
Pagi hari Ila dan Galuh sarapan bersama di hotel tempat mereka menginap selama di istanbul. Banyak tempat di istanbul yang akan mereka kunjungi hari itu. Galuh dan Ila bersiap-siap dengan pakaian tebal mereka saat musim dingin disana. Galuh dan Ila pergi ke sebuah tempat yang sangat terkenal di turki saat sedang musim dingin yaitu cappadocia. Ila melihat banyak balon udara yang sedang menghiasi langit di cappadocia.
"Apa kau ingin naik itu?" Tanya Galuh pada Ila.
"Iya, tapi aku takut." Sahut Ila.
"Kenapa takut? Aku ada bersamamu, cantikku!" Kata Galuh pada Ila.
"Baiklah, aku mau naik balon udara itu." Kata Il
Ila pun naik balon udara itu untuk pertama kalinya bersama Galuh. Persaan deg-degan tak bisa di pungkiri oleh Ila saat itu. Saat balon udara itu semakin tinggi naik ke atas, Ila mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Galuh. Galuh tau kalau Ila sedang ketakutan. Galuh memeluk tubuh Ila untuk menenangkannya.
"Tidak usah takut, aku disini bersamamu." Ucap Galuh pada Ila.
Perasaan takut yang Ila rasakan hilang begitu saja saat Galuh mengucapkan kalimat itu padanya. Ila mulai menikmati pemandangan dari atas saat balon udara itu sudah menjulang tinggi di atas.
Galuh tak ingin moment itu terlewat begitu saja, ia segera mengambil ponsel di sakunya dan mengambil beberapa potret dirinya bersama Ila saat di balon udara itu.
Hari sudah semakin gelap di langit turki, Galuh dan Ila berjalan santai di pinggiran jalan kota istanbul. Perut Ila lapar saat mencium aroma makanan kestane yaitu chestnut yang baru di panggang.
"Apa kau mencium aroma ini?" Tanya Ila pada Galuh.
Galuh pun mengendus aroma yang sangat enak itu.
"Heeemm, aroma ini adalah kestane." Kata Galuh.
"Apa itu?" Tanya Ila bingung.
"Kestane itu adalah makanan cemilan berupa kacang yang di panggang." Jawab Galuh.
Galuh celingak-celinguk mencari sumber aroma itu dan tampak olehnya sebuah tempat yang menjajakan kestane tersebut.
"Apa kau mau makan kestane?" Tanya Galuh pada Ila.
"Iya, aku mau." Sahut Ila tersenyum lebar.
"Wah, dia semakin imut saja!" Seru Galuh dalam hatinya menatap Ila.
Galuh merasa sangat senang melihat Ila tersenyum lebar padanya. Langsung saja ia menyeret Ila untuk pergi membeli makanan yang aromanya menusuk hidung mereka dengan penuh semangat yang membara.
Galuh dan Ila pun membeli banyak kestane untuk mereka makan sambil menikmati suasana kota yang dingin.
"Wah, sangat enak!" Seru Ila girang saat pertama kali makan kestane.
Galuh bingung melihat Ila.
"Apa dia tidak pernah makan kacang ini? Di indonesia banyak di jual dan bahkan selainya juga ada. Tapi kenapa dia begitu gembira?" Gumam Galuh dalam hatinya.
"Si imutku yang cantik, apa kau tidak tau kacang ini?" Tanya Galuh pada Ila.
Ila menggeleng.
"Hah, ada apa ini? Dia terlahir dari keluarga yang kaya, kenapa dia tidak tau kacang ini?" Gumam Galuh lagi dalam hatinya.
Galuh menatap Ila yang masih sangat girang makan kacang panggang itu.
"Ila, ini chestnut banyak di jual di indonesia dan selainya juga banyak di jual di minimarket! Apa kau yakin kau tidak pernah merasakan kacang ini?" Tanya Galuh lagi.
"Tidak pernah." Sahut Ila polos.
Galuh auto tepok jidat saat mendengar Ila tidak pernah makan kacang tersebut dan Ila hanya bengong melihat Galuh menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya.
Bagaimana mungkin Ila makan kacang chestnut itu, karena dari kecil ia hanya makan makanan untuk pelayan saja sedangkan kacang chestnut itu biasa di beli dan di makan oleh Yurika dan Kia saja.
Setelah perut terasa kenyang, Galuh dan Ila kembali ke hotel. Tak lupa Galuh membelikan banyak kacang chestnut itu untuk Ila makan di hotel. Galuh tau kalau Ila sangat menyukai kacang tersebut. Tiba di kamar hotel, Galuh menyuruh Ila untuk mandi terlebih dahulu lalu bergantian denganya. Ila mengiyakan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian mengitari kota istanbul.
