
Tak lama berselang masuklah Roni si dokter kandungan yang akan menangani proses kelahiran anak pertama Galuh. Roni tampak sudah siap dengan sarung tangan karet yang menutupi tanganya. Galuh kaget saat Roni menyuruh kepada perawat untuk segera membuka lebar kaki Ila.
"Hei, apa yang kau lakukan, hah?" Tanya Galuh pada sepupunya itu.
"Membantu proses persalinan!" Sahut Roni.
"Apa kau akan melihat....
"Tentu saja, dodol!" Sahut Roni sewot.
"Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya." Teriak Galuh berusaha untuk menghalangi Roni.
"Apaan sih, manusia gila ini!" Ujar Roni kesal pada tindakan Galuh.
"Aaaarrgggghhhh!" Teriak Ila merasakan kontraksi pada perutnya.
Perhatian Roni kembali pada Ila yang akan segera mengeluarkan bayinya. Saat Roni akan berhadapan dengan kaki Ila yang sudah terbuka lebar, Galuh kembali menghalanginya.
"Apakah disini tidak ada dokter kandungan wanita, hah?" Teriak Galuh di ruang bersalin itu.
Perawat yang ada di dalam ruangan itu pun menggeleng menanggapi teriakan Galuh. Roni tersenyum lebar ketika Galuh tau bahwa dialah satu-satunya dokter kandungan dirumah sakit itu.
"Aaaarrggghhh!" Teriak Ila lagi.
"Minggir kau, Galuh!" Teriak Roni mendorong tubuh Galuh yang sedang menghalanginya.
"Ila, ikuti perintahku ya!" Kata Roni yang sudah berhadapan dengan kaki Ila yang terbuka lebar.
"Tarik nafas.....dorong!" Kata Roni memberikan intruksi pada Ila. Namun seketika pandangan Roni menjadi gelap gulita. Roni panik saat merasakan ada yang menutup kedua matanya yang ternyata adalah tangan Galuh.
"Ada apa ini?" Teriak Roni panik.
"Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya!" Teriak Galuh yang sudah naik ke atas punggung Roni sambil menutupi kedua mata Roni dengan tanganya.
"Jangan tutup mataku, bodoh!" Teriak Roni pada Galuh.
"Aaaarrggghhhhh!" Teriak Ila lagi kesakitan.
"Galuh, apa kau sudah gila, hah? Kalau kau menutup mataku, bagaimana aku akan membantu Ila untuk segera melahirkan bayinya?" Teriak Roni begitu kesal pada sepupunya itu.
Galuh turun dari punggung Roni dan menarik perawat wanita yang sedang membantu Roni di dalam ruang bersalin itu.
"Hei, kau saja yang membantu proses persalinan istriku!" Kata Galuh pada perawat itu.
"Ini bukan tugasku, tuan." Sahut perawat itu kebingungan.
__ADS_1
"Dasar Galuh, bodoh!" Teriak Roni semakin kesal.
"Aaaarrgghhhh! Kenapa kalian malah bertengkar? Dasar bodoh!" Teriak Ila yang terus menahan rasa sakit ketika kontraksi.
"Imut!" Ucap Galuh segera menatap pada Ila yang sedang kesakitan.
"Tidak ada jalan lain, aku harus segera menyingkirkan si kampret ini terlebih dahulu agar aku bisa leluasa membantu proses persalinan ini!" Gumam Roni dalam hatinya.
Dengan bantuan ketiga perawat yang ada diruang bersalin itu, Roni akhirnya berhasil membuat Galuh tak dapat bergerak di salah satu kursi yang ada disana. Mereka mengikat kaki dan tangan Galuh dengan kain perban pada sebuah kursi. Mereka juga menyumpalkan kain perban pada mulut Galuh agar ia tak bisa berteriak. Roni kembali memusatkan perhatian kepada Ila yang akan segera melahirkan bayinya.
"Tarik nafas...., dorong!" Ucap Roni pada Ila.
Ketiga perawat itu juga memberikan semangat kepada Ila agar dapat mengeluarkan bayinya dengan selamat. Sementara Galuh hanya bisa berusaha untuk berontak dan melihat proses persalinan istrinya dengan bantuan Roni sebagai dokter kandungannya.
Selang beberapa menit kemudian, tangisan suara bayi pecah di ruang bersalin itu. Galuh yang masih terikat kuta pada kain perban, berhenti berontak seketika ia mendengar tangisan putra pertamanya. Galuh melihat putranya dalam genggaman Roni yang masih berlumuran darah. Roni membawa bayi tersebut untuk mendekat pada Galuh.
"Hei, nak! Lihatlah ayahmu yang bodoh ini! Hehehe." Ucap Roni pada bayi yang menjadi keponakannya itu kepada Galuh.
"Eeemmm.....eeemmm....eeemmmm!" Terdengar Galuh kembali berontak ingin segera terlepas dan mendekap putranya tersebut.
