
Faya menemui Narra yang duduk sendiri di tepi pantai. Andra meninggalkan Narra untuk menerima telfon bisnis.
Sebenarnya Andra sudah mengajak Narra untuk mengikutinya kembali ke vila tapi Narra masih ingin berada di pantai.
"Na" sapa Faya.
Narra mendongkak, dia tersenyum.
"Fay" balas Narra.
Faya duduk bersebelahan dengan Narra tetapi masih menyisahkan jarak diantara mereka.
Ada rasa tidak nyaman berdua dengan Faya karena Narra tahu kalau suaminya cemburu dengan kebersamaan mereka.
"aku ingin kita kembali seperti dulu Na" kata Faya.
"maksud kamu ?" tanya Narra.
"ya kita berdua begini tanpa rasa canggung. Kamu itu sahabatku Na, kita kenal sudah lama" kata Faya.
"Fay, seandainya seperti yang kamu bilang tadi kalo kita sahabat... Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kamu masih ada rasa yang lain. Kamu tadi bilang kita sahabat tapi dalam hatimu belum ikhlas dengan itu" kata Narra.
Faya tersentak.
"maafkan aku, tapi rasa ini begitu dalam untukmu" kata Faya.
"Fay, seperti yang kamu bilang tadi kita sahabat dan selamanya akan begitu jadi aku harap kamu menyadari batasanmu. Aku sudah bersuami dan aku sangat mencintai suamiku. Kita akan tetap bersahabat asalkan kamu benar-benar melepaskan rasamu padaku. Itu saja dan semua akan baik-baik saja" jelas Narra.
"apa kamu tidak ada sedikitpun rasa untuk aku Na ?" tanya Faya.
Narra menghela nafas. Dia menggeleng.
Ada rasa kecewa di raut wajah Faya saat Narra menjawab pertanyaannya dengan gerakan itu.
"aku menyayangimu sebagai sahabatku dan itu tidak pernah berubah" kata Narra.
"aku mengharapkanmu Na" ucap Faya.
Narra menggelengkan kepalanya. Susah untuk berbicara dengan Faya.
"tadi kamu bilang kita sahabat tapi sekarang kamu bilang kamu mengharapkanku. Kamu sadar gak dengan perbedaannya ? Sudahlah Fay, pembicaraan kita tidak akan pernah selesai kalo kamu sama sekali tidak mengerti perbedaan sahabat dan mengharap" ujar Narra seraya beranjak.
"aku balik ke vila" ucap Narra sembari berlalu. Dia tidak punya kata-kata lagi untuk mencoba memberi pengertian pada sahabatnya itu.
"maafkan aku Fay" ucap Narra dalam hati. Dia semakin mempercepat langkahnya.
*
Andra mengepalkan tangannya, dia melihat pemandangan yang membuat hatinya cemburu dan kesal. Dia percaya pada istrinya, karena istrinya meyakinkan kalau dia tidak akan bersikap lebih pada sahabatnya itu tapi Faya selalu saja mendekati istrinya. Itu yang dia tidak suka. Dia tidak nyaman dengan itu, dia cemburu.
"An..." sapa Ardhan. Dia juga melihat kejadian itu dan dia kaget Andra juga melihatnya.
"dia masih terus mendekati istriku dan itu bukan karena sahabat tapi karena dia menyukainya" kata Andra.
"aku tau tapi Narra tidak menanggapinya dan kamu harus percaya padanya" sahut Ardhan.
"aku sangat percaya pada istriku tapi aku tidak percaya pada Faya. Aku tidak mau dia memanfaatkan persahabatan mereka karena perasaannya" sahut Andra.
"aku mengerti tapi aku yakin Narra bisa menjaga dirinya" balas Ardhan lagi.
"thanks, aku akan menemui istriku" ucap Andra seraya tersenyum meninggalkan Ardhan.
__ADS_1
Ardhan menggelengkan kepalanya, "Narra memang mempesona tapi dia sudah bahagia. Aku tidak menyesal dengan keputusanku melepas perasaanku agar kami sama-sama bahagia" ucapnya seraya kembali berbalik memandang Narra yang berjalan kembali ke vila dari balik jendela.
*
Narra berkemas, sementara Andra sibuk menelfon jemputan mereka.
Semalam mereka bicara berdua menjelang tidur dan Narra sangat mengerti kecemburuan suaminya. Untuk menghindari emosi suaminya yang meluap, Narra meminta pulang.
"sayang, Alex dan Alen sedang menuju kesini. Ada yang perlu aku bantu ?" tanya Andra menghampiri istrinya.
"sudah selesai ka Nda" jawab Narra memandang suaminya.
Andra lantas mengambil alih merapikan koper mereka di depan lemari. Narra duduk di tepi tempat tidur.
"kamu tidak apa-apa ?" tanya Andra.
Narra menggeleng, "aku tidak apa-apa, hanya saja pasti tante Mel akan sedikit keberatan karena kita tidak lama tapi aku serahkan jawabannya sama ka Nda" ucapnya.
"aku akan menjelaskannya pada tante Melani dan om Richard tapi tentu saja kita tidak bisa bilang yang sebenarnya" sahut Andra.
Narra mengangguk mengerti.
