GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
TERKEJUT


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Galuh dan teman-temannya menyiapkan pesta kejutan untuk ulang tahun Ila yang ke 18 tahun. Pesta itu akan di adakan di apartemennya. Untuk mengakali Ila, Galuh menyuruh Fiqri dan juga Eri mengajak Ila pergi jalan-jalan keluar.


Sepulang dari kantornya, Galuh, Hamka, Syakir, Roni dan juga Ririn menghias ruangan apartemen itu dengan indahnya. Mereka berbagi tugas untuk mengerjakan semuanya. Saat sedang melakukan tugas mereka masing-masing, tiba-tiba mereka mendengar bel pintu berbunyi. Galuh yang sedang sibuk meminta tolong pada Syakir untuk membuka pintu tersebut.


Syakir membuka pintu itu dan melihat Kia yang berdiri disana. Syakir kaget dan menutup pintu itu kembali.


"Apa aku sudah gila? Kenapa wajah gadis itu terlihat dimana-mana?" Gumam Syakir terkejut.


"Siapa yang datang, kir?" Tanya Galuh sedikit berteriak padanya.


Syakir kembali membuka pintu itu dan benar-benar melihat Kia berdiri dihadapannya. Kia tersenyum pada Syakir.


"Hai kak, aku sepupunya Ila! Aku datang ke sini untuk membantu kak Galuh." Kata Kia pada Syakir.


Syakir tertegun melihat Kia yang berbicara dan tersenyum padanya. Kia menjadi bingung saat Syakir terus saja menatapnya.


"Kenapa dia hanya menatapku saja?" Gumam Kia kebingungan dengan sikap Syakir yang tertegun melihatnya.


"Woi! Ada tamu datang bukannya di suruh masuk malah di tatap melulu!" Ujar Hamka mengagetkan Syakir.


"Ayo, silahkan masuk sepupunya Ila!" Kata Hamka tersenyum ramah pada Kia.


Kia pun masuk melintasi Syakir yang masih berdiri di depan pintu. Syakir cepat-cepat menutup pintunya dan berlari mengejar Hamka yang berjalan masuk dengan Kia. Syakir menarik kerah baju Hamka.


"Ka, itu dia gadis yang aku ceritakan pada kalian." Kata Syakir berbisik pada Hamka.


"Oh, jadi sepupu Ila itu gadis yang ceritakan waktu itu?" Sahut Hamka melirik Kia yang tersenyum pada Galuh dan juga yang lainnya.


"Cantik!" Kata Hamka lagi.


"Hei, dia targetku!" Kata Syakir sewot pada Hamka.


"Huh, takut sekali kau, kalau aku akan merebutnya!" Ujar Hamka.


"Jangan coba-coba untuk menikungku!" Ancam Syakir pada Hamka.


"Hehehe, saja kalau aku akan berniat untuk menikungmu!" Sahut Hamka cengengesan.


"Hei, Hamka, dia targetku!" Bisik Syakir lagi.


"Iya, ambil sana! Tipeku bukan gadis SMA." Sahut Hamka yang memang menyukai wanita dewasa dan juga memiliki karir yang cemerlang.


Syakir cepat-cepat mendekati Kia yang sedang membantu Ririn menyiapkan makanan di atas meja. Syakir berpura-pura ingin membantu mereka berdua yang sedang berada di ruang makan.


"Rin, butuh bantuan dariku apa tidak?" Tanya Syakir modus.


"Tidak perlu! Ini pekerjaan wanita. Pergi sana!" Ujar Ririn mengusir Syakir.


"Hah, si Ririn tidak peka sekali dia! Aku kan hanya ingin dekat dengan sepupunya Ila." Gumam Syakir.


Syakir masih tak bergeming. Dia malah duduk di kursi yang ada di ruang makan itu.


"Eh, ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanya Syakir pada Kia.


"Namaku Kia!" Sahut Kia tersenyum ramah pada Syakir.


"Kenalan sambil berjabat tangan, boleh kan?" Tanya Syakir modus.


"Iya, boleh!" Sahut Kia menjulurkan tangannya pada Syakir. Namun saat Syakir akan menyambut tangan Kia, tiba-tiba Galuh menarik kerah kemejanya.


"Kau sedang apa disini, Syakir?" Tanya Galuh terus menarik kerah kemeja Syakir sehingga membuat Syakir bangkit dari kursinya.


"Hehehe, aku hanya sedang berkenalan dengan Kia saja." Sahut Syakir.


"Apa tugasmu sudah siap?" Tanya Galuh melotot pada Syakir.


Syakir menggelengkan kepalanya.


"Cepatlah kerjakan sebelum Ila kembali nanti!" Kata Galuh pada Syakir.


"Iya, iya! Huh, dasar menyebalkan! Padahal kan aku hampir saja menyentuh tangannya tadi." Gerutu Syakir melangkah keluar dari ruang makan itu.


Kia dan juga Ririn hanya tertawa kecil melihat Syakir menggerutu sambil keluar ruang makan. Syakir pun menyelesaikan tugasnya untuk meniup balon dengan alat untuk mengisi balon dengan udara.


