
Kia dan Yurika berada di dalam mobil yang sama dan kembali pulang kerumah dari rumah sakit. di dalam perjalanan Yurika dan Kia hanya diam seribu bahasa. Kia hanya diam dengan menundukkan wajahnya, sedangkan Yurika lebih memilih untuk menatap keluar kaca pintu mobil.
"Mama bahkan tidak bertanya apakah aku merasakan kesakitan atau tidak saat ini?" Gumam Kia sedih dalam relung hatinya.
Tiba dirumah Kia berlari masuk ke dalam kamarnya, ia tak mampu menahan air mata kesedihannya karena sikap tak acuh yang Yurika berikan. Yurika hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Kia yang semakin hari semakin tak sopan kepadanya. Yang diinginkan Yurika hanya perubahan sikap Kia untuk menjadi anak yang sopan. Namun jarak komunikasi diantara mereka berdua lah yang menjadi penyebat masalah bertambah rumit.
Disudut ruangan kepala pelayan terus mengawasi gerak-gerik Sari yang semakin hari semakin mencurigakan. Sari terus mengambil kesempatan untuk meracuni pikiran Kia di dalam keadaan yang sulit seperti ini. Sari bahkan sering mencuri-curi untuk mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di rumah itu. Kepala pelayan selalu melaporkan setiap gerak-gerik Sari yang mencurigakan itu kepada Ila.
Ila yang tinggal di apartemen bersama Galuh, diam-diam memikirkan rencana untuk menjauhkan Kia dari Sari yang memiliki rencana tidak baik dirumah itu. Ila tak lupa membicarakan hal itu kepada Galuh untuk mencari solusi yang terbaik atas tindakan yang akan ia ambil.
"Imut, sedang mikirin apa sih? Serius sekali! Jangan bilang mikirin tentang pelajaran lagi." Kata Galuh saat mereka berbaring di atas ranjang sebelum tidur.
"Kak, aku mencurigai seseorang di rumah mama." Kata Ila dengan tampang seriusnya.
"Siapa?" Tanya Galuh.
"Sari, pelayan yang baru bekerja dirumah mama." Jawab Ila.
"Apa yang kau curigakan dari seorang pelayan?" Tanya Galuh.
"aku curiga dia memiliki niat yang tidak baik kepada Kia! Dia seperti sedang memanfaatkan Kia untuk kepentingannya sendiri." Jawab Ila.
"Kau masih memikirkan si Kia yang jahat itu? Apa kau lupa, dia selalu saja berbuat jahat dan mencelakaimu, sayang." Kata Galuh.
"Iya, kau benar! Tapi bagaimanapun juga aku kasihan padanya. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain mama dan aku. Apalagi sekarang mama tidak memberikannya perhatian seperti dulu lagi. Aku yakin dia pasti sedang sedih dan butuh seseorang disampingnya." Kata Ila.
"Bukannya dia memiliki kekasih? Waktu itu kau bilang namanya Sandi kan?" Tanya Galuh.
"Iya sih, tapi akhir-akhir ini aku tak pernah melihat Kia jalan bersama Sandi lagi." Sahut Ila.
"Apa mungkin mereka sudah putus?" Tanya Galuh.
"Entahlah! Mungkin aku akan cari tau nanti." Kata Ila.
"Jadi apa rencanamu?" Tanya Galuh.
"Aku ingin mendekati Kia. Aku ingin memiliki hubungan yang baik dengannya! Hubungan layaknya sepupu dekat." Jawab Ila berniat tulus kepada Kia.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Ila meminta penadapat dari Galuh.
"Ya menurutku itu hal yang baik. Bagaimanapun juga dia itu sepupumu, tapi jika dia berbuat jahat lagi padamu aku tak akan mengampuninya lagi. Aku akan bertindak tegas padanya, aku tak ingin kau disakiti orang lain." Kata Galuh seraya mengelus wajah Ila.
"Oh, so sweet! Aku masih tak percaya kalau pria yang ada di sampingku ini adalah pria yang dulunya menyebalkan dan sangat dingin kepadaku." Kata Ila.
"Hehehe, tak kenal maka tak sayang, sudah kenal jadinya sayang!" Sahut Galuh memeluk Ila dengan gemas.
"Dasar!" Ujar Ila.
Keesokan harinya setelah Ila belajar dengan guru privatnya, ia pergi menemui Roni di rumah sakit tempatnya bekerja. Ila menunggu Roni di kantin rumah sakit guna membicarakan psikiater yang akan mengobati trauma yang dirasakan oleh Yurika. Hampir satu jam lamanya Ila menunggu Roni selesai bekerja, tak lama kemudian yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang.
