
Zalia menatap paperbag ditangannya bingung,Zalia belum mengetahui apa isi dari paperbag itu Hans tidak mengatakan nya hanya bilang ganti.
"Om,apa ini?"Tanya Zalia yang tetap waspada dengan Hans,dirinya takut jika ternyata Hans memanfaatkan nya.
Hans menghentikan tangan nya yang sibuk menata makanan"Pakaian baru,kamu gak mau kalau ibumu berpikir aneh aneh saat melihat anak nya pulang dengan pakaian yang berantakan kan?"Tanya Hans yang kembali melanjutkan aktivitasnya.
Zalia mengintip isi paperbag dan memang isinya pakaian,namun wajahnya masih terlihat ragu ragu tangan nya menggenggam erat paperbag itu.
"Apalagi,cepat mandi dan ganti pakaian mu dan obati luka mu!"
"Om,tapi aku tidak punya uang untuk mengganti pakaian ini.Harga pakaian ini terlihat mahal berbeda dengan pakaian yang biasa aku pakai.Kalau pun aku pakai nanti ibu akan tanya dari mana pakaian ini."
Hans memejamkan matanya,kesal sekali dengan Zalia yang terlalu cerewet"Aku tidak minta ganti dan juga jika ibumu tanya bilang saja kalau pakaian itu di berikan teman mu Kenapa kau banyak tanya,cepat mandi dan aku akan antarkan kau pulang!!"Kali ini Hans benar benar kesal mendengar ocehan Zalia yang baginya tak ada faedahnya,Hans tak tahu saja jika Zalia sebenarnya takut jika saat Zalia mandi maka Hans akan masuk ke kamar mandi.
"Cepat!!"Habis sudah kesabaran Hans.
Zalia terjengkit kaget."Iya iya,mana kamar mandi nya?Huh sudha tua marah marah lagi makin cepet peyot nanti om!"Ledek Zalia.
"Huffft...!Hans manarik nafas lalu membuang nya perlahan,berhadapan dengan gadis di hadapan nya ini lebih menyebalkan dari pada berhadapan dengan klien nya tadi pagi."Hans hanya menggunakan telunjuknya untuk mmeberi tahu pada Zalia di kamar mandi.
Zalia berjalan sampai menghentakkan kaki nyaengikuti arah telunjuk Hans.Di dalam kamar mandi Zalia tampak terpesona dengan kamar mandi Hans,rasanya sejuk saat masuk.
Mengamati satu persatu akhirnya Zalia membuka semua pakaian nya dan mulai mandi setelah memastikan jika pintu kamar mandi sudah terkunci agar Hans tidak bisa menerobos masuk.
Hans sendiri berkutat dengan bahan masakan,tangan nya sangat lihai mencampur bumbu dan meracik semua bahan masakan,terampil bahkan Hans pintar memasak siapa pun tidak akan menyangka jika pria itu memasak.
Zalia mengamati Hans yang sedang memasak terlihat macho dimata Zalia.Lengan baju yang di gulung serta kemeja putih yang di kenakan Hans membuat pria itu berkali kali lipat tampan nya.
"Om..!Masak apa?"Zalia mendekat pada Hans,berniat ingin mengintip masakan Hans.Namun karena kaget Hans tidak sengaja mundur dan menabrak Zalia.
"Akkhhhh....!!"
Zalia oleng,tubuh nya langsung limbung dan jatuh,bokong nya mendarat cantik di lantai dingin.
__ADS_1
"Maaf aku tidak sengaja!"Hans tidak sadar jika tubuhnya akan menabrak tubuh Zalia.
Mata Zalia menatap lekat wajah di depan nya.Jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya Hans yang tak sengaja juga melakukan hal yang sama saat tangan nya menyentuh tangan Zalia dia merasakan detakan yang bergemuruh di dalam hatinya.
Saling mengunci tatapan sepersekian detik"Maaf..!!"Lirih Hans yang langsung membantu Zalia berdiri.
"Kau mengagetkan ku!"Ucap Hans.Namun Zalia tidak mengatakan apapun,dia masih terdiam,rasa panas menjalar di wajah nya.Zalia hanya menundukkan kepalanya malu.
Hans melihat Zalia yang tampak bwrbeda saat dia mengenakan pakaian biasa dan bukan seragam.Terlihat lebih dewasa dan cantik.
