
Max menggeram marah.Sudah sejak kemarin dia mencari kabar keberadaan Joya dan kebenaran Joya istrinya kabur dengan pria lain,namun kenyataan yang dia dengan dari anak buah nya adalah Joya belum di temukan.Perasaan nya campur aduk,marah dan merasa tidak berguna menjadi satu.
Di raih nya ponsel di atas nakas,mencari kontak Hans.Panggilan tersambung namun sudha beberapa kali tidak juga di angkat,remasan pada ponsel nya semakin menguat seakan bisa langsung meremukkan nya namun otak Maxim masih berfungsi dengan baik.Berhenti menghubungi Hans,Max beralih menghubungi Leo namun hasilnya nihil,mereka tidak menjawab panggilan nya.
"Apa mereka sedang sibuk mencari Joya tanpa sepemgatahuan ku?Akhhhhh….!!"Brengsek…!"Maxim memukul ranjang tempat nya terbaring.
Sementara Leo dan Hans tengah sibuk dengan masalah di perusahaan mereka,karena ada seseorang yang berusaha menyerang mereka dengan menjatuhkan saham milik mereka,jadi mereka sangat sibuk sekarang.
Ceklek..
"Max.Apa yang terjadi,dimana semua orang??"Rebecca datang menemui Max yang tengah berusaha mengendalikan emosi nya.
Mata Max menyipit lalu memalingkan wajah nya tidak suka dengan kedatangan Rebecca.
Rebeca sendiri mengerti jika Max muak dengan nya tapi sebisa mungkin dia akan bertahan demi lancarnya usaha yang telah mereka rencanakan.
"Jangan seperti itu padaku.Aku tahu kau benci padaku tapi aku kesini hanya ingin menjenguk mu.Maaf jika selama ini aku banyak mengecewakan mu."Lirih Rebeca penuh dengan penyesalan.
Max tetap diam,dia ingin mendnegarkan apa saja yang akan di katakan Rebeca padanya.
"Apa kau sudha tahu jika sampai saat ini istrimu belum juga di temukan?"Tanya Rebeca menatap wajah Max,menunggu sejenak reaksi Max tapi wajah Max yang datar tak menjawab apapun.
Rebeca menghemvuskan nafasnya"Apa kau ingin mencari nya?Jjka benar maka aku siap membantumu!!"Harap harap cemas Rebeca menunggu jawaban Maxim.
"Apa yang bisa kau lakukan?"Tanya Max pada akhirnya walau dia masih meragukan Rebeca.
Rebeca menerik tipis sudut bibir nya"Aku bisa membawa mu keluar dari rumah sakit ini dan kita akan mulai mencari di tempat terjadinya kecelakaan,mungkin jika kau sendiri yang melihat,kau bisa memprediksi kira kira dimana Joya jatuh dan mencari jejak selanjutnya!!"Bujuk Rebeca meyakinkan.
Maxim tampak berpikir sejenak'Seperti nya bukan ide yang buruk,toh Hans dan Leo juga sangat sibuk.Kondisiku juga mulai membaik."Batin Max menimbang.
__ADS_1
"Baiklah,aku akan mempercayai mu tapi ingat jika kau macam macam dan mencoba membohongi ku maka kau akan menerima akibat nya!!"Ancam Max.
Rebeca .elebarkan senyum nya"Tenang saja,kita teman sekarang!!"Rebeca mengulurkan tangan nya tapi Max tidak pedulu hingga Rebeca menarik kembali tangan nya.
******
Di tempat lain,Leo kini sedang duduk di hadapan papa nya.Wajah kedua nya sedang tegang karena mereka di serang secara bersamaan.Hampir saja data data perusahaan mereka bocor tapi untung masih bisa diselamatkan.
"Siapa yang melakukan nya dan apa alasan nya melakukan ini pada kita??"
"Entahlah Pa.Tidak hanya kita dia mereka juga menyerang perusahaan Maxim.Hans sampai kuwalahan menghadapinya!"
Nathan menggerakkan jari telunjuknya ke dagu seraya memikirkan kemungkinan atau alasan di balik semua ini."Pasti orang yang merencanakan ini ingin kita lengah agar dia bisa melakukan sesuatu,tapi apa??"Gumam Nathan tapi masih bisa di dengar Leo.
