
Narra meraih ponsel mewah keluaran terbaru pemberian Andra. Dia mengecek pesan atau panggilan dari tunangannya tapi tidak ada kabarnya.
"mungkin ka Nda sibuk" pikir Narra. Dia meletakan kembali ponselnya.
Dalam ponselnya tidak terdapat banyak kontak karena Andra hanya memasukan nomor penting saja.
Akibat kecelakaan itu, Narra kehilangan ponselnya. Karena itu Andra menggantinya dengan lebih baik, lebih mahal dan mewah. Bahkan keluarganya sendiri heran melihat ponsel seharga sebuah motor itu. Dari dulu walaupun keluarga Sasmita cukup mampu untuk membeli barang mewah tapi ayah Sasmita dan ibu Flanella menerapkan hidup sederhana kepada anak-anaknya. Karena itu mereka terkejut Andra memberi Narra ponsel mewah. Sesayang itu pria itu kepada putri mereka.
Ponsel Narra berdering. Nama Alex tertera di layar.
"iya kak Alex" jawab Narra.
"apa kabar Na ?" tanya Alex.
"sudah lebih baik kak, semuanya baik-baik saja ?" Narra balik tanya karena kalau Alex menelfon pasti ada sesuatu yang penting atau sesuatu sedang terjadi pada Andra.
"tidak baik Na, tunanganmu sedang stres berat" kata Alex.
"kenapa ? Soalnya seharian ini tidak ada kabar dari ka Nda" kata Narra.
"dia sangat sibuk karena pekerjaannya harus selesai sebelum minggu depan dipingit untuk menjalani prosesi pernikahan" jelas Alex.
"iya kak Alex" sahut Narra.
"karena itu aku mau minta tolong sama kamu cuma aku takut kamu belum pulih" terdengar suara Alex ragu.
"tidak apa kak, aku sudah jauh lebih baik" sergah Narra.
"bisa aku jemput kamu ? Andra stres karena dia ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kalian dipingit tapi pekerjaannya seperti tidak ada habisnya" jelas Alex.
"bisa kak, aku akan siap-siap" kata Narra.
"terima kasih Na, sekitar lima belas menit lagi aku jemput" kata Alex.
"baik kak Alex" tutup Narra.
Dia meletakan kembali ponselnya. Kemudian dia menuju kamar ayahnya untuk meminta izin terlebih dulu sebelum bersiap-siap.
*
Narra dan Alex sampai di perusahaan HW Farma. Sepanjang jalan dari pintu masuk lobby sampai menuju lift semua menyapa mereka. Narra pun membalas mereka seraya memamerkan senyumnya.
"Mia, kamu sudah kembali ?" tanya Alex karena saat dia meninggalkan kantor, sekretaris Mia keluar makan siang.
"iya pak Alex" jawab Mia.
"siang nona Narra" sapa Mia pada Narra.
"siang juga Mia" balas Narra.
"pak Andra masih sibuk ?" tanya Alex lagi.
Mia mengangguk, "iya pak, bahkan makan siang yang bapak pesan belum disentuh oleh pak Andra. Beliau meminta saya meletakannya di rak sebelah lemari sampel" jelasnya.
Alex memandang Narra, wanita disebelahnya itu hanya menggelengkan kepalanya.
"sebaiknya kamu masuk saja, aku akan keruanganku" kata Alex.
Narra mengangguk.
Alex mengetuk dan membukakan pintu setelah terdengar balasan 'masuk' dari dalam.
__ADS_1
"berikan mereka privasi, kalo ada sesuatu yang penting kamu bisa hubungi pak Andra lewat phone atau memberi tahu saya" pesan Alex pada Mia setelah Narra masuk kedalam.
"baik pak Alex, saya paham" kata Mia.
Alex pun berbalik kembali keruangannya yang terletak tidak jauh dari ruangan Andra.
*
"kalo masih ada berkas yang harus aku periksa, kamu tahan dulu di mejamu atau berikan pada Alex. Aku akan menyelesaikan ini dulu. Aaaaaahhhhhh aku ingin bertemu Narra" kata Andra tanpa menoleh, pandangannya fokus pada berkas yang sedang di periksanya.
Tidak ada suara balasan dan tidak ada suara pintu, berarti Mia masih ada dalam ruangannya.
"kenapa kamu masih disitu ? Keluar, selesaikan pekerjaanmu" kata Andra.
"baik ka Nda" sahut Narra.
Andra tersadar, dia mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya dia, wanita yang sangat dia rindukan kini berada di hadapannya.
Dengan segera Andra beranjak berdiri, dia menghampiri Narra masih dengan tatapan tidak percaya. Dia takut ini hanya halusinasi karena merindu.
"sayang... Kamu disini ?" tanya Andra seraya memegang pipi Narra.
"aku baru akan pulang" Narra hendak berbalik tapi Andra menahan tangannya.
"jangan sayang, maafkan aku" ucap Andra.
