GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
MENYERAHKAN DIRI


__ADS_3

Ila kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Malam itu Ila sangat lelah karena begitu antusias berbelanja di mall bersama Galuh. Ila masuk dan melihat Galuh sudah terlelap di atas ranjang. Saat Ila akan berbaring, ia mendengar suara dengkuran yang keras dari mulut Galuh. Seketika wajah Ila sewot melihatnya.


"Dengkurannya begitu keras! Aku pasti tidak akan bisa tidur malam ini." Gumam Ila sambil melirik ke arah Galuh.


Ila menatap wajah Galuh yang tertidur dengan pulas saat itu. Ila mendekatkan wajahnya ke wajah Galuh. Ia memperhatikan wajah Galuh yang terlihat tampan dalam posisi tertidur nyenyak.


"Kalau di lihat-lihat ternyata dia tampan juga! Hidungnya mancung dan bibirnya tipis." Ucap Ila dalam hatinya.


"Bibirnya tipis! Huh, pantas saja dia begitu cerewet." Gumam Ila seketika kesal kala mengingat Galuh sering ngomel-ngomel padanya.


Ila menatap wajah Galuh lagi dari jarak yang sangat dekat.


"Cium saja jika kau mau! Aku akan senang." Ucap Galuh secara tiba-tiba membuat Ila melompat kaget.


Ila melihat Galuh mengintip sedikit.


"Tidak jadi cium nih?" Tanya Galuh yang ternyata berpura-pura tidur.


"Dasar gila! Mengagetkan aku saja." Ujar Ila kesal.


"Hehehe, tadi kau mau menciumku, kan?" Tanya Galuh menggoda Ila.


"Huh, percaya diri sekali kau! Aku hanya ingin mengusir nyamuk yang hinggap di pipimu." Sahut Ila berdalih dengan wajah yang memerah.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku berhasil mengusir nyamuk itu! Jika tidak kau pasti akan terserang penyakit malaria nanti." Sambung Ila lagi.


"Benarkah? Aku bukannya akan terserang penyakit malaria, tapi malarindu! Hehehe." Sahut Galuh langsung menyerang Ila hingga berada di bawahnya.


"Kau...kau mau apa?" Tanya Ila gugup.


"Melakukan permainan yang seru seperti kemarin!" Sahut Galuh terkekeh mesum.


Ila mengingat kembali permainan yang dilakukan Galuh kepadanya kemarin malam. Galuh begitu bersemangat sehingga pinggang Ila merasa pegal-pegal setelah melakukannya. Ila berdegup ngeri saat menatap Galuh yang kini berada di atasnya.


"Apa kau tidak kasihan padaku? Pinggangku masih pegal!" Ucap Ila memberikan tampang yang membuat Galuh seakan tak tega untuk menindasnya malam itu.


"Oh, imutku yang manis! Wajahmu sangat imut jika seperti itu." Kata Galuh serasa gemas melihat tampang Ila.


"Wajahmu imut sekali seperti anak kucing yang minta di kasihani." Sambung Galuh lagi.


Galuh berguling dan berbaring di samping Ila.


"Baiklah! Malam ini kau ku lepaskan karena besok pagi kita akan melakukan perjalanan jauh. Kita akan berlibur ke villa berdua saja." Kata Galuh.


"Eh, bukannya kita akan berlibur bersama mama Hana dan papa Antoni?" Tanya Ila.


"Tidak! Mereka tidak jadi ikut karena aku melarangnya." Sahut Galuh.


"Kenapa kau melarang mereka ikut bersama kita?" Tanya Ila kesal.


"Karena aku ingin kau segera hamil! Jadi kita akan liburan di villa untuk membuat bayi tanpa ada gangguan dari siapapun. Hehehe." Sahut Galuh sudah merencanakannya dengan matang dan sempurna.


"Dia sudah merencanakannya jauh-jauh hari." Gumam Ila dalam hatinya.


Keesokan paginya setelah selesai sarapan bersama, Galuh menyeret Ila yang enggan pergi berlibur di villa karena alasan Galuh yang membuatnya takut. Galuh melemparkan tubuh Ila masuk ke dalam mobil dan menguncinya di dalam. Sementara Galuh pamit kepada Yurika yang mengantarkan mereka pergi di depan teras rumah. Galuh masuk ke dalam mobil dan tancap gas. Yurika melihat Ila panik dan meringis dari kaca pintu mobil.


"Semoga ada kabar baik setelah kalian berlibur di villa nanti!" Gumam Yurika yang juga menginginkan cucu.


