
Miranda tiba di rumah nya denvan jantung yang semakin terpompa cepat.Wajah cantiknya semakin memerah saat melihat Jeny tengah menatik kopernya keluar rumah.
''Hei apa yang kau lakukan huh?''Miranda segera menutup keras pintu mobil dan berjalan cepat menghampiri Jeny.
''Lepaskan!Kau sudah lancang berani menyentuh barang barang ku.Ingat kau hanya pembantu disini jangan berlagak menjadi Nyonya rumah!''Miranda menghempaskan tangan Jeny membuat Jeny limbung dan nyaris jatuh.
Tanpa memperdulikan Jeny Miranda menyeret kopernya kembali masuk namun langkah nya di hentikan Jeny.
''Keluar ini bukan rumah mu!''Teriak Jeny.
Miranda menghentikan langkah nya memastikan pendengaran nya tidak salah.''Apa kau bilang?''Tanya Miranda lagi.
''Apa kau tuli?Aku bilang ini bukan rumah mu dan kau tidak boleh masuk ke sini lagi!''Jeny tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah Miranda yang semakin memerah.Selama ini Miranda sangat angkuh dan sekarang lihat lah dia tidak memiliki apapun lagi.
Plaakkkk
Miranda menampar pipi Jeny dengan kekuatan penuh.Emosi yang sedari tadi bekum bisa dia lampiaskan kini akan dia salurkan tidak peduli jika Jeny pembamtu tidak tahu diri ini akan mati di tangan nya.
''Dasar manusia tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih,sudah di tolong ternyata kau menikam ku dari belakang.Dan satu hal yang harus kamu tahu rumah ini adalah milik ku dan selama nya akan menjadi milik ku!''Geram Jeny.
''Hahahha....Itu dulu NyonyaTapi sekarang ini adalah rumah ku dan aku sebagai pemilik rumah ini melarang kau menginjakkan kaki mi di rumah ku!Sekarang keluarrrr!!''Jeny tidak peduli dengan tatapan horor Miranda.Dia menarik tanga Miranda dengan kasar dan membawa nya keluar tapi tentu saja Miranda memberontak dia berusaha keras melepaskan cekalan tangan Jeny.
''Akhhhh.....''Jeny berteriak kencang saat rambut nya di tarik dengan sangat keras oleh Miranda,rasanya kulit kepalanya ikut tertarik karena kuatnyaMiranda menjambak rambut nya.
__ADS_1
''Dasar wanita tua,kurang ajar kita lihat siapa yang akan bertahan?''Jeny tidak mau kalah dengans ekuat tenaga dia menarik Miranda hingga Miranda yang belum siap ternyata sudah terjatuh dan langsung mendapat bogem di wajah nya.
''Aku tidak akan melepasmu!''Umpat Jeny dengan terus memukul wajah Miranda.
Miranda sendiri.tidak ingin kalah,dia akan terus mempertahan kan apa.yamg menjadi miliknya apalagi mereka hanya perampas.
Tangan nya yang bebas segera menarik dan mencakar wajah Jeny.''Rasakan kau akan menjadi cacat,aku akan membuat wajahmu tidak bisa di perbaiki lagi.Sekuat tenaga Miranda mencakar dan menarik rambut Miranda walau wajah nya sendiri sangat sakit tetapi dia tidaka kan diam saja saat ada orang yang terang terangan merebut milik nya.
''Apa yang kalian lakukan?''Suara bariton menghentikan pertikaian dua wanita beda usia itu.
''Briyan lihat lah wanita yang kau anggap baik ini,dia sangat kurang ajar berani sekali dia mengusir aku dari rumah ku sendiri.''Miranda seolah lupa jika Briyan juga mengusirnya dari kantor.
''Kau tidak apa apa sayang?''Kata Briyan.Miranda yang mendengar nya seketika menghangat hatinya,ternyata Briyan masih menyayanginya.
Mata Miranda yang tadinya sudah berbinar seketika membola.
''Sayang...Maksudmu?''Miranda tidak percaya demgan apa yang di dengar nya.Berkali kali dia mengerjapkan matanya menoleh pada Briyan dan Jeny bergantian dan kini tanganBriyan sudah terlurur dan disambut Jeny dengan bahagia.
''Kalian?''Tanya Miranda seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.
Jeny mencibir Miranda yang nafas nya sudah terdengar memburu jelas dia tahu apa yang terjadi tapi dia masih mencerna semua nya.
''Kau lihat?Kau bahkan tidak berarti!''Kata Jeny.
__ADS_1
''Bajingan,jadi selama ini kalian menipuku?Kalian bermain di belakang ku?Ahh kau perempuan murahan yang sama sekali tidak berguna.''Maki Miranda.
''Jangan menghina Jeny,dia lebih baik dari mu!''Kali ini Briyan membela Jeny.
''Kau,membelanya?Aku ingin tahu apa yang telah di berikan wanita ini padamu?Bahkan dia hanya seorang pembantu.Ingat selama.ini aku sudah memberikan segalanya padamu!''
''Hahaha...Kau memang bodoh Miranda.Sudahlah sebaik nya kau pergi karena rumah dan perusahaan mu sudah menjadi milik kami!''Kata Jeny dengan senyum mengejek di wajahnya.
''Tidak,kalian yang harus pergi!Ini adalah rumah ku,kalian tidak bisa memilikinya!!''Miranda berusaha mendorong Jeny.
''Berhenti!''Bentak Briyan
''Dia benar,kau harus meninggalkan rumah ini,karena sekarang kau bukan pemilik rumah dan perusahaan itu.Dan ini semua bukti nya kau menyerahkan semua pada kami tanpa paksaan.''Briyan menunjukkan kertas kertas berisi bukti pengalihan semua aset dan rumah milik nya.
Jantung Miranda seakan mau copot dari tempat nya.Semua bukti yang di tunjukkan Briyan memang asli tanda tangan nya tapi dia tidak ingat kapan dia melakukan nya.
''Kau sudah menipuku,ternyata semua ini sudah kalian rencana kan?Hemm bodoh nya aku bahkan tertipu..Baik aku akan pergi tapi akuakan tetap berusaha mendapatkan kembali semua milik ku!!''
Dengan perasaan kesal.yang bercampur aduk,Miranda meninggalkan rumaj yang dia bangun denganjerih payah nya sendiri,rasanya tubuhnya sudah sangat lelah dan tidak punya tenaga untuk berdebat atau berkelahi dengan Jeny atau Briyan.
Dendam dan perasaan hancur kini menyelimuti hati Miranda dirinya terus menangis sepanjang jalan meratapi nasib nya yang terasa sial.
Hanya satu kini yang menjadi tujuan Miranda..
__ADS_1
Bersambung...