
Georgano berjalan cepat,dia buru buru pulang saat Mommy nya mengabari jika Gea merasa ada masalah dengan jantung nya yang terus berdebar.
Ceklek..
"Sayang apa yang terjadi,bagian mana yang sakit?"Tanya Georgano begitu masuk kekamar Gea.
Gea yang sedang makan pun lalu tersenyum melihat kekhawatiran kakak nya itu,hatinya menghangat merasa beruntung di cintai dengan tulus oleh keluarga nya."Apa Mommy yang mengatakannya kak?"Gea balik bertanya,pasti Mommy nya akan melebih lebihkan sakit nya itu.
"Kakak yang lebih dulu bertanya Sayang,katakan apa yang sakit?Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit,kakak akan menemanimu!!"Georg duduk di sebelah adik nya dengan lembut tangan nya terulur mengusap rambut Gea.
Gea masih terus tersenyum"Tidak perlu kak,tadi Dokter Marsel sudah memeriksa Gea dan katanya tidak ada masalah serius hanya kelelahan saja.Emmm kakak sudah pulang jam segini?"Tanya Gea yang sadar jika saat ini belum jam pulang kantor kakak nya.
"Kakak meninggalkan rapat saat Mommy mengabari jika kau sakit.Baiklah kakak rasa kau memang baik baik saja.Tapi jika ada yang kau rasakan segera beritahu Mommy atau kakak ya!Jangan menahan nya sendiri atau kami akan sangat marah padamu!!"Perintah Georg pada Gea.
Gea mengangguk"Baik,kakak tenang saja!Maaf kan Gea ya karena Gea kakak harus meninggalkan rapat penting."Lirih Gea merasa bersalah,andai dia tidak berlebihan pasti semua orang tidak akan panik seperti ini bahkan papa nya yang berada di luar negri juga nyaris oulang andai Gea tidak melarang nya.
Georgano tersenyum lalu membawa Gea ke dalam pelukan nya"Kau lebih berharga dari apapun sayang,kehilangan beberapa milyar saja tak akan membuat kakak mu ini bangkrut."Jawab Georgano.
Gea mengerucutkan bibirnya"Tapi jika sering sering seperti ini kakak akan jatih miskin dan setelahnya kakak tidak akan bisa membawaku keliling dunia."Ucap Gea.
"Hahaha..Kau ini masih ingat saja.Baiklah mulai besok kakak akan bekerja keras agar bisa membawa mu dan juga calon keponakan kakak jalan jalan keliling dunia.Sekarnag ayi habiskan makanan mu dan kakak yakin kalau Dokter Marsel pasti memberimu vitamin maka minum vitamin itu!!"
__ADS_1
agea mengangguk lalu melanjutkan makan nya di temani kakak tercinta nya,dia benar benar seperti seorang putri yang sangat di sayang.
******
Di sebuah Villa yang sangat jauh dari pusat kota.
Tubuh Maxim.yang lemah kini terbaring di ranjang king size yang bertabur kelopak bunga mawar merah,pakaian nya juga sudah di ganti dengan menggunakan jas berwarna putih dengan sekuntum bunga di bagian kantong nya.Meski dalam keadaan terbaring dan mata terpejam namun ketampanan Maxim tidak lah berkurang sedikitpun padahal masih ada beberapa bekas luka di wajah nya namun Rebeca tidak peduli dengan hal itu baginya yang terpenting rencana nya harus berhasil.
Dilirik nya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya,dengan anggun dia mengangguk pada seorang pria yang juga berada dalam ruangan yang sama dengan Rebeca dan Maxim.
Pria berpakaian serba hitam itu lalu berjalan mendekati Maxim,ditangan nya ada sebuah jarum suntik yang sudah berisi sebuah cairan.
"Perlahan saja,jangan sampai.dia merasakan kesakitan!"Ucap Rebeca yang di angguki pria berseragam itu.
"Jiak sudah selasai ,tinggalkan kami!!"Perintah Rebeca yang di angguki anak buah nya itu.
Senyum Rebeca semakin lebar,memandang lapar pada Maxim"Aku akan bersiap kau tunggulah sebentar sayang,setelah semua selesai maka kita akan menghabiskan waktu dengan sangat panas!"Gumam Rebeca.
Sementara Rebeca mengganti pakaian nya,tubuh Maxim terlihat menggeliat,alis matanya terlihat berkerut dia mulai bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.Keringat juga mulai bercucuran,Sementara Rebeca yang sudah selesai mengganti pakaian nya kini semakin melebarkan senyum nya melihat Maxim.
__ADS_1
Dengan balutan pakaian minim kurang bahan Rebeca naik ke atas ranjang,mendekatkan wajah nya ke wajah Maxim lalu mengecup singkat kening Maxim yang terus bergerak gelisah.Kemudian wajah Rebca mendekat pada bibir Maxim yang selalu berkata pedas padanya sejak dia menikah dengan Joya,jari lentik Rebeca mengusap lembut bibir itu.
"Apa yang bisa di lakukan bibir ini selain berkata yang menyakitkan padaku ya?Aku ingin bibir ini memberikan sesuatu yang manis untuk ku!!"Gerakan yang sangat sensual membuat Maxim mendesah ringan.
Rebeca semakin tersenyum mendengar ******* tipis Maxim,kemudian dengan perlahan Rebeca menyatukam bibir nya dan bibir Maxim.Di alam sadar nya Maxim merasa jika Joya yang menyentuh bibir nya maka Maxim tanpa sadar ******* bibir lawan nya itu padahal Rebeca hanya menempelkan saja.
'Rasayya sangat memabukkan Max,aku suka walau mendapatkan mu dengan cara seperti ini aku tidak peduli.Mulai saat ini kau adalah milik ku!!'Batin Rebeca menang.
Setelah beberap detik beradu bibir,mata Maxim perlahan terbuka namun dia belum sadar jika yang berada di sebelahnya bukan lah Joya melainkan Rebeca.
Rebeca yang menyadari jika Maxim sudah mulai sadar pun merasa senang,obat yang di suntikan tadi bekerja dengan baik saat Maxim bangun tepat dengan obat perangsang itu berjalan.
"Sayang,apa kau menginginkan nya??"Tanya Rebeca manis,jari lentik nya mengusap dada Maxim agar semakin membangkitkan gairah yang tengah membakar Maxim.
Alis Maxim bertaut,dia melihat Joya tapi suara wanita di sebelahnya terdengar berbeda bahkan tidak asing ditelinganya.Dengan sekuat tenaga Maxim memfokuskan pandangan nya walau tubuh nya terasa sangat panas dan sangat tergeliti geli seperti ada ribuan semut yang berjalan di tubuh nya.
"Kau..Akhhhhh..Apa yang kau lakukan padaku perempuan busuk,Kau menjebakku??"Geram Maxim seraya mengumpulkan kesadaran nya yang pastinya akan sangat sulit.
Rebeca tersenyum"Tenanglah,jangan di lawan.Kita nikmati saja kebersamaan ini dan melewati malam panas dengan penuh cinta.Aku yakin jika aku lebih baik dari pada istri kampung mu itu."Ucap Rebeca penuh keyakinan.
Akhhhh
__ADS_1
Bughhhh
Bersambung....