
Keesokan paginya, Galuh sarapan bersama dengan keluarganya. Saat sedang menemani sarapan, Ila tampak menggendong Gilang sambil memberikan susu yang di dalam botol plastik. Gilang tampak tenang sambil terus mengenyot empeng yang ada di botol susu itu.
"Cucu kakek anteng ya pagi-pagi begini!" Kata Antoni mengelus pipi Gilang dengan lembut.
"Iya, tidak seperti Galuh masih bayi! Pagi-pagi buta sudah membuat keributan." Sahut Hana mengingat masa kecil Galuh.
"Memangnya aku berbuat apa?" Tanya Galuh sambil mengunyah makanan.
"Waktu kau seusia Gilang, kau selalu saja nakal! Aku sudah menyusuimu saat itu, tapi kau masih saja berteriak menangis sehingga seisi rumah pusing mendengar suara tangisanmu!" Jawab Hana.
"Oh, jadi kak Galuh waktu masih bayi sudah nakal! Hehehe." Sahut Ila meledek suaminya itu.
"Biasalah! Namanya juga bayi laki-laki, ya nakal lah!" Ujar Galuh sewot.
"Hah, bukan hanya masih bayi saja! Saat dia berusia 5 tahun, dia bahkan hampir membakar rumah ini!" Kata Antoni.
"Benarkah?" Tanya Ila seakan tak percaya.
"Iya! Saat Galuh berusia 5 tahun, dia sangat penasaran dengan kembang api yang di simpan di dalam gudang. Dengan tingkah nakalnya itu dia mengambil beberapa kembang api dan memanggangnya di atas kompor. Semua pelayan ketakutan karena kembang api yang terbang kesana-kemari dan membakar kain gorden." Kata Hana menceritakan kenakalan Galuh saat kecil.
Ila terkekeh geli mendengar cerita Hana dan Antoni yang menceritakan kenalan Galuh saat masih kecil. Galuh menatap kesal pada Ila yang terus saja menertawai dirinya.
"Huh, kenapa malah menceritakan kenakalanku dulu sih? Menyebalkan!" Gerutu Galuh dengan wajah kesalnya itu.
Selesai sarapan, Galuh berangkat ke kantornya. Seperi biasanya Didi mengantarkan Galuh ke kantor setiap harinya. Tepat pukul 11 siang, Galuh memiliki janji dengan Hamka. Mereka akan menjalin sebuah bisnis yang menguntungkan untuk mereka. Saat sedang berdiskusi di ruang kantor itu, tiba-tiba perhatian Galuh dan Hamka tertuju pada Syakir yang baru saja datang.
"Nyengir mulu!" Kata Hamka pada Syakir.
"Iya dong! Aku kan sedang berbahagia." Sahut Syakir semakin tersenyum lebar.
"Dia sedang kasmaran dengan Kia, jadi gila seperti ini!" Sambung Galuh menunjuk Syakir yang duduk di hadapannya.
"Heemm, Kiki sayang!" Gumam Syakir dengan wajah yang memerah.
Galuh dan Hamka Sanya bisa tepok jidat melihat pria playboy yang insyaf gara-gara jatuh cinta pada gadis belia keturunan Jepang seperti Kia.
"Matanya yang sipit, bibirnya yang mungil, kulitnya yang putih! Heemmm, ai lopi yu (sengaja di plesetan tulisannya sama author)! Hehehe." Gumam Syakir lagi.
"Astaga! Dia semakin gila saja." Ujar Hamka melirik Syakir.
"Kapan kau akan menikah dengannya?" Tanya Galuh pada Syakir.
"Tahun depan! Dua bulan lagi aku akan bertunangan dengannya." Seru Syakir
__ADS_1
"Oh, begitu! Sepertinya aku akan terus melajang. Huhuhuhu." Sahut Hamka nangis histeris.
"Makanya jadi pria jangan terlalu banyak milih!" Ujar Syakir.
"Huh, aku kan hanya ingin mencari wanita yang mandiri dan lebih dewasa." Sahut Hamka.
"Kalau kau mau, nenek yang tinggal di sebelah rumahku masih single loh!" Kata Syakir mengolok-olok Hamka.
"Lebih dewasa bukan berarti nenek-nenek, begok!" Teriak Hamka kesal pada Syakir.
"Hei hei, jangan bertengkar di kantorku, woi!" Galuh ikut berteriak kesal pada kedua sahabatnya itu.
Tak lama kemudian, ponsel Syakir berdering. Ia segera menerima panggilan dari Kia. Hari itu Syakir memiliki janji untuk mengantar Kia pergi mendaftarkan diri ke salah satu universitas ternama di kotanya. Setelah menerima panggilan telepon itu, Syakir bergegas pergi.
"Kau mau kemana?" Tanya Galuh pada Syakir.
"Aku akan mengantar Kia untuk mendaftar di salah satu universitas." Sahut Syakir.
