
Disela-sela kesibukannya, Hamka pergi mengunjungi kedua orang tuanya untuk membicarakan perihal hari pernikahannya dengan Kania yang akan dilaksanakan sekitar 7 bulan lagi. Saat akan masuk ke dalam ruang tengah dimana kedua orang tuanya sedang bersantai, tiba-tiba saja sebuah sendal limited edision mendarat diwajahnya.
Plllllaaakkkk.....
Hamka menghantikan langkahnya dan meraih sendal yang ayahnya miliki itu.
"Selalu saja disambut dengan sendal ataupun sisir saat aku datang!" Gerutu Hamka sewot.
Hamka pun masuk ke dalam ruangan tempat ayah dan ibunya sedang duduk menikmati secangkir teh buatan pelayan dirumahnya.
"Heh, aku pikir kita tidak memiliki seorang putra di dunia ini!" Sindir sang ayah kepada Hamka karena jarang mengunjungi kedua orang tuanya semenjak tinggal mandiri di apartemen.
"Iya! Aku juga sepertinya tidak merasa melahirkan seorang bayi laki-laki 30 tahun yang lalu!" Sahut ibunya.
"Hah, iya aku salah! Aku jarang mengunjungi ibu dan ayah." Kata Hamka.
"Syukurlah kalau kau sadar!" Ujar sang ayah.
"Tapi aku berbuat seperti itu karena ulah ayah juga! Ayah memberikan tanggung jawab padaku untuk mengelola bisnis perusahaan kita, karena itu aku selalu sibuk dan tak bisa sering-sering mengunjungi kalian berdua." Sahut Hamka ngegas.
"Oh, jadi begitu ya!" Seru kedua orang tuanya.
"Hah, percuma aku menjelaskan, mereka hanya menanggapi dengan santai seperti itu setelah melemparkan sendal mahal yang bau itu pada wajahku!" Gerutu Hamka sewot pada kedua orang tuanya.
Hamka duduk dengan kedua orang tuanya untuk menyampaikan apa yang ia inginkan.
"Ayah, ibu!" Panggil Hamka.
"Ada apa? Jangan coba-coba untuk meminta kami mempercepat hari pernikahanmu." Seru kedua orang tuanya.
"Huh, tau saja sih apa yang akan aku bicarakan!" Gerutu Hamka lagi.
"Apa yang salah sih? Aku ingin segera menikahi wanita yang aku cintai." Kata Hamka.
"Kami juga sangat ingin punya menantu, tapi mengurusi segala sesuatu untuk keperluan pernikahan itu tidak semudah yang kau pikirkan." Sahut ibu.
Hamka terdiam untuk berpikir sejenak mencari ide agar keinginannya segera tercapai. Hamka melebarkan senyumannya setelah ia mendapatkan ide yang pasti akan membuat kedua orang tuanya kalang kabut untuk menyetujui keinginannya itu.
"Kania hamil!" Ucap Hamka memperdayai kedua orang tuanya.
"Apa?" Teriak ayah dan ibunya serentak kaget.
"Kania sedang mengandung bayiku!" Ucap Hamka lagi.
"Bagaimana bisa?" Pekik ibu.
"Bisalah! Aku pria normal dan Kania wanita normal. Kami tinggal seatap dan melakukannya setiap malam sampai kelelahan!" Sahut Hamka asal bicara.
Pppppllllaaakkkkk............
Sendal milik ayahnya kembali mendarat di wajah Hamka.
"Kau membuatku malu kepada tuan Fatah dengan tingkahmu itu, Hamka!" Teriak sang ayah marah.
"Su...sudha berapa bulan usia kandungannya?" Tanya ibu.
"Aku tidak tau! Yang penting Kania sedang mengandung cucu ibu dan ayah." Sahut Hamka berbohong demi keinginannya itu untuk segera menikahi Kania.
"Apa tuan Fatah tau Kania sedang mengandung bayimu?" Tanya ayah.