"tadi ka Nda menyuruhku keluar" balas Narra, dia sengaja pura-pura marah.
"maaf, aku pikir tadi Mia" kata Andra.
"jangan pulang ya, ya ya ya" lanjutnya seraya menangkup wajah Narra.
"baiklah tapi aku mau es cream" balas Narra seraya tersenyum.
Dengan segera Andra merogoh ponselnya di saku dalam jas, dia memesan es cream favorit Narra di kedai es cream langganan mereka.
"selesai, sekarang kamu cerita.. Kenapa kamu bisa ada disini ?" tanya Andra setelah meletakan ponselnya di atas meja.
"seharian ini tidak ada kabar dari ka Nda trus tiba-tiba ka Alex telfon kalo tunanganku sangat sibuk" cerita Narra.
"maafkan aku, aku benar-benar hanya ingin pekerjaanku cepat selesai agar dapat bertemu kamu" sahut Andra.
"hmmm trus kak Alex memintaku untuk datang agar tunanganku tidak semakin stres, dia menjemputku" Narra mengakhiri ceritanya.
Andra tersenyum, "aku akan mengucapkan terima kasih padanya, mungkin dengan tambahan bonus" katanya.
"tapi sebenarnya aku agak kecewa" kata Narra.
"kenapa ?" tanya Andra.
"kata Mia, ka Nda belum makan siang" mata Narra melirik bungkusan plastik yang di dalamnya terdapat dua kotak makanan di rak tidak jauh dari sofa yang mereka duduki.
"maaf" lagi lagi Andra meminta maaf.
Narra beranjak, dia mengambil bungkusan itu lalu membukanya di depan Andra.
"itu pasti untuk Alex tadi setelah memesan dia pamit keluar tidak kembali lagi. Ternyata dia menjemputmu" terang Andra.
"kalo begitu aku akan mengantarkan ini dulu pada kak Alex. Bolehkan ?" tanya Narra.
"kita pergi bersama" Andra beranjak.
__ADS_1
Mereka keluar dari ruangan Andra menuju ruangan Alex.
*
"senang kalian berkunjung keruanganku ini" kata Alex.
"aku mau mengantar ini untuk kak Alex, kata ka Nda ini punya kak Alex" kata Narra meletakan bungkusan plastik berisi satu kotak makanan karena yang untuk Andra sudah Narra sisihkan di atas meja tamu dalam ruangan Andra.
"ah itu untuk kalian berdua saja, aku baru akan memesan lagi" kata Alex.
"tidak perlu, kami akan makan sekotak berdua. Aku tidak ingin kamu telat makan, kamu andalanku" kata Andra.
"terima kasih" ucap Alex.
"aku berterima kasih bro, kamu sangat memahamiku. Kamu menjemput semangatku" balas Andra seraya melirik Narra.
"aku tau kamu butuh asupan semangat agar pekerjaanmu cepat selesai dan Narra orangnya" sahut Alex.
"terima kasih sekali lagi bro, aku akan menambahkan bonusmu" balas Andra.
"terima kasih pak Andra yang baik hati" ucap Alex.
Andra menepuk pundak Alex.
Andra dan Narra pun pamit dari ruangan Alex. Sebelum keluar Andra berpesan.
"makan dulu baru lanjutkan pekerjaanmu" katanya.
"baik pak" jawab Alex formal.
*
Narra menyuapi Andra yang fokus pada berkas dan sesekali beralih pada layar laptopnya.
Meja kerja Andra sekarang berpindah di meja tamu. Dan es cream Narra sementara dititipkan di lemari pendingin di pantry karena Narra ingin Andra menyelesaikan makan siangnya yang tertunda.
Andra hanya balas menyuapi Narra dua suap saja karena Narra bilang dia sudah makan siang di rumahnya bersama tante Melani dan ketiga sahabatnya.
Setelah mendengar nama Faya disebut, raut wajah Andra berubah. Dia tidak suka, bayangan pernyataan suka Faya kepada Narra kembali terlintas. Dia berusaha untuk mengontrol emosinya.
"minum dulu sayang" ucap Narra dengan sengaja menyebut sayang tapi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tahu Andra masih tidak suka dengan Faya karena ternyata sahabatnya itu diam-diam menyukainya.
"Na ?" Andra terpaku menatap Narra, dia yakin dia tidak salah dengar.
"minum dulu" Narra membenarkan posisi sedotan di depan bibir Andra.
Andra meminum air kemasan dalam botol dengan sedotan.
"sayang, kamu tadi panggil apa ?" tanya Andra.
"apa ?" Narra balas tanya.
"yang tadi, waktu minta aku minum" tekan Andra.
"sayang" Narra tersenyum.
Andra mengecup bibir Narra, "panggil begitu saja, jangan ka lagi" katanya.
"iyaaa, sekarang makan lagi. Aaaaa" Narra lanjut menyuapi Andra.
Andra membuka lebar mulutnya. Dia senang.
__ADS_1
***