Yurika masuk ke dalam rumah dan tak sengaja mendengar tangisan Kia yang terdengar dari arah dapur. Yurika mempercepat langkahnya dan berdiri di balik tembok yang tak jauh dari rumah dapur itu. Ia mendengar semua perkataan Kia yang meminta maaf pada semua pelayan yang ada dirumah itu.


"Aku minta maaf karena aku selalu kasar kepada kalian semua! Jika kalian membenciku seumur hidup, aku juga akan menerimanya." Ucap Kia kepada seluruh pelayan yang ada dirumah itu.


"Nona, kami juga menyayangimu sama seperti nona Ila! Hanya saja kami takut untuk mendekatimu." Sahut para pelayan itu kepada Kia yang terlihat menangis dan menyesali perbuatannya dulu.


"Be...benarkah kalian menyayangi aku?" Tanya Kia sedikit terkejut.


"Iya, nona! Kami semua sayang padamu." Sahut mereka.


"Nona jangan menangis lagi!" Kata pelayan lainnya.


"Terima kasih kalian telah memaafkan aku! Kalau begitu aku berangkat ke sekolah dulu." Kata Kia seraya berbalik hendak pergi.


Langkah Kia terhenti saat ia melihat Yurika yang tersenyum padanya. Yurika mengelus wajahnya dengan lembut dan mengusap sisa air matanya.


"Bergegaslah ke sekolah, nanti kau akan terlambat." Kata Yurika.

__ADS_1


"Hari ini hari sabtu, bel sekolah lebih lambat dari biasanya." Sahut Kia.


"Aku pergi ya ma! Mama jaga diri baik-baik ya dirumah." Kata Kia lagi.


Yurika sedikit merasakan keanehan saat Kia mengatakan hal itu padanya. Yurika merasa seakan-akan Kia tidak kembali lagi ke rumah itu. Namun Yurika menepis pikiran negatifnya itu. Ia menatap Kia yang bergegas masuk ke dalam mobil yang biasa mengantarnya ke sekolah.


Setibanya di sekolah, Kia berselisih jalan dengan Sandi yang akan menuju ke dalam kelasnya. Sandi melihat Kia yang tak mau menoleh apalagi menyapanya pagi itu. Perasaan yang tak biasa itu membuat Sandi kebingungan atas sikap Kia yang berubah dingin padanya. Sandi menoleh kepada Kia yang berjalan lurus dan seakan tidak melihatnya.


"Akhir-akhir ini aku merasa Kia menghindar dariku! Ada apa ya?" Gumam Sandi penasaran.


Di dalam kelas, Sandi melirik Kia yang tampak tenang dan juga tak berkata sepatah katapun dari tadi. Hingga jam istirahat pun Sandi melihat Kia duduk menyendiri di bawah pohon yang ada di halaman sekolah. Sandi sangat penasaran dengan sikap Kia berubah drastis. Sandi pun memutuskan untuk mendekati Kia saat itu.


"Sedang apa kau menyendiri disini?" Sapa Sandi pada Kia.


"Eemm, tidak ada! Aku hanya ingin duduk saja." Sahut Kia.


"Kia, apa kau ada masalah?" Tanya Sandi.


"Tidak!" Sahut Kia singkat.


Kia berdiri dan hendak pergi.


"Maaf, aku akan kembali ke kelas dulu!" Kata Kia pada Sandi.


"Kia, tunggu! Kenapa kau menghindarimu?" Tanya Sandi meraih tangan Kia untuk menahannya agar tidak pergi.


"Aku...aku tidak menghindarimu! Aku hanya akan masuk ke dalam kelas. Ada tugas yang belum aku selesaikan." Sahut Kia beralasan.


"Sejak kapan kau perduli dengan tugas sekolah? Setahuku kau termasuk siswi yang tidak perduli dengan pelajaran." Kata Sandi.


"Sebentar lagi kita akan menghadapi ujian kelulusan, jadi aku harus belajar dengan giat." Kata Kia berupaya melepaskan tangannya dari genggaman Sandi.


Tangannya sudah terlepas, Kia cepat-cepat berlari untuk menghindar dari Sandi, sosok pria yang ia sukai itu. Sandi menatap Kia yang terus berlari menjauhinya. Seakan ada perasaan yang membuat hatinya terenyuh saat melihat Kia.


"Kenapa aku harus peduli padanya?" Gumam Sandi menepis segala perasaan khawatir terhadap Kia.


