
Galuh memperhatikan satu persatu pelayan yang berdiri berjejer dihadapannya. Galuh melangkah dan memperhatikan wajah mereka dengan seksama. Langkah Galuh terhenti pada saat ia melihat Sari yang berdiri dengan tubuh yang gemetar.
"Kau, orangnya!" Teriak Galuh seraya menjambak rambut Sari dan menghempaskan tubuhnya di lantai.
Sari tersungkur di lantai sambil gemetaran. Sedangkan Kia melihat kejadian itu dari lantai atas. Kia ketakutan dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Galuh mendekat pada Sari yang terlihat sangat gugup.
"Kau mendorong istriku!" Teriak Galuh lagi.
"Apa maksudmu, tuan? Aku tidak tau apa-apa!" Kata Sari mencoba untuk tidak mengakuinya.
"Dasar pelayan sialan kau! Beraninya kau mencoba untuk membunuh istriku, hah?" Teriak Galuh hendak menghajar Sari sangking kesalnya. Namun hal itu di halang oleh Didi agar Galuh tidak memukul wanita.
"Bos, dia hanya seorang wanita! Mohon agar kau tidak memukulinya." Kata Didi menjaga harga diri Galuh di depan orang lain.
"Hubungi polisi!" Teriak Galuh pada Didi.
Didi pun menghubungi polisi dengan segera. Sari semakin ketakutan karena polisi akan segera datang untuk menangkapnya. Sari berlari mendekati Galuh dan berlutut dihadapannya.
"Tuan, ampuni aku! Aku mohon, tuan!" Ucap Sari terus mencium kaki Galuh untuk memohon padanya.
"Menjauh dariku! Atau aku akan membunuhmu disini!" Bentak Galuh kepada Sari dengan penuh luapan amarah.
Sari terus memohon ampun kepada Galuh, namun hal itu tak dapat membuat hati Galuh luluh untuk memaafkan dirinya. Di dalam kamarnya, Kia mondar-mandir ketakutan sekaligus panik karena ia takut jika Sari akan membuka mulut dan menceritakan akan keterlibatan dirinya mencoba untuk menyakiti Ila.
Tak lama kemudian Kia mendengar suara sirine mobil polisi yang datang ke kediaman Yurika. Kia semakin ketakutan bahkan dia ingin sekali kabur dari rumah itu.
"Tidak! Aku tidak boleh kabur dari sini. Jika aku kabur itu akan membuat semua orang curiga kepadaku." Gumam Kia dalam hatinya.
Kia keluar dari kamar dan melihat polisi masuk ke dalam rumah dari lantai atas. Beberapa polisi berpakaian seragam lengkap menghampiri Galuh. Tampak di lantai bawah, Galuh sedang berbicara pada polisi sambil menunjukkan sebuah kamera yang dipegangnya. Polisi memperhatikan video yang terekam oleh kamera itu dengan seksama sambil sesekali melirik Sari yang sedang menangis.
"Tangkap wanita itu! Bawa dia ke kantor untuk di interogasi." Kata kepala polisi pada anak buahnya.
Tangan Sari di lipat kebelakang dan pergelangannya di borgol oleh polisi tersebut.
"Tolong jangan tangkap aku, pak!" Kata Sari terus menangis histeris.
Polisi hendak membawa Sari keluar dari rumah itu, namun Sari tiba-tiba berontak dan menatap Kia yang berada di lantai atas.
"Kia, kau juga bersalah! Kau yang menyuruhku untuk membunuh Ila!" Teriak Sari membuat semua orang menatap Kia.
Kia berusaha keras untuk menutupi rasa gugup dan paniknya.
"Nona, bisakah kau turun dan memberikan penjelasan mu pada kami?" Tanya kepala polisi pada Kia.
Kia berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri semua orang yang ada di lantai bawah.
"Pak, dia juga terlibat! Dia yang menyuruhku untuk menghabisi Ila!" Kata Sari lagi kepada polisi.
"Atas dasar apa kau menuduhku, hah? Apa kau sudah gila?" Ujar Kia marah kepada Sari dan tak mengakui keterlibatan dirinya.
"Dia pembohong, pak! Aku tidak tau apa-apa mengenai Ila." Kata Kia lagi.
"Kau yang pembohong, Kia!" Teriak Sari.
"Jika aku terlibat, apa kau punya buktinya, hah?" Teriak Kia pada Sari.
"Lebih baik kalian selesaikan semuanya di kantor polisi saja! Nona Kia, lebih baik kau ikut kami ke kantor polisi." Kata kepala polisi membawa serta Kia ke kantor polisi.
