
''Astaga!''Mata Maxim membola melihat apa yang sedang terjadi di dapur.
Kini tangan dan kaki Joya berlumuran darah tapi Joya sama sekali tidak memperdulikan nya bahkan Joya sama sekali seperti tidak merasakan kesakitan.
Joya memang sedang memunguti oecahan kaca tapi serpihan nya mengenai jari tangan nya dan bahkan ada yang terinjak karena Joya tidak memakai alas kaki tapi Joya tidak memperdulikan dirinya sendiri karena rasa sakit yang selama ini dia rasakan jauh lebib menyakitkan dari pada serpihan kaca yang sangat kecil itu.
''Apa yang kau lakukan?''Bentak Maxim yang ternyata tidak begitu simpati pada Joya.
''Maaf saya sedang membersih kan pecahan kaca ini.''Jawab Joya tanpa melihat wajah Maxim.
''Lihat darah yang berceceran itu!Apa kau tidak merasa jika itu semakin membuat lantai itu kotor?''Bentak Maxim.
''Saya akan membersihkan nya Tuan.''Joya sama sekali tidak menatap wajah Maxim,dia lalu bangun membawa pecahan yang ada di tangan nya lalu bergegas membuang nya.
Maxim menggeram marah karena baginya Joya sama sekali tidak menghormatinya dengan tidak mau menatap wajahnya.Dengan langkah lebar dia menyusul Joya dan menarik rambut nya hingga Joya langsung mendongak.
''Jika aku bicara pada ku maka jangan buang muka mu seperti itu.Aku tidak menyukainya!Apa kau tidak membaca map itu hah?Ingat kau adalah wanita yang aku beli jadi kau harus menurut padaku?''Geram Maxim,rahang nya bergetar karena marah.
Joya meringis tapi tidak menangis tangan nya memegang rambut yang di pegang Maxim dia sangat kesakitan tapi dia sama sekali tidak memohon pada Maxim yang semakin membuat Maxim marah apalagi sekarang dari mata Joya terpancar kebencian yang amat sangat pada Maxim.
''Ku ingat kan lagi padamu.Kau adalah wanita yang aku beli jadi kau harus menuruti semua perintah ku.Jangan pernah melawan ku karena kau pasti tidak akan mampu!''Maxim melepaskan rambut Joya dengan sangat kasar lalu pergi meninggalkan Joya yang sudah melorot ke lantai terduduk memeluk lututnya yang bergetar.
Tidak ada belas kasihan di mata Maxim melihat keadaan Joya sementara Joya sendiri hanya bisa mengutuk takdir nya yang tidak pernah bahagia selama hidup nya.
Kini Joya hanya tinggal sendirian saja,dia bangun dan berjalan ke arah westafel untuk membersihkan darah yang ada di tubuh nya serta membasuh jejak air mata yang masih tertinggal di jawah nya.Goresan luka di jari nya terasa perih namun Joya sama sekali tidak peduli rasa sakit itu membuat nya lupa bahwa dia sangat menderita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Briyan memeluk tubuh Miranda dengan sangat lembut,dari wajah nya terpancar kebahagian yang tidak dapat dia ungkapkan setelah mendapatkan tubuh Miranda kini dia mendapatkan uang yang dia minta pada Miranda tempo hari.
__ADS_1
''Aku tahu kau pasti punya uang itu sayang,Aku tahu itu.Terimakasih ya setelah usahaku berjalan dengan lancar maka aku akan segera menikahi mu!''Kata Briyan yang sudah entah keberapa kalinya.
''Kau selalu saja mengatakan itu tapi entah kapan saat itu tiba.Aku sudah bosan mendengar nya.''Jawab Miranda sejak kepergian Joya dan Bik Minah,Miranda tampak lebih banyak diam entah kenapa dia merasa hatinya kosong.
''Sabar sayang.!''Briyan mengecup cuping telinga Miranda dan selalu itu mampu membuat Miranda melupakan amarah nya.
