
Joya yang mendapat serangan tiba tiba dari Max tentu sangat terkejut tetapi bukan berteriak atau memukul,Joya justru terdiam dengan jantung yang seakan ingin melompat keluar dari tempat nya dengan mata yang masih terbuka sempurna Joya terus menatap Max yang masih menempelkan bibir nya.
Max tidak peduli dengan tatapan Joya,dirinya sama sekali tidak terganggu dengan mata Joya yang masih menatap nya baginya apa yang sedang di nikmatinya ini tidak boleh berakhir sia sia.
''Emmmppphh...''Lenguh Joya karena merasa sesak,rasanya dia ingin memukul dada Max tetapi otak nya masih bekerja untuk tidak melakukan itu dan membuat Max marah.
Max melepaskan pagutan nya dan menatap Joya sekilas dan kembali menatap bibir Joya yang masih basah dan kemudian mengusap nya lembut menghapus sisa saliva yang menempel disana.
''Kenapa rasa nya aneh?''Tanya Max cuek tanpa memikirkan jika saat ini wajah Joya sudah panas dan merona.
''Ya?''Tanya Joya yang masih bingung.
''Sudah tidak perlu kau jawab.Aku tahu kau bodoh!''Kata Max dan meninggalkan Joya yang sedang bingung,malu ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Max langsung menyentuh dadanya yang ternyata juga sedang berdegup kencang,dia sangat pandai menutupi kegugupan nya dengan sikap arogan nya itu.
''Ya ampun,dia mencium bibir ku?Bagaimana ini?''Gumam Joya yang terus menyentuh bibir nya,rasa lembut dan hangat nya nafas Max masih terasa hingga saat ini walau dirinya baru pertama kali merasakan nya namun Joya bisa merasakan jika ciuman Max sangat tulus.
Susah payah Joya menetralkan degup jantung nya namun tiba tiba pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Max dengan wajah datar seperti biasa seakan tidak terjadi apa apa barusan.
''Kita akan pergi ke rumah kakek,bersiaplah!''Kata Max tanpa melihat wajah Joya dan itu membuat Joya sedikit tenang.
''Baik!''Jawab Joya yang langsung berdiri untuk bersiap.Pipinya juga sudah lebih baik.
Hanya dua puluh menit Joya sudah turun menemui Max di bawah yang sedang duduk bersama mamanya tapi tidak terlihat ada Rebeca disana.
''Kau yakin hanya akan pergi berdua dengan nya atau sebaik nya mama ikut dengan mu?''Tanya Nyonya Bianca.
__ADS_1
''Tidak perlu,biar kami berdua saja.Lagi pula aku tidak ingin wanita itu di rumah sendirian jafi temanilah dia bukan kah mama yang membawanya?''Kata Max masih terlihat marah pada Rebeca.
''Terserah kau saja,yang penting mama tidak ingin mendengar alasan apapun lagi kau harus bisa meyakinkan kakek mu!''KataNyinya Bianca menegaskan.
''Itu terserah kakek,yangaku tahu hanya berusaha membujuknya.''Max menarik tangan Joya agar segara pergi.Semakin hari Max merasa semakin kecewa pada mamanya dan radanya hubungan mereka semakin jauh.
''Hei kau!''Panggil Nyonya Bianca yang di tujukan pada Joya.
Max menghentikan langkah nya dan menghembuskan nafasnya pelan,begitu juga Joya dia juga turut berhenti dan berbalik menatap Nyonya Bianca.
''Ya Nyonya''Jawab Joya sopan.
''Kau juga harus bisa meyakinkan kakek Max agar segera menyerahkan harta nya pada Max.Karena semakin cepat harta itu di terima Max maka kau akan semakin cepat terbebas dari kontrak ini!''Kata Nyonya Bianca.
Joya hanya mengangguk kemudian menatap Max yang terlihat sedang memendam sesuatu terasa dari genggaman tangan nya yang srmakin kuat dan membuat tangan Joya terasa sakit.
Nyonya Bianca yang melihat sikap Max hanya mendengus kesal''Aku tidak peduli jika kau akan terus bersama wanita kampungan itu yang penting seluruh harta itu menjadi milik ku!''Gumam Nyonya Bianca tersenhum licik.
Di dalam mobil Joya sama sekali tidak berani mengatakan apapun pada Max karena hingga saatini wajah Max masih terlihat menyeramkan.
''Aku tidak peduli dengan semua itu,aku hanya ingin kau tetap menjadi istriku sekalipun mama menolak keputusan ku.Ingat emm siapa nama mu?Aku lupa.''KataMax yang tidak ingat nama istrinya tapi tidak ingin berpisah dengan nya.
Joya nyaris menjatuhkan rahang nya mendengar ucapan Max.Bagaimana dia berharap dirinya tetap menjadi istrinya sementara namanya saja Max tidak ingat.
''Joya tuan.''Jawab Joya.
''Ya Joya.Aku akan mengingat nya!''Kata Max datar.
__ADS_1
''Astaga,apa ini aku bahkan tidak bisa mengerti apapun dengan sikap nya?''Batin Joya.
''Emm Joya mulai sekarang jangan panggil aku Tuan,telingaku mulai sakit mendengar nya dari mulut mu!Panggil aku dengan sebutan yang lain!''Perintah Max.
''Emm apa?''Cicit Joya.
Max menyentuh dagu nya seolah sedang berpikir panggilan apa yang kira kira akan di sebut Joya padanya.
''Mumu..''Ucap Joya
Max mengerutkan alisnya''Mumu?''Tanya Max''Emm aku suka imut sekali.''Jawab Max sambil tersenyum.
''Emm bukan,maksud saya..''Joya kebingungan menjelaskan pada Max sebenar nya itu bukan nama untuk Max tapi tadi Joya sempat melihat seekor kucing yang mirip dengan kucing tetangganya.
''Apa maksud mu?Aku tidak mau tahu kau harus memanggilku Mumu sejak sekarang.Mu mu...''Max memutuskan dan Joya hanya bisa mengangguk,padahal di dalam hatinya dia merasa lucu sendiri.
''Karna kau memeberi panggilan padaku maka aku juga akan memberi panggilan untuk mu tapi apa ya?''
Joya bingung dengan Max yang aneh,entah apa yang ada dalam pikiran nya saat ini tapi tersrrah lah selama dirinya baik baik saja.
''Siapa nama mu?''Tanya Max lagi.
Joya menghembuskan nafas halus nya ini sudah yang ke dua kalinya Max menanyakan nama nya.''Joya tuan,Joya milandra.''Jawab Joya sedikit sebal.
Max tersenyum dia tahu jika Joya kesal dengan nya tapi apa pedulinya.
''Bailah Joya Milandra aku akan memanggil mu emmm Mimi. Hahaha...Mumu dan Mimi...''Kekeh Max menyebutkan nama panggilan kesayangan mereka berdua,sementara Joya sendiri merasa geli mendengar nama panghilan mereka.
__ADS_1
''Hahhaa..Mumu dan Mimi.''Max terus menyebut nama itu sepanjang jalan.