
Beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Ila dan Galuh membawa putra mereka pulang ke rumah. Di kediaman orang tuanya, Galuh telah menyiapkan kamar untuk bayi mungilnya itu. Ia juga menyiapkan pengasuh bayi untuk membantu merawat bayinya.
Tiba dirumah, Ila meletakkan Gilang di sebuah tempat tidur bayi di dalam kamarnya. Galuh heran melihat tempat tidur bayi itu. Karena semula tempat tidur bayi itu berada di kamar yang telah disiapkan untuk Gilang. Galuh pun lantas mendekati Ila.
"Kenapa ada ranjang bayi disini? Bukankah seharusnya ranjang ini di kamarnya Gilang?" Tanya Galuh pada Ila.
"Aku yang meminta pelayan untuk meletakkan ranjang ini di kamar kita agar Gilang tetap bersamaku setiap saat." Sahut Ila.
"Tapi sayang, aku kan sudah menyiapkan kamar sendiri untuk Gilang. Lagipula pengasuhnya juga ada." Kata Galuh lagi.
"Gilang masih bayi! Jadi dia harus tetap bersamaku!" Ujar Ila sewot.
"Hah, setelah punya anak, dia semakin galak saja!" Gumam Galuh dalam hatinya menatap Ila yang sedang mengelus pipi Gilang.
"Bagaimana dengan nasibku, ya lord?" Gumam Galuh frustasi.
Hari-hari di jalani oleh Ila dengan penuh semangat sebagai ibu muda yang baru saja melahirkan bayinya. Ila tak pernah melepaskan pelukannya dari Gilang sedikitpun. Hana dan Antoni bahkan frustasi karena tak dapat menggendong Gilang lebih lama.
Dua Minggu kemudian, saat Ila akan menyusui bayinya ia merasa risau karena Gilang terus saja menangis. Hana dan pengasuh itu mendatangi Ila yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Ada apa dengan Gilang?" Tanya Hana pada Ila.
"Aku tak tau, ma! Dia terus saja menangis." Sahut Ila panik.
"Mungkin dia haus." Kata pengasuh Gilang yang bernama Ratih.
"Aku sudah menyusuinya, tapi sepertinya dia tidak puas." Sahut Ila lagi.
"Jangan-jangan ASI mu kering!" Kata Hana.
"Bagaimana ini, ma?" Tanya Ila semakin khawatir.
"Tidak usah khawatir, bila kau tak dapat menyusuinya kita berikan susu formula untuknya!" Kata Hana menggendong Gilang untuk menenangkannya.
Ratih melihat raut wajah Ila begitu sedih karena tak dapat menyusui Gilang lagi.
"Nona Ila jangan sedih! Hal itu biasa terjadi pada wanita." Kata Ratih yang memang sudah berpengalaman dalam mengasuh bayi.
"Iya!" Sahut Ila mengusap air matanya yang hendak jatuh dari sudut matanya.
Malam harinya, Galuh pulang sedikit terlambat. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu. Galuh masuk ke dalam rumah tanpa ada sambutan hangat dari istrinya. Ia juga mendapati rumah dalam keadaan sunyi.
"Kemana semua orang?" Pikir Galuh.
Galuh pun naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Ila yang sedang menangis sambil menatap bayinya yang sedang tertidur pulas. Galuh pun melihat sebuah botol susu yang ada di atas meja samping tempat tidur.
"Kau kenapa, imut?" Tanya Galuh.
"Aku tak bisa menyusui Gilang lagi!" Sahut Ila menangis.
"Eh, kenapa?" Tanya Galuh kaget.
"ASI ku tidak banyak! Gilang tak puas menyusu ASI ku!" Sahut Ila.
"Sudahlah! Tidak masalah." Kata Galuh mencoba untuk membuat Ila tak bersedih lagi.
"Huh, padahal aku ingin sekali menjadi seorang ibu yang baik untuk anak kita. Belum sampai sebulan, ASI ku malah kering." Ucap Ila kesal.
"Jangan bicara seperti itu! Kau sudah berusaha." Kata Galuh mengangkat wajah Ila untuk menatapnya.
__ADS_1
"Mungkin, asetmu hanya untuk diriku saja! Hehehehe." Kata Galuh lagi dengan pikiran mesumnya.
"Ih, kak Galuh mesum!" Pekik Ila.
"Cium dong! Kangen, tau!" Pinta Galuh pada Ila.
"Tidak mau!" Sahut Ila menolak.
"Eh, kenapa?" Tanya Galuh bingung.
"Aku baru saja melahirkan! Kata mama Hana, tidak boleh dekat-dekat Kaka Galuh, apalagi melakukan hal yang aneh-aneh!" Sahut Ila.
"Huh, dasar mama! Aku kan juga tau tidak boleh melakukannya! Masa cuma cium saja tidak boleh sih? Menyebalkan sekali!" Ujar Galuh kesal pada Hana dalam hatinya.
"Aku akan siapkan air mandi untukmu!" Kata Ila hendak melangkah ke kamar mandi.
"Sayang, apa kau sudah melihat hasil ujianmu? Kau bilang kemarin hari ini akan keluar!" Tanya Galuh yang mengingatkan Ila akan hasil ujian kelulusannya.
"Oh iya! Aku lupa! Karena memikirkan Gilang, aku sampai lupa." Sahut Ila.
"Nanti akan aku cek di internet, setelah menyiapkan air mandi untukmu." Sambung Ila lagi.
Ila melangkah cepat ke dalam kamar mandi, untuk menyiapkan air mandi untuk sang suami. Sementara Galuh masih menatap bahagia kepada bayi laki-laki yang anteng tidur di ranjang bayinya itu. Setelah selesai menyiapkan air mandi untuk Galuh, Ila meraih ponselnya dan mengecek hasil ujian kelulusannya. Di karenakan Ila mengambil ujian paket, maka hasil ujiannya sedikit lebih lama keluar.
