FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 37.1


__ADS_3

Hubungan Narra dan Andra semakin membaik. Bahkan kedua orang tua Narra sudah diberitahu tentang rencana lamaran Andra terhadap putri bungsu mereka. Mereka setuju dan menunggu hari baik kapan keluarga Andra akan datang menemui mereka.


"sayang, aku sudah bicara dengan ayah dan bunda tentang hari lamaran. Kalau dalam dua minggu ini bagaimana ?" tanya Andra sewaktu mengantar Narra ke kantor.


"baiklah, aku akan bilang pada ayah dan ibu" jawab Narra.


"dan satu hal lagi, nanti akan ada pihak EO kerumahmu. Kamu kasih tau saja konsep dekorasi lamaran yang kamu inginkan seperti apa, mereka yang akan mengerjakannya. Catering juga sudah beres. Aku mau keluargamu tidak repot lagi. Semua sudah ada yang menangani" jelas Andra.


Narra memandang Andra.


"kenapa ka Nda memutuskan semuanya tanpa bilang aku ? Maaf, tapi setidaknya kami ingin ikut andil dalam hal ini. Aku jadi ingat bagaimana bahagianya ayah dan ibu mengurus proses lamaran sampai pernikahan kak Rania" terangnya.


Andra menghentikan mobilnya. Dia berpikir apa yang dia lakukan itu akan membuat Narra senang tapi kekasihnya itu malah tersinggung.


"maafkan aku sayang, aku hanya ingin mengatasi semuanya" ucap Andra merasa bersalah karena sikap Narra tidak sesuai harapannya.


"aku tahu, tapi sebaiknya ka Nda bicara dulu denganku dan keluargaku" jelas Narra.


"iya, baiklah. Nanti aku akan menemui ayah dan ibu untuk membicarakan ini. Kamu jangan marah lagi ya" bujuk Andra.


Narra mengangguk lalu tersenyum.


Andra mengusap pipi Narra. Dia kemudian melajukan kembali mobilnya menuju kantor Narra.


Setibanya di kantor Narra, Andra mencium kening Narra seperti biasanya hendak berpisah.


"jangan kepikiran ya, setelah ini aku akan bicara dengan ayah dan ibu" ucap Andra.


"iya ka Nda, aku masuk dulu" pamit Narra seraya mencium pipi Andra.


Entah sejak kapan kebiasaan itu dia lakukan. Setiap Andra mencium keningnya, setiap itu juga dia mencium pipi Andra.


Andra mengangguk. Dia menunggu Narra masuk kedalam gedung baru setelah itu dia melajukan mobilnya meninggalkan kantor Narra.


*


Di lobby utama, tampak Faya duduk menunggu. Narra mengerutkan keningnya, Faya tidak mengabarinya tentang ini.


"pagi Fay" sapa Narra.


"pagi Na, aku menunggu kamu dari tadi" katanya.


"kamu kok tidak kasih tau aku ?" tanya Narra.


"ya karena aku tau, kamu pasti lagi sama kak Andra" jawab Faya.


Narra hanya mengangguk lalu duduk.


"aku kebetulan mau meeting dengan klien dekat sini jadi aku sekalian singgah saja padahal tadinya mau kirim chat saja" jelas Faya.


"ada apa ?" tanya Narra.


"aku ada undangan bedah buku karya Felix, penulis favorit kamu kan ?!" ujar Faya seraya menaikan kedua alisnya.


"aku mau Fay" tanya Narra antusias.


"sore ini aku jemput kamu pulang kantor ya" kata Faya.


"baiklah, aku akan bilang ka Nda. Tapi bagaimana bisa kamu dapat undangannya ? aku sudah pernah cek tapi sold out" jelas Narra sedikit kecewa.


"kebetulan aku kenal sama penerbitnya" Faya memamerkan senyumnya.


Narra mangut.


"baiklah, aku sudah di tunggu. Aku pamit ya. Bye Na" ujar Faya seraya mengusap kepala Narra.


"bye Fay" balas Narra.


*


Narra menimang ponselnya. Dia masih ragu untuk bilang sama Andra tentang ajakan Faya karena bisa saja Andra kembali emosi. Tapi kalau dia tidak bilang akan ada masalah lagi untuk hubungannya dan Andra, terlebih mereka lagi merencanakan lamaran.


"Na, kamu belum pulang ?" tanya Arjuna.


"sebentar lagi pak" jawab Narra.


"baiklah, aku duluan. Oh iya, pak Ardhan meminta untuk bertemu minggu depan karena beliau masih berada di negara P sekarang. Bagaimana ?" tanya Arjuna.


