GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
HATI YANG BUSUK


__ADS_3

Yurika masuk ke dalam kamanya dan duduk di atas ranjang tidur miliknya. Yurika melirik boneka kucel ia ambil dari kamar Ila. Yurika mengambil dan memeluk boneka itu sambil menangis. Ia sangat merindukan bayangan Ila di rumah itu.


"Aku pikir jika dia tidak ada di sini, maka hidupku akan lebih baik, namun ternyata semenjak kepergiannya hatiku semakin sakit! Aku sangat merindukan kehadirannya di rumah ini." Ucap Yurika yang tidak bisa menahan air matanya yang tumpah.


"Maafkan mama yang tidak pernah memberikan kasih sayang padamu selama ini." Ucap Yurika lagi.


Semenjak kepergian Ila dari rumah itu, Yurika tidak berselera makan dan hanya termenung saja memikirkan Ila. Bahkan Yurika juga tidak pernah memperhatikan Kia lagi. Yurika selalu mengabaikan Kia yang mencari perhatian darinya. Terkadang Kia kesal dengan sika Yurika yang berubah setelah Ila menikah dan pergi dari rumah itu.


Kia duduk sendirian di meja makan sambil menyantap makan malamnya. Sesekali ia berdecak kesal jika mengingat Ila yang ia anggap telah mengambil perhatian Yurika darinya.


"Kau sangat menyebalkan Ila! Apa hebatnya dirimu jika dibandingkan denganku? Sandi menyukaimu, perhatian mama juga kau rebut dan aku juga tidak habis pikir kenapa si Galuh itu mau menikahimu." Gumam Kia sangat kesal pada Ila.


Lalu seorang pelayan masuk ke ruang makan untuk menanyakan apa yang di perlukan Kia lagi saat itu.


"Nona, apa ada yang kau inginkan lagi?" Tanya pelayan.


Kia yang sedang kesal menatap pelayan itu dengan marah.


"Pergi! Jangan ganggu waktu makan malamku." Ujar Kia seraya melemparkan sebuah mangkuk berisi sup panas pada pelayan itu.


Pelayan itu meringis kesakitan pada luka akibat terkena sup panas di tangannya. Mangkuk itu pecah berserakan di lantai. Suara pecahan mangkuk kaca itu terdengar hingga ke kamar Yurika. Semua pelayan yang ada di dapur berlari masuk keruang makan. Kia semakin kesal dan memaki-maki semua pelayan yang ada di rumah itu.


Yurika berlari  menuju ke ruang makan dan melihat betapa kasarnya Kia pada pelayan disana.


"Ada apa ini?" Tanya Yurika.


"Maaf nyonya, Aku ingin berhenti bekerja disini! Aku bukan budak anakmu!" Ujar pelayan itu kesal karena tidak tahan lagi di perlakukan kasar oleh Kia.


Yurika melirik pada Kia yang hanya diam dengan paras wajah yang marah.


"Ada apa ini, Kia? Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Yurika.


"Pelayan itu mengganggu makan malamku, ma!" Teriak Kia pada Yurika.


Yurika kesal karena Kia berteriak padanya. Yurika naik pitam dan menampar wajah Kia hingga bercap merah di pipinya.


"Jaga sikapmu itu Kia!" Bentak Yurika pada Kia yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Yurika padanya.


"Mama menamparku hanya untuk membela pelayan itu, hah?" Teriak Kia lagi.


Yurika semakin kesal dan menampar Kia lagi.


"Aku menamparmu agar kau sadar, siapa kau sebenarnya di rumah ini!" Ujar Yurika yang sudah tersulut emosi.


Deg..deg...


Jantung Kia berdetak kencang dan merasakan sakit hati saat Yurika mengatakan statusnya di rumah itu. Kia berlari masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang sangat janggal dalam hatinya jika ia mengingat perkataan Yurika untuknya.


"Apa maksud ucapan mama tadi? Siapa aku sebenarnya dirumah ini?" Gumam Kia bingung saat mencerna ucapan Yurika yang di luar kendalinya.


 


 


Yurika menemui pelayan yang di lempar Kia saat di ruang makan. Yurika mendatanginya untuk meminta maaf karena sikap Kia yang sangat kasar padanya. Yurika melihat pelayan itu telah membereskan pakaiannya di dalam koper.


