
Masih banyak yang harus mereka lakukan, akhirnya Hana dan Antoni serta Galuh dan Ila memutuskan untuk menginap dikediaman rumah Yurika. Hampir larut malam Hamka pulang dari kediaman Yurika. Hamka tak menginap disana karena ia tak mau meninggalkan Kania di apartemen sendirian setelah pulang dinas. Tiba di apartemennya, Hamka mendengar suara Kania yang sedang berbicara melalui ponselnya. Terdengar saat itu Kania sedang berbicara dengan salah satu anggota polisi bawahannya mengenai seorang tahanan yang tak lain adalah ayah kandung Ila.
"Imran? Itu kan Ayah kandungnya Ila!" Gumam Hamka dalam hatinya.
Hamka masuk ke dalam kamar dan menghampiri Kania yang masih berbicara dengan anggota polisi bawahannya itu. Setelah menutup teleponnya, Hamka menatap Kania yang terlihat sedikit bingung.
"Ada apa?" Tanya Hamka.
"Tahanan yang bernama Imran itu ingin bertemu dengan Ila juga tante Yurika!" Kata Kania.
"Mau apa lagi dia?" Tanya Hamka kesal mendengarnya.
"Kata pegawai di penjara itu, Imran sedang sakit keras! Dan anehnya ia tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia hanya ingin bertemu dengan Ila juga tante Yurika." Sahut Kania.
"Aku bingung, harus bagaimana! Apa mungkin tante Yurika mau bertemu dengannya setelah apa yang ia lakukan dulu?" Sambung Kania lagi.
"Tidak usah perdulikan narapidana itu! Biarkan dia mendapatkan ganjaran atas perbuatannya sendiri!" Kata Hamka.
Kania hanya diam dan terus berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah yang menyangkut atas keperimanusiaan sebagai seorang polisi.
"Lebih baik aku melihat kondisinya besok! Setelah itu baru aku akan mengambil tindakan yang tepat untuk permintaan tahanan itu!" Gumam Kania dalam hatinya.
Kania melirik pada Hamka yang menciumi pundaknya. Ia juga melirik jam yang berputar di dinding kamar itu.
"Darimana saja kau? Larut malam begini baru pulang!" Tanya Kania.
"Dari rumah tante Yurika! Aku membantu sedikit untuk mempersiapkan pesta pernikahan Kia dan Syakir lusa nanti." Sahutnya.
"Aku lelah!" Ucap Hamka lagi.
"Pergilah mandi dulu, setelah itu tidur!" Kata Kania.
"Mau mandi denganmu!" Rengek Hamka.
"Aku sudah mandi tadi! Nanti kulitku kembang kalau terus-terusan mandi!" Sahut Kania.
"Huh, menyebalkan!" Gerutu Hamka seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Kania hanya menatap tunangannya itu yang terus saja kesal padanya.
"Hah, kenapa dia sungguh tidak sabaran? Padahal sebentar lagi aku juga akan menjadi miliknya!" Gumam Kania dalam hatinya.
"Sebenarnya aku juga menginginkan hal yang sama denganmu, Hamka! Tapi apa salahnya jika aku menjaganya hingga sampai aku benar-benar menjadi istrinya nanti!" Gumam Kania lagi dalam hatinya.
*****
Di dalam kamarnya, Galuh mencoba untuk mendekati Ila yang sedang menggunakan pelembab wajah setelah selesai mandi. Galuh mencium wangi rambut Ila yang masih basah setelah keramas.
"Wangi!" Bisik Galuh.
"Tentu saja! Aku kan pakai shampoo!" Sahut Ila.
Galuh melirik Ila yang hendak memakai pakaian tidurnya.
"Jangan di pakai!" Bisik Galuh lagi.
"Kenapa?" Tanya Ila.
"Kau terlihat semok bila menggunakan pakaian dalam saja!" Sahut Galuh.
"Iihh, kak Galuh modus nih! Pasti ada maunya." Kata Ila mencubit pipi Galuh dengan mesra.
"Tentu dong!" Sahut Galuh yang langsung membawa Ila ke ranjang tidur mereka.