"baik pak, aku tidak masalah selama aku tidak sendirian bertemu pak Ardhan" sahut Narra.


Proyek pembuatan iklan untuk perusahaannya, Ardhan meminta Narra untuk menanganinya atau proyek ini batal. Narra yang tidak ingin urusan pribadinya merusak reputasi perusahaan tempatnya bekerja, meminta kepada Arjuna untuk tidak sendirian bertemu dengan Ardhan mengingat Ardhan memiliki hubungan tidak baik dengannya. Arjuna mengerti dengan hal itu. Dia berjanji akan ikut dalam meeting atau meminta Erick untuk mendampingi Narra menggantikan dia.


Arjuna salut pada Narra yang bersikap profesional demi perusahaan. Karena itu dia menyakinkan kalau akan memberi pengawalan pada Narra jika nanti bertemu Ardhan untuk membicarakan proyek mereka.


"aku atau Erick akan ikut dalam meeting nanti, kamu jangan khawatir. Kamu tidak hanya berdua saja dengan pak Ardhan" sahut Arjuna.


"terima kasih pak" balas Narra.


Arjuna pun berlalu.


Narra kembali melihat ponselnya. Chat masuk dari Faya memberitahu kalau dia sudah menuju kantor Narra untuk menjemput belum di balasnya.


Narra menghubungi Andra tetapi panggilannya tidak mendapat jawaban.


Lalu Narra menghubungi Alex, panggilan itu pun tidak ada jawaban.


"sepertinya mereka sedang sibuk" gumam Narra seraya berpikir.


Akhirnya Narra mengirim pesan. Setidaknya saat nanti Andra tidak sibuk, dia akan membacanya.


Ka Nda sayang, aku sore ini ada undangan bedah buku karya Felix. Aku bersama Faya.


Pesan terkirim tapi tidak ada balasan dari Andra. Pesan itu hanya tercentang dua belum menampilkan warna biru.


Narra kemudian membalas pesan Faya yang baru masuk. Faya memberitahu kalau sudah sampai di kantornya.


Sebentar lagi aku turun ke lobby.


Narra merapikan mejanya lalu meraih tasnya. Dia segera menemui Faya yang sudah menunggu di lobby.


*

__ADS_1


Andra dan Alex yang baru saja selesai berkeliling pabrik beristirahat sejenak di ruangan khusus yang disediakan untuk Andra kala berkunjung.


Andra merebahkan diri di sofa, matanya tertutup. Dia tampak kelelahan.


Semenjak mereka merencanakan lamaran, Andra begitu antusias mengurus semuanya. Dia tidak ingin ada yang kurang dalam acara istimewanya dan Narra itu.


Alex duduk di sofa sebelah Andra. Dia terlebih dulu membuka ponsel dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Narra. Tidak ingin ada salah paham lagi, Alex lalu memberitahu Andra kalau Narra menghubunginya. Mungkin Narra juga menghubungi Andra.


Andra membuka mata lalu meraih ponselnya. Dia mengiyakan kalau Narra juga menghubunginya dan ada pesan yang belum dia baca.


Andra mengepalkan tangannya begitu membaca pesan yang Narra kirim.


"Narra pergi dengan Faya" ucapnya geram. Dia tidak suka.


Alex ingin mengeluarkan pendapatnya tapi di tahannya karena tidak ingin Andra emosi.


"kamu mau bicara apa bro ?" tanya Andra seakan tahu raut wajah Alex.


"ya mereka bersahabat. Tidak ada salahnya mereka bersama. Jangan berpikir macam-macam, Narra hanya ingin dipercayai" Alex kembali mengingatkan.


"Aku tidak suka !" sergah Andra.


Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"aku minta kamu untuk cari undangan bedah buku felix. Aku ingin kesana" pinta Andra.


"baik" Alex kemudian terlihat sibuk menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"maaf bro, undangannya sudah sold out" kata Alex kemudian.


Andra lalu meraih kunci mobil, "kita pulang bro, kita ke tempat bedah buku itu" katanya.


Alex mengangguk lalu meraih kunci mobil di tangan Andra.


"aku yang menyetir, aku tidak mau kamu membahayakan dirimu" katanya.


Walaupun membahayakan dirinya juga tetapi Alex lebih menekankan kepada Andra karena dia ingin mengingatkan Andra.


Andra hanya terdiam begitu kunci mobil sudah berpindah tangan pada Alex.


