
Jihan mengusap sisa sisa air matanya setelah kepergian Max hatinya begitu sangat bahagia karena bisa memeluk Max seperti tadi sudah sejak lama dia ingin memeluk nya pria arogan itu tetapi tidak bisa karena Bianca yang selalu menatapnya dengan penuh kebencian tanpa tahu apa salah nya.
''Kau senang?''Tanya Tuan Nathan padanya.
''Ya,sudah sangat lama aku sangat merindukan nya tapi sekarang aku bisa memeluk nya dia masih hangat seperti dulu aku memeluknya!''Jawab Nyonya Jihan memeluk suaminya.
Leo yang tidak mengerti pun menautkan alis nya ''Sebenarnya ada apa?Kenapa mama seakan rindu sekali pada Max?''
Tuan Nathan menghembuskan nafas nya perlahan dan membawa istrinya duduk''Ya kami kehilangan kakak mu dulu,bersamaan dengan hadir nya Max jadi melihat dia kami seakan melihat putra pertama kami dan itu kakak mu.''Jawab Tuan Nathan.
''Maksud papa,kakak di culik?''Tanya Leo semakin penasaran.
Tuan Nathan menggeleng''Dia meninggal sesaat baru di lahirkan dan kelahiran nya hanya berjarak beberapa jam dengan kelahiran Max.''
''Itu sebab nya mama dan papa seakan melihat kakak di Max karena usia mereka sama?''
Nyonya Jihan mengangguk''Kau benar nak.Aku sangat menyayangi Max sama seperti aku menyayangimu tapi aku tidak bisa menyentuh nya karena bibi mu melarang.''
Leo tersenyum menatap kedua orang tuanya''Baiklah tadi kakian baru saja memeluknya jadi jangan bersedih lagi mungkin di masa depan kalian punya kesempatan lagi memeluk nya dan mengungkapkan kasih sayang kalian pada Max.''Leo sama sekali tidak merasa cemburu atau takut cinta kedua orang tuanya akan terbagi karena dia benar benar melihat ketulusan disana.
Sementara Max sendiri langsung menemui kakek nya dan Joya yang sedang berada di taman,benar kata bibi nya jika Kakek sedang menunjukkan pada Joya bunga kesayangan nya yang sedang mekar.
''Kakek aku ingin bicara padamu!''Max tidak ingin berbasa basi lagi rasanya ingin semua segera selesai dan dia akan tenang hidup bersama Joya istrinya.
Kakek Marco menatap Max tidak senang karena mengganggu kesenangan nya bersama Joya''Tidak kah bisa bersabar?aku sedang memberitahu cucu mantuku bunga yang sangat cantik ini!''
Max menatap Joya yang juga menatap nya,mata nya mengerjap bias cahaya matahari membuat kulit Joya terlihat berkilau karena kulit putih nya.
''Mimi tidak apa jika aku mengganggu kakek sebentar?''Tanya Max dengan tatapan lembut.
__ADS_1
Kakek Marco yang mendengar panggilan aneh Max untuk Joya mengeryitkan alis nya,sementara Joya merasa sangat malu dengan panggilan konyol yang di berikan Max padanya.
''Kau panggil dia apa?''Tanya kakek Marco.
''Kenapa?Aku hanya memanggil dia dengan panggilan kesayangan bahkan dia juga punya panggilan kesayangan untuk ku jika kakek tidak percaya tanyakan saja padanya!''Max merasa bangga dengan itu tanpa memikirkan Joya yang wajah nya merah karena malu.
Kakek Marco menatap Joya''Kau panggil dia apa?''Tanya kakek Marco.
'Emm Mu mu..''jawab Joya.
''Huaaaa..hahahhaha....Kalian pasanagn aneh tidak kah kalian bisa mencari nama panggilan lain yang lebih manis?''Tanya kakek Marco di sela sela tawanya.
''Sudahlah kakek tidak perlu membahas panggilan kami karena kami yang menjalaninya sekarang ayo aku ingin bicara serius dengan mu!Jangan coba coba untuk mencari alasan lagi sekarang.
Kakek Marco mengerti arah pembicaraan Max cepat atau lambat Max memang akan menangih janji nya,wajah nya berubah serius aura yang tadinya hangat kini sedikit berubah.
''Nak temui Tante mu aku ingin bicara dengan Max!''
''Jangan biarkan Leo menyentuhmu atau aku akan memghukummu nanti!''
''Ya aku mengerti.''
Setelah Joya benar benar menghilang dari pandangan mereka barulah kakek Marco membuka obrolan.
''Jangan tetlalu kerasdengan nya,kau tidak lihat dia sangat kaku seperti itu?Kau terlihat menikahi robot bukan manusia.''Nasihat kakek Marco
''Tentu.''
''Baiklah ikut aku!sebelum aku menyerahkan semua nya padamu ada yang harus kau ketahui terlebih dahulu agar kau bisa mengambil langkah kedepan nya!"
__ADS_1
Max mengikuti langkah kakek Marco ke ruang kerja nya dimana tidak semua orang bisa masuk sembarangan kesana.
''Duduk!''
Max hanya menurut mendaratkan bokong nya di sofa tapi matanya terus mengamati apa yang kakek nya lakukan.Langkah nya berhenti di sebuah lemari namun bukan itu yang membuat Max terkejut ternyata di belakang lemari itu ada sebuah ruangan yang Max sendiri baru tahu.
Kakek Marco kembali dengan membawa sebuah amplop coklat di tangan nya.
''Bukalah Max!''Perintah kakek Marco seraya duduk di kursi kerja nya dan melepas kaca mata nya,wajah nya tampak murung tapi rasa penasaran Max mengabaikan kondisi kakek nya.
''Apa maksud nya ini?''Tanya Max seketika wajah nya menegang,Max melihat satu persatu foto yang ada di dalam amplop coklat itu dan dia belum bisa menyimpulkan apapun.
''Aku tahu mungkin kau tidak akan pernah percaya dengan apa yang akan aku sampaikan ini .Namun begitu aku merasa ini adalah saat yang tepat buat ku mengatakan nya apalagi saat ini kau hanya berdua dengan istrimu.Max banyak hal yang telah terjadi selama ini sejak kau masih kecil hingga sekarang tapi kau tidak pernah tahu akan hal itu.''Kakek Max menjeda ucapan nya dia menatap Max yang terlihat berbeda semenjak menikah dengan Joya sedikit lebih terkendali.
''Katakan saja jangan berbelit belit!''Kata Max tidak sabar.
Kakek Marco mendengus.
''Aku merasa kematian papa mu bukan kecelakaan melainkan ada unsur kesengajaan.''
Max memicing''Lalu kenapa kakek tidak mengungkap kebenaran nya tapi justru menyembunyikan nya?''
''Aku sudah berusaha dan nyaris mendapatkan nya tapi seseorang yang sangat berharga ada di bawah kendali nya.''Kakek Marco mendekati Max dan memungut satu persatu foto itu walau dia menunjukkan pada Max saat ini tapi dia tidak ingin ada orang yang melihatnya lagi.
''Jangan berbelit belit!''
Ceklek...
Wajah kakek Marco dan Max kaget karena tiba tiba pintu ruangan terbuka tanpa ada yang mengetuk.
__ADS_1
Bersambung...