Roni menjauhkan bayi yang belum memiliki nama itu menjauh dari ayahnya. Roni memberikan bayi tersebut kepada perawat untuk segera di bersihkan. Setelah itu Roni kembali pada Ila yang tampak merasa lega setelah melahirkan bayinya.
Di luar ruangan bersalin itu, semua anggota keluarga menunggu dengan perasaan yang begitu antusias. Mereka ingin segera melihat bayi mungil yang suara tangisanya terdengar begitu keras. Tak lama kemudian, Roni keluar dari ruangan bersalin itu.
"Bagaimana dengan keadaan Ila?" Seru Hana dan juga Yurika pada Roni.
"Dia baik-baik saja!" Sahut Roni.
"Bagaimana dengan cucu kami?" Seru Hana dan Yurika antusias.
"Bayinya laki-laki! Tapi sayangnya.....
"Kenapa? Ada apa dengan cucuku?" Tanya Antoni panik sekaligus khawatir.
"Sayangnya dia mirip sekali dengan Galuh, jadi dia tidak tampan! Hehehe." Sahut Roni yang memancing amukan dari Antoni dan juga Hana.
Ppppplleeettaakkk.............
"Dasar bodoh! Kau membuat kami takut saja." Ujar Hana setelah menghantam keponakannya itu.
"Hah, aku kan hanya bercanda saja, tante!" Sahut Roni mewek sambil mengusap kepalanya yang benjol.
Perawatpun keluar sambil menggendong bayi mungil itu. Hana, Yurika dan Antoni segera melihat cucu pertama mereka dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Oh, dia begitu tampan!" Seru Hana dan Yurika terharu melihat cucu pertama mereka.
"Cucuku! Huhuhuhuhu." Seru Antoni nangis bombai sangking terharunya.
"Aku juga ingin melihat keponakanku!" Seru Kia yang baru saja tiba bersama Syakir.
"Wah, dia begitu menggemaskan!" Seru Kia melihat bayi mungil yang belum diberi nama itu.
"Eh, dimana Galuh?" Tanya Syakir celingak-celinguk mencari keberadaan Galuh.
"Mampus! Aku lupa!" Ujar Roni segera berlari masuk kembali ke dalam ruang bersalin untuk menemui Galuh yang masih terikat kuat pada kursi.
Galuh menatap Roni dengan begitu kesal.
"Hehehe, aku lupa!" Ucap Roni cengengesan sambil melepaskan ikatan perban pada kaki dan tangan Galuh.
Setelah terlepas, Galuh langsung menendang Roni dengan kesal.
"Aduh! Dasar kampret kau!" Umpat Roni berteriak kesakitan karena tersungkur di lantai. Sedangkan Galuh enggan untuk menanggapi teriakan Roni dan langsung menemui Ila yang sudah selesai di tangani oleh perawat.
"Sayang, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Galuh dengan linangan air matanya pada Ila.
"Tidak, kak! Aku baik-baik saja!" Sahut Ila.
"Imutku!" Ucap Galuh memeluk Ila dengan erat karena tak tega mengingat Ila berjuang mati-matian untuk melahirkan bayi mereka.
"Huh, dasar lebai!" Ujar Roni terhadap Galuh.
"Bodo amat!" Sahut Galuh terus menangis lebai sambil memeluk Ila yang berbaring santai di atas ranjang ruang bersalin.
"Siapa nama bayi kalian?" Tanya Roni pada Ila dan juga Galuh.
"Gilang!" Seru Ila dan Galuh.
"Heeemmmm, nama yang bagus!" Ucap Roni.
"Baiklah Ila, sekarang kau akan di bawa ke ruang rawat." Kata Roni lagi.
Tengah malam, Galuh tak bisa terpejam sedikitpun. Ia begitu gelisah menunggu fajar untuk segera mendekap putranya yang berada di dalam ruangan bayi. Galuh yang duduk di sofa, melangkah mendekati Ila yang sudah terlelap di ranjang rumah sakit. Ia menatap wajah Ila yang kini sudah menjadi seorang ibu di usianya yang masih begitu muda.
"Terima kasih sayang! Usiamu bahkan belum mencapai 19 tahun, tapi kau sudah menjadi ibu sekarang." Ucap Galuh seraya mencium kening Ila dengan lembut.
Galuh kembali mengingat awal mula saat ia bertemu dengan Ila untuk pertama kalinya. Saat itu Ila masih berusia 10 tahun yang hampir saja tertabrak oleh mobilnya di tengah jalan. Mereka kembali bertemu setelah Ila beranjak menjadi gadis remaja SMA yang lugu di salah satu gedung bioskop dan membuat mereka berselisih paham hanya gara-gara masalah popcorn. Sehingga Tuhan menyatukan mereka dalam sebuah perjodohan yang awalanya mereka sama-sama menolak untuk dinikahkan.
"Dan sekarang dia menjadi wanita yang begitu aku cintai dalam hidupku!" Ucap Galuh dalam hatinya menatap wajah Ila yang begitu polos ketika terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1