FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 56.1


__ADS_3

Andra merasa gelisah dalam ruangannya.


Setelah tadi mengecek kondisi pasien bersama tim dokter, Andra kembali kedalam ruangannya untuk membuat laporan pemeriksaan.


"kenapa aku tidak tenang memikirkan Narra" ucap Andra.


Dia melirik ponselnya tapi belum ada kabar dari tunangannya itu.


"setelah pekerjaanku selesai, aku akan menyusulnya. Pasti Rayyan menjaganya sampai aku datang" Andra berkata sendiri.


Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


*


Sementara itu ...


"permisi dokter Diandra, Pak Amar operator cctv ingin bertemu" kata suster ruang praktek Diandra.


"ada apa ya ?" Diandra balik bertanya.


"tidak tau dok, beliau hanya bilang ingin bertemu" terang suster itu.


"apa masih ada pasien ?" tanya Diandra.


"tidak ada dok" jawab suster itu.


"suruh beliau masuk" kata Diandra seraya sedikit merapikan mejanya.


"permisi dokter Diandra" operator ccctv itu masuk menemui Diandra.


"ada yang ingin bapak sampaikan pada saya ?" tanya Diandra.


"maaf dokter, sebenarnya laporan ini harus saya sampaikan pada dokter Indra karena ini tupoksi beliau tapi saya mencoba menghubungi beliau, ponsel beliau tidak aktif" jelas pak Amar.


"kenapa bapak tidak langsung pada dokter Hadinata ?" tanya Diandra.


"dokter Hadinata dan dokter Andra sedang bersama tim dokter melakukan observasi sementara dokter Serena tidak masuk" jelasnya.


"baik, bapak bisa beritahu saya" kata Diandra.


Operator itu memperlihatkan video dari tab yang dibawanya.


Diandra memperhatikan dengan serius apa yang sedang terekam dalam video itu.


"hubungi security, cari tau pemilik kendaraan itu. Kita harus mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada pemilik kendaraan. Jangan lupa kirimkan salinan videonya ke emailku" kata Diandra panjang lebar.


"baik dokter Diandra, saya akan secepatnya koordinasi dengan security" operator cctv itu pamit beranjak dari ruang praktek Diandra.


"aku harus segera memberitahu ayah tentang ini" Diandra beranjak berdiri dan menuju keruangan ayahnya.


*


"ayah, ini laporan pemeriksaan tadi" kata Andra menyerahkan berkas dalam map pada dokter Hadinata di meja kerjanya.


Dokter Hadinata mempersilahkan Andra duduk di sofa ruangannya. Dia pun berpindah duduk di sofa bersama Andra.


"kamu tau apa yang terjadi pada Indra ?" tanya dokter Hadinata.


"kenapa dengan Indra yah ?" Andra balik bertanya.


Dokter Hadinata meletakan berkas yang tadi di bawa Andra diatas meja.


"dia dari semalam tidak keluar kamar dan tadi pagi dia tidak turun sarapan. Katanya dia lagi tidak enak badan" jelas dokter Hadinata.


Andra terdiam sejenak kemudian menjelaskan pada ayahnya.


"dia ada masalah dengan Rea yah tapi katanya dia akan mengatasinya" kata Andra.


"semoga semuanya baik-baik saja, ayah hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak ayah" ujar dokter Hadinata.


Terdengar suara pintu di ketuk. Dokter Hadinata menyuruh yang berada di luar masuk.


"ayah, Andra.. aku punya berita gawat" kata Diandra.


Dia lalu duduk bersama ayah dan adiknya. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.


Dia memperlihatkan video cctv yang telah dikirimkan oleh pak Amar.


"ini kan mobil ayah Sasmita" kata Andra.


Dokter Hadinata dan Diandra memandang Andra tidak percaya.


"Rayyan, Narra.... " Andra bergegas keluar dari ruangan Ayahnya.


"An tunggu" panggil dokter Hadinata bergegas menyusul Andra kemudian Diandra mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"dokter Andra, dokter sudah melihat berita ?" suster Marina mencegat Andra.


Dia menunjuk televisi yang menyiarkan berita kecelakaan jalan poros menuju bandara.


Kamera lalu lintas menangkap gambar sebuah truk tronton yang hampir menabrak sebuah mobil keluarga, untuk menghindari bahaya mobil keluarga itu keluar jalur dan masuk kedalam hutan. Kini polisi dan tim SAR sedang mencari korban yang diperkirakan sudah berhasil keluar dari mobil sebelum mobilnya menabrak sebuah pohon besar.