"Maafkan aku." Ucap Yurika pada pelayan itu.

__ADS_1


"Nyonya, mengapa kau minta maaf padaku? Kau tidak salah." Sahut pelayan itu.


"Kia seperti itu karena aku selalu memanjakannya. Maafkan aku." Ucap Yurika lagi.


"Sudahlah nyonya, aku tidak ingin mengingat kejadian ini lagi." Kata pelayan itu.


"Apa kau akan tetap berhenti bekerja denganku?" Tanya Yurika.


"Nyonya, kau sangat baik kepadaku selama ini, namun aku dan nona Kia sudah tidak mungkin tinggal serumah lagi jadi lebih baik aku berhenti. Aku tidak akan bisa bekerja dengan tenang jika ada orang yang tidak menyukai aku di rumah ini. Maafkan aku, nyonya." Kata pelayan itu.


Yurika tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan keputusan pelayannya yang sudah tidak mau bekerja dengannya lagi di rumah itu akibat ulah Kia yang sering semena-mena kepada para pelayan.


Setelah menerima gajinya, pelayan itu pun pergi dari kediaman Yurika.


 


Keesokan harinya, Yurika menghubungi pihak penyalur pekerja rumah tangga untuk mencari pelayan baru. Pelayan baru pun tiba dirumah Yurika untuk bekerja disana. Pelayan baru itu bernama Sari yang memiliki wajah lugu namun otaknya sangat licik. Sari selalu bersikap manis di hadapan pelayan lain. Dengan wajahnya yang polos itu, ia berhasil mengetahui apa yang terjadi antara pelayan lama dan Kia. Awalnya ia juga tidak menyukai sikap Kia yang sangat angkuh kepadanya walaupun ia sudah berkali-kali bersikap manis untuk mendapatkan hati Kia.


"Huh, jangan panggil aku Sari, jika aku tidak bisa mempermainkan keluarga ini. Hehehe." Ucap Sari dalam hatinya yang memiliki niat jahat terhadap Kia yang sangat angkuh terhadapnya.


 


 


 


Suatu hari sari tanpa sengaja mendengar pembicaraan para pelayan di dapur mengenai Yurika dan Ila. Sari mengernyitkan keningnya saat ia mendengar nama Ila di telinganya.


"Ila? Siapa lagi itu?" Gumam Sari dalam hatinya.


"Hah, aku sangat sedih jika mengingat betapa menderitanya nona Ila saat di rumah ini!" Kata salah seorang pelayan.


"Iya! Betapa teganya nyonya Yurika yang selalu bersikap dingin padanya." Sahut pelayan lainnya.


"Padahal nona Ila itu adalah anak kandungnya sendiri. Tapi nyonya Yurika malah menyayangi nona Kia, yang jelas-jelas bukan anak kandunganya." Sambungnya lagi.


"Nyonya benci karena nona Ila adalah anak haram." Sahut pelayan lainnya.


"Hei, kau jangan bicara seperti itu lagi! Nanti nyonya Yurika mendengarnya." Sambung yang lainnya lagi.


Para pelayan yang sedang bergosip itu terdiam saat Sari memasuki ruang dapur. Dengan wajahnya yang sangat polos dan mulut manisnya, Sari menawarkan bantuannya dan berpura-pura tidak mendengar apapun disana.


Sari membantu pekerjaan pelayan lainnya untuk mengambil hati mereka agar ia di sukai oleh pelayan-pelayan lainnya.


"Jika aku mengatakan rahasia tentang nona Ila itu pada nona Kia, pasti nona Kia akan menyayangi aku dan aku akan berkuasa di antara para pelayan-pelayan yang bodoh ini." Ucap Sari dalam hatinya.


 


 


 


Siang hari Kia pulang dari sekolah dan masuk ke dalam kamarnya. Kia dan Yurika tidak saling menyapa setelah malam kejadian itu. Yurika tidak betah tinggal dirumah dan lebih memilih untuk pergi berkumpul bersama teman-teman sosialitanya.


Kia semakin kesepian saat berada di rumah tanpa ada Yurika yang biasanya sangat menyayangi dirinya.


Kia berganti pakaian dan hendak tidur siang tanpa mau untuk makan terlebih dahulu.

__ADS_1


Saat akan memejamkan matanya, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Kia berdecak kesal sembari turun dari ranjang tidurnya. Kia membuka pintu kamarnya dan menatap tajam pada Sari yang membawakan buah segar untuknya.


