
Rebeca mengusap bokong nya yang mendarat cantik di lantai marmer dingin.Bibir nya mencebik tidak terima,bisa bisa dalam keadaan seperti ini saja Maxim masih bisa menyakiti dirinya.Ingin dia ***** saja agar bisa di jadikan makana ikan.
Maxim yang sudah terbebas dari Rebeca pun segera bangkit.Di pandanginya ranjang yang bertabur kelopak mawar merah itu andai pelaku nya adalah Joya maka di akan senang hati menghabis kan waktu dengan panas tapi ini Rebeca."Cih jijik sekali..!"Batin Maxim mual.
"Jangan melawan Max!Obat yang masuk ke dalam tubuh mu itu dosis nya sangat tinggi jadi jika kau tidak ingin pembuluh darah mu pecah maka ikuti saja naluri mu.Aku siap mengimbangi mu!!"Rebeca mengusap bokong nya,di tahan nya rasa nyeri lalu kembali menghampiri Maxim yang sudha melempar tuxedo nya kesembarang arah.
Dengan senyum tak tahu malu nya Rebeca menyentuh dada Maxim"Mau aku bantu melepas kemeja sialan ini?"Goda Rebeca.
Di bawah pengaruh obat yang semakin menjadi tubuh Maxim terus bereaksi menanggapi setiap sentuhan yang di berikan Rebeca dan Rebeca bisa melihat jika Maxim berusaha menahan sekuat tenaga nya.
Maxim meraih tangan Rebeca,mencengkramnya kuat dengan mata yang sangat merah menahan marah dan hasrat secara bersamaan"Menjauh dari ku *****..Lebih baik aku mati dari pada harus menyentuh mu!!"Urat urat di sekitar wajah Maxim mulai terlihat tapi bukan nya takut Rebeca justru semakin memancing Maxim.
"Apa kau yakin?"Bisik Rebeca sensual di telinga Maxim hembusan nafasnya membuat Maxim meremang.
Tangan Maxim berpindah ke rambut dan menarik rambut Rebeca hingga kepalanya ikut mendongak.
"Enyah...!!"Maxim mendorong tubuh Rebeca hingga nyaris membentur tembok.
"Ahhh panas...!!"Gumam Maxim.Tak di hiraukan nya lagi Rebeca yang sedang meringis.Mata Maxim memindai kondisi kamar dia melihat sebuah ruangan yang seperti nya kamar mandi.Walau sempoyongan dan merasa kepanasan Maxim berjalan ke kamar mandi itu.
"Ahhh sssshhhh Rebeca sialan.Awas saja kau.Akhhhh....!!"Maxim mengguyur tubuh nya di bawah sower namun tidak juga meredam rasa panas di tubuh nya,perlahan kewarasan nya mulai berkurang.
Bughhh
Pranggg
Maxim memukul cermin yang ada di kamar mandi hingga pecah berkeping keping,rasa sakit akibat memecahkan cermin itu sedikit menyadarkan Maxim.
__ADS_1
"Max,buka pintu nya!!"Terdengar teriakan dari luar kamar mandi yang sempat di kunci Maxim.Dia tidak akan membiarkan Rebeca menang dan menguasai dirinya.
Tanpa menghiraukan Rebeca yang terus berteriak dan menggedor pintu,Maxim memukul dinding kamar mandi berulang kali hingga dia kelelahan dan kehilangan kesadaran nya lalu jatuh di lantai kamar mandi yang dingin.
"Kurang ajar..Awas kau!!"Mata Rebeca membola marah,dia meninggalkan kamar mandi dan segera memanggil anak buah nya untuk mendobrak pintu kamar mandi.
Brakk...Brakkkk
Akhirnya pintu kamar mandi pun terbuka.Semakin marahlah Rebeca melihat Maxim yang sudah pingsan dengan tangan yang terluka serta ada darah yang mengalir.
"Ahh Sial..Cepat bawa dia dan panggilkan Dokter!!"
Dengan perasaan kesal yang sangat tinggi,Rebeca meninggalkan Maxim di ruangan itu yang hanya di jaga oleh dua orang anak buah nya.
...****************...
Seornag wanita masih terduduk lemas di atas kursi.Kedua tangan dan juga kaki nya terikat sangat kencang hingga saat wanita itu bangun maka sudah pasti dia tidak akan bisa bergerak sama sekali.
"Apa semua aman?"Tanya seorang wanita jahat yang tak lain adalah Bianca dalang dari penculikan dan penyerangan di mansion Anderson.
"Tenang saja sayang,semua berjalan sesuai rencana dan pekerjaan mereka sangat bersih dan rapi.Aku yakin Nathan dan putra bodoh nya itu akan kesulitan menemukan kita.Hahahaha....!"Bangga Jeremy..
Bianca tersenyun bahagia,pandangan nya menerawang jauh.
"Akhhh sial..."Rebeca mendaratkan bokong nya di sofa yang ada di ruangan dimana disana juga ada Bianca dan juga Jeremy.
Jeremy yang melihat wajah frustasi putrinya pun segera menghampiri dan membawanya ke dalam pelukan nya"Ada apa sayang,kenapa wajah mu di tekuk seperti ini?"Tanya Jeremy membelai surai rambut putrinya.Sementara Bianca hanya melihat interaksi kedua nya karena Rebeca memang sangat dekat dengan Daddy nya.
__ADS_1
"Aku gagal Dad,dia bertahan bahkan dia rela menyakiti dirinya sendiri dari pada menyentuhku.Aku benci Maxim Dad."Ucap Rebeca berapi rapi.
Jeremy mengepalkan tangan nya,namun dia tetap mengulas senyum di bibirnya"Jangan khawatir biar Daddy yang memberi pelajaran padanya."
"Dia memang keras kepala!"Imbuh Bianca."Sebentar lagi semua kan jatuh ke tangan kita.Lalu sekarang bagaimana keadaan Max?"Tanya Bianca lagi.
"Dia pingsan,karena terus memukul dinding hingga tangan nya terluka dan dia kelelahan lalu pinsang.Aku sudah memanggil Dokter untuk merawat nya,aku tidak mau dia mati sebelum semua nya menjadi milik kita!"
Jeremy tersenyum bangga"Gadis pintar!"Puji nya tulus.
"Bagaimana kalau kita satukan saja Max dan Jihan.Kita lihat bagaimana reaksi keduanya?"Seketika ide muncul di kepala Bianca.Rasanya pasti seru jika Jihan melihat bagaimana Maxim di siksa.
"Ide yang bagus! Baiklah aku akan meminta anak buah kita untuk membawa Max satu ruangan bersama Jihan dan kita harus sudah mendapatkan tanda tangan nya sebelum Nathan dan yang lain nya menemukan kita,walau kemungkinan itu kecil."
Bianca mengangguk setuju,begitu juga dengan Rebeca.Mereka tidak boleh merasa senang dulu sebelum Max menandatangani surat pengalihan semua harta dan aset Anderson.
Bersambung..
Terima kasih buat pembaca cerita othor ya.Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan nya.
Baca juga Novel baru Othor ya.Masih sangat baru dan mohon dukungan nya.
Judulnya
Air mata pembasuh luka.
Salam sayang 💙💙💙
__ADS_1