"polisi sudah mengetahui identitas pemilik mobil... itu mobil pak Sasmita. Saya ingin memberitahu dokter tentang itu" terang suster Marina.


"Rayyan dan Narra ada dalam mobil itu" Andra terduduk di lantai tidak berdaya.


Dokter Hadinata menangkap lengan putranya.


Suster Marina menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka dan sangat khawatir sekarang.


"suster, kamu saya bebas tugaskan hari ini. Tugasmu, berada disisi ibu Flanella dan jangan sampai berita ini sampai padanya. Beliau sudah khawatir dengan kondisi suaminya, jangan menambah dulu dengan kondisi kedua anaknya" kata dokter Hadinata.


"baik dokter, saya akan menemani ibu Flanella" pamit suster Marina.


"aku harus kesana" Andra berdiri lalu berlari meninggalkan dokter Hadinata dan Diandra.


"kamu hendel disini Di, ayah akan menemani Andra" kata dokter Hadinata.


"baik ayah" ucap Diandra.


Diandra berharap Narra dan Rayyan baik-baik saja.


*


Imel memandang grup chat Friends. Tidak ada notifikasi apa-apa. Dia bersama kedua orang tuanya menuju ke lokasi kecelakaan.


"yang lain sudah kamu hubungi Mel ?" tanya mama Miranda.


"pasti mereka sudah tau ma" jawab Imel.


Mama Miranda menoleh sekilas ke kursi belakang, dimana Imel duduk.


"kalian sedang marahan ?" tanyanya.


"tidak ada apa-apa ma" jawab Imel.


Mereka sampai di tempat kejadian kecelakaan, tampak sudah banyak yang berkumpul. Para wartawan juga mencoba mengambil gambar dari celah pembatas garis polisi.


"maaf, tidak ada yang diperbolehkan masuk kedalam selain petugas" kata seorang polisi menghentikan langkah papanya Imel.


"kami keluarga korban pak" katanya.


"bagaimana keadaan Narra dan kak Rayyan ?" tanya Imel.


"mereka ditemukan di dasar jurang, tim kami mencoba turun kebawah" jelas polisi itu lagi.


"semoga Narra dan Rayyan baik-baik saja" ucap mama Miranda.


Imel menangis memeluk mamanya.


Rania datang bersama Adryan, dia menangis dalam pelukan suaminya setelah papa Daniel menjelaskan apa yang tadi dijelaskan polisi kepada mereka.


"Rayyan... Narra... " isak Rania.


Faya, Erga, Desta dan Sheva menghampiri Imel dan keluarganya yang berdiri berdekatan dengan Rania dan Adryan.


Sheva menanyakan tentang kondisi Narra dan Rayyan, papa Daniel yang menjelaskan kembali pada mereka.


"aku harus turun kesana" kata Faya.


"jangan Fay, kita tidak bisa menerobos garis polisi" cegah Sheva.


"tapi kita tidak mungkin hanya diam disini tanpa melakukan apa-apa" kata Faya.


"iya aku tau, tapi kita tidak izinkan masuk kesana" balas Sheva lagi.


"Fay, diam ! oke ?! kamu hanya memikirkan apa yang ada dalam kepalamu saja. Berdoa, semoga Narra dan kak Rayyan baik-baik saja" bentak Desta.


Faya memandang Desta tajam. Dia menarik kerah baju Desta.


"memikirkan apa yang ada dalam kepalaku ?! kamu tidak sadar, kamu melakukan hal itu !" balas Faya.


"kalo kamu memikirkan kedepannya, pasti kamu akan mengabaikan perasaan kami. Membiarkan itu menjadi rahasia kami atau terbuka dengan sendirinya. Bukan seperti ini" lanjut Faya seraya melepaskan kerah Desta dengan kasar.


Desta mundur beberapa langkah. Papa Daniel yang berada disana menarik Desta agar menjauh dari Faya.


Mama Miranda dan papa Daniel sekarang mengerti kenapa Imel seakan enggan untuk menghubungi para sahabatnya. Mereka sedang mengalami masalah.


"tahan emosimu Fay, jangan buat keributan disini" kata Erga.


Faya hanya mengangguk.

__ADS_1


"Fay, kita menunggu disini saja sampai mereka berhasil melakukan tugasnya" kata Adryan.


"baik kak, maafkan aku" ucap Faya.


