
''Astaga''Max terkejut mendapati Joya kini sudah terduduk di lantai dengan tangan yang menutupi wajahnya bahkan air matanya masih terlihat jelas mengalir di pipinya,sementara di depan nya ada Rebeca yang tengah berdiri dengan ekspresi terkejut karena tiba tiba Max membuka pintu kamar nya.
''Apa yang kau lakukan di kamarku dan kau apakan istriku?''Berang Max dengan langkah yang lebar dia segera menghampiri Joya dan membantunya berdiri lalu membawanya ke ranjang,kemudian Max melepaskan tangan Joya yang menutupi pipi nya dengan begitu Max bisa melihat dengan jelas pipi Joya yang merah dan ada cap tangan disana.
Mata Max berkilat marah menatap Rebeca,rahang nya mengeras bukan hal baik bagi Rebeca karena telah menyakiti Joya padahal sebelum nya dia sudah mengancam Joya agar tidak menceritakan apa yang terjadi pada Max.
''Katakan sekarang kau apakan dia?''Tanya Max menatap garang Rebeca.
Tubuh Rebeca bergetar,dia tentu saja gugup apalagi dia juga tahu bagaimana mengerikan nya Max jika dia marah.
''A..Aku tidak melakukan apapun padanya.Aku datang karena mendengar suaranya yang berteriak jadi jangan tanya aku.''Rebeca berkilah.''Hei katakan jika aku tidak melakukan apapun padamu!''Kata Rebeca menatap Joya dengan mata yang menatap tajam seakan mengamcam agar Joya tidak berkata sebenarnya.
Max terus menatap Rebecadan itu membuatnya sangat gemetar apalagi sampai saat ini Joya hanya diam saja.
''Kau tidak bisa membodohi aku Beca.Aku tahu jika kau sudah melakukan sesuatu pada istriku!''Bentak Max
Joya terjengkit kaget mendengar teriakan Max,seketika tubuhnya juga bergetar.
''Tidak Max,jangan menuduhku kau tanya saja padanya jika kau tidak percaya padaku!''sanggah Rebeca.
''Sayang,katakan apa yang terjadi?Ingat aku akan selalu melindungi mu dan jangan takut bicara jujur!''Kata Max lembut.
Rebeca membulatkan matanya hatinya terasa sakit saat Max berbicara sangat lembut pada Joya karena selama ini dia tidak pernah selembut itu padanya walau tidak kasar.
''Emmm,,Nona beca memintaku untuk meninggalkanmu karena sekarang dia sudah ada disini untuk menggantikan posisiku sebagai istrimu tapi aku menolak itu sebabnya dia menamparku.''Jawab Joya jujur.
Plaakkkk
__ADS_1
Rebeca tersungkur di lantai sama seperti Joya tadi tapi dia lebih parah,rasa sakit nya pasti sangat jauh dia rasakan.
''Max apa apaan ini?''Nyonya Bianca yang mendengar keributandi kamar Max segera melihatnya dan tertanya bertepatan dengan Rebeca yang tersungkur di lantai karena tamparan Max.
''Sudah ku peringati agar tidak mengganggu istriku tetapi dia tidak mendengar nya.Ini adalah peringatan untuk siapapun yang berani menyakiti istriku.''Kata Max acuh
Bianca mendengus merutuki kebodohan Rebeca yang tidak sabaran padahal dia sudah mengatakan untuk tenang.
''Tetapi kau tidak harus menamparnya seperti ini Max,dia adalah wanita di tambah lagi dia adalah calon istrimu seharusnya kau bisa bersikap lebih lembut dengan nya!''Nyonya Bianca tetap membela Rebeca walau dia sangat kesal dengan Rebeca yang bisa saja merusak rencana nya.
''Aku tidak akan menikah dengan wanita yang telah mengkhianatiku dan mama juga harus ingat aku sudah menikah dan sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan nya!''Tegas Max.
Mata Joya memanas dirinya bingung apakah Max benar benar ingin mempertahankan pernikahan nya atau hanya sekedar sandiwara seperti biasa.
''Tidak Max,kau tidak bisa melakukan ini padaku!Lihatlah perempuan ini tidak pantas untuk mu,aku lebih segalanya dari dia!''Rebeca tidak terima jika Max lebih memilih Joya dari pada dianya.
''Sudah,Beca ayo keluar!Kepalaku pusing.''Kata Bianca menyela ucapan Max yang pastinya tidak keputusan nya tidak akan berubah.
Dengan kesal Rebeca mengikuti langkah Bianca yang menarik tangan nya keluar kamar max meninggalkan penghuni kamar yang masih mengontrol emosi dan degup jantung mereka masing masing.
''Perlu ku panggilkan dokter?''Tanya Max memecahkan lamunan Joya.
''Emm.Tidak tuan tidak perlu,saya baik baik saja!''Joya tidak ingin perhatian kecil Max akan membuat dirinya berada dalam kebimbangan yang lebih dalam lagi.
''Baiklah jika kau tidak mau di panggilkan dokter,di kompres saja pipimu terlihat membengkak!''Max mengusap lembut pipi Joya yang terlihat memerah.
Joya mengangguk walau dia mengatakan baik baik saja tetapi tidak di pungkiri jika pipinya masih terasa panas.
__ADS_1
Max turun untuk mengambilkan kompresan dan kembali setelah mendapatkan nya tetapi sebelum masuk Max melihat ke kamar mamanya yang tertutup rapat lalu menggelengkan kepalanya.
''Kemari!''Panggil Max agar Joya duduk di sofa.
Dengan hati hati Joya berjalan mendekati Max,bukan karena sakit atau takut hanya khawatir dengan dirinya sendiri yang merasa nyaman dengan Max hingga lupa siapa dirinya sendiri.
''Ughhh...''Max menarik tangan Joya karena tidak sabar hingga Joya jatuh di pangkuan nya.Mata mereka saling terkunci beberapa saat bahkan detak jantung mereka saling bersahutan.
''Kau lambat!''
Joya memalingkan wajah nya karena malu juga panas entah karena tamparan Rebeca atau karena tatapan mata Max.
''Maaf!''
''Ingat jangan pernah mau di rendahkan oleh siapapun kecuali aku!Aku tidak suka melihatmu lemah dihadapan orang lain hanya di hadapan ku saja kau boleh lemah.''Kata Max seraya mengompres pipi Joya.
Sementara Joyayang mendengarnya merasa bingung''Aku hanya boleh lemah padanya dan mau direndahkan oleh nya?Maksud nya apa?''Batin Joya bingung.
''Mulai besok kau harus berani melawan,jika tidak maka kau yang akan aku hukum!Dia bukan calon istriku hanya kau ingat hanya kamu istriku!''KataMax tegas.
Joya tidak bernai menjawab pernyataan Max dirinya tentu di buat bingung dengan sikap Max yang sebentar mengatakan dia istrinya dan sebentar mengatakan jika dia wanita yang di beli.
''Kau denganr?''Tanya Max menggamit dagu Joya agar melihat ke arah nya.
Joya mengerjapkan mata nya beberapa kali sangat lucu''I...Iya.!''Jawab Joya singkat.
Max melihat mata Joya seperti kelinci membuat nya sangat gemas dan tanpa sadar wajah nya mendekat lalu mengecup bibir Joya dengan lembut.
__ADS_1
''Astaga..!''