
Dengan langkah lebar setengah berlari Max menyusuri lorong rumah sakit tempat Joya di rawat.Jangan tanya bagaimana panik nya pria itu saat mendengar jika istrinya mengalami kecelakaan dan pelaku nya kabur di tamba lagi kecelakaan itu murni disengaja.Biar Hans yang mecari tahu siapa pelakunya,Max hanya tinggal menunggu hasilnya lalu mencabik cabik manusia yang sudah berani membuat istrinya kesakitan.
Ceklekk
Max menajamkan matanya saat seorang pria tengah berada pada posisi yang tidak enak di pandang dan Max harus menyaksikan itu.Sesunggunya itu tidak seperti yang Max bayangkan hanya posisi yang pas saja tapi Marcel tidak sedang melakukan apapun dia hanya menghapus airmata Gea.
Suasana menjadi canggung namun tidak sedikitpun mengendurkan rahang Max yang mengeras.Di sofa ada Zaiden yang seang tertidur mata bocah itu terlihat bengkak mungkin karena terlalu lama menangis.
Marcel masih menatap Max yang masih diam terpaku di tempat nya tanpa mempersilahkan nya untuk masuk atau bertanya apa keperluan Max disana,tapi bukan Max jika dia perduli.
Mata Max memerah menatap Joya yang terbaring lemah di ranjang nya,mata wanita itu juga meneteskan airmata yang membuat hati Max berkali kali lipat sakit nya.Tangan sebelah nya di pasangi selang infus dan sati tangan nya di genggam erat oleh Marcel dan bahkan dengan tidak sopannya bagi mata Max sebelah tanngan pria itu bertengger di kepala Joya dan mengusap nya lembut.
Hati Max hancur,dia sudah menahan nya tapi dengan tidak sopan nya airmata itu menetes bukan nya melanjutkan langkahnya melihat Joya justru Max mundur dia tidak sanggup melihat perlakuan Marcel,dia lemah Max kalah.
"Maaf...!"Lirih Max berbalik bersama airmata yang benar benar telah tumpah.
"Hikss hikss..Mumu...!!"Lirih Joya di sela isak tangis nya.Wanita itu sadar tak lama setelah berada di ruang rawat dan dia sudah mengingat semua nya.Kcelakaan itu membawa berkah untuk nya.
Max yang sudah berada di ambang pintu bersama dengan Hans di sebelahnya pun menghentikan langkah nya.Nama itu,nama panggilan yang bahkan belum mereka dengar satu sama lain kini nama itu terdengar sangat lirih.Jantung Max ingin keluar dari tempatnya.
"Mumu..!"Lirih Joya lagi.
__ADS_1
Max berbalik dia tidak lagi menahan atau menyembunyikan airmatanya.Max melebarkan langkah nya,berdiri tempat di sebelah istrinya,istrinya yang hilang persetan dengan pria yang ada disana Max tidak peduli dia hanya mau istrinya.
Tangan Max terulur menggenggam tangan dingin Joya lalu kembali menatap wajah pucat itu,Marcel pun melepaskan tangan Gea dengan perasaan berat dan dada yang membuncah dengan rasa cemburu.Pria tampan itu keluar meninggalkan Max dan Gea berada disana.
"Aku akan cari makanan dulu.Permisi!!"Pamit Marcel.Tidak hanya Joya dan Max tapi Hans juga bisa melihat luka di mata Marcel,pria itu menahan nya.Kini tinggallah Max ,Joya dan Zaiden yang berada di ruangan itu karena Hans langsung menyusul Marcel yang pergi entah kemana dengan alasan mencari makanan.
"Sayang,kau..Kau sudah mengingat ku??"Tanya amax mengecup beberapa kali punggung tangan Joya,dia bahagia sangat bahagia walau airmatanya terus mengalir membasahi pipinya.
Joya mengangguk dia juga menangis tapi bibirnya tersenyum."Tuan..!!"Lirih Joya dengan bibir bergetar.
Max tak sabar pria besar itu memeluk istrinya dengan lembut karena tidak ingin memyakiti Joya karena menakan luka lukanya.
"Terimakasih,terimakasih Tuhan..!!"Gumam Max.Sebelum nya dia tidak pernah melakukan itu tapi kali ini melihat istrinya bisa mengenalinya membuat Max sangat berterimakasih.
"Bodoh!!"Jawab Joya tersenyum disela isak nya.
Max mengerutkan alisnya lalu sembari mengahpus airmatanya"Kenapa?"Tanya Max bingung.
"Jika aku masih disana,itu artinya aku sudah jadi bangkai!!"Jawab Joya.
Max tersenyum kini Joya nya sudha berubah bahkan lebih berani dan lihat Joya mengatainya Bodoh.
__ADS_1
"Mom..!!"Suara serak Zaiden mengihkan sokus keduanya.Bocah itu berjalan menuju Mommy nya dengan matanya yang kembali basah"Mom,maafkan Zaiden.Zaiden tidak mau eskrim lagi.Jangan tinggalkan Zaiden!!'Anak itu menangis meraih tangan Mommy nya.
Max yang melihat itu berubah raut wajahnya,adanya Zaiden membuatnya menyadari jika Joya memiliki keluarga lain dan kenyataan itu menghantam hati Max dengan sangat keras.
"Mommy baik baik saja.Jangan menangis,lain kali kita beli eskrim bersama dengan Daddy!!"Joya tersenyum melirik Max saat mengatakan Daddy namun Max tidak paham dia hanya berpikir jika Joya tengah menyindirnya jika dirinya punya Daddy untuk anak nya.
Max menghapus sisa airmatanya.Kenyataan itu membuat nya dilema.
"Paman,kenapa kau menangis?"Tanya Zaiden yang baru sadar jika Max tengah menangis.
Max berusaha tersenyum namun rasanya sangat sulit sekali"Ah tidak,paman hanya terlalu senang karena Mommy mu sudah bangun.Jaga Mommy mu dengan baik son!!"Max mendongak menjegah airmata itu keluar lagi lalu memgacak rambut Zaiden lembut.
Joya tersenyum melihat interaksi keduanya tapi dia belum berniat menjelaskan jika Zaiden adalah putra Max.Joya masih ingin melihat sebesar apa cinta Max padanya.
"Sayang...!!"Suara Georg yang bergetar terdengar.Pria itu melebarkan langkah nya mengahmpiri sang adik yang tersenyum sangat manis itu.
"Maaf,kakak pergi saat kau membuka mata!Dimana Marcel bukan kah dia yang seharus nya menjaga mu?Kenapa meninggalkan mu dengan orang asing,Awas saja dia nanti!!"Georg senang tapi bia mengomel.Tapi Georg tetap mencium lembut kening Gea dengan lembut.Membuat Max semakin memanas dan ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah Georg.
"Kau...!!
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa baca juga novel Author yang lain nya ya!!AIR MATA PEMBASUH LUKA.
Terimakasih💙💙💙