Tak lama Andra dan ayah Hadinata datang. Ayah Hadinata langsung menemui polisi yang bertanggung jawab menangani kejadian ini.


"An, kita di izinkan masuk bersama tim dokter mereka" kata ayah Hadinata.


"terima kasih ayah" kata Andra mengikuti ayahnya.


"kak Andra, pastikan Narra dan kak Rayyan baik-baik saja" ucap Imel.


Andra hanya mengangguk.


"izinkan aku ikut kak" sergah Faya.


Andra memandang Faya lama, "kamu tunggu disini bersama yang lain, bantu kami dengan doa" katanya seraya mengikuti ayahnya.


"Fay..." panggil Rania seraya menggelengkan kepalanya.


Faya terdiam. Dia kembali berdiri di tempatnya. Seharusnya dia sadar, dia hanya sahabat Narra sedangkan Andra adalah tunangan Narra. Andra berhak berada disana bersama Narra dibandingkan dia.


Ada rasa kesal, marah dan juga cemburu yang coba Faya redam.


Sheva menepuk pundaknya.


"kita berdoa untuk keselamatan mereka" katanya.


Faya mengangguk.


*


Akhirnya Narra dan Rayyan berhasil di evakuasi, mereka ditemukan selamat dalam kondisi tidak sadarkan diri. Kemudian mereka dilarikan kerumah sakit milik Kepolisian untuk memudahkan polisi melakukan penyelidikan tentang kejadian kecelakaan yang menimpa mereka.


Andra terus menemani, begitu juga dengan para sahabat Narra yang lain. Hanya Rea yang tidak ada bersama mereka. Tidak ada yang mencari tahu dia kemana karena semua masih dalam keadaan enggan untuk menghubungi duluan


Ponsel Andra berdering, dia duduk di kursi tunggu depan ruang IGD tempat Narra dan Rayyan ditangani.


"iya In" jawab Andra.


"bagaimana keadaan Narra dan kak Rayyan kak ?" tanya Indra.


"masih di tangani dokter, aku hanya melihat luka memar di sekitar tangan dan lebam di sekitar wajah. Aku tidak tahu keadaan keseluruhannya. Seandainya kita bisa membawanya kerumah sakit kita, mungkin aku yang akan menanganinya langsung" kata Andra.


"aku ingin kesana tapi.. aku masih belum bisa bertemu Rea" kata Indra.


"dia tidak ada disini" jawab Andra.


Untungnya dia berada jauh dari para sahabat Narra sehingga jawabannya tidak terdengar oleh mereka. Andra duduk bersama ayahnya tepat depan ruang IGD.


Sementara Imel beserta kedua orang tuanya dan para sahabatnya berada di kursi koridor agak jauh dari mereka.


Sheva sesekali melirik kearah Imel tapi gadis itu hanya memandangnya acuh.


"kalian kenapa ?" tanya mama Miranda.


"kenapa ma ?" tanya balik Imel.


"kalian semua diam-diaman, apa yang terjadi pada kalian ?" tanya papa Daniel.


Semua terdiam. Tidak ada yang berniat menjawab pertanyaan mama dan papa Imel. Mereka seakan takut dengan kenyataan persahabatan mereka untuk diketahui orang lain.


"Mel, jawab mama" paksa mama Miranda.


"ma, tidak apa-apa" jawab Imel lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.


Sheva memandang Imel. Ingin rasanya dia menyusul Imel tapi dia takut akan semakin merusak suasana hati Imel.


Bukan dia yang di suka Imel tapi Erga.


Sekarang pandangan mata Sheva dan Erga beradu.


Erga hanya menggelengkan kepalanya. Dia seakan tahu arti tatapan Sheva yang memintanya menyusul Imel.


"aku permisi" pamit Desta seraya melangkah beranjak pergi.


Dia merasa para sahabatnya mengacuhkannya. Tapi dia akan terus berada disana demi Narra. Dia hanya permisi sebentar untuk mencari udara segar diluar.


"apa kalian tidak ingin memberi tahu kami apa yang terjadi ?" tanya papa Daniel.


"hanya kesalahpahaman pa, nanti kami akan baikan lagi" jawab Erga.


"jangan marahan lama-lama, ingat kalian bukan hanya sahabat tapi sudah seperti saudara karena kami orang tua kalian juga begitu. Sebaiknya cepat selesaikan masalah kalian" nasehat mama Miranda.


"iya ma" jawab Erga yang di ikuti anggukan oleh Sheva dan Faya.

__ADS_1


***


__ADS_2