"Hai, gadis kecil! Apa kau merindukan aku sehingga kau membuat janji denganku di belakang Galuh?" Kata Roni dengan sikapnya yang konyol itu.
"Tapi jika kau ingin mengajakku untuk selingkuh, maka jawabanku tidak! Aku tidak akan mau untuk mengkhianati sepupu itu walaupun dia pria yang bodoh dalam pelajaran Sains. Hehehe." Sambung Roni lagi.
"Aduh, kak Roni ini kalau bicara panjang sekali! Aku pusing mendengarnya." Sahut Ila.
Roni duduk di hadapan Ila setelah ia memesan dua gelas minuman dingin.
"Lalu kau ingin bantuan apa dariku?" Tanya Roni.
"Kak, apa kau punya kenala seorang psikiater yang bagus?" Tanya Ila.
"Hah, apakah sepupuku itu gila sehingga kau mencari psikiater untuknya?" Ujar Roni.
"Bukan untuk kak Galuh, kak! Tapi untuk mamaku." Kata Ila sewot karena Roni mengatakan Galuh gila.
"Duh, sewotnya karena Galuh di bilang gila! Hehehe." Sahut Roni terus bercanda pada Ila.
"Kak, sudah dong! Aku serius nih." Kata Ila.
"Iya, baiklah! Aku memiliki teman yang berprofesi sebagai psikiater terbaik di kota ini. Mungkin dia bisa mengobati rasa trauma pada mamamu." Kata Roni.
"Sebentar, aku akan menghubunginya dulu." Kata Roni lagi.
Roni pun menghubungi temannya yang berprofesi sebagai psikiater. Tampak Roni berbincang agak lama dengannya dari ponsel. Tak lama kemudian, Roni menulis sesuatu pada kertas kecil yang ia ambil pada buku notesnya.
"Ila, ini alamat tempat praktek dokter itu dan ini nomor ponselnya!" Kata Roni.
"Siapa nama dokternya, kak?" Tanya Ila.
__ADS_1
"Namanya Merlin! Dia sangat cantik dan sedikit dingin. Hah, seandainya dia membalas cintaku. Hehehe." Kata Roni yang sejatinya selalu di tolak Merlin.
"Kak, jangan lesu begitu dong! Masih ada kak Ririn loh." Kata Ila.
"Hei, Ririn itu terlalu agresif, aku takut padanya." Sahut Roni.
"Ya sudah terserah kakak saja. Tapi menurutku kak Ririn itu wanita yang baik dan yang pasti selalu mencintaimu." Kata Ila.
"Hah, tau dari mana kau?" Tanya Roni sedikit terkejut.
"Dia sering curhat padaku kalau main ke apartemen." Jawab Ila.
"Terus dia cerita apa saja tentangku padamu?" Tanya Roni penasaran.
"Katanya tidak suka, jadi kenapa penasaran?" Ujar Ila.
"Hei, aku kan cuma ingin tau saja." Kata Roni.
"Jujur saja, sebenarnya kakak juga menyukai kak Ririn kan?" Tanya Ila.
"Aku ini memang gadis polos, namun tidak mudah dibohongi." Tukas Ila lagi.
"Hah, ya baiklah, aku jujur! Aku memang suka juga padanya. Apa kau sudah puas, Ila?" Teriak Roni.
"Hehehe, perkataanmu tadi sudah aku rekam di ponselku dan rekaman ini akan aku berikan pada kak Ririn." Kata Ila sambil menjauh dari Roni untuk melarikan diri.
"Ila, dasar curang kau!" Teriak Roni.
Ila terus berlari menjauh sambil terkekeh jahat meninggalkan Roni yang masih menatapnya di kantin rumah sakit.
"Alamak! Si Ririn pasti akan menjadi gila bila bertemu denganku nanti kalau dia sudah mendengar perkataanku yang Ila rekam. Aduh, bisa mampus aku." Gumam Roni.
Setelah dari rumah sakit, Ila langsung pergi mengunjungi Yurika dirumahnya. Ila tiba dirumah Yurika bertepatan saat Kia baru saja pulang dari sekolahnya. Kia dan Ila saling tatap sejenak sampai akhirnya Kia memalingkan wajahnya dengan angkuh terhadap Ila.
"Kia, tunggu!" Panggil Ila seraya mengejar Kia yang hendak masuk ke dalam rumah, namun Kia tetap saja berjalan lurus tak mau menoleh pada Ila yang memanggilnya.