Galuh membuka lemari untuk mengambil piyama tidurnya, namun saat itu tanpa sengaja bungkusan kecil jatuh dan mengenai kakinya. Galuh mengambil bungkusan kecil itu dan melihat isinya. Ia seketika teringat dengan pemberian Antoni untuknya.
"Ini kan ramuan yang papa berikan padaku! Jika aku minum ini stamina akan bagus. Kebetulan hari ini tubuhku agak lelah, lebih baik aku minum saja ramuan ini." Pikir Galuh.
Galuh pun menyeduh ramuan itu dengan air panas. Kemudian ia langsung meminumnya saat masih hangat. Ila keluar dari kamar mandi dan segera mengeringkan rambutnya setelah keramas. Galuh masuk ke dalam kamar mandi bergantian dengan Ila. Beberapa menit kemudian, Galuh keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur yang melekat di tubuhnya. Galuh duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya yang berdering.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dari Roni dulu." Kata Galuh pada Ila.
"Iya." Sahut Ila yang berbaring di atas ranjang.
Selang beberapa saat Ila melihat Galuh kembali dengan wajah yang sangat merah. Nafasnya juga naik turun tidak beraturan. Galuh duduk di tepi ranjang sambil mengipasi dirinya dengan tangan. Ila mendekat pada Galuh.
"Kenapa wajahmu sangat merah? Apa kau terserang demam?" Tanya Ila pada Galuh.
"Entahlah, aku merasa ada yang tidak beres dengan penghangat ruangannya, aku sangat kepanasan." Sahut Galuh.
__ADS_1
"Tapi aku rasa suhu ruangannya sudah pas!" Kata Ila.
Galuh terdiam dan berpikir sambil melihat ke bawah miliknya yang sudah menegang sedari tadi.
"Kenapa burungku berdiri begitu tegak? Padahal otakku tidak berkhayal mesum." Gumam Galuh bingung dalam hatinya.
"Nafasku juga tidak karuan." Gumamnya lagi merasakan ada hal yang aneh pada dirinya.
Galuh kembali berpikir dan mengingat apa yang sudah dia konsumsi malam itu. Galuh melebarkan matanya mengingat kalau tadi dia meminum ramuan yang di berikan oleh Antoni padanya.
"Hah, sial! Papa memberikan ramuan perangsang untukku! Pantasan saja burungku berdiri sangat tegak sedari tadi." Ucap Galuh dalam hatinya.
"Aku harus melepaskan hasrat ini! Mana kandang burungnya?" Ujar Galuh seraya menoleh pada Ila yang duduk di sampingnya.
Ila yang sangat polos bingung melihat tatapan mata Galuh terhadapnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ila pada Galuh.
Tak mau menjawab Galuh langsung menerkam Ila hingga jatuh tepat di bawahnya. Galuh melakukannya lagi pada Ila malam itu. Gairah yang sangat menggebu itu tidak mampu ia tahan setelah minum ramuan ajaib yang Antoni berikan padanya.
Keesokan paginya, Ila terbangun dengan bekas ****** yang ada di tubuhnya. Ila merasakan sakit pada selangkanganya dan juga pinggangnya.
"Ah, sakit sekali pinggangku!" Pekik Ila saat bangun tidur.
Ila melihat Galuh yang masih pulas tertidur setelah semalaman menindas dirinya. Ila membelai lembut wajah Galuh yang telah menjadi suaminya itu.
"Semalam dia sangat liar! Aku sampai kewalahan membalas serangan darinya. Apa pria dewasa sepertinya selalu begitu saat di ranjang? Hah, aku bisa mati kelelahan jika dia menindasku setiap malam!" Gumam Ila dalam hatinya.
Ila turun dari ranjang dan segera untuk mandi. Selesai mandi Ila melihat Galuh masih tertidur di ranjang.
"Apa dia terlalu lelah semalam? Sudah jam 9 pagi dia masih saja tidur." Gumam Ila melihat Galuh masih terlelap.
Kkkrriiuukkk..............
"Hah, aku sangat lapar!" Ucap Ila merasakan cacingnya dalam perutnya meronta.
Tidak ingin mengganggu tidur sang suami, Ila hanya makan chestnut yang di beli Galuh semalam. Ila duduk makan chestnut itu sambil menonton televisi. Pukul 11 siang, Galuh terbangun dan melihat tubuhnya masih telanjang hanya berbalut selimut tebal. Ia ingat apa yang ia lakukan pada Ila semalam. Galuh mencari-cari Ila di setiap sudut ruang kamar, namun tidak ada Ila di sana. Galuh cepat-cepat bangkit dan turun dari ranjang untuk mencari Ila.