Selang beberapa saat, Roni yang telah menyelesaikan tugasnya menghampiri Syakir yang masih meniup balon. Roni duduk sambil memainkan balon itu ke udara. Tanpa sengaja Roni melirik Syakir yang sesekali menatap Kia yang sedang berbincang dengan Ririn.


"Aku perhatikan sepertinya kau curi-curi pandang dengan Kia." Kata Roni.


"Eh, apa kau masih ingat gadis yang aku ceritakan waktu itu?" Tanya Syakir.


"Iya! Jangan bilang kalau gadis itu si Kia!" Sahut Roni.

__ADS_1


"Tapi itu kebenarannya, bro!" Kata Syakir.


"Hah, jadi beneran si Kia? Si Kia kan...


"Kenapa?" Tanya Syakir bingung karena Roni menghentikan ucapannya.


"Ya, si Kia kan sepupunya Ila!" Sahut Roni tak ingin mengungkapkan masa lalu Kia yang pernah mencelakai Ila.


"Bro, aku naksir sama dia!" Kata Syakir jujur pada Roni.


"Apa kau yakin?" Tanya Roni.


"Iyalah!" Sahut Syakir.


"Gadis SMA?" Tanya Roni lagi.


"Tidak jadi masalah! Cinta itu tidak mengenal usia, bro!" Sahut Syakir.


"Hah, pedofil!" Ujar Roni menjuluki Syakir.


"Bodo amat!" Tukas Syakir.


"Bantuin dong!" Pinta Syakir pada Roni untuk membantunya mendekati Kia.


"Tidak mau!" Sahut Roni.


"Minta bantuan dari Ila saja, Kia kan sepupunya Ila." Sambung Roni lagi.


"Oh, benar juga ya!" Sahut Syakir merasa mendapatkan ide dari Roni.


 


*****


Malam harinya, Ila kembali ke apartemen bersama dengan kedua sahabatnya yaitu Eri dan juga Fiqri. Saat akan masuk ke dalam apartemen, Ila dikejutkan oleh seruan mereka yang memberikan kejutan ulang tahun untuknya.


"Surprise!" Seru mereka pada Ila yang berulang tahun.


Ila menatap mereka yang tersenyum lebar padanya. Tampak Yurika dan Hana serta Antoni juga turut memeriahkan pesta kejutan itu. Ila begitu terharu. Bagaimana tidak, ia tak pernah mendapatkan hal yang seperti itu selama hidupnya. Ila tak kuasa menahan air mata harunya itu. Yurika mendekatinya dan langsung memeluknya. Tiada lagi rasa cemas dan takut pada diri Yurika untuk mendekap putrinya itu karena terapi yang ia jalani selama ini.


"Jangan menangis, ini hari bahagiamu sayang!" Yurika memeluk Ila.


Ila memeluk Hana dan juga Antoni yang begitu sayang padanya. Ila melirik Galuh yang tersenyum sambil memegang kue tart yang dihiasi penuh cahaya lilin.


"Terima kasih!" Ucap Ila begitu terharu.


Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Ila. Ila menatap Yurika yang ikut bernyanyi untuknya. Perasaan bahagia yang Ila rasakan begitu hangat menyentuh kalbunya. Lagu ucapan ulang tahun itu terngiang-ngiang di telinganya. Ila berdoa di dalam hatinya sebelum ia meniup lilin tersebut.


"Semoga orang-orang yang aku sayangi, akan terus bersamaku!" Ucap Ila dalam doanya.


Ila meniup semua lilin itu hingga padam. Mereka bersorak gembira memeriahkan hari ulang tahun Ila yang ke 18 tahun. Ila memotong kue tart itu dan memberikan suapan pertama pada Yurika, lalu di teruskan kepada Hana dan Antoni kemudian Galuh dan juga Kia.


Perasaan bahagia itu tak serta-merta hanya dirasakan Ila saja, Kia juga merasakannya.


"Betapa hangatnya bila memiliki teman dan keluarga seperti mereka!" Ucap Kia dalam hatinya. Ia merasa menyesal karena dulu memiliki sikap yang tak disukai oleh orang-orang terdekatnya, sehingga ia tidak memiliki sahabat ataupun orang yang menyayanginya dengan tulus.


Pesta ulang tahun yang sederhana berlangsung meriah karena kehadiran orang-orang yang menyayangi Ila. Mereka makan bersama dan juga berbincang serta bergurau. Antoni yang memilki selera humor berhasil mengocok perut orang-orang yang ada di apartemen itu.


Syakir tak mau ketinggalan untuk melanjutkan modusnya pada Kia. Ia duduk di samping Kia saat makan bersama. Kebetulan saat itu Kia hendak mengambil air minum di dapur. Kia menuju ke dapur dengan membawa ceret yang terbuat dari kaca. Syakir melihat situasi sejenak, lalu ia bangkit dan mengikuti Kia yang sedang mengisi ceret tersebut.


"Eehheemm!" Syakir mendehem saat masuk ke dapur. Kia pun menoleh pada Syakir.


"Eh, kak! Ada yang kau butuhkan?" Tanya Kia pada Syakir.


