
Faya menghampiri Andra yang sedang melihat anak kecil bersama pengasuhnya di taman Restorant.
Dia ingin bicara tentang perasaannya pada Andra. Dia merasa dia berhak untuk bersama Narra meskipun hanya sebatas sahabat. Dia tidak ingin Andra membatasi gerak Narra.
"kak Andra, boleh bicara sebentar ?" tanya Faya.
Andra memandang Faya lalu mengangguk.
Mereka kemudian menuju bangku taman.
"kak Andra pasti sudah tau tentang perasaanku pada Narra dan kami sudah membahasnya tadi bersama di dalam" Faya memulai pembicaraan.
"iya dan aku harap kamu bisa mengerti kalo Narra itu calon istriku. Kami beberapa hari lagi akan menikah" kata Andra. Dia berusaha tenang, padahal dalam hatinya ada gejolak cemburu yang berkecamuk yang coba ditahannya.
"tapi disini kak Andra yang tidak mengerti" sergah Faya.
"maksudnya ?" tanya Andra.
"kak Andra membatasi ruang gerak Narra bersama kami. Padahal kami sudah bersama sejak kecil, aku, Erga, Desta, Sheva semuanya dekat dengan Narra. Walaupun aku memang memiliki perasaan pada Narra tapi aku bisa menahannya. Aku memilih melihat Narra bahagia tapi apa kakak melihat itu ? Narra tersiksa karena tidak bisa bersikap seperti biasanya pada kami karena takut hal itu membuat kakak cemburu" jelas Faya panjang.
Andra tercengang. Apa benar yang Faya katakan, bahwa Narra tidak bahagia, Narra tersiksa karena sikapnya yang cemburu dan emosi bila dia bersama dengan para sahabat cowoknya dan juga termasuk pada pria-pria yang lain. Dia lebih tenang Narra bersama dirinya dan keluarganya.
"kak, aku hanya meminta kakak bisa membebaskan Narra bersama kami, kami juga tau batasan kami" kata Faya. Dia beranjak berdiri.
"aku sudah selesai, permisi" Faya beranjak pergi menuju parkiran motornya.
*
Andra masih terus saja memikirkan perkataan Faya. Hal itu sangat mengganggunya.
Narra yang duduk di sofa tamu tidak jauh dari meja kerja Andra memperhatikan terus dari tadi kegelisahan calon suaminya itu.
"ka Nda" panggil Narra.
"iya sayang" sahut Andra.
"ka Nda baik-baik saja ?" tanya Narra.
"iya sayang, aku baik-baik saja. Aku selesaikan pekerjaanku dulu setelah itu kita pergi jalan-jalan ya. Menikmati waktu kita sebelum dipingit" terang Andra.
"iya ka Nda" ucap Narra. Dia lanjut memainkan ponselnya.
Pesan grup Friends.
[Desta : aku minta maaf karena sudah membuat persahabatan kita seperti ini. Maafkan aku 🙏🏻]
Desta mengomentari foto yang dikirim Narra.
[Rea : sudah Ta, semuanya sudah lewat. Sekarang, mari kita perbaiki persahabatan kita. Aku juga sudah baikan sama Indra. Dia bisa mengerti dengan semuanya]
[Narra : senang dengarnya *pelukRea]
[Rea : *pelukNarra]
[Imel : @Narra @Imel kalian pelukan tanpa aku *pelukanbertiga]
Narra melihat komentar Imel yang sudah menerima Rea membuatnya berpikir untuk Erga bisa membuat Imel mengerti tentang perasaan mereka berdua.
Dia menimang ponselnya, apa dia harus menghubungi Erga. Tapi nanti kesannya dia memaksa.
"sayang.. Kenapa ?" tanya Andra.
__ADS_1
Narra menggeleng seraya tersenyum.
"tidak apa sayang, lanjut kerja lagi ya" kata Narra pada Andra.
Andra pun melanjutkan pekerjaannya.
Narra melihat ponselnya, sebentar lagi waktu pertemuannya dengan Arjuna dan Ardhan.
Andra meminta mereka bertemu di ruang rapat kantornya karena dia ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama Narra. Dia tidak bisa menemani Narra bertemu di luar karena pekerjaannya harus segera selesai sebelum diserahkan pada Indra.
Mia masuk kedalam ruang kerja Andra setelah mengetuk pintu.
"maaf, permisi pak Andra. Tamu nona Narra sudah menunggu di ruang rapat. Pak Arjuna dan Pak Ardhan" katanya.
Narra memandang Andra.
"baik Mia, katakan pada mereka Narra akan segera kesana" kata Andra.
"baik pak Andra, saya permisi nona Narra" pamit Mia.
"terima kasih Mia" ucap Narra.
Setelah Mia keluar dan menutup pintu, Andra beranjak mendekati Narra. Dia mengusap pipi Narra.
"aku percaya sama kamu, temui mereka. Selesaikan urusan kalian" katanya.
"baik ka Nda sayang, aku keluar dulu" pamit Narra.
Andra mencium kening Narra.
Narra tersenyum lalu beranjak keluar dari ruangan kerja Andra.
*
Mia yang mengerti dengan sikap protektif bossnya pada calon istrinya itu hanya mengangguk paham.
"maaf, kalo saya jadi merepotkan pak Juna dan pak Ardhan" Narra memulai pembicaraan.
"tidak apa, bagaimana keadaanmu ?" tanya Ardhan.
"saya sudah lebih baik, terima kasih sudah datang menjenguk" kata Narra.