Di dalam kelas sekali lagi, Sandi melirik Kia yang tampak terlihat sedih. Rasa penasaran kembali menyeruak dipikiran Sandi saat itu.


Pulang sekolah, Kia menyuruh supir pribadinya itu kembali ke rumah tanpanya. Kia beralasan akan pergi bermain dengan teman-temannya. Sang supir pun pergi tanpa membawa Kia kembali ke rumah. Setelah melihat supirnya pergi, Kia berjalan sendirian keluar dari lingkungan sekolah. Sandi melihat Kia jalan sendirian di tepi jalan. Sandi pun mencegat Kia.


"Kia, kau mau kemana?" Tanya Sandi.


"Kau bohong padaku! Aku melihatmu menyuruh supirku pergi tadi." Kata Sandi.


"Lalu kau mau apa lagi? Kenapa kau selalu saja mendekatiku ketika aku sedang berusaha keras untuk melupakanmu?" Teriak Kia kesal.


"Apa?" Ucap Sandi terkejut.


"Pergilah menjauh dariku seperti biasa yang kau lakukan padaku dulu! Kau hanya menyukai Ila saja kan? Kau bahkan tidak pernah melihat kegigihan ku untuk mendekatimu dulu." Kata Kia lagi penuh dengan kekecewaan terhadap sikap Sandi selama ini padanya.


"Semua orang hanya menyukai Ila karena sikap baiknya! Karena itu aku merasa iri padanya dulu, tanpa aku sadari sebenarnya Ila juga baik padaku. Aku menyesal karena dulu tidak memiliki hubungan baik dengan Ila. Sekarang aku sadar, sikap iri dan dengki hanya akan membuatku mengalami banyak masalah." Sambung Kia berusaha tegar tak menangis di hadapan Sandi.


Kia melanjutkan langkahnya lagi untuk menjaga dari Sandi yang masih terdiam dan terpaku setelah mendengar perkataan Kia barusan. Sandi mengerti kalau Kia mengalami rasa kekecewaan yang luar biasa terhadap dirinya. Kia berjalan terus dengan perasaan yang begitu terasa sakit di hatinya. Bagaimana tidak, Sandi adalah cinta pertamanya, dan sekarang ia harus merasa kecewa karena cinta pertamanya itu hanya bertelur sebelah tangan.


Beberapa menit berjalan kaki, Kia tiba di depan kantor polisi dimana dia berniat untuk menyerahkan dirinya atas perbuatannya kepada Ila sampai Ila mengalami amnesia. Kia tampak bergetar saat akan masuk ke dalam kantor polisi itu. Sandi masih mengikutinya, ia melihat Kia berjalan perlahan masuk ke dalam kantor polisi.


"Mau apa dia kesana?" Gumam Sandi dalam hatinya.


Hampir dua jam lamanya, Sandi menunggu Kia di depan kantor polisi itu. Namun selama itu juga ia tak melihat Kia keluar dari kantor polisi tersebut.


"Ah, sudahlah!" Gumam Sandi pergi dari kantor polisi itu.


Di dalam kantor polisi, Kia sedang di interogasi oleh beberapa polisi di sana. Ia di tetapkan menjadi tersangka setelah polisi mendapat keterangan darinya yang menyerahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang ia perbuat. Kia pun ditahan oleh polisi dan di masukkan ke dalam sel yang ada di sana sebelum ia menjalani persidangan.


"Kami akan menghubungi keluargamu!" Kata polisi pada Kia.


"Tidak usah, pak! Jangan hubungi keluarga saya. Aku tidak ingin membuat keluargaku kesusahan karena perbuatanku ini." Sahut Kia mencoba untuk memohon pada polisi agar tidak menghubungi keluarganya.


Polisi berlalu begitu saja meninggalkan Kia yang sudah masuk ke dalam ruang sel tahanan.


 


*****


Di villa Ila begitu senang dengan suasana tenang dan nyaman disana. Ila yang lupa kalau dia pernah ke villa tersebut, berlarian kesana-kemari untuk melihat setiap sudut villa itu. Ila berhenti dan duduk di sekitar halaman belakang villa yang begitu teduh karena banyak pepohonan disana.

__ADS_1


"Apa kau sudah puas berlarian, Ila?" Tanya Galuh yang lelah mengejarnya.


"Wah, villanya bagus!" Seru Ila kegirangan.


"Lebih bagus lagi pada saat malam hari." Kata Galuh mencoba untuk mengelabui Ila.