Ila tersenyum melihat Galuh yang menginginkan dirinya malam itu.
"Hei, seharusnya malam ini adalah malam yang spesial untuk Kia dan kak Syakir, bukannya untuk kita!" Kata Ila pada Galuh.
"Kasihan amat si Syakir, diseret pulang! Gak jadi malam pertama deh! Hahahaha." Kata Galuh tertawa di atas penderitaan sahabatnya itu.
"Hehehe, Kia juga boboknya masih sendirian! Hehehe." Kata Ila juga ikut tertawa.
Galuh mendaratkan ciumannya pada Ila. Tentu saja Ila membalas semua yang dilakukan boleh Galuh padanya dengan sepanas mungkin.
"Jangan lupa pengamannya, kak!" Bisik Ila.
"Aku tidak mau!" Sahut Galuh.
"Tidak enak!" Sambung Galuh.
"Jangan buat aku hamil lagi untuk sekarang ini! Umur Gilang belum genap setahun!" Kata Ila.
"Aku tidak perduli!" Sahut Galuh bersikeras untuk tidak menggunakannya. Ila hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah terhadap keinginan dari suaminya itu.
Keesokan harinya, seperti biasa Kania bangun lebih awal dari Hamka. Kania menyiapkan sarapan pagi sebelum ia pergi untuk bertugas. Hampir jam 7 pagi, Kania membangunkan Hamka yang masih terlelap di atas ranjang tidurnya.
"Hamka! Bangun!" Ucap Kania mengelus pipi Hamka.
__ADS_1
"Hheeemmmm!" Sahut Hamka masih memejamkan kedua matanya.
"Pagi sekali!" Ucap Hamka membuka matanya dengan perlahan.
"Ini sudah hampir jam 7 pagi! Bangunlah, lalu sarapan bersama! Pagi ini aku memiliki sedikit urusan." Kata Kania.
Hamka tak perduli dengan perkataan Kania. Ia meraih tubuh Kania yang sudah mengenakan seragam polisinya. Kania terjatuh di atas tubuh Hamka yang mendekapnya.
"Hamka, nanti aku telat!" Kata Kania.
"15 menit juga kelar kalau kita lakukan!" Kata Hamka.
"Lakukan apa maksudmu?" Tanya Kania.
"Buat bayi!" Sahut Hamka asal bicara.
"Huh, kau ini selalu saja seperti itu! Bersabarlah sebentar lagi! Beberapa bulan ke depan kita akan menikah." Kata Kania.
"Lama banget sih! Besok aja kita nikahnya, biar cepat punya bayi! Bayinya pasti mirip denganku nanti. Hehehe." Kata Hamka.
"Mirip denganku saja! Kalau mirip denganmu nanti anak kita konyol sepertimu!" Sahut Kania.
"Tidak bisa! Kalau mirip denganmu, yang ada nanti di bersikap dingin dan arogan!" Kata Hamka.
"Mirip denganku!" Pekik Kania.
"Tidak! Harus mirip sepertiku!" Sahut Hamka tak mau kalah.
"Uuuhhhhh!" Pekik Kania saat Hamka membalikkan posisi mereka berdua. Kania menatap wajah Hamka yang lantas menciumnya dengan segera.
"Eeemmmm!" Desah Kania menikmati sentuhan-sentuhan dari Hamka padanya.
Saat Hamka akan membuka kancing seragamnya, Kania langsung menahan tangan Hamka.
"Jangan lakukan, Hamka!" Ucap Kania.
"Bersabarlah! Sebentar lagi aku akan jadi milikmu seutuhnya!" Ucap Kania lagi.
"Hah, baiklah!" Sahut Hamka yang akhirnya menyerah untuk merengkuh apa yang ia inginkan dari Kania.
Hamka menenggelamkan wajahnya pada dada Kania yang membuatnya nyaman.
"Aku yang bodoh karena membawamu tinggal seatap denganku! Jelas-jelas hal itu akan membuatku frustasi menahan semuanya! Hah!" Gumam Hamka yang mengukir garis senyuman di bibir Kania.
"Sabar sebentar lagi, oke!" Kata Kania mengelus rambut Hamka dengan lembut.
