FRIENDS ... (Kisah Kita)

FRIENDS ... (Kisah Kita)
Friends 59.1


__ADS_3

Andra keluar dari ruangan Narra. Dia memandang tajam pada Ardhan yang beranjak berdiri begitu melihatnya.


"An, boleh aku masuk melihat Narra ?" pinta Ardhan.


"untuk apa lagi kamu menemuinya ? dia masih belum memaafkanmu" kata Andra.


"An, aku tidak tau apa-apa kejadian yang menimpa keluarganya. Aku datang sebagai orang yang mengenalnya" kata Ardhan.


Andra terdiam sesaat. Ardhan tidak berlagak sombong tapi justru dia merendah kepadanya.


Apa Ardhan sudah berubah ? pikir Andra.


"baiklah, aku akan masuk bersamamu" kata Andra akhirnya.


Dia tidak ingin membiarkan Ardhan berdua saja dengan Narra disana.


"terima kasih An, terima kasih" ucap Ardhan senang.


Dia mengira Andra tidak akan mengizinkan tapi sebaliknya, Andra bersikap baik padanya.


Dia pun masuk bersama Andra.


"kapan dia akan sadar ?" tanya Ardhan setelah mereka berada di dalam.


Mereka berdiri di samping tempat tidur Narra.


Andra menggeleng, "kalo Rayyan, dia akan segera sadar begitu pengaruh obatnya habis tapi Narra... dia mengalami cedera di kepalanya, tidak ada yang tau kapan dia akan sadar" jelasnya.


"dia koma ?" tanya Ardhan.


Andra perlahan mengangguk. Ada sesak dalam dadanya menerima kenyataan setelah tadi kembali dokter yang memeriksa menunjukan hasil tes Narra.


"kamu dokter, tangani dia" kata Ardhan emosi.


"ini bukan wilayah kerjaku dan dokter disini juga sudah bertindak sesuai prosedur. Lagi pula mereka belum bisa di pindahkan ke rumah sakit lain sampai proses penyelidikan selesai. Di rumah sakit ini Narra dan Rayyan aman" jelas Andra lagi dengan keadaan tenang.


Ardhan melihat jelas raut kesedihan Andra.


"maaf, aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Narra" ucap Ardhan.


"sebaiknya kita keluar" ajak Andra.


Ardhan mengangguk. Sebelum keluar dia menyempatkan berdiri disamping tempat tidur Rayyan.


"cepat sadar Ray" ucap Ardhan.


*


Ardhan masih duduk bersama Andra di kursi tunggu dia menanyakan hasil penyelidikan polisi.


Sebenarnya dia ingin menyampaikan tentang ada kemungkinan campur tangan papanya dalam musibah Narra dan Rayyan tapi dia tidak ingin bertindak gegabah tanpa bukti.


"aku akan membantu kalian. Jangan sungkan untuk meminta bantuan. Aku akan membuktikan pada kalian bahwa aku sudah berubah. Dan.. aku berusaha untuk ikhlas demi kebahagiaan Narra" kata Ardhan.


Andra mengulurkan tangan, "terima kasih" katanya.


Ardhan membalas jabat tangan Andra.


Indra dan Faya tersenyum melihat hal itu. Kedua rival yang memperebutkan hati Narra kini berdamai.


Faya dan Indra saling memandang. Mereka juga terlibat dengan perasaan Rea. Walaupun Faya hanya menganggap Rea sahabat tapi dia merasa tidak enak dengan Indra karena lelaki itu kecewa dengan pernyataan Rea yang menyukainya. Dia tahu Indra dan Rea sedang bermasalah karena tadi selama menunggu Penanganan Narra dan Rayyan mereka berdua tidak bertegur sapa.


Indra langsung mengalihkan pandangannya, dia meraih ponselnya dan fokus pada benda pipih itu.


*

__ADS_1


Hari ketiga, Narra masih koma di ruang ICU. Sementara Rayyan sudah di pindahkan keruang inap VIP dan sudah dimintai keterangan tentang kecelakaan tunggal yang menimpa dia dan adiknya.