Galuh menatap Kia dengan penuh amarah. Ia tau kalau Kia memang sejak dulu sering melakukan tindakan yang akan menyakiti Ila. Galuh mendekati Kia dan berbisik padanya.
"Jika kau benar-benar sampai terlibat, aku akan menghabisimu, Kia!" Bisik Galuh mengancam Kia.
Kia menelan ludahnya dengan keras karena ancaman Galuh yang benar-benar marah padanya. Kia berjalan cepat mengikuti langkah para polisi yang memborgol Sari untuk membawanya ke kantor polisi.
Tiba di kantor polisi, Kia duduk dan memberikan keterangan kepada polisi dengan sikap yang tenang. Ia berusaha untuk tenang agar polisi tidak mencurigai dirinya. Sari berkali-kali berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya kepada polisi, kalau Kia terlibat dalam peristiwa yang membuat Ila belum sadarkan diri hingga sekarang.
Perdebatan antara Sari dan Kia terus terjadi di kantor polisi. Mereka berdua saling serang bahkan sempat terjadi aksi saling pukul antara mereka berdua.
Polisi benar-benar kewalahan menghadapi mereka berdua. Polisi menyelidiki kasus itu dari hasil rekaman di kamera itu. Sari terbukti bersalah dan di jebloskan ke dalam penjara, sedangkan Kia di bebaskan dengan syarat tidak boleh meninggalkan kota sebelum dirinya dinyatakan tidak bersalah atas keterlibatannya sesuai apa yang di katakan Sari.
Kia masih bisa bernafas lega saat polisi membebaskan dirinya karena tak cukup bukti untuk menangkapnya. Kia keluar dari kantor polisi dan sedang menunggu taksi untuk kembali kerumah. Galuh mendekati Kia lagi dan mencengkram lengannya dengan kasar.
"Aku tau kau pasti terlibat! Kali ini kau beruntung, Kia! Namun jangan berpikir aku akan berhenti untuk menyelidiki masalah ini. Aku akan terus mencari bukti bahwa kau memang terlibat dan disaat itu tiba aku akan menjebloskanmu ke dalam penjara bersama Sari, pelayanmu itu!" Kata Galuh menatap Kia dengan tajam.
Galuh melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkan Kia yang meringis kesakitan pada lengannya. Galuh pergi bersama Didi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ila. Kia tersenyum licik saat melihat mobil Galuh yang baru saja pergi dari kantor polisi itu.
"Sampai matipun kau berusaha, kau tidak akan memiliki bukti bahwa aku memang terlibat. Hehehe." Gumam Kia.
"Aku harap kau mati, Ila!" Gumam Kia lagi.
Taksi yang dipesan Kian pun tiba. Kia masuk ke dalam taksi dan kembali pulang kerumahnya.
__ADS_1
*****
Tiba dirumah sakit Galuh langsung menemui Ila yang belum sadarkan diri. Mendengar dari perkataan dokter yang memeriksanya, bahwa Ila sudah melewati masa kritisnya. Galuh menggenggam tangan Ila dengan erat sambil menatapnya.
"Imut, bangunlah! Aku mohon." Ucap Galuh pada Ila yang berbaring di atas ranjang pasien dengan mata yang terpejam.
"Aku sudah menemukan pelaku yang menyakitimu, sayang!" Ucap Galuh lagi.
Tak lama kemudian, Roni datang menghampiri Galuh yang sedari tadi menunggu Ila. Roni menepuk pundak sepupunya itu agar ia bisa mencoba untuk sabar. Tampak di luar ruangan pasien itu, Hamka, Syakir serta Ririn datang menjenguk Ila dengan perasaan yang juga khawatir. Mereka sudah menganggap Ila seperti adik mereka sendiri.
"Galuh, istirahatlah sebentar!" Kata Roni pada Galuh.
"Tidak! Aku mau disini untuk menunggunya bangun." Sahut Galuh.
"Aku ada disini! Aku akan bergantian menjaga Ila." Kata Roni lagi.
"Tidak! Aku tidak mau. Aku mau disini bersama Ila." Sahut Galuh keras kepala.
Saat sedang berusaha membujuk Galuh, tiba-tiba Roni mendengar suara keributan dari luar ruangan. Roni keluar dari ruangan itu dan melihat Hana menangis panik karena Yurika jatuh pingsan akibat kelelahan menunggu Ila dirumah sakit. Yurika pun di bawa keruang rawat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Beberapa menit kemudian Yurika tersadar dan menangis kembali saat ia mengingat kondisi Ila. Hana berkali-kali mencoba untuk menenangkannya.
