


"aku tau, karena itu aku tidak pernah menuntut kami harus seperti pasangan yang lain. Menghabiskan waktu bersama dengan jalan ke mall, makan, liburan.... aku tidak mau dia terbebani dan kepikiran" jelas Narra lagi.


"aku senang kamu menemukan bahagiamu Na" ucap Imel.


"terima kasih, ini juga karena kalian semua yang mendukungku" Narra tersenyum.


"hmmm sebenarnya setelah ini aku ada latihan. Maunya ajak kamu tapi bagaimana kalo tiba-tiba Ardhan muncul di klub, akan ada masalah lagi" terang Imel.


"aku ikut ya. Menurutku dia sangat sibuk sekarang, tidak akan muncul di klub. Kalo pun dia muncul, kan ada kamu sebagai pelindungku" sergah Narra memamerkan senyumnya.


Imel mengangguk.


"baiklah, sebaiknya kamu beritahu kak Andra. Aku kedalam dulu" kata Imel seraya beranjak.


Narra kemudian mengirim pesan pada Andra untuk memberi tahu.


ka Nda sayang, aku ke klub basket ya. Temani Imel latihan..


Narra mengirim pesannya.


Setelah menunggu beberapa lama, Andra membalas pesan Narra.


Baiklah.. nanti aku jemput disana sayang setelah pekerjaanku selesai. Love u ❤


Narra tersenyum. Dia mengetik.


Iya ka Nda sayang, love u ❤


Narra kemudian memasukan kembali ponselnya kedalam tas.


"Na, kamu pake ini. Masa ke klub basket tapi pake setelan kerja" Imel terkekeh.


"ihhh biasanya juga papa kalo ke klub atau nonton basket pake jas" sergah Narra.


Imel menepuk jidatnya.


"itu karena papa manajer team Na.... biarpun pake jas tapi dalamnya tetap kaus. Bukan setelan kerja kayak kamu begini" katanya.


Narra terkekeh.


"sudah sekarang ganti baju sana, nanti aku dapat hukuman dari papa karena datang terlambat" sergah Imel.


Narra mengangguk, "iya iya" katanya.


Mereka lalu menuju kamar ganti.

__ADS_1


Imel juga berganti pakaian dengan seragam latihan.


***


__ADS_2