Gubrakkk….
Hans masuk ke ruangan Nathan dengan nafas ngos ngosan seperti dikejar setan.Bahkan dirinya lupa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk membuat Nathan dan Leo terjengkit kaget sontak memegang dadanya.
"Ma..af…Huh..Huh…!!"Hans masih mencoba mengatur nafasnya yang belum stabil.
Nathan berdiri menghampiri Hans yang masih berada di depan pintu.
"Ada apa?Bukankah kita sudah berhasil mengatasi tikus itu?"Tanya Nathan.Leo juga turut mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan papannya.
Hans menghembuskan nafasnya kasar"Tuan Max,sudah tidak berada di rumah sakit.Barusan aku ke rumah sakit setelah melihat banyak panggilan dari nya yang tidak terjawab."Jelas Hans tanpa jeda.
Leo yang mendengar nya sontak berdiri,matanya langsung membola karena kondisi Max yang belum terlalu pulih.
"Kau sudah mengeceknya.Apa ada orang yang membawa Max pergi atau Max pergi sendiri.Hais..merepotkan saja!!"Berang Leo.
"Jangan bicara seperti itu Leo,Ingat dia kakakmu!!"Ucap Nathan memperingati.
__ADS_1
Leo menyugar rambut nya kasar,dia bukan tidak terima hanya saja jika Max pergi sendiri itu hanya akan membuat semua orang khawatir terlebih baru saja mereka terlepas dari masalah.
"Tidak ada yang melihat,aku juga sudah mengecek cctv tapi sayang saat itu cctv rumah sakit sedang dalam masalah.Aku rasa ini ada kaitanya dengan masalah yang menimpa kita secara bersamaan."
Nathan menatap Hans dan Leo bergantian"Bisa jadi.Baiklah kita harus bergerak cepat.Leo hubungi anak buah mu untuk mengecek cctv jalan arah selatan dan kau Hans cek cctv arah utara.Kalian harus terus memantau setiap yang mecurigakan.Sementara papa akan mengecek gps Maxim!!"Perintah Nathan.
"Ponsel nya mati!Seperti nya akan sulit."Jawab Hans.
Nathan terdiam"Baiklah,sekarang cepat cek cctv nya mungkin saja kita bisa mendapat petunjuk!"
Nathan melewati Hans,dirinya juga ingin segera menghubungi anak buah nya tapi tidak di ruangan yang sama dengan Leo serta Hans.
"Apa mungkin pelakunya adalah Bibi Bianca??"Ucapan Leo membuat Nathan yang akan keluar menghentikan langkah nya.
"Akan papa periksa,sekarang cepatlah cek cctv sepanjang jalan.Waktu kita tidak banyak!"
Ketiga nya segera bergerak dengan cepat.Mereka sibuk dengan anak buah mereka masing masing berharap bisa segera menemukan petunjuk kemana pergi nya Maxim.
Sementara Maxim sendiri tengah berada di sebuah mobil yang dikendarai oleh Rebeca sendiri.Dia duduk dengan sangat tenang seraya memperhatikan jalanan yang akan membawa dia ke lokasi terjadi nya kecelakan nya kemarin.
"Minumlah,setidak nya bisa mengurangi ketegangan mu!!"Rebeca menyodorkan sebotol air mineral pada Maxim.
Tanpa curiga Maxim menerima nya dan membuka segel botol itu dan yakin jika minuman itu tidak bercampur dengan apapun.
Setengah air dalam botol itu tandas,kembali Maxim menutup botol itu namun perlahan kepalanya terasa pusing sekali."Apa yang kau campurkan dalam minuman ini?"Tanya Maxim marah,dan terus memukul kepalanya karena menahan kantuk dan pusing secara bersamaan.
Rebeca terlihat panik"Tidak Max,bahkan kalu lihat sendiri botol itu masih utuh dan bersegel."
"Akkhhh….!"Max mengerang sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran nya dan terbitlah senyum di bibir Rebeca.
"Tutup nya masih bersegel memang karena aku menyuntik kan obat itu agar kau bisa beristirahat.Hehehe….!!"Setelah Max tertidur Rebeca segera membelokkan tujuan nya,bukan lagi lokasi kecelakaan tapi sebuah Villa yang jauh dari pusat kota.
__ADS_1