"Yurika, lebih baik kau pulang saja! Aku akan mengantarmu." Kata Hana.
"Aku ingin menemani putriku, Hana." Sahut Yurika bersikeras.
"Tapi kondisimu tidak sehat. Kau kelelahan!" Kata Hana lagi.
Berulang kali Hana membujuk Yurika, namun Yurika tetap tak ingin meninggalkan Ila dirumah sakit itu. Yurika memutuskan untuk tetap tinggal dirumah sakit itu hingga Ila tersadar.
Semua menunggu di ruang tunggu pasien, kecuali Galuh yang terus duduk di samping ranjang tidur pasien menunggu Ila bangun. Pukul 1 dini hari, Galuh merasakan tangan Ila bergerak. Galuh tersentak kaget dan menatap wajah Ila yang tampak akan membuka matanya.
"Sayang." Panggil Galuh berupaya untuk membangunkan Ila.
Ila membuka matanya perlahan dan melirik pada Galuh yang tersenyum lebar padanya. Ila kembali menutup matnay sambil mengernyitkan dahinya. Ila juga memegang kepalanya yang masih di perban. Galuh keluar dari kamar itu dan mengatakan kalau Ila sudah sadar. Roni bergegas memanggil dokter saraf yang menangani Ila.
Dokter dan beberapa perawat memeriksa kembali kondisi Ila uang baru saja dadakan diri. Dokter mengatakan kalau kondisi Ila saat itu mulai stabil. Semua orang berucap syukur mendengar kabar baik itu.
Galuh cepat-cepat memberikan air minum kepada Ila. Setelah selesai minum, Ila melirik pada Galuh dan semua orang yang ada di sekelilingnya.
"Aku dimana? Dan siapa kalian?" Tanya Ila dengan nada yang masih lemah.
Semua orang terkejut saat mendengarkan perkataan Ila. Galuh terdiam dan menatap Ila dengan seksama.
"Dokter, apa yang terjadi? Mengapa putriku tidak mengenali kami semua?" Tanya Yurika panik.
Dokter kembali memeriksa kondisi Ila saat itu.
"Siapa namamu, nona?" Tanya dokter pada Ila.
"Aku....aku tidak tau." Saut Ila.
"Apa kau tidak mengenali orang-orang yang ada disekelilingmu?" Tanya dokter lagi.
Ila memperhatikan wajah semua orang satu persatu, lalu ia menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Ila, ini mama, nak!" Kata Yurika menggenggam tangan Ila.
"Mama?" Ucap Ila bingung.
Galuh mengepalkan tangannya sembari memejamkan matanya sejenak.
"Dokter, ada apa dengan istriku?" Tanya Galuh pada dokter yang menangani Ila.
"Tuan,silahkan ikut keruanganku!" Kata dokter pada Galuh.
Galuh dan Roni mengikuti dokter saraf itu masuk ke dalam ruangannya. Mereka duduk berhadapan dengan dokter tersebut.
"Tuan, aku sudah memastikan dari hasil pemeriksaanku terhadap kondisi istrimu. Akibat benturan keras yang ada di kepalanya itu mengganggu jaringan saraf yang ada di otaknya. Maka dari itu istri anda mengalami amnesia disosiatif. Dia lupa pada identitas dirinya dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya." Kata Dokter.
"Apa itu bisa disembuhkan?" Tanya Galuh.
"Kita harus melakukan beberapa terapi padanya untuk memulihkan ingatannya kembali. Namun hal itu tidak mudah, butuh proses yang lama dan juga kesabaran." Jawab dokter.
Galuh merasa frustasi mengetahui Ila mengalami amnesia akibat benturan keras di kepalanya.
Setelah berbicara dengan dokter, Galuh masuk kembali keruangan Ila dan melihat ila sedang tertidur dengan ditemani oleh Yurika.
"Dia sedang tidur." Bisik Yurika pada Galuh.
__ADS_1
"Apa dia mengenaliku, ma?" Tanya Galuh dengan raut wajah yang sedih.
"Galuh, bersabarlah! Tadi mama sudah mengatakan kalau kau adalah suaminya." Kata Yurika.
"Tapi dia tidak ingat aku kan, ma?" Sahut Galuh.
"Galuh, bukan hanya kau saja yang dia tidak ingat! Aku juga dan semua orang yang ada di sini satupun tidak ada yang dia ingat. Bersabarlah!" Kata Yurika menggenggam erat tangan menantunya itu.