''Aku ingin tahu usaha apa yang sedang kau bangun itu sayang.Kau tidak pernah mengetakan nya padaku dan satu lagi,Kau juga tidak pernah membawaku bertemu dengan orang tua mu apakah kau memang mencintai ku atau tidak?''Tanya Miranda lagi.
''Jika waktunya sudah pas,maka aku akan memperkenalkan kau dengan orang tuaku dan untuk usahaku itu akan menjadi kejutan untuk mu di hari pernikahan kita.Percayalah padaku sayang..''Rayu Briyan dengan kata kata manis nya dan dia selalu berhasil dengan itu.
''Baiklah aku akan menunggu tapi ingat jangan lama lama kau tahu aku tidak lagi muda!''
Briyan tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya ,baginya Miranda adalah mesin atm nya karena kapan dan seberapa pun dia meminta uang pada Miranda maka uang itu pasti akan dia dapatkan tanpa perlu bersusah payah hanya bermodalkan rayuan maka Miranda akan menyerahkan segalanya padanya.
''Dimana bik Minah?aku tidak melihat nya sejak datang tadi?''Tanya Briyan karena selama ini Bik minah tidak pernah pergi dari rumah itu.
''Lalu apa kau ingin mencari penggantinya sayang,jika kai mau maka aku akan mencari nya untuk mu agar kau tidak perlu lelah untuk mengerjakan semua nya sendiri?''
''Entah lah untuk sementara ini biar ku kerjakan sendiri saja jika aku membutuhkan nya maka aku akan mengabari mu.''Saat ini Miranda masih ingin sendiri lagi pula dia tipe orang yang tidak mudah menerima orang baru jadi kepergian Bi Minah masih mengganggu nya.
Briyan setuju,tapi sebuah rencana muncul di kepalanya dan dia akan berusaha agar rencana nya berhasil.
''Baiklah terserah padamu.Aku hanya tidak ingin kau kelelahan.Jadi sekarang bisakah kau membuatkan aku makanan perutku terasa lapar sayang.''Bujuk Briyan.
Miranda mengangguk dia langsung merapikan pakaian nya yang berantakan lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Briyan.
Walau Miranda sangat kerepotan karena sejak kecil dia selalu di layani bik Minah tapi Miranda tidak menyerah membuat makanan untuk Briyan.
Sementara Briyan terus memperhatikan Miranda yang kerepotan dengan senyum mengembang di wajah nya saat nya dia melancarkan rencana nya agar Miranda mau mencari ganti bik Minah.
__ADS_1
''Sayang..''Panggil Briyan.
''Oh kau kenapa datang?Aku belum selesai.''Jawab Miranda sedikit malu karena Briyan akan menyadari jika dirinya tidak begitu mahir memasak.
Briyan mendekat memeluk Miranda dari belakang,lalu melingkarkan tangan nya di pinggang Miranda.''Aku tahu kau membutuhkan pengganti bik Minah sayang.Lihat lah tangan mu jadi melepuh karena terkena cipratan minyak.''Ucap Briyan.
Miranda memperhatikan tangan nya yang tadi memang terkena minyak.
''Apa kau mengenal seseorang?''Tanya Miranda pada akhirnya.
Briyan tersenyum licik di belakang Miranda rencana berhasil membujuk Miranda.
''Tentu aku mengenal seseorang yang bisa membantumu sekaligus akan tutup mulut jika aku tinggal disini bersama mu!''Jawab Briyan seraya mencium ceruk leher Miranda.
''Sayang kau akan menemaniku disini?''Tanya Miranda senang.
''Tentu saja,sekarang wanita tua itu sudah tidak ada disini dan kau tidak perlu khawatir lagi seperti biasanya.''
Miranda merasa senang dengan apa yang di katakan Briyan,selama ini fia selalu merasa sungkan karena ada Bik Minah bersama nya tapi kali ini bik Minah sudah tidak ada.
Sementara Briyan sudah menyusun rencana selanjut nya di kepalanya.
Bersambung....
Dukung terus Author ya.
Beri like komen dan vote nya.
Terimakasih
__ADS_1