
Setelah makan siang, Andra mengajak Narra menuju lantai dua. Dia meminta Narra untuk menunggu sebentar karena dia akan mandi dulu.
Andra terus terang pada Narra kalau dia belum mandi.
"silahkan" Andra membuka pintu kamarnya.
"ka Nda, sebaiknya aku tunggu di luar ya. Tidak enak diliat orang, aku masuk kamar ka Nda" tolak Narra.
"tidak apa, aku tidak mau kamu sendirian di luar. Mending di kamarku. Aku jadi tidak khawatir" kata Andra.
Karena tidak ingin ada masalah lagi, dia menurut. Dia percaya Andra tidak akan macam-macam padanya.
Narra memandang tidak percaya. Kamar Andra terdapat meja pajangan yang memuat foto-fotonya dengan berbagai gaya yang diambil secara diam-diam di bingkai dengan indah.
Dinding kamar Andra juga terdapat foto berdua mereka saat awal jadian sekaligus foto perpisahan mereka karena Andra melanjutkan studinya.
Di atas nakas, juga tidak luput dari foto mereka. Foto mereka di taman saat Andra pulang tempo hari.
"ka Nda ini ?" tanya Narra, dia masih tidak menyangka dengan apa yang diliatnya.
"iya sayang, ini karena aku sangat mencintaimu lebih dari diriku sendiri" sahut Andra.
Narra menatap kekasihnya itu. Bulir air mata menetes membasahi pipinya.
"terima kasih ka Nda" ucapnya.
Andra mengusap air mata Narra.
"jangan menangis, maafkan aku. Aku mau kamu selalu bahagia bersamaku" katanya.
"kita selalu bahagia" ralat Narra.
"iya, kita" sahut Andra.
"kamu tunggu disini, aku mandi dulu. Tidak lama" katanya seraya mencium kening Narra.
Dia segera bergegas.
*
Andra mengantar Narra kembali ke kantornya.
"terima kasih ka Nda" ucap Narra.
"tidak cuma ka Nda, ada tambahan lagi di belakangnya" sergah Andra.
Narra memandang Andra tidak mengerti.
"tadi kamu bisa bilang itu saat di depan Ardhan" Andra manyun.
"ooo ka Nda sayang" ucap Narra akhirnya setelah mengingat.
"terima kasih sayang, pulang kantor aku jemput lagi ya. Oh iya, tadi kamu tidak minum obat. Sudah tidak mual ?" tanya Andra.
"hanya tadi pagi kak, aku merasa sudah baikan" jawab Narra.
"obatnya harus dihabiskan sayang, jangan di putus begitu saja" Andra mengusap kepala Narra.
Narra mengangguk.
"baiklah, setelah sampai di ruangan aku minum obat" dia menyakinkan.
"sini" Andra meminta Narra mendekatkan badannya.
Andra memeluk erat dan mencium kening Narra.
"aku selalu bilang ini tapi ini kenyataannya, aku sangat mencintaimu" katanya.
"aku tau ka Nda, aku juga merasakan yang sama. Maaf kalo aku sudah buat ka Nda marah" ucap Narra.
Andra melepaskan pelukannya.
"kamu tolong percaya aku, jangan ragukan aku" katanya.
Narra mengangguk.
"maaf sayang, aku jadi buat kamu terlambat" Andra melirik jam tangannya.
Narra melakukan hal yang sama, dia melihat jam tangannya.
"aku masuk dulu ka Nda" pamit Narra.
Andra mengangguk.
"bye sayang" ucapnya.
"bye ka Nda sayang" balas Narra.
Kemudian dia keluar dari mobil.
Andra melaju setelah Narra masuk kedalam gedung.
*
Sementara itu...
Ardhan masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintu sangat keras. Semuanya kaget. Mereka bertanya-tanya ada apa dengan boss mereka.
Mike, asisten Ardhan masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu.
__ADS_1
"ada masalah boss ?" tanya Mike.
Dia berteman dengan Ardhan saat sama-sama kuliah di negara P dan saat Andra membangun perusahaan, Mike mendampingi dan membantunya.
Jadilah sekarang Mike ikut kesini dan bekerja sebagai asisten Ardhan.
"Narra memutuskan aku Mike, padahal aku berharap kami baik-baik saja" cerita Ardhan memandang keluar jendela.