"Tau! Dia mengancamku, jika bulan depan aku tak menikahi Kania, maka dia akan membunuhku!" Sahut Hamka terus membohongi kedua orang tuanya.
"Lisa! Atur semua keperluan pernikahan. Aku tak ingin membuat huru hara gara-gara bocah gila ini!" Kata ayah pada ibunya Hamka.
"Iya, baiklah!" Sahutnya.
"Hehehe, aku berhasil!" Gumam Hamka kegirangan dalam hatinya.
"Kau, jaga Kania! Jangan sampai cucuku kenapa-kenapa. Apa kau mengerti bocah konyol?" Bentak ayah pada Hamka.
"Siap, bos!" Seru Hamka.
Ayah pun melangkah keluar dari ruang tengah itu sambil bergumam.
"Hehehe, aku akan segera punya cucu dari si bocah tengil itu!" Gumam ayah Hamka yang ternyata sangat senang mendengar kebohongan Hamka yang mengatakan Kania sedang mengandung bayinya.
Ibu yang juga merasa sangat senang atas kebohongan Hamka tersebut, meraih ponselnya untuk belanja online dan membeli segala perlengkapan bayi.
"Ibu sedang apa?" Tanya Hamka.
__ADS_1
"Ibu akan memborong semua perlengkapan bayi dan akan mengirimkannya ke apartemenmu!" Seru ibu.
"Eh, bussseett!" Hamka kaget bukan kepalang atas hasil dari kebohongannya itu.
Ibu terus melancarkan jarinya untuk membeli apapun keperluan bayi yang ia anggap menggemaskan untuk cucunya nanti ketika sudah lahir.
"Yeeeeesss! 500 juta!" Seru ibu yang membuat Hamka kaget.
"Apa?" Pekik Hamka.
"Hei, jangan pelit-pelit untuk bayimu! Ibu yang belanja dan kau yang membayar tagihannya. Hahahaha." Seru ibu tertawa girang.
"Haaaahhh! Aku tak masalah dengan biayanya, yang aku permasalahkan adalah barang-barangnya nanti disimpan dimana? Apartemenku sudah banyak barang." Gerutu Hamka.
Hamka kembali ke kantornya dengan perasaan yang senang karena ia telah berhasil memperdayai kedua orang tuanya untuk menikahkan dirinya dengan Kania bulan depan. Saat akan masuk ke dalam ruang kerjanya, Hamka melihat Kania yang menatap tajam pada dirinya.
"Sayaaaaaang!" Seru Hamka kegirangan sambil memeluk Kania.
"Kau bicara apa pada ayahmu?" Tanya Kania dengan wajah datarnya.
"Bi...bicara apa?" Hamka bertanya balik.
"Tadi ayahku menelpon dengan suara yang penuh ceria! Dia mengatakan bahwa akan mengirimkan perlengkapan bayi ke apartemen nanti sore." Kata Kania.
"Kau bilang pada ayahmu kalau aku sedang hamil, dan ayahmu menghubungi ayahku mengenai hal itu!" Sambung Kania lagi.
"Eh, anying! Yang benar saja!" Pekik Hamka kaget.
"Iya!" Teriak Kania.
"Apa kau sudah tidak waras, hah? Bagaimana mungkin aku hamil setelah kemarin kita melakukannya?" Ucap Kania panik.
"Kalau mereka sampai tau kau berbohong, maka aku tak akan tega melihat wajah kecewa mereka nanti." Ucap Kania lagi.
"Tenanglah sayang, aku akan berpikir sejenak!" Kata Hamka.
Hamka pun tampak berpikir keras untuk mencari jalan keluar atas kebohongan yang ia lakukan demi secepat kilat menikahi wanita yang ia cintai itu. Lalu tak lama senyumannya pun kembali melebar pertanda bahwa ia telah mendapatkan ide yang cemerlang.
"Aku ada ide!" Seru Hamka.
"Aku tak yakin pada idemu itu!" Ujar Kania yang tau semua kekonyolan yang Hamka lakukan.