"ka Nda, sikap Faya ini tidak akan membuat ka Nda membatalkan bantuan untuk mencari tau kebenaran orang tua kandungnya kan ?" tanya Narra.
Andra tersenyum, dia menggeleng lalu mengusap pipi istrinya.
"aku akan tetap membantunya tapi aku minta kamu untuk menjaga jarak dengannya. Nanti biar aku yang mengurus segalanya, kamu tenang saja" balas Andra.
"terima kasih ka Nda sayang" ucap Narra.
Pintu kamar di ketuk, Andra dengan segera beranjak membuka pintu. Tampak tante Melani berdiri diambang pintu dengan senyum sumringah.
"terima kasih banyak tante, maaf kami jadi merepotkan tante" jawab Narra.
"kalian tamu kami dan kami tidak merasa direpotkan" sahut Melani.
"baiklah, kami akan menyusul ke ruang makan tante" sahut Andra.
Melani tersenyum lalu beranjak meninggalkan kamar tamu yang di tempati Andra dan Narra.
"kita berpamitan pada mereka saat sarapan" kata Andra.
"iya ka Nda" jawab Narra lalu merangkul lengan Andra dan keluar kamar bersama.
*
"kalian ingin pulang hari ini ?" gumam Melani kecewa.
"maaf tante karena ada pekerjaan Andra yang mendesak" jawab Andra.
Sesuai kesepakatan bersama istrinya tadi bahwa dia yang akan menjelaskan pada tante Melani dan om Richard.
Tampak Faya kaget, namun Ardhan menanggapinya biasa saja karena dia tahu Andra dan Narra melakukan itu untuk menghindari Faya.
"sayang, kita akan bertemu mereka lagi setelah kita pulang dari sini" kata om Richard menenangkan istrinya.
"baiklah" sahut Melani.
"kalian akan pulang jam berapa ?" tanya Ardhan.
"setelah sarapan, Alex dan Alen dalam perjalanan kesini" jawab Andra.
__ADS_1
Ardhan mangut.
Faya memandang Narra tapi sahabatnya itu menundukkan wajahnya.
Narra yang mengetahui tatapan Faya berusaha untuk menghindar. Dia tidak ingin menjelaskan apa-apa pada sahabatnya itu.
*
Sejam setelah sarapan, Alex dan Alen datang. Mereka diajak sarapan oleh om Richard tapi mereka menolak dengan alasan sudah sarapan.
Andra mengajak Alex dan Alen menuju kamar yang mereka tempati untuk mengambil barang-barang mereka.
"Na, apa kamu memang ingin pulang ?" tanya Faya setengah berbisik karena tidak ingin Ardhan ikut mendengarnya.
Di ruang tengah itu hanya ada mereka bertiga karena om Richard sedang menerima panggilan telfon dan tante Melani ke dapur untuk meminta pelayannya membuat minuman.
"iya, aku mengerti dengan kerjaan suamiku" kata Narra.
"oh iya Na, kerja sama kita akan kita atur pertemuannya setelah aku pulang dari sini. Bagaimana ?" tanya Ardhan.
"baiklah, aku setuju saja karena ini proyek terakhirku. Aku ingin membuka usaha sendiri dan pastinya yang tidak menyita waktuku sebagai istri yang harus mengurus suami" sahut Narra.
"kamu benar, suamimu bisa memenuhi segala kebutuhanmu jadi kamu tidak perlu capek kerja. Menjadi istri yang baik dengan mengurus suami saja" sahut Ardhan.
"ya tapi aku masih ingin merasakan punya penghasilan sendiri" sahut balas Narra.
"ya ya itu Narra yang aku kenal" Ardhan mengacungkan kedua jempolnya.
"Na, kita perlu bicara" kata Faya.
Narra ingin menjawab tapi suaranya tertahan begitu melihat suaminya beserta Alex dan Alen sedang menuruni tangga dengan membawa koper mereka.
"mungkin lain kali Fay" sahut Narra.
Richard dan Melani menghampiri mereka.
Setelah saling berjabat tangan dengan semuanya. Kembali Melani dan Narra saling memeluk, mereka berpamitan.
Koper mereka sudah dimasukan kedalam bagasi mobil oleh Alen, sementara Alex berada dibalik kemudi.
"tante, Narra pamit" kata Narra tersenyum.
"hati-hati sayang" balas tante Melani melambaikan tangan.
Andra membukakan pintu mobil untuk Narra, setelah itu baru dia masuk kedalam. Mereka kembali saling melambaikan tangan lalu mobil yang di kemudikan Alex dengan Alen duduk disebelahnya melaju meninggalkan halaman vila.
Andra memegang jemari tangan istrinya, Narra memandang suaminya dan memberi senyumannya.
"aku baik-baik saja ka Nda, terima kasih" ucap Narra seraya bersandar di pundak suaminya.
Tidak perduli dengan adanya Alex dan Alen, Narra hanya ingin melepaskan beban hatinya.
Andra mendekatkan kepalanya kemudian mengusap pipinya.
"maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku" ucap Andra.
Narra hanya terdiam. Dia tidak berniat untuk membalas perkataan suaminya.
Mobil yang mereka tumpangi terus melaju menjauh dari vila.
***
__ADS_1