Lalu Kania melirik jam yang berputar di dinding kamar itu. Waktu telah menunjukkan hampir 08.36. Kania langsung melompat bangun yang membuat Hamka ikut terjatuh di lantai.
"Aduh, sakit sekali! Sialnya aku pagi ini! Sudah tak dapat apa yang aku inginkan, malah jatuh pula!" Ucap Hamka meringis kesakitan.
"Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan di meja! Makanlah! Aku pergi dulu!" Kata Kania sambil berlari keluar dari apartemen tersebut dengan sebuah roti tawar di mulutnya.
"Kania! Hati-hati di jalan!" Kata Hamka.
"Iya!" Sahut Kania.
Kania tiba di tempat ia bertugas tepat pukul 8 pagi. Ia melakukan apel pagi bersama dengan polisi lainnya. Setelah selesai menjalani apel pagi, Kania pun bergegas pergi menuju ke sebuah tempat penjara dimana Imran ditahan disana. Kania bertemu dengan seorang kepala penjara yang membawanya menuju ke kamar penjara dimana Imran tergolek dengan lemah.
"Pak!" Panggil Kania pada Imran.
"Ibu polwan! Tolonglah aku!" Pinta Imran dengan suara yang begitu lirih dan lemah.
"Kau sakit! Aku akan bawa kau ke rumah sakit!" Kata Kania.
"Tidak usah! Aku hanya ingin meminta permintaan terakhirku sebelum aku mati nantinya!" Kata Imran.
"Apa maksudmu?" Tanya Kania.
"Aku ingin bertemu dengan putriku, Ila! Aku juga ingin bertemu dengan wanita yang telah aku perkosa beberapa tahun silam!" Kata Imran.
"Tidak bisa! Mereka tak ingin bertemu denganmu!" Kata Kania.
"Uhuk...uhuk...uhuk...! Tolonglah aku, ibu polwan!" Pinta Imran memohon pada Kania.
"Untuk apa kau ingin bertemu dengan mereka?" Tanya Kania.
"Aku hanya ingin meminta maaf pada putriku dan juga wanita yang telah aku nodai dulu! Aku menyesal karena telah melakukan hal sekejam itu pada mereka. Aku hanya butuh kata maaf dari mereka sebelum aku mati." Sahut Imran.
Kania menatap mata Imran yang tampak meneteskan air mata penyesalannya. Ia pun menjadi iba terhadap narapidana tersebut. Kania tak menjanjikan apapun pada Imran dan langsung pergi dari kamar tahanan itu. Kania menemui kepala penjara dan mencari informasi mengenai penyakit yang disertai oleh Imran selama ini.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kania pada kepala penjara.
"Aku dengar dari dokter, katanya narapidana itu memiliki riwayat penyakit asma! Tubuhnya bertambah lemah karena dinginnya tembok penjara ini!" Sahut kepala penjara itu.
"Apa kau bisa membantuku?" Tanya Kania.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya kepala penjara.
"Bawa dia ke rumah sakit! Katakan padanya kalau putrinya akan menemui dirinya disana." Kata Kania.
"Baiklah! Aku memang tidak mengerti apa yang terjadi padanya, namun aku akan mencoba untuk membantu!" Sahut kepala penjara itu.
Setelah keluar dari rumah tahanan itu, Kania melajukan mobilnya menuju ke kantor kekasihnya. Ia begitu bingung harus berbuat apa untuk membujuk Ila serta Yurika agar mau menemui Imran sebagai permintaan terakhirnya. Tiba di perusahaan milik kekasihnya itu, Kania langsung menemui Hamka yang tampak sedang menandatangani sesuatu di meja kerjanya.
"Sayang!" Seru Hamka senang melihat Kania datang mengunjunginya.
"Ada angin apa kau kesini?" Tanya Hamka pada Kania.
"Aku ingin berdiskusi sedikit denganmu!" Kata Kania.
"Apa itu? Apa tentang bayi kita nanti?" Tanya Hamka.
"Tentu saja bukan! Tapi mengenai ayah kandungnya Ila." Sahut Kania.
"Aku tidak tertarik membahas penjahat itu!" Kata Hamka.