Mereka pun segera beranjak meninggalkan ruangan khusus itu. Alex hanya memberi isyarat lewat anggukan pada pejabat pabrik karena Andra sudah terburu-buru keluar menuju pelataran parkir.


Pejabat itu menunduk hormat dan hanya terdiam di tempatnya.


*


Narra memandang kagum Felix yang sedang berbicara diatas podium. Dari jaman kuliah, Felix salah satu penulis favoritnya. Beberapa buku best seller hampir semua sudah di baca dan menjadi koleksinya.


"makasih ya Fay" ucap Narra sumringah.


"sama-sama Na, aku senang kalo kamu juga senang" ucap Faya, dia mengusap kepala Narra.


Narra tersenyum pada Faya.


Mereka tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


Pria itu mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia mendekat dan menyeret Narra dari sana tapi dia tidak mau mengganggu jalannya acara.


Andra hanya mengangguk, pandangannya tidak lepas dari Narra dan Faya.


Demi bisa masuk kedalam ruang acara, Andra sampai harus mengeluarkan uang tiga kali lipat dari harga tiket seharusnya.


Dan tentu saja, Alex yang mengurusi itu semua.


"sebaiknya kita keluar, aku tidak mau kamu semakin emosi" kata Alex.


Dia mengikuti arah pandang Andra dan melihat raut wajah Andra yang merah padam menahan amarah.


Terlihat jelas Andra cemburu sekarang.


"aku akan tetap disini" kata Andra.


Alex terdiam. Dia tidak bisa memaksa Andra. Dia melihat Andra sangat menahan diri agar emosinya tidak meledak.


Semoga semuanya baik-baik saja. Ucap Alex dalam hati.


*


Narra menunggu Faya meminta tanda tangan Felix. Beberapa kali Faya memandang Narra sembari tersenyum diantara barisan pengantri.


"sayang.."


Narra menoleh.


"ka Nda, ka Nda ada disini ?" Narra tidak percaya.


"kita pulang sekarang" ucap Andra tanpa menjawab pertanyaan Narra.


"aku masih menunggu Faya mendapatkan tanda tangan Felix" sahut Narra.


"baiklah" Andra langsung terdiam.


Narra memandang Andra. Dia merasa ada yang salah lagi pada dirinya. Tapi dia mencoba berpikir bahwa semua baik-baik saja.


Tak lama, Faya menghampiri mereka.


"ini, Felix menulis namamu disana" katanya seraya menyerahkan buku yang sudah ditanda tangani.


Narra menerimanya dengan sumringah.


"terima kasih Fay" serunya.


Faya hanya tersenyum padahal dia sangat ingin memeluk Narra yang sedang senang.


Dia juga kaget melihat Andra berada di dekat Narra. Tapi dia tidak ingin membahas karena melihat raut wajah Andra yang datar.


"kita pulang sekarang sayang" Andra kembali bersuara.


Narra memandang Faya, "aku pulang duluan Fay, terima kasih ya" ucapnya.


"sama-sama Na, bye" Faya menoleh pada Andra lalu tersenyum.

__ADS_1


Andra membalas dengan senyum tipisnya.


Dia kemudian menggenggam jemari Narra meninggalkan tempat acara sampai ke mobil. Dia membukakan pintu mobil dan memastikan kekasihnya masuk dengan hati-hati lalu segera menuju pintu kemudi.


Sebelumnya dia sudah meminta Alex untuk pulang duluan sebelum dia menemui Narra.


Alex pulang setelah dijemput supir kantor.


"kita singgah makan dulu" kata Andra sambil mengemudi.


Narra hanya mengangguk menurut. Dia menyimpan buku yang ditanda tangani Felix kedalam tasnya.


Nada pesan berbunyi dari ponsel Narra.


Grup chat Friends.


[Desta : cie.. ada yang tidak ajak-ajak 😝]


komen Desta disertai foto Narra dan Faya yang duduk berdampingan diambil secara diam-diam.


[Faya : kamu dimana Ta ? aku tidak liat]


[Narra : hmmm 🤦🏻‍♀️]


[Rea : aku dapat undangan tapi tidak datang karena tidak ada teman pergi.. ternyata kalian berdua pergi 😞]


[Narra : maaf..aku tidak tau kalo kamu ada undangan, aku hanya dapat undangan gratis dari Faya 😁]


[Imel : pasti ada yang hepi banget, tidur nanti sambil peluk bukunya Felix]


Narra tersenyum memandang ponselnya.


"chat dari siapa ?" tanya Andra yang sementara mengemudi. Dari tadi dia melirik Narra sibuk dengan ponselnya.


Narra menoleh, "grup chat Friends" jawabnya.


