Gadis Kecil Milik Tuan CEO

Gadis Kecil Milik Tuan CEO
Bab 118.Briyan


__ADS_3

Briyan membuka matanya setelah sejak kemarin kedua tangan nya terikat pada dua buah tiang dengan posisi berdiri.Jangan tanya bagaimana lelah nya kaki Briyan di tambah lagi dengan tidak memakai baju dan celana tentu tubuhnya semakin tersiksa,anak buah Maxim memang tidak menyentuhnya hanya saja gigitan nyamuk sepanjang malam membuat sekujur tubuh nya terasa gatal serta dinginnya malam dan rasa lapar yang medera membuat tubuh Briyan gemetar lemah.



Masih dengan tubuh sangat tidak berdaya beberapa bodyuguard Max membuka ikatan pada tangan nya dan spontan Briyan langsung roboh ke tanah tak berdaya.


"Lemah,baru di ikat semalaman sudah seperti ini bagaimana jika kau di ikat di atas kolam buaya kau pasti langsung mati!!"Entah siapa bodyguard ini sejak kemarin dia sangat membenci Briyan karena mencelakai wanita.


Briyan sudah tidak punya tenaga untuk sekedar mendebat ocehan nya.Dia hanya memejamkan matanya dan menarik nafasnya pelan.


"Haus...!!"Lirih Briyan,sedikit menyesali perbuatan nya yang ceroboh.Padahal dia sudah tahu bagaimana kejam nya Max tapi dengan santainya dia tidak menghindar.


"Hei,kau pikir kau siapa hah?Bajingan seperti mu jangankan air minum bernafas saja sebenarnya juga sudah tidak boleh!!"Bentak pria sangar itu.


"Sudahlah Roy,untuk apa sejak kemarin kau marah marah terus?Beri dia minum atau dia akan mati dan kita yang menjadi gantinya mendapat hukuman dari bos!"Teman Roy memperingati nya.


Roy mendengus tidak suka"Beri saja sendiri jika kau mau!"Kata Roy yang benar benar sangat tidak ingin bersikap baik pada Briyan.


Teman Roy hanya menggeleng pelan lalu menyerahkan sebotol air pada Briyan.Briyan juga tidak menyia ngiakan kesempatan iti dengan tangan yang gemetar dia membuka tutup botol lalu menenggaknya,meski banyak yang tumpah karena tangannya yang tremor tapi tetap ada yang sudha masuk ke tenggorokan nya dan membuat Briyan merasa lega.

__ADS_1


"Bangun dan jalan!Jangan sampai teman ku menyeretmu!"Kata teman Roy setelah melihat Briyan selesai minum.


Briyan tidak punya pilihan selain menurut karena meski mereka banyak bicara tapi di tangan mereka ada senjata dan mereka banyak tentu Briyan tidak akan mampu melawan nya kalau pun dia bisa membunuh satu atau dua orang.


Di bawa kesebuah ruangan tidaklah lebih baik dari pada di ikat di luar.Saat melihat ruangan yang di masuki jantung Briyan langsung memompa dua kali lebicepat dari biasanya.


Tubuhnya memberi reaksi penolakan,dia berencana akan menarik senjata salah seornag anak buah Max lalu kabur dari sana!Mata Briyan membaca situasi jika dia bisa melumpuhkan bodyguard yang di dalam maka mungkin dia bisa kabur.


Roy memperhatikan gerak gerik Briyan,tentu sebagai seorang bodyguard dia sudha terlatih membaca gerakan lawannya dan jika hanya membaca gerakan Briyan tentu sangat mudah baginya.


Bughhh


"Tak usah banyak berpikir,kasihani saja otak mu yang dangkal itu!!"Sebelum Briyan melakukan apa yang ada dalam pikiran nya,Roy sudah menendang bokong Briyan hingga pria itu terjungkal ke depan dengan wajah langsung mencium lantai.


Roy berjongkok di dekat Briyan"Jangan kau pikir kau yang pintar disini.Kau masih beruntung karena tuan Max tidak mengijinkan kami menghukum mu jadi jangan coba coba kabur karena itu tidak akan mudah!!"Roy menoyor keoala Briyan.Kilat kebencina terlihat di mata Briyan untuk Roy,tapi pria sangar itu tidak peduli sama sekali.


"Jangan memberi celah Bram!Atau kau akan kehilangan pekerjaan!!"Roy memperingati teman satu profesinya yang sengaja bermain main.


Bram hanya terkekeh lalu menarik Briyan kemudia mengikat nya kembali.Tangan Briyan seakan mau patah,kram akibat di ikat semalaman saja belum hilang kini dia harus di ikat lagi dan rasa gatal di sekujur tubuh juga sejak tadi minta di garuk.Briyan frustasi bukan hukuman berat tapi dia tidak kuat.

__ADS_1


Selesai mengikat Briyan terdengar suara langkah memasuki ruangan di mana mereka berada dan dari suara yang terdengar mereka tahu jika yang datang adalaj bos mereka Maxim.


Seketika suasana menjadi hening sampai Max benar benar tiba di ruangan itu.


"Selamat datang Tuan!"Ucap mereka bersamaan menyambut kedatangan Max.


Tanoa menjawab Max langsung duduk di kursi yang di bawa Roy.Pria arogan itu tidak sendiri karena di sebelah nya ada Georg yang tampang nya tak kalah garang dari Max.Seketika Briyan langsung meneguk ludahnya susah payah membayangkan hukuman yang akan dia dapatkan setelah ini.


"Jadi ini pria bajingan yang sudha membuat adik ku masuk rumah sakit?"Georg bertanya pada Max tapi matanya menatap tajam ke arah Briyan.


'Adik,bukan kah Joya anak pertama Miranda.Bagaimana bisa dia punya kakak yang sama menakutkan nya dengan Max?'Batin Briyan tidak tenang.


"Aku akan memberi kesempatan pertama bagimu untuk memberinya hukuman,setelah kau puas maka dia akan menjadi bagian ku!Tapi ingat jangan sampai dia mati.Karena sudah lama aku tidak bermain main."Entah permintaan atau apa yang jelas siapaoun yang mendengar nya pasti akan langsung gemetar.Mereka melihat sendiri bagaimana Max menghukum Bianca dengan cara yang kejam tentu itu sangat tega.


Briyan langsung panik saat matanya melihat bagaimana pria asing di depan nya ini melihat dan memilih jenis alat yang biasa di gunakan Max untuk menyiksa tawanan nya.Tanpa diminta pun tubuh Briyan langsung gemetar dan nyaris mengompol.


"Tidak,jauhi aku!"Briyan berteriak histeris dengan tubuh yang terus bergerat seakan meronta agar ikatan di tanganya bisa terlepas namun semua sia sia karena tentu anak buah Max mengikatnya dengan kuat.


Dengan mata melotot Briyan melihat Georg membawa sebuah tang dan berjalan ke arah tangan nya dan menjepit.

__ADS_1


"Akkhhhh...!!"Teriakan Briyan menggema di seluruh ruangan.Tubuh Briyan bergetar semakin kencang menahan rasa sakit di ujung jarinya bahkan rasa sakit itu kini mejalar ke seluruh tubuh nya.


Bersambung...


__ADS_2