"Benarkah? Memangnya kalau malam hari ada apa di villa ini?" Tanya Ila.


"Tidak ada yang spesial sih! Namun kalau malam hari udaranya terasa sejuk dan bagus untuk membuat bayi sepanjang malam!" Bisik Galuh pada telinga Ila.


"Dasar mesum!" Teriak Ila kesal.


Ila berlari untuk menjauhi Galuh. Saat itu Ila tak memperhatikan langkah kakinya. Ia tersandung oleh batu yang ada di halaman belakang itu. Ia terjatuh dan kepalanya terbentur dengan dinding gazebo. Ila merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya sebelum ia pingsan.


Galuh panik bukan kepalang, saat melihat Ila pingsan di hadapannya. Galuh segera membawa Ila ke dalam kamar dan memanggil bibi Leni yang berkerja di villa itu. Mereka berdua berupaya untuk menyadarkan Ila yang masih pingsan di atas ranjang. Bibi Leni membersihkan luka yang ada di dahi Ila akibat benturan yang begitu keras ketika ia jatuh.


Selang beberapa menit Ila sadar dan membuka matanya. Ila menatap wajah Galuh yang begitu panik saat itu.


"Kak, apa yang terjadi?" Ucap Ila dengan suara lirih sambil meringis kesakitan memegang luka di dahinya.


"Imut! Kau sudah sadar?" Kata Galuh terharu.


"Apa yang terjadi? Kenapa kita berada di villa?" Tanya Ila.


"Kita sedang liburan dan tadi saat kau sedang berlari kau tersandung dan jatuh pingsan." Sahut Galuh.


Tiba-tiba Ila melebarkan matanya dan terduduk di atas ranjang.


"Kamera!" Ucap Ila teringat pada beberapa kamera yang ia letakkan di rumah Yurika.


"Apa? Kau bilang apa tadi? Kamera?" Tanya Galuh.


"Iya! Aku membeli 5 buah kamera untuk mengetahui kejahatan Sari. Aku harus mengambil kamera itu." Kata Ila.


Galuh semakin terharu mengetahui kalau Ila sudah tidak amnesia lagi. Ila kembali mengingat semua yang ia lakukan sebelum ia mengalami amnesia.


"Imut! Akhirnya kau kembali ingat semuanya." Ucap Galuh memeluk Ila.


"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Ila.


"Kau jatuh dari tangga dan kau mengalami amnesia! Kau bahkan tidak ingat padaku. Huhuhuhu...hari itu adalah hari yang sedih untukku!" Sahut Galuh sedikit menangis lebay.


"Benarkah?" Tanya Ila seakan tak percaya.


"Iya! Kau bilang aku jelek dan membenciku. Kau juga tidak mau pulang bersamaku ke apartemen, jadi sekarang kita tinggal dirumah mama Yurika. Lalu kau...


"Maafkan aku, sayang!" Ucap Ila mengelus wajah Galuh dengan lembut.


Bibi Leni mundur teratur dan keluar dari kamar itu meninggalkan Ila dan Galuh hanya berdua saja.


Ila meraih wajah Galuh untuk mendekat padanya. Ila memberikan ciuman hangatnya pada bibir Galuh. Tentu saja Galuh membalas ciuman itu.


"Apa kau sedang berusaha untuk memperbaiki kesalahanmu padaku, Ila?" Bisik Galuh pada Ila.


"Iya!" Sahut Ila menatap Galuh.


"Kau mau melakukannya lagi?" Bisik Galuh lagi.


"Iya!" Sahut Ila begitu menggoda Galuh.


"Baiklah! Ayo mulai." Seru Galuh segera menyerang Ila.


Sepasang suami istri itu pun bergelayut mesra di atas ranjang villa itu. Saat sedang melakukan pemanasan, tiba-tiba saja Ila mendorong tubuh Galuh dengan kuat.


"Kamera!" Teriak Ila teringat kembali dengan kamera yang ia letakkan di rumah Yurika.


"Sudah aku ambil, sayang!" Sahut Galuh kembali menciumi tubuh Ila.


"Berapa kamera?" Tanya Ila.


"Empat!" Sahut Galuh.


"Aku meletakkan lima kamera disana!" Terima Ila lagi.


"Benarkah?" Tanya Galuh.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Sambung Galuh dengan panik.


Ila dan Galuh tidak jadi melakukan adegan panas di ranjang villa itu. Mereka bergegas kembali ke kediaman Yurika untuk mengambil kamera yang masih tersisa disana.


__ADS_2