Andra kembali terdiam dan fokus mengemudi.


Akhirnya mereka sampai di restorant favorit mereka, pelayan yang sudah mengenal mereka segera menemani menuju meja yang biasanya karena kebetulan kosong.


"terima kasih" ucap Narra pada pelayan itu.


"kamu pesan apa sayang ?" tanya Andra.


"seperti biasa saja ka Nda" jawab Narra.


Andra pun memesan makanan dan minuman seperti biasanya mereka pesan.


Pelayan itu pun pergi setelah mencatat pesanan yang disebutkan Andra.


"kenapa kamu tidak kasih tau aku kalo kamu ada acara sayang ?" tanya Andra seraya meraih jemari Narra.


Narra menatap Andra.


"Faya kasih taunya mendadak, aku sudah hubungi ka Nda tapi tidak ada jawaban" jelasnya. Dia membiarkan Andra memegang tangannya.


"aku dan Alex lagi kunjungan ke pabrik, maaf aku tidak menyadari panggilanmu" sesalnya.


Narra mangut. Dia mengerti dengan kesibukan Andra, karena kekasihnya itu pasti selalu memberi tahu dia setelahnya kalau dia tidak memberitahu diawalnya. Hal itu juga yang Narra lakukan pada Andra. Mereka saling memberi kabar agar tidak ada kesalahpahaman.


Narra tidak ingin bertengkar lagi dengan Andra karena mereka sudah selangkah maju ketahap yang lebih serius untuk hubungan mereka. Sebentar lagi mereka akan lamaran, bertunangan dan secepatnya mengelar pernikahan.


Narra tidak ingin hal sepele menjadi bahan perdebatan panjang.


"aku tidak suka kamu terlalu dekat sama pria lain" kata Andra akhirnya. Dia meluapkan perasaan cemburunya pada Narra.


Narra kembali memandang Andra. Dia sudah menduga kalau Andra tidak suka dia pergi bersama Faya.


"tapi ini Faya ka Nda, sahabatku" sergah Narra.


"iya sayang, tapi cara Faya mengusap kepalamu begitu mesra itu yang aku tidak suka" balas Andra.


"jadi ka Nda sudah lama memperhatikan kami ? tapi kenapa ka Nda tidak menghampiri aku ?" sahut Narra.


"karena aku harus meredam emosiku" jawab Andra.


Narra menghela nafas. Dia mencoba mengerti bagaimana susahnya hal itu bagi Andra.


Menu pesanan mereka pun datang. Genggaman tangan Andra terlepas karena dia mengajak Narra untuk makan dulu. Narra menurut.


*


Mobil Andra berhenti di depan rumah Narra. Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya saling diam. Tapi sepanjang jalan, tangan kiri Andra tidak lepas menggenggam tangan kanan Narra.


"aku turun ka Nda, maaf.. aku sudah buat ka Nda emosi tapi jujur aku tidak bermaksud apa-apa. Aku sudah mencoba minta izin ka Nda" ucap Narra.


"aku tau sayang, hanya saja emosiku meledak melihat perlakuan dia sama kamu. Maafkan aku, aku terlalu takut kehilanganmu" kata Andra pelan.


Narra tersenyum. Dia pikir Andra akan marah padanya dengan emosi yang meledak. Tapi ternyata Andra sudah bisa menahan semua itu.


"kamu istirahat ya, besok aku jemput lagi untuk fitting baju lamaran" kata Andra.


"besok ? ka Nda baru bilang rencanany tadi pagi trus besok langsung fitting ?" tanya Narra tidak percaya.


"maaf, aku sudah mempersiapkan semuanya tapi aku sudah bicara pada ayah dan ibu. Mereka setuju dengan rencanaku. Jadi kamu tidak perlu khawatir sayang, aku tidak akan mengabaikan pendapat mereka tentang acara istimewa kita" jelas Andra.


"terima kasih ka Nda" ucap Narra.


Andra mencium kening Narra lalu mengusap pipi kekasihnya itu.


"aku sangat cinta sama kamu" ucapnya.


"aku tau, terima kasih. Aku juga cinta sama ka Nda sayang" balas Narra seraya memamerkan senyumnya.


Narra lalu mencium pipi Andra.


"bye ka Nda" katanya seraya membuka pintu mobil.


"bye sayang" sahut Andra seraya tersenyum dan memegang pipinya yang tadi di cium Narra.


Sesampainya di teras, Narra melambaikan tangan lalu masuk kedalam rumah dan mobil Andra pun beranjak.

__ADS_1


***


__ADS_2