Mike menghela nafas. Dia sudah memberi saran tentang hal itu. Bagaimana pun juga, wanita itu sudah di tinggalkan dan wajar kalau sekarang dia mempunyai kekasih lagi tapi Ardhan tidak mau tahu hal itu. Menurutnya sebelum ada kata perpisahan, mereka masih berstatus pacaran.
Mike hanya diam.
Tidak ada gunanya menyampaikan sesuatu pada Ardhan kalau tentang kisah cintanya karena Ardhan menganggap perasaannya yang benar.
"bagaimana dengan Jeniffer ?" tanya Ardhan, dia berbalik memandang Mike.
"nona Jeniffer masih harus menyelesaikan kontraknya, dia belum bisa kesini" jelas Mike.
"berapa lama lagi ?" tanya Ardhan.
"sekitar sebulan boss" jawab Mike.
"itu terlalu lama" gerutu Ardhan.
"kecuali kita membayar ganti rugi sisa kontrak yang belum selesai, nona Jeniffer bisa secepatnya kesini" lanjut Mike.
"baik, bayar sisa kontraknya. Aku mau dia secepatnya ada disini" tegas Ardhan.
"baik boss" Mike pun keluar dari ruangan Ardhan.
"Jeniffer harus ada disini" gumam Ardhan seraya mengepalkan tangannya.
Kejadian tadi kembali terlintas dan membuatnya emosi.
Narranya berubah.
Sudah tidak ada sikap lembut itu, sudah tidak ada sentuhan itu dan sudah tidak ada cinta lagi di mata Narra untuknya. Semua terlihat biasa saja. Narra sudah tidak membencinya tapi Narra tidak suka berada di dekatnya.
Ardhan menghela nafas, dia ingin Narranya lagi. Dia ingin mengulang kisah indah mereka. Yang indah, sebelum kedua orang tuanya berusaha memisahkan mereka berdua.
*
Andra datang ke perusahaan HW Farma. Dia memasuki ruangannya, dimana ada Indra, Alex serta Tobby, asisten Indra.
Andra dan Indra masing-masing memiliki asisten untuk membantu mengurusi masalah perusahaan karena mereka juga mempunyai tanggung jawab sebagai dokter di rumah sakit A Medika.
"akhirnya... yang semalaman dalam kamar, keluar juga kak Alex" sindir Indra.
Alex hanya mengangguk.
Andra hanya memandang cuek dan melangkah menuju meja kerjanya.
"mengenai pengiriman produk kita ke negara J, semua sudah sesuai prosedur. Kami tinggal menunggu tanggal pengiriman dari kakak" jelas Indra.
Andra mangut, dia mengamati kalender.
Ada tanggal yang terlingkari bentuk hati di bulan ini, dia mencoba mengingat tanggal itu.
"astaga, kenapa aku bisa lupa. Besok anniversaryku dan Narra" Andra menggumam.
"kak, ada masalah ?" tanya Indra karena samar mendengar Andra terkejut.
"tidak, tidak apa" Andra menggelengkan kepalanya.
"trus tanggal berapa pengirimannya ?" tanya Indra.
"kita mulai pengiriman hari senin minggu depan" kata Andra menegaskan.
Semua mengangguk paham.
Tiba-tiba Indra menyikut Alex, agar memandang kearah Andra.
Andra senyum malu-malu, entah karena hal apa.
Indra dan Alex saling angkat bahu.
*
Narra menatap ponselnya.
Dering pemberitahuan tentang tanggal jadiannya dengan Andra muncul di layar ponsel.
"aku harus memberi kado apa ?" gumam Narra.
"Na, aku sudah share lokasi makan malam kita. Kamu belum buka pesannya" sahut Erick yang tiba-tiba sudah berdiri di tepi mejanya.
"oh iya, aku baru mau melihatnya. Terima kasih pak Erick" sahut Narra.
"kamu mau pergi bareng atau bersama pak Andra ?" tanya Erick.
"aku belum bilang sama ka Nda. Memangnya boleh membawa orang lain ? soalnya pak Juna bilang hanya kita bertiga" tanya Narra.
"tadi pak Juna bilang kalo kamu datangnya dengan pak Andra tidak apa. Kita hanya makan malam sambil bahas evaluasi untuk team kita" jelas Erick.