'Oh tidak,jangan bilang aku memuji bocah ini!'Batin Hans menolak
Keduanya menjadi canggung.
"Emm ayo makan!"
"I..Iya..!
Kedua nya kembali terdiam,namun di dalam dada mereka terus bergemuruh tanpa bisa di hentikan.
"Iya enak kok!"Jawab Hans.
Zalia mengeryitkan alisnya bingung.Dia bukan bertanya tapi memuji.Sementara Hans tidak sadar dengan apa yang di katakan nya.
"Masakan nya enak om!"Lagi,Zalia mengulanginya.
"Iya ini enak banget!"Seketika Hans berhenti mengunyah makanan yang ada di mulut nya lalu menatap Zalia yang tengah menahan tawanya dengan menutup mulut nya.
"Hahahaha...Om salting ya?"Goda Zalia.
Wajah Hans semakin memerah,tentu dia malu Zalia kini tengah meledeknya."Salting kenapa?Jangan ngaco cepat makan dan pulang!!"
Zalia mengangguk sambil tersenyum lalu melanjutkan makan nya.
__ADS_1
******
Mario dan keluarga nya sudha pulang hanya meninggalak Joya dan Zaiden yang kini sednag asyik bermain dengan Leo di kamar nya.Leo snagat terpukau dengan kehebatan Zaiden dalam mengoprasikan komputer.Leo sampai menganga saat Zaiden menunjukkan kehebatan nya dalam membuat sebuah Game ringan dengan durasi yang cukup panjang.
"Kau belajar dari mana hal seperti ini?"Tanya Leo yang tidak lagi menganggap Zaiden anak biasa.
"Sejak dalam perut Mommy mungkin!"Jawab Zaiden asal.
Leo mencebikkan bibirnya,jawaban seperti ini tentu tidak benarkan.Tidak mungkin Joya memasukkan komputer kedalam perutnya.
"Jangan bercanda,Apa Mommy mu memasukkan komputer juga di dalam perutnya agar kau bisa belajar?"
"Hahaha...Paman tentu tidak.Aku juga tidak tahu hanya saja aku merasa di kepalaku banyak angka angka yang terus berputar dan berganti ganti."Apa yang di katakan Zaiden adalah benar.Sejak kecil dia melihat banyak angka yang terlihat sering berganti kadang hingga membuat kepalanya terasa pusing namun Zaiden bukan laha nak manja yang akan menangis Bocah itu hanya akan mengambil laptopnya lalu menekan setiao angka yang terlihat di kepalanya.Itulah alasan Zaiden sering lupa waktu jika sudja melihat laptop atau komputer.
"Apakaj sangat sakit?"Tanya Leo semakin penasaran.
"Hemm dulu iya,tapi sekarang sudah tidak terlalu.Paman jangan katakan ini pada Mommy atau Daddy Aku tidak ingin membuat mereka khawatir."Layak nya pria dewasa,Zaiden memikirkan Mommy dan Daddy nya.
"Apa kau tidak merasa takut,jika angka angka itu semakin banyak dan lama lama meledak di kepala mu.Boommmm..!"Bukan nya menenangkan keponakan nya Leo justru meledeka keponakan nya itu.
"Paman,apa paman pikir ini bom waktu?Hah kenapa aku punya paman yang tidak pandai!"Zaiden kembali fokus setelah mengatai paman nya.
"Hei kau mengatai paman bodoh?"Leo menatao tajam Zaiden.Sementara yang di tatap tidak takut sama sekali.
"Tidak,Aku hanya bilang tidak pintar paman bukan bodoh!"Zaiden berkilah dan tidak ingin disalahkan.
"Hei itu sama saja.Kau hanya membuatnya terdengar lebih baik.Astaga bocah ini."Leo mengusap wajah nya kasar,menghadapi Zaiden adalah hal paling sulit yang pernah dia rasakan.
"Hahaha..Kenapa paman marah?Aku hanya bercanda..Maaf paman!
"Tidak,aku paman tidak akan memaafkan mu!"
Zaiden tersenyum miring"Mungkin seidkit guncangan akan membuat Paman lebih baik."
__ADS_1
Leo tidak paham,tapi saat Zaiden fokus pada laptopnya dan mengutak atik beberapa angka Leo langsunh sadar jika Zaidens sedang bermain main dengan perusahaan nya.
Bersambung...