Gadis Kecil Milik Tuan CEO

Gadis Kecil Milik Tuan CEO
Bab 25.Hampir marah


__ADS_3

Maxim pulang dengan wajah yang memerah setelah mendapat laporan dari mamanya jika Joya hampir membuat ulah membuat Max tidak lagi bisa menahan amarah nya lagi,jika sekali saja Joya membuat kesalahan maka semua rencananya akan berantakan.


Bughhh


Max langsung turun tanpa menunggu Hans membukakan pintu bahkan dia menutup pintu mobil dengan sangat keras.Langkah nya sangat lebar seperti singa yang kelaparan.


''Dimana dia?''Tanya Max saat bertemu dengan mamanya.


''Di kamar tamu!''kata Nyonya Bianca,terbersit sebuah senyuman melihat Max pulang dengan wajah garang seperti yang dia harapkan jika Max akan memberi hukuman pada Joya.


Brakkk


Max membuka pintu kamar tamu dengan kuat bahkan mungkin hampir membuat daun pintu itu terlepas.


''Joya dimana kau?''tanya Max karena tidak melihat Joya ada di kamar tamu.Max juga mengetuk pintu kamar mandi mungkin saja gadis itu sedang berada disana tetapi tidak ada sahutan dari dalam.


Max keluar dengan kesal''Dia tidak ada disana.''Kata nya pada mamanya.


''Tidak mungkin, tadi mama meninggalkan nya disana setelah mama memarahinya,atau mungkin dia kabur?''Nyonya Bianca mencoba menerka nerka.


''Tidak mungkin.Hei kau dimana Joya?''Panggil Max pada pelayan yang lewat.


''Maaf tuan.Nona Joya ada di kamar Tuan besar.''Jawab pelayan itu ketakutan.


Max dan mama nya kaget''Asataga,bagaimana jika dia mengatakan semuanya?''lirih Nyonya Bianca.


Max dan Mama nya segera menyusul Joya ke kamar kakek Marco, wajah kedua nya sangat tegang.


Tetapi sebelum Max membuka pintu terdengar suara Joya yang sedang berbicara pada kakek Marco.


''Iya kek,Joya hanya tinggal sendiri.Beruntung Joya bertemu tanpa sengaja dengan cucu kakek Max,dia sangat baik.Bahkan dia juga membelikan Joya pakaian ini,cantik kan?Joya yakin kakek juga pasti bangga punya cucu yang peduli dengan orang lain.''Max terpaku di tempat nya Joya yang dia pikir akan merusak rencana nya tapi justru membuat dirinya terlihat baik di mata kakeknya.


''Apa kau benar benar mencintainya?''Tanya Kakek Marco.

__ADS_1


Joya menatap kakek Marco''Ya kek.Joya mencintai Max,bahkan Joya tidak bisa melihat nya terluka.''Kata Joya menundukkan kepalanya karena merasa bersalah telah berbohong pada kakek.


Tetapi kakek Marco salah paham''Kenapa kau malu mengakui perasaan mu pada kakek.Kau tahu kakek tidak masalah jika kau hanya sebatang kara, yang penting kau bisa membuat Max bahagia.''Ucap kakek Marco tulus.


Max terenyuh mendengar percakapan Joya dan kakek nya.Entah kenapa ada sudut hatinya yang terasa hangat,selama ini Max hanya tahu bagaimana cara nya membenci dan marah.


''Apa yang mereka katakan?''Tanya Bianca tidak sabar karena dia tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Joya dengan papa mertuanya.


''Aku yakin saat ini gadis itu pasti sedang merusak semua rencana kita!''omel Nyonya Bianca.


Max tidak menghiraukan ucapan mamanya dia mendorong pelan handle pintu kamar kakek lalu masuk.


''Sayang,dari tadi aku mencarimu.''Kata Max menghampiri Joya lalu memeluknya.Ada rasa hangat yang Joya rasakan dalam pelukan Max.


''Emm A aku disini bersama kakek.''Jawab Joya gugup,dia merasa takut jika Max akan marah padanya karena saat ini tatapan Nyonya Bianca sangatlah menyeramkan.