"Mau apa kau?" Tanya Kia pada Sari.


"Aku membawakan buah segar untukmu, nona." Sahut Sari dengan senyuman palsunya.


"Aku tidak mau!" Ujar Kia hendak menutup kembali pintu kamarnya, namun Sari menahannya.


"Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Kia kesal.


"Nona, aku tau kau sangat kesepian dirumah ini, aku hanya ingin menghiburmu saja." Jawab Sari berusaha untuk mendapatkan perhatian Kia.


"Kau itu cuma babu disini! Kau tidak pantas menghiburku." Ujar Kia lagi.


"Nona, aku ini ingin berbuat baik padamu! Apa kau tau jika pelayan disini sering bergosip tentangmu?" Kata Sari mulai melancarkan niat buruknya.


"Apa yang mereka bicarakan tentangku?" Tanya Kia yang sudah masuk ke dalam perangkap Sari.


"Nona, lebih baik kita bicara di dalam saja, aku takut nanti ada yang mendengar pembicaraan kita." Kata Sari.


Dengan mudahnya Kia membuka pintu kamarnya lebar-lebar untuk Sari. Sari tersenyum tipis sembari melangkah masuk ke dalam kamar Kia. Sari duduk di lantai dan Kia duduk di atas ranjangnya.


"Apa yang mereka katakan tentangku?" Tanya Kia penasaran.


"Kata mereka kau itu sangat jahat dan sangat sombong, bahkan mereka bilang kau tidak pantas menjadi nona dirumah ini." Ucap Sari mengadu domba Kia dan para pelayan.


Kia semakin kesal kepada para pelayan karena ucapan Sari.


"Nona, siapa Ila? Aku mendengar mereka berbicara tentang dia tadi." Tanya Sari dengan wajah polosnya.


"Apa yang mereka katakan tentang Ila? Cepat katakan padaku!" Ujar Kia.


"Mereka bilang nona Ila itu sangat baik dan sangat berbeda dengan nona Kia! Lalu mereka bilang kalau nona Ila lah yang pantas menjadi tuan putri di rumah ini." Sahut Sari sengaja berbohong untuk mempermainkan Kia.


Kia sangat marah saat dirinya di banding-bandingkan dengan Ila. Sari tersenyum tipis saat dirinya sudah mendapatkan tempat di hidup Kia.


"Nona, Apa kau tau? Ada rahasia besar dirumah ini." Kata Sari lagi.


"Apa maksudmu?" Tanya Kia.


"Aku dengar dari mereka, bahwa nona Ila itu adalah anak haram!" Bisik Sari pada Kia.


Kia melebarkan matanya karena terkejut dengan apa yang dibisikkan oleh Sari padanya. Kia mencengkram lengan Sari dengan sangat kuat sehingga Sari meringis kesakitan.


"Hati-hati dengan ucapanmu itu!" Ujar Kia pada Sari.


"Nona, aku bersumpah kalau yang aku katakan tentang Ila itu benar." Kata Sari untuk meyakinkan Kia.


Kia melepaskan tangan Sari dan mengusirnya sebelum ia memberikan tugas untuk menjadi mata dan telinganya di rumah itu. Dengan senang hati Sari mematuhi perintah Kia kepadanya.


Kia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya memikirkan apa yang di dengarnya dari Sari sang pelayan baru yang memiliki hati busuk.


"Jadi karena itu mama selama ini membenci Ila! Dia adalah anak haram di keluarga ini. Pasti Ila adalah anak haram dari hubungan papa dengan wanita lain. Lalu saat papa meninggal karena kecelakaan itu, Ila di rawat oleh mama. Tapi kemana ibu kandung si Ila? Kenapa dia memberikan Ila pada mama?" Pikir Kia yang salah menanggapi tentang status Ila di keluarga itu.


Kia mengambil ponsel dan berbicara lama disana. Kia tersenyum tipis setelah ia selesai berbicara melalui telepon genggam miliknya.


"Ila, aku tau kau sedang berbulan madu dan bersenang-senang diluar negeri. Tapi setelah kau kembali kesenanganmu akan sirna untuk selama-lamanya. Hahaha." Ucap Kia memiliki niat buruk untuk Ila.

__ADS_1


__ADS_2