"Kia, tunggu sebentar." Kata Ila lagi berhasil meraih tangan Kia.
Kia menepis tangan Ila dengan kasar. Yurika melihat dari kejauhan kepada Kia dan Ila yang berdiri di teras rumah.
"Aku ingin berbaikan denganmu, Kia! Aku tak ingin berselisih paham terus denganmu. Aku ingin kita menjadi teman." Kata Ila.
"Hei Ila, kau itu babu! Jadi kau memang pantas berteman dengan para babu yang ada dirumah ini." Sahut Kia menghina Ila yang memiliki niat baik terhadapnya.
"Kia, kenapa kau selalu bersikap tidak baik padaku? Aku tidak pernah berbuat jahat padamu kan?" Tanya Ila dengan raut wajah yang sedih.
"Kau memang tidak pernah berbuat jahat padaku, namun kau memiliki sikap licik dan curang di belakangku!" Sahut Kia.
"Apa maksudmu?" Tanya Ila.
"Kau mengambil mama dariku!" Teriak Kia marah pada Ila.
"Kia, aku tak bermaksud begitu! Ada hal yang tak kau ketahui." Kata Ila.
"Kau pembohong! Kau memiliki rencana untuk menguasai semuanya kan? Pertama kau mengambil perhatian semua pelayan yang ada dirumah ini, lalu sekarang kau mengambil mama dariku, selanjutnya kau akan mengusai rumah ini, kan?" Ujar Kia yang sudah termakan oleh fitnah Sari.
"Kia, apa yang kau katakan? Kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku tidak mengambil apapun darimu, Kia." Kata Ila.
"Pergi kau!" Teriak Kia mendorong Ila hingga Ila terjatuh ke lantai.
"Kia!" Teriak Yurika marah padanya karena bersikap kasar kepada Ila.
"Sekarang kau puas kan Ila? Mama pasti akan semakin membenciku karena hal ini." Ujar Kia kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Yurika membantu Ila untuk bangkit dari lantai, sementara Kia terus berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Di situasi yang aman, Sari diam-diam mendatangi Kia yang sedang menangis di dalam kamarnya. Tanpa sepengetahuan Sari, kepala pelayan dan Ila mengendap-endap mengikuti gerak-geriknya saat masuk ke dalam kamar Kia. Ila dan kepala pelayan berdiri di depan kamar Kia untuk menguping pembicaraan Sari dan Kia di dalam kamar.
Di dalam kamar Kia.
"Nona, jangan nangis lagi! Aku sangat sedih melihat nona selalu di aniaya dirumah ini." Kata Sari.
"Sekarang nona Ila pasti sedang menghasut nyonya Yurika agar terus membenci nona." Sambung Sari lagi memfitnah Ila.
"Sudahlah Sari, jangan bicarakan mereka lagi di hadapanku. Aku benci mereka berdua!" Kata Kia dalam keadaan yang begitu frustasi.
"Nona, jangan diam saja! Lebih baik nona memikirkan cara untuk membalas kajahatan nona Ila itu agar dia merasakan akibatnya karena telah mengusik nona Kia." Kata Sari.
"Apa kau punya cara untuk membalas Ila?" Tanya Kia.
__ADS_1
"Nona, aku punya obat pencahar!" Kata Sari menunjukkan bungkusan kecil yang berwarna putih itu.
"Ini kan garam inggris! Darimana kau mendapatkan ini?' Tanya Kia.
"Aku sering mengalami sembelit, jadi aku membeli ini untuk mengantisipasinya." Jawab Sari.
"Kita berikan garam inggris ini pada makanannya. Setelah nona Ila makan, pasti dia akan mengalami diare berat. Hehehe." Sambung Sari lagi.
"Hehehe, cara ini jauh lebih menyenangkan." Sahut Kia menggenggam obat pencahar itu.
Lagi-lagi Kia memberikan beberapa lembar uang kepada Sari. Kia juga menugaskan Sari untuk menaburkan garam inggris itu pada makanan Ila.
Di luar pintu Ila dan kepala pelayan mendengar semua pembicaraan Sari dan Kia. Mereka juga mengetahui rencana jahat Kia dan juga Sari.
Ila dan kepala pelayan bersembunyi di balik tembok saat Sari akan keluar dari kamar Kia. Mereka sempat melihat Sari yang kegirangan saat menghitung uang yang Kia berikan padanya.
"Aku akan terus menghasut dan memberikan ide jahat kepada Kia, dengan begitu aku akan terus mendapatkan uang yang banyak. Aku akan menjadi kaya raya, hehehe." Kata Sari saat ia menghitung lembaran uang yang Kia berikan padanya.
