Gadis Kecil Milik Tuan CEO

Gadis Kecil Milik Tuan CEO
Bab 84.Paman di mana Joya?


__ADS_3

Wajah Nathan terlihat sangat panik saat dirinya masuk ke ruangan Max.Dia langsung melihat jika tangan Max mengeluarkan darah dan selang infus sudah terlepas dari tempat nya dan Nathan sangat yakin jika itu ulah Max sendiri.


   "Apa yang kau lakukan?Jangan bertingkah konyol seperti ini,apa kau tak tahu bagaimana khawatirnya Mommy mu melihat kau sakit??Dasar…!!"Omel Nathan membuat Maxim tertegun,padalnya setahu dirinya paman nya ini sangat irit bicara tapi kali ini dia terlihat sangat berbeda sangat cerewet seperti seorang ayah yang melihat anaknya terluka.


   "Jangan melakukan sesuatu yang membuat  Mommy mu bersedih atau aku akan memukul mu!!"Entahlah sadar atau tidak Nathan terlihat sangat sibuk menyeka darah yang keluar dari punggung tangan Maxim sambil mengomel.


Maxim semakin mengerutkan alisnya bingung.Sedari tadi paman nya terus mengatakan Mommy nya bersedih tapi barusan Mommy nya tak nampak sedih sama sekali apalagi sampai menangis.


   "Itu tidak apa apa,jangan khawatir!!Akhirnya Maxim membuka suaranya dan itu membuat gerakan Nathan seketika berhenti.Dengan menatap wajah Maxim,raut wajah Nathan langsung melemah.Dia kalah oleh perasaan rindu yang besar pada putra pertama nya yang selama ini dianggap telah tiada karena ulah Bianca.


   "Aku tahu,tapi kali ini biarkan aku merawat mu!"Nathan mengalihkan wajah nya agar Max tidak dapat melihat matanya yang memerah karena kesedihan."Aku tahu kau anak yang kuat,tapi Mommy mu akan bersedih jika melihat ini!!"Nathan kembali membersihkan darah di tangan Max dengan sangat hati hati.


  "Mommy ku tidak menangis,bahkan tidak terlihat sedih sama sekali!"Jawab Max lagi lagi menghentikan gerakan Nathan tapi Nathan hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.


   "Paman,katakan dimana Joya?Aku tidak melihat nya sejak aku bangun atau apa yang di katakan Mommy ku benar?Jika Joya kabur bersama pria lain,apa dia baik baik saja saat kecelakaan itu,apa hanya aku yang terluka?"Max tidak tahan untuk tidak menanyakan keberadaan Joya,rasanya dia sangat merindukan wanita nya itu.


   Nathan membuang tisu kotor yang terdapat noda darah Max."Tidak nak,Joya tidak kabur dengan pria manapun!Jangan percaya dengan ucapan Mommy mu itu,jika kau ingin bertemu dengan nya maka cepatlah pulih!Untuk sementara ini kami belum bisa mengatakan apapun padamu!!"jelas Nathan.Entahlah dia sendiri juga bingung harus mengatakan apa pada Max,mengingat kondisinya yang baru pulih.Jika dia mengatakan jika Joya tidak di temukan pasti Max langsung bangun dan mencari Joya walau keadaan nya sendiri sedang buruk.

__ADS_1


   Max diam,dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan pamannya dan dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh paman dan yang lain nya.Dalam.hati nya dia akan bertekad mencari tahu semua nya sendiri,dia bukan anak kecil yang akan sangat mudah di bohongi.


 *****


  Rebeca menghempaskan bokong nya di sofa.Raut wajah nya sangat kesal."Aku benci Max Mom.Bisakah kau akhiri drama ini dan kita langsung bermain saja,melakukan semua ini hanya membuang waktu dan tidak berguna!!"Omel Rebeca.


  "Benar apa yang dikatakan Beca.Lebih baik selesaikan saja,apa lagi saat ini kondisinya masih sangat lemah."Sela Jeremy yang setuju dengan putrinya.


  "Tapi bagaimana?Tua bangka itu sekarang juga sedang sakit dan kau lihat sendiri bagaimana Jihan dan keluarga nya terus menempel pada Maxim.Rasanya aku ingin menghabisi Jihan saja!"Bianca mengusap wajah nya kasar,dia kesal apalagi tadi pipinya sempat di tampar Jihan dan dia tidak punya kesempatan membalas.


  Jeremy menyipitkan matanya,menyadari jika pipi Bianca bersemu merah tapi hanya sebelah"Apa itu hasil dari perbuatan nya?"Tanya Jeremy mengusap lembut pipi Bianca.


   "Aku punya ide,tapi aku butuh bantuan Mommy untuk menjauhkan Jihan dan yang lain nya serta buat sibuk Hans agar dia tidak dekat dengan Max.Selebihnya biar itu menjadi urusanku!"Rebeca tersenyum licik mengalihkan drama.romantis di depan matanya,merasa jika rencana nya akan berjalan mulus tanpa hambatan.


Ketiga nya mulai menyusun rencana,menjauhkan Jihan serta menjauhkan Hans dan Leo.


  "Baik dua hari lagi ku rasa itu waktu yang tepat!"

__ADS_1


 Mereka pun tertawa bahagia menyambut kesuksesan rencana yang sudah mereka buat dengan matang walau dadakan.


   "Baiklah,aku akan kembali ke kamar ku.Menikmati kenyamanan rumah ini!!


  "Dasar anak manja!"Ejek Jeremy.


  "Daddy…!!"Rengek Rebeca.


 "Ops sorry..!!"Jeremy menutup mulut nya seraya tertawa melihat sikap manja Rebeca,sementara Bianca hanya bisa menggelengkan kepalanya.


    "Apa kau merasa rencana nya akan berhasil?Kau tahu sendiri bagaimana Max jika bersama Rebeca,dia sangat membencinya aku hanya tidak ingin putriku terluka."Lirih Jeremh setelah memastikan Rebeca tidak lagi terlihat.


Bianca menggelengkan kepalanya"Entahlah tapi kita tidak akan tahu seberapa tangguh nya Becca jika kita tidak mencobanya kan?Biarkan dia mengatasi ini kurasa dia mampu memegang kendalinya!"


  Keduanya kembali terdiam seraya menyesap teh hangat yang baru saja di sajikan pelayan.


   "Kau benar,dia sudah besar sekarang dan smagat pintar!"Puji Jeremy.

__ADS_1


  Bianca tersenyum"Tentu saja,dia kan putriku!!"Bangga Bianca."Mulai lah lakukan bagian mu,agar semua bisa berjalan lancar karna menjauhkan Hans dan Leo seperti nya sulit."


 Jeremy menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Bianca sendiri menuju ruang kerja nya.Sementara Bianca tetap tinggal dan menikmati teh hangat beraroma kesukaan nya.


__ADS_2