"Dasar mesum!" Pekik Kania kesal pada tunangannya itu.
"Ayo kita lakukan di ruangan ini!" Kata Hamka menyeret tubuh Kania untuk berbaring di sofa empuk yang ada di ruang kantornya itu. Hamka melangkah ke arah pintu dan celingak-celinguk melihat kondisi di luar yang tampak lumayan sepi.
"Aman! Hehehehe." Gumam Hamka dengan otak mesumnya itu terhadap Kania.
Setelah mengunci pintunya, Hamka cepat-cepat menghampiri Kania yang terlihat kesal menatapnya. Hamka segera melompat untuk menuntaskan niatnya itu.
"Stop!" Pekik Kania yang membuat Hamka berhenti.
"Ada apa?" Tanya Hamka.
"Dasar gila! Ini kantor, Hamka. Banyak orang di sini." Kata Kania.
"Ini kantorku! Kalau ada yang berani memergoki kita akan aku pecat dia. Hahahaha." Sahut Hamka.
"Jangan lakukan! Kalau tidak aku akan.....
"Aku tidak perduli!" Ucap Hamka menerobos pertahanan Kania.
"Aaaarrgghhhh! Lepaskan aku!" Pekik Kania.
"Tidak akan!" Sahut Hamka memaksa.
Tok..tok...tok....
Suara ketukan pintu yang membuat Hamka kesal dan Kania senang. Hamka membuka kunci pintunya dan melihat sekretaris cantik yang bekerja untuknya.
"Pak, ini......
"Kau dipecat!" Kata Hamka sewot.
Bbbbaaammm...., Pintu itu di tutup kembali dengan keras.
"Apa salahku, ya lord?" Teriak sang sekretaris menangis histeris.
__ADS_1
Sore harinya Hamka keluar dari ruang kantornya dengan wajah yang sumringah, namun tidak bagi Kania yang tampak kelelahan karena Hamka menindasnya habis-habisan di sofa empuk itu. Mereka kembali ke apartemen setelah membeli beberapa bahan makanan untuk makan malam serta mengisi kulkasnya yang sudah kosong. Tiba di apartemen, Hamka dan Kania ternganga melihat begitu banyak barang di depan pintu apartemen mereka.
"Apa-apaan ini?" Ucap Kania dan Hamka menatap semua barang-barang tersebut.
Kania melirik nama pengirim yang ada di bungkus barang-barang tersebut.
"Dari ayahku!" Ucap Kania.
"Ini dari ibuku!" Sahut Hamka.
"Barang perlengkapan bayi!" Seru Kania dan Hamka.
"Haaaahhhh!" Kania dan Hamka menghela nafas panjang.
Mau tak mau Hamka dan Kania bekerja keras untuk menyimpan semua barang-barang yang kedua orang tua mereka kirimkan saat itu. Setelah selesai membereskan barang-barang tersebut, Hamka dan Kania tergolek lemas di lantai.
"Aku sangat lelah!" Ucap Kania.
"Aku juga!" Sahut Hamka.
"Aku tidak sanggup lagi untuk memasak." Ucap Kania.
"Pesan saja!" Sahut Hamka.
"Iya." Sambung Kania.
*****
Sebulan kemudian, acara pernikahan Kania dan Hamka pun dilaksanakan. Pagi hari Hamka telah siap dengan jas hitamnya dan menunggu Kania yang masih didandani. Tak lama Kania pun masuk ke sebuah ruangan dimana ia dan Hamka akan melakukan acara ijab qobul. Acara tersebut di hadiri oleh semua kerabat dan juga sahabat Hamka serta Kania. Selepas mengucapkan ijab dan qobul, kini Kania dan Hamka telah sah menjadi pasangan suami dan istri. Fatah selaku ayah dari Kania begitu terharu hingga tak henti-hentinya menangis bombai sambil memeluk putrinya itu.
"Huhuhuhu, akhirnya keinginanku untuk memiliki cucu akan segera terwujud!" Ucap Fatah sambil memeluk Kania.