"Bukannya Kia akan menikah denganmu, tapi kenapa malah daftar kuliah?" Tanya Galuh.
"Apa salahnya? Pendidikan itu kan juga penting! Walaupun nanti sudah jadi istriku, Kia akan tetap mengecam pendidikan." Sahut Syakir.
"Apa kau tidak mengizinkan Ila untuk kuliah?" Tanya Syakir.
"Kenapa?" Tanya Hamka.
"Ila sudah memiliki Gilang, jadi dia tidak mungkin kuliah! Kalau dia sibuk dengan tugas kuliah, nanti bagaimana dengan aku dan Gilang?" Sahut Galuh.
"Hah, itu kan alasanmu saja! Sebenarnya kau takut Ila di gondol laki-laki yang ada di kampus kan? Akui sajalah!" Ujar Hamka dan Syakir tertawa geli.
"Huh, apa salahnya jika aku menjadi pria pencemburu!" Gerutu Galuh sewot.
Syakir dan Hamka terus menertawai Galuh yang menjadi pria pencemburu dan takut Ila akan direbut oleh orang lain. Setelah puas menertawai Galuh, kedua sahabatnya itu pun berlalu dari kantornya. Galuh kembali memikirkan mengenai Ila yang baru saja lulus SMA.
"Aku yakin Ila pasti ingin melanjutkan pendidikannya!" Gumam Galuh dalam hatinya.
Merasa sedikit gundah, Galuh memutuskan untuk pulang ke rumah untuk makan siang bersama keluarganya sekalian ia ingin bertemu dengan Gilang.
Tiba dirumah, Galuh langsung masuk ke dalam kamar Gilang. Ia melihat Ila dan Ratih menidurkan Gilang setelah kenyang minum susu. Galuh pun menatap anaknya itu dengan rasa gemas, namun saat ia melihat tubuh Ila yang semakin berisi membuatnya tak kalah gemas. Galuh menarik Ila untuk masuk ke kamar mereka. Di dalam kamar mereka, Galuh menatap Ila dari ujung kaki hingga ujung kepala yang membuat Ila bingung.
"Aku lihat dia semakin imut saja! Kalau dia aku izinkan kuliah, nanti pria-pria yang ada di kampus pasti akan menggodanya! Lalu Ila akan tergoda dengan mereka dan malah meninggalkan aku juga Gilang!" Gumam Galuh dalam hatinya.
"Kak, kau kenapa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Tanya Ila pada Galuh.
__ADS_1
Galuh bergeleng untuk menepis segala pikirannya yang kacau.
"Ila, apa kau ingin kuliah?" Tanya Galuh.
"Hah? Kuliah?" Ucap Ila terkejut.
"Apa kau mau kuliah?" Tanya Galuh lagi.
"Aku mau! Tapi bukannya kau tidak mengizinkannya!" Sahut Ila sedih.
"Baiklah! Aku mengizinkannya! Tapi ada syaratnya." Kata Galuh.
"Benarkah! Apa syaratnya?" Seru Ila antusias.
"Jangan dekat-dekat dengan mahasiswa di kampus!" Sahut Galuh membuat Ila menatap kesal padanya.
"Huh, dasar konyol!" Gerutu Ila.
"Aku ini cemburuan, tau!" Teriak Galuh kesal.
"Iya!" Sahut Ila.
"Oh iya, satu lagi! Jangan pakai pakaian yang akan membuatmu cantik ketika kau pergi kuliah! Apalagi pakai pakaian sexy, aku tidak akan mengizinkannya!" Kata Galuh tegas.
"Iya, kau tenang saja! Aku akan pakai karung goni saat pergi ke kampus nanti!" Sahut Ila asal bicara.
"Hahahaha, bagus! Kalau begitu tidak akan ada mahasiswa yang akan menatapmu nanti." Kata Galuh tertawa senang.
"Besok aku akan daftarkan kau di universitas yang sama dengan Kia." Kata Galuh.
"Memangnya kau sudah tau aku mau ambil jurusan apa?" Tanya Ila.
"Oh iya! Kau mau kuliah jurusan apa?" Tanya Galuh.
"Dokter!" Sahut Ila penuh harap.
"Dokter?" Ucap Galuh sambil menatap Ila.
"Sebenarnya itu cita-citaku sejak kecil! Aku ingin menjadi dokter anak. Karena menikah denganmu, aku pikir aku Tidak akan bisa menggapai cita-citaku itu!" Kata Ila lagi.
"Oh, imut! Sampai segitunya kau mengorbankan diriku untukku! Huhuhuhu. Aku makin cinta padamu!" Ucap Galuh terharu.
"Astaga! Lebay banget sih! Apa dia benar-benar pria dingin yang dulu aku kenal? Sungguh diluar dugaan." Gumam Ila menatap Galuh dengan tatapan aneh.
__ADS_1