"oo baiklah, terima kasih pak Erick" balas Narra.
*
Andra menjemput Narra kembali saat pulang kantor.
__ADS_1
Sebelumnya Narra sudah memberi tahu kakaknya kalau dia akan pulang dengan Andra.
Rayyan senang adiknya sudah baikan dengan Andra.
"ka Nda, sebentar kakak ada praktek ?" tanya Narra dalam perjalanan mereka.
"iya, aku ada observasi pasien sebelum operasi. Kenapa sayang ?" tanya Andra tapi tetap fokus mengemudi.
"setelah mengantar aku pulang ?" tanya Narra.
"iya sayang seperti biasa. Kenapa ?" Andra memandang Narra sekilas.
"emmm pulangnya jam berapa ?" tanya Narra lagi.
"ya seperti biasanya, sekitar jam sembilan malam" jawab Andra.
Lalu Andra menepikan mobilnya. Dia memandang Narra.
"ada apa ?" tanya Andra.
"pak Juna mengajak aku dan pak Erick makan malam. Kalo ka Nda tidak bisa temani aku, pak Erick menawarkan untuk menjemputku" jelas Narra.
"ok, aku jemput kamu jam tujuh trus aku balik lagi ke rumah sakit dan jemput kamu lagi" sahut Andra mengelus pipi Narra.
"tapi itu merepotkan ka nda" Narra ragu.
"kamu itu calon istriku, kamu tidak merepotkan aku" tegas Andra.
Narra hanya bisa tersenyum.
"baiklah, terima kasih ka Nda sayang" ucapnya.
"sama-sama sayangku" jawab Andra tersenyum.
Dia mengusap kepala Narra lalu kembali menjalankan mesin mobilnya, melaju mengantar Narra pulang.
*
Narra duduk ditempat tidurnya.
Bagaimana caranya beli kado kalau Andra terus bersamanya. Pikirnya.
Sebenarnya pulang tadi Narra ingin singgah sebentar di mall tapi tidak mungkin bisa lepas dari pengawasan Andra. Nantinya Andra bisa tahu kado Narra untuknya.
Narra melirik jam dindingnya, jam enam sore.
Dia bisa keluar sebentar ke mall terdekat. Pikirnya.
Dengan segera Narra meraih kunci motornya, masih dengan pakaian kantornya dia bergegas pergi.
"Na, mau kemana ?" tanya ibu Flanella.
"Narra mau ke mall sebentar bu" sahut Narra.
"hati-hati" teriak ibunya karena Narra langsung pergi menuju motornya.
Ayah Sasmita yang melihat Narra pergi, memandang istrinya.
"Narra mau kemana lagi ?" tanya ayah.
"katanya mau ke mall yah" jawab ibu.
Ayah Sasmita mengangguk.
*
Narra bertemu Alex di mall, Alex tampaknya belanja bulanan.
"maklum Na, bujang tinggal sendiri" jawab Alex tanpa menunggu Narra bertanya karena pandangan Narra tertuju pada troli belanjaannya.
"kakak sudah selesai belanjanya ?" tanya Narra.
Alex mengangguk.
"bisa temani aku beli sesuatu kak" pinta Narra.
"baiklah tapi kamu tunggu disini, aku bawa belanjaan ini ke mobil" kata Alex.
"iya kak" Narra setuju.
Setelah agak lama menunggu, Alex kembali menghampiri Narra.
Sebelumnya Narra minta agar Alex tidak memberitahu Andra karena ini kejutan untuk dia.
"ulang tahunnya Andra masih lama, dalam rangka apa ?" tanya Alex ingin tahu.
"anniversary kak" jawab Narra malu-malu.
Alex sekarang mengerti kenapa tadi Andra senyum malu-malu seperti yang ditunjukan Narra sekarang.
"cuma aku belum tahu mau beli apa, sebelumnya aku tidak pernah beli kado. Makan-makan saja sudah selesai tapi kali ini aku ingin berbeda. Aku ingin memberi kado" jelas Narra.
"aku punya ide mau beli apa, tapi terserah kamu" sahut Alex.
"apa idenya kak ?" tanya Narra penasaran.
"sudah ayo ikut" Alex menarik lengan Narra.
Narra mengikuti langkah Alex menuju kesalah satu toko di mall itu.
__ADS_1
***