"Hei, ayolah! Aku sedang bingung nih!" Kata Kania.
"Bantu aku membujuk Ila! Kau kan kenal lebih lama dengannya dan kau pasti tau bagaimana cara membujuk Ila." Kata Kania lagi.
"Membujuk untuk apa?" Tanya Hamka.
Kania menceritakan semua tentang kondisi Imran dan juga mengenai permintaan terakhirnya. Hamka pun mendengarkan semuanya dengan seksama. Ia juga merasa iba terhadap kondisi yang diderita oleh ayah kandung Ila tersebut.
"Bantu aku dong! Aku iba sekali melihat kondisi narapidana itu." Kata Kania.
Hamka menatap Kania dan ia pun berpikir untuk membuat kesepakatan bersama dengan tunangannya itu.
"Aku akan membantumu! Tapi ada syaratnya!" Kata Hamka.
"Apaan?" Tanya Kania.
"Aku ingin kau menuruti semua permintaanku dalam seharian penuh!" Kata Hamka.
"Hanya menurut saja padanya, aku rasa tidak ada ruginya!" Gumam Kania dalam hatinya.
"Baiklah! Aku setuju, asalkan kau bisa membujuk Ila juga tante Yurika." Kata Kania.
"Wah, yakin nih?" Seru Hamka bersemangat.
"Iya, yakin!" Sahut Kania.
"Hehehe, mampuslah kau malam ini, Kania!" Gumam Hamka dalam hatinya sambil terkekeh jahat.
Dengan segera siang itu juga Hamka dan Kania bergerak cepat menuju ke rumah Yurika. Tiba disana Hamka mendekati Galuh yang sedang bermain bersama Gilang.
"Luh, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu!" Bisik Hamka.
"Apa?" Tanya Galuh.
"Berikan Gilang pada Ratih! Ini hal penting yang menyangkut Ila juga tante Yurika." Bisik Hamka lagi.
Galuh pun memberikan Gilang kepada pengasuhnya. Ia membawa Hamka untuk berbicara secara empat mata dengannya pada sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar Kia.
"Ada apa?" Tanya Galuh.
"Ayah kandung Ila sakit keras di rutan!" Kata Hamka.
"Dia ingin bertemu dengan Ila juga tante Yurika!" Kata Hamka lagi.
"Hah, konyol sekali! Mana mungkin Ila dan mama Yurika mau menemuinya." Sahut Galuh.
"Aku juga sudah berpikir seperti itu! Namun apa salahnya jika kita mencoba dulu untuk membujuk mereka." Kata Hamka.
"Sumpah! Saat aku mendengar cerita dari kakak mengenai kondisinya, aku merasa sangat iba. Ya walaupun dia seorang penjahat, namun tetap saja manusia biasa! Mungkin dia ingin sekali mendengar kata maaf dari Ila dan Tante Yurika." Kata Hamka lagi.
Galuh terdiam sejenak dan memikirkan apa yang hendak ia lakukan untuk menghadapi masalah yang berkaitan dengan istri serta ibu mertuanya itu. Tanpa mereka sadari Kia tak sengaja mendengar percakapan antara Hamka dan Galuh saat itu. Kia tau persis bagaimana caranya agar ia bisa membujuk Yurika. Kia bertekad untuk membantu masalah yang sedang dihadapi oleh Ila juga Yurika.
"Kak! Maaf, aku tak sengaja mendengarnya tadi." Kata Kia pada Galuh dan Hamka.
"Kau mendengar semuanya?" Tanya Galuh.
"Iya!" Sahutnya.
"Eeemm, kak! Aku bisa membujuk mama!" Kata Kia.
"Apa kau yakin?" Tanya Hamka.
"Iya! Aku akan mencoba untuk membujuk mama agar mau menemui orang yang memperkosa mama dulu!" Kata Kia.
"Kau tau segalanya mengenai masa lalu mama?" Tanya Galuh.
"Iya! Waktu mama sakit, mama menceritakan semuanya padaku!" Sahut Kia.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kau bujuk mama dan aku akan bujuk Ila." Kata Galuh.
"Iya!" Sahut Kia.