Ila duduk di tepi ranjang sambil terus fokus pada ponselnya itu. Tak lama kemudian, Ila pun berteriak hingga suara teriakannya itu terdengar sampai ke dalam kamar mandi di saat Galuh sedang mandi. Galuh yang mendengar teriakan Ila langsung panik dan keluar dari kamar mandi dengan kondisi tubuh dan kepala berbalut busa sabun.
"Ada apa sayang?" Tanya Galuh panik mendekati Ila.
"Aku lulus!" Seru Ila kegirangan.
"Wah, benarkah?" Galuh pun berseru kegirangan.
"Iya!" Sahut Ila lagi.
"Kenapa kau keluar seperti itu?" Pekik Ila malu.
"Eh, aku lupa!" Seru Galuh berlari masuk ke dalam kamar mandi lagi.
"Hehehe, dia sexy juga jika seperti itu!" Gumam Ila terkekeh geli.
Ila kembali menatap layar ponselnya dan melihat namanya yang lulus dengan nilai terbaik. Tiba-tiba wajah Ila menjadi muram tatkala ia mengingat cita-cita yang tak dapat ia gapai. Ila meletakkan ponselnya, dan melangkah ke ranjang bayi. Ia menatap wajah Gilang yang tertidur pulas disana.
"Sudah takdirku seperti ini! Aku sudah memiliki kak Galuh dan juga Gilang! Biarlah cita-citaku, aku wujudkan kepada anakku nanti." Gumam Ila dalam hatinya.
Selesai mandi dan makan malam yang sedikit terlambat, Galuh dan Ila berbincang sebelum mereka tidur. Galuh melihat raut wajah Ila yang tampak sedih malam itu.
"Kau kenapa lagi, sayang?" Tanya Galuh mengelus wajah Ila dengan lembut.
"Tidak kenapa-kenapa!" Sahut Ila.
"Jangan bohong! Ayo katakan, ada apa?" Tanya Galuh lagi.
"Tidak ada apa-apa, sayang! Aku hanya sedikit lelah saja!" Sahut Ila.
"Aku kan sudah membayar pengasuh untuk membantumu! Makanya Gilang tidur di kamarnya saja." Kata Galuh.
"Tidak! Dia masih terlalu kecil. Biarkan saja dia tidur bersama kita disini." Pinta Ila.
"Ya sudahlah!" Sahut Galuh.
__ADS_1
"Sekarang istirahatlah!" Kata Galuh mendekap seraya mencium kepala Ila dengan lembut.
Ila pun memejamkan kedua matanya untuk segera terlelap. Beberapa menit kemudian, Ila kembali membuka matanya karena mendengar tangisan Gilang. Ila langsung turun dari ranjang dan menggendong Gilang.
"Oh, anak mami haus ya!" Ucap Ila.
"Ila! Ada apa dengan Gilang?" Tanya Hana yang siap siaga selama menjadi nenek.
"Tidak apa, ma! Dia hanya haus saja." Sahut Ila dari balik pintu kamar.
"Buka pintunya sebentar!" Kata Hana dan Ila pun membukanya.
"Oh, cucuku sayang! Sini nenek gendong." Kata Hana mengambil Gilang dari dekapan Ila.
Sebagai pengasuh, Ratih pun datang ke kamar Ila dengan membawa sebotol susu hangat untuk Gilang.
"Nona, biarkan Gilang tidur bersamaku saja di kamar sebelah! Kelihatannya nona Ila begitu lelah." Kata Ratih yang sangat pengertian kepada majikannya itu.
"Iya, sayang! Kau juga butuh istirahat!" Kata Hana menimpali.
"Tapi ma...
"Sudah! Tidak apa-apa. Mulai sekarang, Gilang akan tidur di kamarnya bersama Ratih." Kata Hana pada menantunya itu.
"Ila, Galuh juga butuh perhatian loh! Hehehehe." Bisik Hana membuat Ila malu.
"Tapi mama bilang tidak boleh dekat-dekat kak Galuh!" Sahut Ila sewot.
"Iya, tapi bukan berarti kau tidak memperhatikan dirinya." Kata Hana yang memberikan Gilang pada Ratih.
"Iya, baiklah!" Sahut Ila.
Hana melirik Galuh yang nyengir senang padanya.
"Hehehe, mama hebat!" Seru Galuh senang.
"Hei, bukan berarti kau bisa sesuka hatimu pada Ila!" Ujar Hana pada putranya.
"Huh, aku juga mengerti ma!" Sahut Galuh.
"Setelah selesai masa nifas, kau juga tidak boleh menindas Ila!" Kata Hana melarang Galuh untuk jaga jarak pada Ila.
"Eh, kenapa?" Tanya Galuh.
"Jaga jarak kelahiran antara Gilang dengan adiknya nanti!" Kata Hana.
"Adiknya Gilang?" Gumam Ila bingung.
"Iya! Gilang harus memiliki adik yang banyak!" Sahut Galuh yang berkata seenak jidatnya saja.
"Huh, aku masih trauma melahirkan kemarin! Dia malah menyuruhku hamil lagi. Dasar kejam!" Gumam Ila dalam hatinya kesal pada Galuh.
Ratih yang masih ada di kamar itu hanya bisa tersenyum geli melihat para majikannya membicarakan rencana anak yang selanjutnya.
"Hah, usia Gilang belum genap sebulan, mereka malah bicara mengenai anak yang selanjutnya! Hehehe, kasihan amat nona Ila!" Gumam Ratih terkekeh geli sambil membawa Gilang untuk tidur di kamar sebelah dengannya.
__ADS_1