Sudah tiga hari juga Andra tidak beranjak sedikit pun dari rumah sakit menemani Narra.


Segala urusan pekerjaan di perusahaan dilakukannya di rumah sakit di bantu asistennya. Sementara urusan rumah sakit, dia mengajukan cuti sementara.


Rania dan Rasta kadang bergantian menjaga Rayyan. Sahabat Rayyan itu juga membagi waktunya mengurus bengkel Rayyan.


"Pak Andra, maaf bisa bicara sebentar ?"


Rendy, polisi yang menangani kasus Rayyan dan Narra menghampiri Andra.


"iya pak Rendy, ada bisa saya bantu ?" tanya Andra.


"apa anda mengenal nona Jeniffer ?" tanya polisi itu.


"iya saya mengenalnya, keluarganya berteman dengan keluarga saya" jawab Andra.


Polisi Rendy menjelaskan keterlibatan Jeniffer berdasarkan cctv sekitar rumah sakit A Medika. Jeniffer wanita yang ditolong oleh security rumah sakit. Dia sudah diminta keterangan tentang kenapa dia bisa berada di rumah sakit malam itu. Di malam yang sama melalui cctv terlihat oknum mengutak atik mobil keluarga Narra. Jeniffer bilang dia ingin menemui Andra.


"saya tidak bertemu dengannya pak, dan lagipula saya tidak punya hal yang mau dibahas dengan dia karena dia mencoba merusak hubungan saya dengan Narra" jelas Andra.


Polisi Rendy mengangguk mengerti. Dia sekarang mencoba menghubungkan praduga yang muncul di benaknya.


"saya rasa untuk sementara cukup. Kalo ada perkembangan selanjutnya, saya akan menemui anda lagi" katanya lalu permisi.


Apa Jeniffer ada hubungannya dengan semua ini ? pikir Andra.


Dia menghubungi Alex dan meminta asistennya itu untuk membantu kepolisian menyelidiki kasus kecelakaan Narra. Termasuk keterlibatan Jeniffer dalam kasus itu.


*


Richard Davidson dan istrinya datang melihat Narra setelah sempat menunda karena kesehatan Melani yang menurun beberapa hari lalu.


Disaat yang sama Faya dan Sheva datang.


Bisa dibilang Faya memiliki wajah mirip Richard Davidson, sedangkan istrinya Melani hanya memiliki kemiripan rambut hitam bercahaya dengan Faya.


Dan tanpa Andra sadari, Melani terus memandang Faya seolah melihat suaminya dalam versi yang berbeda.


"An, kalo ada yang bisa om bantu.. kamu jangan sungkan. Om akan membantu" kata Richard Davidson begitu mereka berada di luar ruang ICU.


"terima kasih om, aku hanya ingin Narra cepat sadar dan pelaku peristiwa ini secepatnya terungkap" kata Andra.


"Narra akan cepat sadar, dia anak baik" kata Melani.


"terima kasih tante, tante kapan kontrol matanya ?" tanya Andra.


"besok, tante sudah buat janji sama bunda kamu" jawab Melani.


Richard Davidson menoleh pada Faya dan Sheva. Tadi kedua sahabat Narra itu datang saat dia dan istrinya hendak masuk kedalam ruang ICU sehingga tidak sempat menyapa.


Dia tahu hubungan Faya dengan Narra dari Andra yang masuk kedalam bersama mereka.


"apa kabar pak Faya ?" tanya Richard seraya menyalami Faya dan juga Sheva.


"baik tuan Richard, senang bertemu anda" kata Faya.


"oh iya, sayang.. kenalkan ini arsitek villa kamu" kata Richard memperkenalkan Faya pada istrinya.


Faya dan Ardhan sama-sama terpilih menangani proyek Villa RM di pulau pribadi.


Konsep mereka bagus dan Melani menyukai keduanya sehingga Richard Davidson memutuskan untuk mengabungkan konsep itu.


