
Sudah lebih dari seminggu sejak kejadia penculikan serta meninggalnya Kakek Marco.Namun suasan duka masih terasa kental karena kakek Marco adalah pria yang selalu di jadikan sandaran serta panutan bagi Jihan dan keluarga nya.
Max sudah pulih kondisi nya,karena semangat Max yang terus di bakar Leo.Selalu saja Leo mengatakan jika Max tidak mau minum obat nya atau membantah apa kata Dokter maka akan sangat lama dia bisa mencafi keberadaan Joya.Tapi aneh nya Max menurut dengan kecerewetan Leo.
Max masih menatap foto Kakek Marco dan Joya bergantian.Sekuat tenaga telah dilakukan untuk mencari keberadaan istrinya itu,namun hasilnya benar benar tidak sesuai dengan harapan nya.
Dan sejak mengetahui jika dirinya adalah putra kandung Jihan,hidup Max terasa lebih hangat.Kasih sayang yang di berikan Jihan dan Nathan pada nya membuatnya terkadang merasa bersalah namun kedua orang tuanya itu mengerti karena selama ini dia berada dibawah pengaruh Bianca.
Ceklek
"Apa kau ingin melihat mereka?"Tanya Leo yang datang dan melihat jika Max hanya diam menatap keluar jendela.
"Apa Mommy dan Daddy juga akan melihat mereka?"Tanya Max.
Leo mengehela nafasnya kebiasaan Max jika di tanya bukan nya menjawab tapi balik bertanya,jika bukan kakak nya ingin sekali Leo menoyor kepala Max saking kesalnya.
"Mungkin!"Jawab Leo yang kesal.
Max berbalik menatap Leo dengan menaikkan sebelah alis nya.
"Apa?"Tanya Leo melotot ke arah Max.Sikap tegak badan nya seakan menantang Max untuk bertarung.
"Cek..menyebalkan!"Decih Max.
__ADS_1
Mata Leo semakin membola"Astaga sadarlah jika kau yang menyebalkan disini,apakah tidak bisa jika kau di tanya maka menjawab dan bukan nya balik bertanya?Entah kenapa Mommy bisa melahirkan anak seperti mu!"Omel Leo.
Max tidak menjawab,dia hanya diam dengan wajah datarnya kemudian berbalik menatap keluar jendela membiarkan Leo yang menahan kesal karena sikap nya itu.
"Terserah kau saja,satu lagi kecelakaan mu itu adalah ulah mereka jadi mereka yang harus bertanggung jawab serta kau tahu sendiri kematian paman juga ulah mereka!"Ucap Leo menjelaskan tanpa menunggu Max menjawab atau balik bertanya.
Rahang Max mengeras,itu artinya mereka.yang sudha membuat dirinya dan Joya berpisah.Entah kenapa kali ini Max berpikir jika bisa saja mereka menyembunyikan Joya mengingat betapa jahat nya mereka.
"Aku ikut!"Jawab Max saat tangan Leo baru saja menyentuh handel pintu.
"Cepatlah,aku rasa kau tidak ingin kehilangan momen sedikit pun!!"
Leo berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti Max di belakang nya.Walau untuk saat ini dia tidak akan melakukan apa pun tapi bukan berarti dia akan diam saja,dia punya caranya sendiri untuk menyiksa orang orang yang telah merusak rumah tangga nya dan menjauhkan dia dari istrinya.
Di bawah Max bisa melihat jika Mommy serta Daddy nya sudah menunggu.Max tidak banyak bicara karena memang seperti itulah Max,mungkin akan beda jika dia berada di tangan Jihan sejak kecil.
Maxim mengangguk,walau dia tahu jika Jihan Mommy nya namun masih ada rasa canggung saat Jihan perhatian pada nya.
"Baiklah ,kita akan melihat seperti apa mereka sekarang?"
Ke empat nya berjalan beriringan,padahal hanya berada di penjara bawah tanah mansion Anderson dan mereka bis apergi sendiri kapan pun mereka mau namun untuk saat ini mereka ingin datang bersama sama.
Lorong panjang serta tangga yang menukik ke bawah di tambah lagi sepanjang lorong yang minim pencayaan serta lembab membuat mereka harus berjalan hati hati.
__ADS_1
"Buka pintu nya!!"Perintah Nathan pada bodyguard yang berjaga disana.
Dengan anggukan patuh bodyguard itu membuka pintu besi yang terasa berat itu.
Mata Jihan langsung berkilat marah begitu pandangan nya menyapu sosok wanita yang telah memisahkan dirinya dengan anak nya selama bertahun tahun juga sudah melenyapkan kakak serta Daddy nya.
Nathan yang mengetahui kemarahan Jihan segera menggenggam tangan istri nya agar bisa menahan emosinya.
"Hah apa kalian takut pada kami hingga hafus datang beramai ramai?"Ejek Bianca yang menyadari kedatangan Jihan beserta suami dan anak anak nya.
"Teruslah jumawa Bianca!!"Ucap Jihan.
Max memperhatikan kondisi Bianca yang terlihat sangat kurus serta tubuh nya yang berantakan .Rebeca juga tidak jauh beda dengan Bianca bahkan luka bekas tembakan di paha nya juga terlihat membusuk karena Nathan tidak mengijinkan siapa pun mengobatinya begigu juga dengan Jeremy,keadaan nya juga tak kalah memprihatinkan dengan luka di bahu nya rasa sakit tanpa pengobatan juga harus di tambah dengan tangan yang di ikat ke kedua sisinya.
"Bagaimana keadaan kalian?"Ejek Nathan dengan senyum menyeringai.
"Cih,lepaskan kami.Jika kau memang berani amka hadapi aku dengan tangan mu sendiri!!"Bentak Bianca yang tidak sadar dengan kelemahan nya.
"Tante..Hikss tolong lepaskan Beca Tan.Beca melakukan ini karena terpengaruh dengan Mommy!Hikkss. Tolong Tante..Max tolong lepaskan aku!!"Rebaca mengiba kepada Jihan,dia lupa jika dirinya laha yang menyiksa Jihan dengan cara menarik rambut nya hingga nyaris membotakan nya.
"Kemana keberanian mu Beca?"Decih Jihan .Sementara para pria hanya menonton saja,lagi pula mereka punya cara sendiri melamoiaskan amarah nya.
"Jangan memohon padanya Beca!!"Bentak Bianca tidak suka,dia tahu jika Putrinya hanya ingin bebas,sebenarnya Bianca juga tifak tega dan ingin mengiba pad aMax tapi gengsu dan rada tinggi hati membuat nya enggan melakukan itu.
__ADS_1
Jihan tersenyum"Saatnya karma itu datang! Bianca!!"Ucap Jihan penuh penekanan dan seringaian yang tidak pernah terlihat sebelum nya.
Bersambung..