"Iya! Mama istirahat saja. Aku akan menjaga Ila disini." Kata Galuh.
Yurika mengiyakan dan keluar dari kamar rawat Ila. Galuh duduk di samping Ila sambil terus menatapnya.
"Bagaimana ini? Bagaimana aku akan menjalaninya bersamamu, sedangkan kau tak mengingatku, Ila!" Gumam Galuh mengelus wajah Ila yang sedang tertidur pulas.
Keesokan paginya, Ila terbangun dan melihat sosok pria yang tak di kenalnya. Ia melihat Galuh yang tidur sambil duduk di sampingnya. Kak memperhatikan wajah Galuh dan menatapnya.
"Siapa dia? Apa dia yang dikatakan sebagai suamiku?" Gumam Ila dalam hatinya.
Galuh merubah posisi tidurnya dan menghadapkan wajahnya pada Ila. Ila kembali memperhatikan wajah Galuh yang terpampang jelas.
"Dia jelek!" Ucap Ila dalam hatinya tak menyukai Galuh.
Saat sedang memperhatikan, tiba-tiba Galuh terbangun dan melihat Ila yang sudah duduk di atas ranjang pasien.
"Imut! Kau sudah bangun, sayang?" Ucap Galuh pada Ila.
"Namaku Ila, buka imut!" Sahut Ila sewot.
Galuh mengingat kembali bahwa Ila sedang mengalami amnesia dan lupa pada dirinya.
"Iya, sayang. Namamu Ila." Kata Galuh hendak memegang tangan Ila.
"Jangan pegang-pegang!" Tukas Ila menepis tangan Galuh.
"Sayang, aku ini suamimu! Kita saling mencintai." Kata Galuh.
"Tapi, kau jelek! Aku tidak suka." Sahut Ila membuat Galuh bak tertimpa batu besar di atas kepalanya.
"Dia bilang aku jelek!" Gumam Galuh dalam hatinya.
Galuh berusaha untuk tersenyum kepada istrinya itu.
"Sayang, apa kau haus? Kau mau minum?" Tanya Galuh.
"Aku mau mama!" Sahut Ila.
"Mama yang mana? Mama Hana atau mama Yurika?" Tanya Galuh bingung.
"Dua-duanya!" Sahut Ila ngegas.
"Hah, baiklah! Akan aku panggilkan." Kata Galuh pasrah dengan kondisi Ila.
Galuh memanggil Hana dan juga Yurika untuk masuk ke dalam kamar Ila. Galuh duduk kembali di samping tempat tidur Ila. Hana dan Yurika mendekati Ila yang duduk sambil melirik ke arah Galuh. Ila memeluk Yurika dan juga Hana secara bergantian.
"Mama, aku mau pulang!" Kata Ila pada Yurika.
"Tapi kau belum sembuh, nak!" Sahut Yurika.
"Mama, aku gak mau dekat-dekat dengan pria itu!" Kata Ila sambil melirik Galuh.
"Sayang, dia itu suamimu! Jika kau keluar dari rumah sakit, kau akan ikut pulang bersamanya." Kata Yurika.
"Aku tidak mau, ma! Aku mau pulang sama mama saja!" Rengek Ila pada Yurika.
Galuh meneteskan air matanya bak air terjun yang sedang mengalir deras.
"Imutku! Kenapa kau tega melupakan aku? Huhuhuhu." Ucap Galuh nangis bombai.
Ila menatap Galuh yang sedang menangis membuatnya semakin tak suka pada Galuh. Ila kembali merengek pada Yurika dan juga Hana.
"Mama, pria itu gila! Dia bahkan menangis seperti itu. Aku tidak mau tinggal bersamanya." Kata Ila lagi.
"Ila, sebaiknya kau istirahat beberapa hari lagi dirumah sakit sampai dokter mengizinkanmu pulang. Setelah itu kau boleh memilih untuk pulang bersama siapa yang kau inginkan." Kata Hana.
"Iya, baiklah!" Sahut Ila.
Ila kembali melirik sewot pada Galuh yang masih menangis bombai karenanya.
"Imutku! Huhuhuhu." Ucap Galuh nangis.
"Namaku Ila, bukan imut!" Tukas Ila kembali ngegas.
Dari balik pintu, Roni terkekeh saat mendengar Ila tak menyukai Galuh sebagai suaminya. Roni kembali terkekeh saat mendengar tangisan Galuh yang sangat amat lebay.
__ADS_1