GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
-


__ADS_3

Tengah malam itu Galuh membawa Ila ke rumah sakit terdekat. Ia yang terus menahan sakitnya kontraksi pada perutnya terus meringis sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit tersebut. Tiba disana beberapa perawat membawa Ila masuk ke dalam ruang bersalin bersama Galuh. Hana dan Antoni serta Didi menunggu di luar ruang bersalin tersebut.


"Hana, cepat hubungi Yurika!" Kata Antoni pada istrinya itu.


"Oh iya, aku lupa! Aku akan segera menelponnya." Sahut Hana meraih ponselnya dari dalam tas kecil yang ia jinjing.


Hana pun menghubungi Yurika yang malam itu sudah tertidur lelap. Terbangun saat mendengar ponselnya berdering Yurika pun meraih ponselnya itu dan menerima panggilan telepon dari sahabatnya. Tau putrinya akan segera melahirkan Yurika langsung pergi menuju ke rumah sakit bersama dengan supir pribadinya.


Di ruang bersalin, Galuh melihat Ila meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Sakit, kak!" Ucap Ila lirih.


"Sabar ya, imut!" Ucap Galuh.


Galuh celingak-celinguk mencari keberadaan dokter yang akan menangani Ila. Namun hampir setengah jam lamanya sang dokter pun tak kunjung datang yang membuat Galuh dongkol kepada perawat-perawat yang ada di ruang bersalin tersebut.


"Dimana dokternya? Istriku sedang kesakitan!" Teriak Galuh pada perawat-perawat itu.


"Sebentar lagi akan tiba! Tenanglah, tuan." Kata salah satu perawat disana.


"Saat dokter itu datang akan aku penggal kepalanya karena tidak becus bekerja." Gerutu Galuh kesal.


Lalu Galuh melirik Ila yang tampak sebal atas perkataannya barusan.


"Hehehe, aku...aku hanya bercanda saja!" Kata Galuh takut Ila marah.


"Aaaarrrghh!" Pekik Ila.


"Dimana dokternya!" Teriak Galuh.


"Eeehheemmm! Aku sudah datang!" Seru Roni.


Galuh kaget melihat sepupunya masuk ke dalam ruang bersalin itu.


"Kau?" Ucap Galuh kaget.


"Jiiiaaahhh, si Ila melahirkan rupanya! Hahahaha." Kata Roni melengos menghampiri Ila tanpa memperdulikan Galuh.


"Kenapa kau dokternya? Ini kan bukan rumah sakit dimana kau bekerja!" Kata Galuh ngegas pada Roni.


"Dokter kandungan dirumah sakit ini sedang cuti melahirkan, jadi aku yang menggantikannya dengan bayaran yang tinggi! Hehehehe." Sahut Roni.


"Sialan! Dia pasti akan melihatnya. Aku tak akan biarkan pria lain melihatnya selain aku!" Gumam Galuh dalam hatinya.


Roni telah siap dengan sarung tangan karetnya. Pakaian steril pun telah ia gunakan dengan bantuan dari perawat yang membantunya di ruang bersalin itu. Roni berdiri tepat di depan kaki Ila yang terbuka dengan lebar.


"Kau siap, Ila? Mari berjuang!" Kata Roni hendak membuka kain yang menutupi bagian bawah tubuh Ila.


Saat Roni merunduk ke bawah, tiba-tiba Galuh menutup matanya dengan kain perban. Roni kaget dan perawat-perawat diruangan itu panik melihat apa yang dilakukan oleh Galuh.


"Aaarrgghh! Kenapa mataku di tutup?" Teriak Roni.


"Kau tidak boleh melihatnya!" Teriak Galuh.


"Aaaarrrghh!" Pekik Ila saat melahirkan.

__ADS_1


"Aaaarrrghh!" Perawat-perawat itu pun ikut berteriak karena panik.


Dari luar ruang bersalin tersebut, Hana, Antoni dan juga Didi terdiam mendengar kericuhan yang terjadi di dalam sana. Mereka berdiri sambil menatap arah pintu ruang bersalin yang tertutup rapat.


"Ada apa di dalam sana?" Gumam Hana.


"Berisik sekali!" Gumam Antoni.


"Apakah wanita melahirkan akan sericuh itu?" Gumam Didi yang belum menikah hingga sekarang.


Di dalam ruangan bersalin itu perawat-perawat tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi tindakan Galuh pada Roni yang akan membantu proses melahirkan terhadap Ila.


"Ikat dia di pojok sana!" Perintah Roni pada perawat-perawat itu.


"Baik, dokter!" Seru perawat-perawat itu menggotong tubuh Galuh dan mengikatnya pada sebuah tiang yang ada di pojok ruangan.


"Roni! Jangan melihatnya!" Teriak Galuh sambil meronta.


"Dasar gila!" Gerutu Roni tak perduli.


Roni dan Ila pun fokus terhadap proses bersalin itu. Selang beberapa menit tangisan bayi yang masih berlumuran darah pun terdengar di ruang bersalin tersebut. Roni memberikan bayi perempuan itu kepada seorang perawat untuk dibersihkan.


Galuh yang sedari tadi meronta saat diikat pada tiang di pojok ruangan, seketika terdiam kala ia menatap bayi perempuannya tersebut.


"Giska! Huhuhuhu." Ucap Galuh menangis haru memiliki bayi perempuan.