''Apa yang kalian bicarakan,sampai sampai kau betah bersama pria tua ini?''Tanya Max mengendikkan dagu nya ke arah kakek.


''Cihh sebelum tua,aku juga pernah menjadi pemuda tampan cucu durhaka.''omel kakek Marco.


''Kita pulang sekarang,ini sudah sore?''Tanya Max.


''Baiklah .Kakek Joya pulang ya.Lain kali kita akan bertemu lagi.''Kata Joya berpamitan.


Kakek Marco mengangguk'''Hati hati di jalan!''


Max menggenggam tangan Joya dengan lembut membuat Nyonya Bianca mendengus tidak suka.


''Max tunggu dulu!''Kata Nyonya Bianca mengehentikan Max.


Max menatap mamanya ''Ada apa ma?''tanya Max.


''Kenapa kau tidak marah padanya?kau justru menggenggam tangan nya dengan lembut seperti itu,jangan bilang jika kau memang menyukai nya?''Tanya Nyonya Bianca menekan suara nya pelan agar tidak ada yang mendengar.

__ADS_1


''Ya aku menyukainya dan itu tidak masalahkan?''Kata Max melirik Joya.


Joya melebarkan matanya tidak mungkin jika Max benar benar menyukai nya.


''Mama akan tidak setuju jika kau sampai jatuh cinta padanya Max.Kau hanya akan menjadi suami Rebecca!Wanita ini hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan kita.''Mata Nyonya Bianca menatap tajam putranya,membuat Joya sedikit gemetar tapi Max mengusap lembut punggung tangan Joya agar Joya merasa tenang.


''Ma,sampai detik ini yang ada di pikiran mama hanya harta saja,apakah mama pernah berpikir sekali saja apa yang Max inginkan?Tidak!''Tanya Max.


Tetapi tanpa menunggu jawaban mama nya Max pergi dengan masih menggandeng tangan Joya.Sementara Joya kerepotan mengimbangi langkah kaki Max yang lebar.


''Masuklah!''Kata Max membuka pintu mobil untuk Joya lalu dia juga masuk dan duduk di sebelah nya.


Max meremas rambut nya, kepalanya terasa pusing setiap kali mamanya mengatakan ingin merebut semua harta kakek Marco.


''Tuan baik baik saja?''Tanya Joya yang khawatir melihat keadaan Max.


Max menatap gadis kecil di sebelahnya''Ya,aku baik baik saja.''Jawab Max lalu menutup matanya.


''Jika tuan ingin bercerita,maka saya siap mendengarkan!Mungkin saja dengan bercerita beban yang tuan rasakan bisa sedikit berkurang.''Kata Joya takut takut.


Max membuka matanya menatap Joya''Bahkan orang asing yang terkadang aku sakiti masih mau memikirkan perasaan ku.''Batin Max.


''Pikirkan saja dirimu!''Kata Max dingin lalu kembali menutup matanya.


Joya diam lalu membuang pandangan nya keluar jendela,menatap deretan bangunan tinggi yang ada di pinggir jalan,melihat manusia yang berlalu lalang bahkan rentetan pedagang pedangan yang sedang mengais rejeki tak luput dari pandangan Joya.


''Wahh''Gumam Joya takjub melihat makanan yang di jajakan di pinggir jalan.


Max membuka matanya melihat apa yang Joya lihat''Apa kau mau itu?''Tanya Max.


''Maaf tuan,tidak saya hanya kagum saja sepertinya makanan itu enak.Tapi saya tidak ingin memakan nya.''Jawab Joya walau hatinya berkata lain,Joya hanya khawatir Max akan berhenti dan menyuruhnya membeli dulu karena dia sama sekali tidak memiliki uang sepeserpun ingin meminta itu lebih tidak mungkin jadilah Joya menelan saliva nya sendiri.


Hans tahu apa yang Joya pikirkan tetapi dia juga hanya diam karena saat ini Max terlihat banyak tekanan,itu sebab nya Hans terus melajukan mobilnya.

__ADS_1


''Ya sudah terserah kau saja!''Kata Max dingin.


__ADS_2