"Ila, dimana kau?" Panggi Galuh pada Ila.
Galuh bingung sekaligus panik mencari keberadaan Ila. Lalu Galuh mengambil ponsel dengan niat untuk menghubungi Ila, namun ponsel Ila berada di atas meja. Galuh memakai piyama tidurnya dan segera keluar untuk mencari Ila.
Galuh berada di halaman hotel yang luas itu. Matanya sibuk mencari keberadaan Ila disana namun tetap saja ia tidak melihatnya.
"Dimana dia? Ya Tuhan, bagaimana ini jika dia menghilang?" Ucap Galuh panik dan sangat khawatir pada Ila.
Tiba-tiba pundak Galuh di tepuk dari belakang dan ia pun menoleh. Terlihatlah Ila yang sedang membawa sekotak kue yang ia beli di seberang jalan hotel. Galuh memeluk Ila dengan sangat erat.
"Syukurlah, kau tidak tersesat." Ucap Galuh memeluk Ila dengan erat.
"Aku tidak akan bisa berpikir waras jika kau menghilang dariku!" Ucap Galuh lagi pada Ila.
"Kak, maaf! Aku tadi keluar sebentar untuk membeli kue di seberang jalan itu." Kata Ila pada Galuh.
Galuh melepaskan pelukannya dan menarik telinga Ila dengan kesal. Ila pun berteriak kesakitan.
"Dasar kau gadis nakal! Aku hampir mati ketakutan saat tidak melihatmu tidak ada di kamar hotel." Ujar Galuh sembari menarik telinga Ila.
"Aduh.., iya..iya, aku salah, aku minta maaf!" Pekik Ila kesakitan.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi! Apa kau mengerti?" Teriak Galuh.
"Iya." Sahut Ila.
Galuh melepaskan tangannya dari telinga Ila dan menyeret Ila masuk kembali ke dalam kamar hotel. Sepanjang jalan menuju ke kamar hotelnya, Ila tersenyum melihat orang-orang yang berbisik sambil menatap Galuh yang keluar hanya menggunakan sendal hotel dan piyamanya. Galuh tidak perduli pada bisikan orang-orang untuknya.
Setibanya di dalam kamar, Galuh melihat Ila masih tersenyum karena menahan tawanya. Galuh mendekat dirinya pada Ila.
"Apa kau sudah puas membuatku takut kehilanganmu, gadis kecil?" Tanya Galuh dengan senyuman jahatnya.
"Hehehe, jangan dekat-dekat! Kau mau apa?" Ujar Ila membalas tatapan Galuh padanya.
Haacciuuhhh.....haaacciuuuhh..........hhhaaccciiuuhhh.....
Galuh terserang flu setelah keluar hanya dengan sendal hotel dan baju piyama. Ila auto mewek dan menyesali perbuatannya. Gara-gara dirinya yang keluar tanpa izin pada Galuh, membuat Galuh terserang flu.
"Maaf! Huhuhuhuhuhuhuhuhh...." Ucap Ila menangis.
"Aku hanya flu, kenapa kau menangis?" Kata Galuh.
"Hehehe, apa kau sudah menjadi bucinku?" Tanya Galuh semakin mendekati Ila.
__ADS_1
Ila mengangguk sambil terus menangis.
"Wah, dia juga sudah menjadi bucinku!" Seru Galuh senang.
Galuh memeluk Ila yang masih menangis menyesali perbuatannya.
"Gadis kecil imutku yang cantik! Jangan nangis lagi, aku ini tidak apa-apa hanya flu saja. Hehehe, tidak perlu khawatir." Kata Galuh.
"Huuuuuwwwaaaaa....." Ila menangis semakin kencang sehingga memekakkan telinga Galuh.
"Diam!" Bentak Galuh pada Ila.
Ila langsung terdiam seraya menatap Galuh. Galuh tersenyum lagi dan kembali memeluk Ila. Selama Galuh sakit flu, mereka hanya bisa berdiam diri di kamar hotel yang hangat. Ila merawat Galuh dengan penuh perhatian padanya.
Di kediamannya, Yurika lebih banyak duduk termenung di ruang tengah atau bahkan saat ia duduk di teras rumahnya. Kia melihat perubahan sikap Yurika yang menjadi pendiam setelah Ila menikah dan keluar dari rumah itu. Kia sangat kesal saat Yurika sudah mulai kurang memberikan perhatian dan kasih sayang untuknya.