"Astaga, ayah!" Ucap Kania.
Fatah melirik perut Kania yang terlihat langsing.
"Eeemmm, kau sedang mengandung, tapi perutmu rata sekali! Apa kau tidak makan?" Tanya Fatah pada Kania.
"Hah, aku ini sedang mengandung anak cacing, bagaimana mungkin akan terlihat seperti wanita hamil lainnya?" Gumam Kania dalam hatinya.
"Aku makan, tapi sedikit!" Sahut Kania.
"Makan yang banyak agar cucuku sehat!" Pekik Fatah kesal pada Kania.
"Iya, terserah ayah saja!" Sahutnya.
Hamka terkekeh geli melihat Kania dimarahi oleh ayah mertuanya itu. Sedangkan Kania hanya menatap kesal pada Hamka.
Karena berpikir Kania benar-benar sedang hamil, pesta pernikahannya pun diselenggrakan hari itu juga. Banyak tamu undangan yang telah memasuki dalam ruangan pesta yang diadakan pada sebuah gedung hotel mewah. Kania dan Hamka terlihat begitu bahagia di hari pesta pernikahan mereka. Kedua mempelai itu pun terpisah untuk menghampiri beberapa tamu undangannya. Hamka yang sedikit lelah duduk pada satu meja dengan sahabat-sahabatnya yang telah menikah mendahului dirinya.
"Hei, kenapa kau duduk disini? Pergi duduk di pelaminanmu sana!" Kata Galuh.
"Hah, lelah!" Sahut Hamka.
"Memang begitu! Apalagi saat malam nanti, pasti akan begitu menguras energi!" Kata Roni sambil menggendong bayi perempuannya.
"Hehehe, aku akan melakukan apapun demi menguras energi yang banyak itu!" Sahut Hamka bersemangat.
"Akhirnya kita semua menemukan jodoh kita masing-masing setelah melelang buana mengencani begitu banyak wanita, hahaha." Kata Syakir.
"Iya!" Seru lainnya.
Hamka melirik Kania yang tampak fokus berbicara dengan seorang tamu yang mengenakan seragam polisi. Namun saat itu Hamka tak menaruh curiga sedikitpun karena status istrinya yang bekerja sebagai seorang polisi.
Malam harinya setelah acara pesta selesai, Hamka dan Kania yang tak suka menginap di hotel langsung pulang ke apartemennya. Disana sudah disiapkan kamar yang telah didekorasi dengan hiasan yang indah.
"Hah, aku sangat lelah!" Ucap Hamka duduk di tepi ranjang sambil membuka setelan jas pengantin yang ia kenakan.
"Pergilah mandi agar kau segar!" Kata Kania yang duduk di depan meja riasnya sambil membuka segala hiasan yang menempel pada kepalanya.
"Iya, baiklah!" Seru Hamka dengan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan gulat dengan istrinya di ranjang pengantin itu.
Melihat Hamka telah masuk ke dalam kamar mandi, Kania bergegas mengaganti gaun pengantinya dengan seragam polisi. Sambil mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi, Kania meriah kunci mobil milik suaminya itu.
"Maafkan aku sayang! Tanganku sudah gatal ingin menangkap para preman yang membuat onar dan meresahkan masyarakat!" Gumam Kania sambil berjenkat keluar dari kamar.
Hamka yang mendengar suara pintu kamar terbuka dan tertutup kembali langsung keluar dari kamar mandi dengan busa sabun yang memenuhi sekujur tubuhnya. Dengan mata yang sedikit perih akibat busa sabun di wajahnya, hamka melihat sekeliling ruang kamar dan tak menemukan sosok Kania disana. Dengan cepat Hamka menghampiri sebuah laci dan membukanya. Ia tak menemukan kunci mobil miliknya.
__ADS_1
"K A N I A..............!!!!!!!" Teriak Hamka kesal ditinggal tugas oleh Kania pada saat malam pengantin mereka.