Dua villa akan dibangun dengan saling terhubung jadi satu. Untuk hasil gabungannya, pihak RM yang akan menangani konsepnya.

__ADS_1


"senang berkenalan dengan anda" kata Melani mengulurkan tangannya.


"sama-sama nyonya, perkenalkan nama saya Faya" ucap Faya menjabat tangan nyonya Melani.


Melani merasakan ada getaran aneh berjabat tangan dengan Faya. Seperti merasakan sesuatu yang tidak asing, sesuatu yang dekat dengan dirinya. Hingga Faya melepaskan jabat tangan mereka, Melani memandang Faya dengan senyum canggung lalu dia menjabat tangan Sheva.


"kami permisi dulu, An om dan tante pamit" ucap Richard Davidson.


"iya terima kasih om dan tante sudah menyempatkan waktu menjenguk Narra" kata Andra tersenyum.


Richard Davidson menepuk pundak Andra sementara nyonya Melani memeluk putra sahabatnya itu.


"selalu kabari tante tentang kondisi Narra" katanya.


"iya tante" kata Andra seraya melepaskan pelukan nyonya Melani.


Mereka pun pamit.


*


Sementara itu ...


Di rumah sakit A Medika, kondisi kesehatan ayah Sasmita sudah membaik. Begitu dipindahkan keruang rawat inap VIP, dia langsung meminta ponselnya pada ibu Flanella.


Ibu Flanella langsung memberikan ponsel suaminya tanpa bertanya lebih dulu.


Ayah Sasmita menghubungi ponsel Narra tapi panggilan itu dijawab oleh operator yang artinya ponsel Narra tidak aktif. Lalu ayah Sasmita menghubungi Ardian, mantan chefnya sewaktu membuka restorant dulu. Ardian sekarang menjadi chef di negara J. Karena hubungan mereka sangat dekat seperti keluarga, ayah Sasmita mempercayakan Narra di negara J pada Ardian.


"halo Ardi, apa kabar ?" tanya ayah Sasmita.


Ibu Flanella langsung terdiam. Dia sangat khawatir sekarang.


"kabar baik, ayah bagaimana ? sudah membaik ?" tanya Ardian dengan tidak sabar.


Dia senang mendapat telfon dari orang yang selama ini dia hormati, orang yang memberikan kepercayaan padanya untuk bekerja di restorantnya, dan orang yang sudah dianggapnya ayah sekaligus guru untuknya.


"ayah sudah membaik, bagaimana keadaan kamu dan keluargamu ?" tanya ayah Sasmita.


"kami semua baik ayah" jawab Ardian.


"bagaimana Narra ? apa dia betah disana ?" tanya ayah Sasmita akhirnya.


Ibu Flanella terpaku. Bagaimana ini, mereka masih belum cerita tentang kondisi Rayyan dan Narra yang sebenarnya.


"ayah, Narra tidak sampai kesini" jawab Ardian.


"maksud kamu bagaimana ?" tanya ayah Sasmita.


"Narra dan Rayyan mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju bandara" jawab Ardian.


Ayah Sasmita kaget, dia memegang dada dengan tangan kirinya. Ponsel di tangan kanannya pun terlepas dan jatuh kelantai.


Nafas ayah Sasmita mulai sesak. Ibu Flanella panik dan berlari keluar memanggil suster jaga.


Ayah Hadinata bergegas datang untuk memberi penanganan.


Ibu Flanella diminta untuk keluar dari ruang inap. Dia menangis, bunda Serena datang menghampiri dan memeluk calon besannya itu.


Diandra pun datang dan duduk bersama mereka untuk menenangkan ibu Flanella.


"ayah sudah tau tentang musibah yang menimpa Narra dan Rayyan" isak ibu Flanella.


"ibu tenang.. semua akan baik-baik saja" ucap bunda Serena.


Ibu Flanella semakin terisak dalam pelukan bunda Serena. Mereka berharap kondisi ayah Sasmita baik-baik saja.

__ADS_1


***


__ADS_2