Dari balik tembok Ila dan kepala pelayan mendengarkan semua perkataan Sari yang memiliki niat buruk demi mendapatkan keuntungan.
"Ternyata dia yang menjadi pemicunya!" Kata Ila menatap Sari yang sedang menuruni anak tangga dan menuju ke ruang dapur.
"Nona, apa rencana kita selanjutnya?" Tanya kepala pelayan pada Ila.
"Kita harus basmi hamanya." Jawab Ila.
"Baiklah, nona. Aku mengerti maksudmu." Sahut kepala pelayan.
"Kita harus menyusun strategi untuk menendang Sari dari rumah ini! Jika kita tak memiliki alasan yang tepat untuk menendangnya, nanti mama pasti akan berpikir negatif pada niat kita." Kata Ila.
"Kau benar, nona! Lantas apa yang akan kita lakukan?" Tanya Kepala pelayan.
"Untuk saat ini, kita harus mengacaukan rencana busuknya itu." Kata Ila.
"Terus awasi dia, jangan sampai dia tau kalau kita mengetahui rencana busuknya." Kata Ila lagi.
"Baik, nona." Sahut Kepala pelayan.
Ila pergi menemui Yurika yang sedang beristirahat di dalam kamarnya, sedangkan kepala pelayan mengawasi gerak-gerik Sari yang akan melakukan rencana jahatnya di dapur.
*****
Ila masuk ke dalam kamar Yurika setelah ia mengetuk pintu. Yurika duduk di sofa kecil dengan buku yang ada di tangannya. Ila duduk di samping Yurika sembari memeluknya. Ila merasakan tubuh Yurika bereaksi seakan tak nyaman atas pelukannya.
"Ma, jangan di tahan! Jika mama tak nyaman, katakan saja padaku." Kata Ila.
"Aku tak apa! Aku akan mencoba untuk menerima kehangatan dari pelukkanmu." Sahut Yurika memaksakan dirinya untuk menepis rasa trauma saat Ila berada di dekatnya.
"Ma, aku sudah menemukan psikiater yang katanya bagus untuk mengatasi traumanya mama. Mama mau kan menjalani pengobatan nanti?" Tanya Ila.
"Iya mama mau! Demi untuk memeluk dan dekat denganmu, mama mau menjalani pengobatan itu." Sahut Yurika.
Ila melirik jam yang berputar di dinding kamar. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1 siang. Waktu yang tepat untuk makan siang.
"Ma, ayo kita makan siang bersama. Aku sudah sangat lapar!" Ajak Ila pada Yurika.
Yurika mengiyakan dan bangkit dari duduknya. Mereka turun bersama untuk menuju ke ruang dapur.
"Ma, ajak Kia ya?" Pinta Ila pada Yurika.
"Suruh pelayan untuk memanggilnya." Sahut Yurika.
Ila meminta tolong kepada pelayan untuk memanggil Kia agar makan siang bersama dengan mereka di ruang makan. Tak lama kemudian, Kia datang dan duduk tepat di depan Ila. Pelayan menyajikan beberapa hidangan di meja makan. Ila bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke ruang dapur dengan berdalih untuk mengambil air dingin di kulkas.
Ila menatap kepala pelayan yang memberi kode padanya. Ila membuka pintu kulkas dan berpura-pura mengambil air dingin disana. Kepala pelayan mendekatinya dan berbisik kepada Ila.
"Nona, Sari menaburkan obat pencahar itu pada ayam goreng kesukaanmu." Bisik kepala pelayan.
"Tapi nona tenang saja, aku sudah membuang ayam goreng itu dan menggantinya dengan ayam goreng lainnya." Kata kepala pelayan itu lagi.
"Bagus!" Sahut Ila.
"Nona, aku sempat mengambil obat pencahar ini dari kamarnya tadi." Kata kepala pelayan.
"Berikan itu pada makanannya. Biar dia tau rasa!" Perintah Ila membalas perbuatan Sari.
"Baik nona!" Sahut Kepala pelayan.
Ila kembali ke ruang makan dengan segelas air dingin di tangannya. Ila kembali duduk dan segera menyantap makanan yang ada di depannya. Ila memakan ayam goreng yang menjadi kesukaannya itu. Dari tempat duduknya, Kia tampak memperhatikan Ila yang sedang mengunyah makanan.
__ADS_1
"Kenapa si babu itu tenang-tenang saja? Apa obatnya belum bereaksi?" Gumam Kia kebingungan dalam hatinya.