"Haaaaahh, pria konyol! Tadi meronta-ronta tak karuan sekarang malah menangis haru seperti itu!" Gerutu Roni sambil terus menangani Ila yang baru saja mengeluarkan bayinya.


Setelah melakukan pekerjaannya, Roni keluar dari ruangan bersalin itu sambil tersenyum lebar pada semuanya yang telah menunggu di luar.


"Benarkah?" Seru Hana juga Yurika.


"Iya! Gen yang dimiliki Galuh terlalu kuat sehingga rupa anaknya selalu mirip dengannya! Gilang juga mirip dengannya kan." Kata Roni.


"Iya!" Sahut Antoni.


"Tadi tante dengar ribut sekali di dalam! Ada apa?" Tanya Hana.


"Biasalah, ada pria pencemburu sedang menunggu istrinya melahirkan!" Sahut Roni.


"Haaaahh, dasar Galuh!" Kata Antoni.


"Hei, kau juga seperti itu saat aku melahirkan Galuh! Kau menutup mata dokternya agar tidak melihat milikku!" Kata Hana.


"Yang benar nih, tante?" Tanya Roni.


"Iya!" Sahut Hana.


"Wah, pantesan saja Galuh seperti itu! Bapaknya juga sama." Gumam Roni.


"Hei hei hei, jangan memojokkan aku seperti itu!" Gerutu Antoni pada Hana dan juga keponakannya itu.


Ila pun di bawa ke ruang rawat inap untuk beristirahat setelah lelahnya melahirkan. Galuh yang tampak senang mendapatkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan, terus menggendong bayinya tersebut tanpa mau berbagi kepada Hana juga Yurika.


"Galuh! Berikan Giska pada kami! Kami juga ingin menggendongnya!" Pinta Hana dengan sewot kepada putranya itu.

__ADS_1


"Tidak! Aku masih ingin memeluk putriku ini!" Sahut Galuh.


"Ya Tuhan, kenapa dia jadi serakah seperti itu setelah memiliki bayi perempuan?" Gumam Yurika menatap kepada sang menantu.


"Berikan padaku, Galuh! Gantian dong!" Pinta Hana lagi.


"Tidak mau!" Sahut Galuh menolak.


"Hhaaahh, mereka malah berebut! Apa aku lahirkan bayi perempuan lagi saja ya setelah ini?" Gumam Ila dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


"Haaaahh, yang benar saja!  Apa aku menjadi ketagihan setelah tau rasanya melahirkan?" Gumam Ila lagi dalam hatinya.


*****


Beberapa hari kemudian, Ila pun kembali ke rumah setelah di rawat di rumah sakit pasca melahirkan. Gilang yang sudah mengerti banyak hal, sedang menatap wajah adiknya yang tertidur pulas pada ranjang bayinya.


"Apa kau akan menyayangi adikmu ini?" Tanya Galuh pada Gilang.


"Iya!" Sahut Gilang dengan begitu polosnya.


"Kalau begitu kau harus tumbuh menjadi kakak laki-laki yang hebat dan bisa melindungi adik-adikmu nanti." Kata Galuh.


"Iya!" Seru Gilang semangat.


"Nah, agar kau bisa tumbuh menjadi kakak laki-laki yang hebat, maka kau harus makan sayur yang banyak!" Kata Galuh.


"Tidak mau!" Seru Gilang melarikan diri setelah mendengar kata sayur yang diucapkan oleh ayahnya tersebut.


"Haaaah, dia lari!" Gerutu Galuh menatap Gilang yang lari terbirit-birit keluar dari kamar adiknya.


Agar terlihat adil, Galuh membayar seorang wanita muda untuk mengasuh bayi perempuannya. Pengasuh itu bernama Titin, yang berasal dari kampung yang tak jauh dari tempat tinggal Galuh. Pengasuh tersebutlah yang membuat Didi menjadi bingung untuk menikah. Bagaimana tidak, di mata Didi pengasuh-pengasuh anak Galuh terlihat cantik nan bahenol.


Pagi hari saat akan berangkat ke kantornya, Galuh melihat Didi sibuk mengamati Ratih dan juga Titin yang sedang membawa Gilang dan Giska untuk berjemur di halaman depan. Galuh tau ketika itu Didi sedang kebingungan untuk memilih diantara keduanya.


"Nikahi saja keduanya kalau kau suka! Dari pada bingung seperti itu!" Kata Galuh pada Didi.


"Haaaahh, ribet urusannya kalau aku menikahi keduanya!" Sahut Didi.


"Nikahi salah satunya! Nanti aku akan berikan kau tempat tinggal di paviliun belakang." Kata Antoni ikut nimbrung.


"Yang benar nih, tuan bos?" Ucap Didi yang tau paviliun belakang memiliki fasilitas yang cukup mewah.


"Iya! Kau sudah aku anggap keluarga." Kata Antoni pada Didi.


"Baiklah, kalau begitu aku menikahi Ratih saja! Dari dulu aku dan Ratih memang sudah memiliki hubungan. Hehehehe." Sahut Didi.


"Nanti kita akan pergi bersama-sama untuk melamar Ratih kepada orangtuanya di kampung." Kata Antoni.


"Terima kasih, tuan bos!" Ucap Didi bersemangat pagi itu.


T A M A T.


Eeeeiittsss, nanti dulu.


Walaupun nih cerita udah tamat, tapi akan ada extrapartnya.

__ADS_1


N A N T I K A N.........


__ADS_2