"maaf ya Na, saya tidak menemui kamu di rumah sakit karena waktu itu kamu sedang istirahat" sahut Arjuna.
"tidak apa pak Juna, saya mengerti" ucap Narra.
Narra kemudian berbicara tentang keputusannya untuk menangani iklan perusahaan Ardhan. Dia akan mengerjakannya setelah acara pernikahannya dengan Andra.
"jadi itu berarti kamu masih bergabung bersama kami ?" tanya Arjuna.
"saya akan membicarakan dulu dengan suamiku karena apapun yang saya lakukan harus dengan persetujuannya" jelas Narra.
"baiklah, selamat bergabung kembali untuk menangani iklan yang tertunda" kata Arjuna seraya mengulurkan tangan berjabat tangan dengan Narra.
Ardhan melakukan hal yang sama. Dia bersikap profesional, Narra senang dengan perubahan Ardhan itu.
"baiklah, kita sepakat akan menjadwalkan ulang proses syuting dan lain-lainnya" sahut Ardhan.
"hmmm masih ada lagi pak Ardhan. Terakhir kita syuting, model anda meninggalkan lokasi syuting tanpa alasan yang jelas. Apa anda sudah mengatasi itu ? Karena model itu keinginan anda" kata Narra.
"tentang Jeniffer, saya belum bicara dengannya. Tapi kalo misalnya kamu keberatan, saya menyerahkan pada tim kalian untuk mencari penggantinya" jelas Ardhan.
__ADS_1
"bagaimana pak Juna ?" tanya Narra. Sebagai bawahan Arjuna, Narra butuh persetujuan bossnya itu.
"saya menyerahkan keputusannya pada kamu sebagai ketua tim" kata Arjuna.
"saya tidak masalah, yang penting dia jangan bersikap seperti itu lagi karena kasihan tim yang sudah bekerja keras menyiapkan semuanya" jelas Narra.
"baiklah, saya akan meminta asisten saya untuk mengatur pertemuan dengannya" kata Ardhan.
"terima kasih pak Ardhan" ucap Narra.
*
Narra berbicara berdua dengan Ardhan setelah pertemuan mereka selesai. Narra meminta Mia untuk menyampaikan hal itu pada Andra.
Arjuna langsung pamit begitu keluar dari ruang rapat.
Narra memilih kantin perusahaan untuk bicara dengan mantan kekasihnya itu karena tempatnya ramai. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman antara dia dan calon suaminya.
"aku minta maaf atas semua yang terjadi pada kamu dan keluargamu" ucap Ardhan.
"sudahlah, mulai sekarang mari kita memulai dengan hubungan yang baik. Andra bilang kamu sudah berubah dan aku sudah melihat sendiri perubahan itu. Maafkan aku Ardhan, aku berharap kita bisa jadi teman bahkan saudara" Narra tersenyum.
Ardhan menatap Narra.
"terima kasih Na, kamu sangat baik. Berapa banyak kesakitan yang telah kuperbuat dan keluargaku tapi kamu membalasnya dengan menjadikanku teman bahkan saudaramu" katanya.
"asal kamu segera move on, aku tidak mau kamu terus mengenang masa lalu kita. Biarkan itu jadi sesuatu yang tersimpan jangan di bahas lagi" kata Narra.
"aku mengerti" sahut Ardhan.
"hmmm aku minta maaf, karena aku tidak menyadari perkataanmu dulu kalo Imel ada hati sama Erga"
Ardhan membulatkan matanya.
"kamu sudah tau ?" tanyanya.
"semuanya sudah tau, tapi sekarang Imel harus menerima kekecewaan karena hati Erga bukan untuknya" kata Narra. Dia lalu menceritakan semuanya pada Ardhan. Menurutnya, Ardhan sudah sangat dekat dengan para sahabatnya sehingga tidak mengapa kalau Ardhan tahu semuanya.
"kamu baru menyadari perasaan Faya ?" tanya Ardhan.
"kamu tau ?" Narra balik tanya.
Ardhan mengangguk, "seorang kekasih akan selalu tau kalo ada orang lain yang menyukai kekasihnya. Intinya kami para cowok taulah bahasa cowok yang lagi memendam rasa" jelasnya.
"Faya ingin seperti kamu, dia ingin waktu berdua denganku" kata Narra.
"gila ! Andra mana setuju, jangan mengulang kejadian denganku lalu Na. Kalian akan segera menikah" sergah Ardhan.
Narra mengangguk.
"aku tau, karena itu aku tidak mengiyakan sehingga Faya marah padaku" kata Narra.
"biarkan saja, nanti juga dia akan mengerti" sahut Ardhan.
Mereka berbicara seraya meminum jus alpukat favorit mereka. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengawasi dengan emosi yang tertahan.
Ya, Andra berada disana setelah Mia memberitahunya kalau Narra meminta waktu bicara sebentar dengan Ardhan secara pribadi.
Andra sudah coba untuk menahan diri tapi rasa cemburunya lebih besar sehingga dia memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan menemui Narra dan Ardhan. Sayangnya saat hendak menghampiri, Andra mendengar pembicaraan Narra dan Ardhan yang tidak pernah dibahas Narra dengannya sehingga dia memutuskan untuk mendengarkan dari jauh.
"kenapa kamu tidak mengatakan semuanya padaku sayang, kenapa kamu tidak jujur tentang keinginan Faya" Andra bermonolog, tangannya mengepal.
__ADS_1
Kalimat Faya kembali terngiang, Andra merasakan gejolak emosinya akan meledak. Dia bergegas pergi dari tempat itu.
***