
Hans menarik tangan Zalia dengan kasar,Zalia sampai meringis menahan sakit di tangan nya tapi Zalia hanya diam mengikuti langkah Hans yang membawanya ke kamar.Tiba di kamar Hans melemparkan Zalia ke atas ranjang empuk meski begitu hati Zalia merasakan sakitnya.Sudah terlambat untuk mundur sekarang.
Hans naik ke atas ranjang mengkungkung Zalia di bawahnya yang gemetar dan berwajah pucat.Zalia menggigit bibirnya menyalurkan rasa gugup yang menjalar di hatinya.
"Lihat aku!"Hans mencengkram dagu Zalia hingga wajah Zalia menatap ke wajah Hans."Kenapa kau pucat hah,apa kau takut?Dimana keberanian mu tadi saat memutuskan tidur dengan pria itu.Apa kau lelah di bully teman teman mu hingga menghalalkan segala cara agar bisa bersaing dengan mereka?"Tanya Hans,namun setiap kata kata Hans tidak lagi lembut seperti kemarin kemarin.Kata kata yang keluar dari mulut Hans kali ini di penuhi dengan hinaan dan Zalia tidak bisa menampik itu semua.
"Katakan siapa saja yang sudah menyentuhmu dan berapa mereka membayarmu sebagai ****** mereka?Dimana mereka menyentuh mu hah.Disini,disini atau disini!!"Hans menunjuk wajah Zalia,dada kamudian bagian inti Zalia.
Zalia menitikkan airmatanya tidak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan Hans"Lakukan saja om,tapi setelah itu tolong lunasi semua biaya oprasi ibuku!!"Lirih Zalia pasrah,bahkan dengan gerakan pelan dan gemetar Zalia membuka kancing kemeja nya satu persatu.
Hans terkesiap,mendengar alasan Zalia merendahkan harga dirinya bukan ingin terlihat mewah di hadapan teman teman nya tapi untuk ibunya yang akan menjalani oprasi.Seketika rasa bersalah menyeruak di hati Hans,dia menatap tangan Zalia yang membuka kancing kemejanya tapi matanya tidak berhenti menangis.Hans menggenggam tangan Zalia menghentikan gerakan tangan gadis itu.
"Hentikan!"Perintah Hans yang tidak di hiraukan Zalia.
"Hentikan ku bilang!!"Kali ini Hans sedikit membentak hingga Zalia meraung,dia menangis dengan keras dan memukul dadanya yang terasa sesak.Hans masih berada di atas Zalia menatap penuh sesal wanita yang sedang putus asa di bawah nya ini.
"Aku butuh uang om.Ibuku harus di oprasi,Lakukan saja om lakukan!!"Ucap Zalia di tengah tangisnya."Kenapa om diam saja?Aku tahu aku tidak cantik tapi aku masih perawan.Lakukan om dan beri aku uang!!!"Kali ini suara tangisan Zalia semakin menggema.Hans menjatuhkan tubuhnya di samping Zalia lalu membawa gadis itu ke dalam pelukan nya.Entah dorongan dari mana tapi Hans merasa dia harus melakukan itu.
__ADS_1
Tangis Zalia masih sesenggukan,dia meringkuk di pelukan hangat Hans bahkan sejak awalpun Hans tidak berniat ingin meniduri Zalia tapi rasa panas di hatinya saat melihat ada pria dekat dengan Zalia membuatnya kehilangan akal.
"Aku akan membayar semua biaya rumah sakit ibumu!Jangan lakukan hal ini lagi di masa depan!"Kata Hans setelah Zalia sedikit tenang.Zalia mendongakkan kepalanya menatap wajah Hans sedikit buram karena masih ada airmata yang meghalangi.
"Aku tidak ingin hutang budi om!Aku hanya punya tubuh yang bisa aku berikan sebagai imbalan."Zalia berucap lirih,sungguh kali ini dia benar benar siap jika Hans akan melakukan nya dia yakin jika Hans adalah pria yang baik bahkan lebih baik dari pada Gerald.
Hans mengusap lembut rambut Zalia"Aku tidak akan mengambil apapun dari mu tapi jika kau merasa ingin membalas maka tidurlah dengan memeluk ku sepanjang malam!Aku akan menganggap semua impas."Hans merasa jika dirinya seorang pedofil sekarang dan jika Max tahu maka bisa habis dia di tertawakan.Tapi memeluk Zalia sangat terasa nyaman.
"Baiklah.Aku akan memeluk Om!"Zalia mendekatkan tubuh nya semakin rapat dengan Hans lalu memejamkan matanya di pelukan Hans.Begitu juga dengan Hans dia juga ikut memejamkan matanya namun sebelum itu dia mencium puncak kepala Zalia.
****
"Sayang kenapa tidak bersama Hans,bahkan kau menyuruh supir untuk menjemputmu.Apa terjadi sesuatu?"Tanya Joya setelah melihat suaminya pulang.Tangan Joya meraih tas yang ada di tangan Maxim dan menerima jas yang di sodorkan oleh suaminya itu.
Max mencium bibir Joya sebentar "Tidak ada masalah,Hans hanya sedang melakukan gugasnya menjaga calon pacar nya!"Max terkekeh saat membayangkan bagaimana wajah Hans saat melihat gadis itu.
Joya menautkan alisnya bingung"Calon pacar?Hans punya teman dekat?"Tanya Joya masih agak meragukan ucapan suaminya.
__ADS_1
Max meraih bahu Joya"Jangan bicarakan pria lain!"
Joya hanya mencebik"Bukan pria lain aku hanya menanyakan Hans!"Ralat Joya.
"Tapi dia tetap seornag pria dan apa duku kau juga memanggilnya dengan sebutan om.Cihh aku geli mendengarnya!"
Joya tersenyum,ya memang dulu Joya memanggil Om pada Hans,tapi setelah Max melarang nya bahkan sedikit memberi ancaman akhirnya Joya memanggil dengan sebutan Hans.
"Sayang..Bagaimana kalau kita kembali ke rumah.Apa kau mau?Sudah lama rumah itu kosong,sejak kita mengalami kecelakaan."Max menghentikan langkah Joya yang ingin menyiaokan air hangat untuk Max.
Joya berbalik menatap Maxim"Aku ikut apapun mau mu!Jika kau mengajak ku pulang maka aku akan ikut!"Jawab Joya.Bukan kah memang seharusnya begitu.Max tersenyum mendengar jawaban istrinya.
"Baiklah nanti kita akan berpamitan dengan Mommy,jadi besok kita bisa pulang ke rumah kita sendiri!."
Sejak kecelakaan itu Jihan memang tidak mengijinkan Max untuk tinggal sendiri.Bukan karena apa hanya saja Jihan ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Max setelah tahu bahwa dia adalah putra nya.
Bersambung
__ADS_1
..