"Apa yang terjadi pada mama? Kenapa mama selalu termenung setelah hari pernikahan Ila?" Gumam Kia dalam hatinya.
Kia menatap layar ponselnya sambil menunggu kedatangan Sandi yang akan pergi bersamanya. Tidak lama kemudian yang di tunggu oleh Kia pun tiba. Kia sudah berdandan cantik untuk menemui Sandi yang datang menjemputnya. Sandi meminta izin pada Yurika untuk mengajak Kia bersamanya.
Di tengah perjalanan, Sandi bertanya pada Kia tentang kabar Ila yang membuat Kia kesal seketika.
"Kia, apa Ila sering datang mengunjungi kalian setelah dia menikah?" Tanya Sandi pada Kia.
"Kau selalu saja bertanya tentangnya! Apa kau masih mencintai istri orang itu?" Ujar Kia kesal.
"Aku hanya bertanya saja! Kenapa kau harus marah?" Sahut Sandi ikut emosi.
"Berhentilah bertanya tentang Ila padaku! Jika kau ingin tau tentang hidupnya tanyakan saja pada suaminya langsung sana." Ujar Kia.
Sandi lebih memilih untuk diam daripada membalas perkataan Kia yang kesal padanya. Kia dan Sandi tiba di salah satu cafe untuk sekedar hangout bersama teman-teman sekolah mereka. Di cafe tersebut sandi lebih banyak diam dan menyibukkan dirinya untuk bermain ponsel dari pada menghiraukan Kia. Lagi-lagi Kia sangat kesal pada sikap Sandi yang acuh tak acuh terhadapnya.
"Kau sedang apa? Kenapa kau terus saja menatap ponselmu? Apa ponselmu lebih menarik dari pada aku?" Tanya Kia seraya merebut ponsel Sandi.
"Kembalikan ponselku!" Pinta Sandi menahan kesalnya pada Kia.
"Tidak!" Sahut Kia.
Dengan sangat kesal Sandi berdiri dan menendang meja hingga meja itu terbalik. Segala benda yang ada di atas meja itu jatuh hancur berserakan di lantai. Teman-teman sekolah yang lainnya sangat terkejut melihat amukan Sandi saat itu. Sandi merebut kembali ponselnya dan pergi bergitu saja meninggalkan Kia di cafe itu. Kia hanya tertegun melihat Sandi yang begitu marah dan meninggalkannya begitu saja disana.
"Hei, Kia! Apa kau tidak mengejar kekasihmu itu? Hahaha." Kata Seorang temannya mengolok-olok Kia.
"Biarkan saja! Aku tidak perduli padanya." Sahur Kia menahan rasa malu sekaligus kesalnya.
Semua teman-teman Kia berbisik dan menertawai Kia yang di tinggalkan oleh Sandi begitu saja. Kia mengepalkan tanganya dengan penuh kekesalan saat itu.
"Ini semua gara-gara si babu itu! Awas saja kau Ila, aku akan membuatmu hancur." Ucap Kia dalam hatinya menaruh rasa dendam kepada Ila.
Kia kembali kerumah saat senja. Di ruang tengah ia medekati Yurika yang masih duduk sembari termenung.
"Ma." Panggil Kia pada Yurika, namun Yurika hanya diam saja.
Kia memanggilanya sekali lagi, namun Yurika masih tetap saja tidak menyahut panggilanya.
"Mama!" Teriak Kia kepada Yurika.
"Ada apa Kia? Kenapa kau berteriak?" Tanya Yurika yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Mama yang kenapa? Belakangan ini mama terus saja melamun. Mama mikirin apa sih?" Tanya Kia.
"Tidak memikirkan apa-apa." Sahut Yurika.
"Ma, ayo kita makan malam bersama! Sudah beberapa minggu ini mama tidak pernah lagi makan bersama denganku lagi di ruang makan." Kata Kia.
"Kau pergilah makan sendiri sana! Mama tidak lapar." Sahut Yurika.
"Ma, temani aku saja kalau mama tidak lapar." Pinta Kia.
"Kau sudah dewasa Kia, pergilah urus dirimu sendiri jangan bergantung pada mama terus." Kata Yurika sembari bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tengah menuju ke kamarnya.
Kia kembali berdecak kesal karena tidak mendapatkan perhatian lagi dari Yurika setelah pernikahan Ila.
"Apa sikap mama ada hubungannya dengan kepergian Ila dari rumah ini? Jika itu benar aku bersumpah akan membuat si babu itu menderita!" Ujar Kia sangat dendam pada Ila.
__ADS_1