"Ada! Bisa bantu tidak?" Sahut Syakir mulai dengan rencananya.


"Apa itu?" Tanya Kia.


"Apa kau bisa membantuku untuk mengisi nomor ponselmu ke dalam daftar kontak ponselku?" Kata Syakir dengan wajah yang memerah.


Wajah Kia memerah malu karena Syakir sedang menunjukkan rasa sukanya. Kia mengambil ponsel yang di berikan padanya dan menyimpan nomor ponselnya itu ke dalam daftar kontak milik Syakir.


"Eeemm, sudah!" Kata Kia memberikan kembali ponsel Syakir padanya.


"Kapan-kapan boleh dong kita bicara melalui telepon?" Kata Syakir.


"I..iya, boleh!" Sahut Kia malu-malu.


"Eeeehheemmm!" Ila mendehem secara tiba-tiba membuat Kia dan Syakir kaget.


Kia dan Syakir kembali ke posisi mereka masing-masing saat Ila memergoki mereka berdua di dapur.

__ADS_1


"Hah, aku seperti melihat bentuk hati sedang melambung tinggi di udara. Hehehe." Ucap Ila menyindir Kia dan juga Syakir.


Kia melangkah dengan gugup saat ia akan membawa minuman itu ke ruang makan. Sementara Syakir menatap Ila penuh harap.


"La, si Kia sudah punya pacar apa belum?" Tanya Syakir pada Ila.


"Lah, kan tadi kakak sudah ngobrol sama Kia! Kenapa tidak tanya langsung saja?" Sahut Ila sembari pergi meninggalkan Syakir sendirian di dapur.


Syakir menatap kepergian Ila yang terus senyum-senyum karena tau kalau Syakir menyukai Kia.


Di saat akan kembali duduk di meja makan, tiba-tiba Ila merasa pusing pada kepalanya. Ila memegang kuat pada kepala kursi agar ia tidak terjatuh. Galuh cepat-cepat meraih tubuh Ila yang gontai.


"Kenapa, sayang?" Tanya Galuh mendudukkan Ila di kursi.


"Tidak apa-apa! Aku hanya pusing saja." Sahut Ila.


"Apa kau lelah?" Tanya Yurika pada Ila.


"Iya, sedikit! Akhir-akhir ini aku sering merasakan cepat lelah dan pusing. Mungkin karena kepalaku pernah cidera waktu itu." Sahut Ila.


Roni menatap wajah Ila yang tampak sedikit pucat malam itu. Roni curiga kalau Ila sedang berbadan dua. Roni bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Galuh.


"Luh, pergi kau beli testpack untuk kehamilan di apotek!" Bisik Roni kepada Galuh.


Galuh tersentak kaget dan menatap mata Roni. Dengan segera Galuh keluar dan membeli alat tes kehamilan itu di apotek terdekat. Roni mendekati Ila dan memegang pergelangan tangan Ila dengan maksud untuk memeriksa denyut nadi Ila.


"Aku yakin dia sedang hamil!" Gumam Roni dalam hatinya.


Roni melepaskan tangan Ila dan berpura-pura untuk menyuruh Ila beristirahat di dalam kamar.


"Ila, lebih baik kau istirahat saja di kamar! Galuh sedang membeli beberapa vitamin untukmu." Kata Roni pada Ila.


Kia membawa Ila yang masih merasa pusing pada kepalanya untuk beristirahat di kamar. Setelah Galuh kembali, Galuh mendekati Roni yang menunggunya di ruang tengah.


"Ron, apa kau benar-benar yakin?" Tanya Galuh.


"Iyalah! Aku kan dokter spesialis kandungan. Aku tau gejala wanita hamil." Sahut Roni.


"Ini alatnya!" Kata Galuh menyerahkan alat itu pada Roni.


"Berikan pada Ila besok pagi! Suruh dia tampung air seninya dan celupkan alat ini pada air seni itu. Lalu akan muncul garis merah pada alat itu. Jika garis dua berarti dia hamil." Kata Roni menjelaskan cara pakai alat tersebut.


"Oke!" Sahut Galuh.


Tiba-tiba Yurika dan Hana menghampiri Galuh dan juga Roni.


"Kalian sedang apa?" Tanya Hana.


"Hahaha, sedang ngobrol saja kok, ma!" Sahut Galuh.


"Apa itu yang kau pegang?" Tanya Yurika.


"Bukan apa-apa!" Sahut Galuh berusaha menyimpan alat itu.


Hana cepat-cepat merebutnya dari tangan Galuh. Hana dan Yurika melebarkan senyuman mereka saat menatap alat tes kehamilan itu.


"Apakah Ila hamil?" Tanya Hana pada Galuh.


"Kata Roni sih begitu!" Sahut Galuh.


"Lantas kenapa kalian berbicara mengenai hal ini sembunyi-sembunyi?" Tanya Yurika.


Roni dan Galuh saling tatap. Kemudian Roni memberikan kode kepada Galuh untuk mengatakan yang sebenarnya pada Yurika dan juga Hana, bahwa Ila sempat mendapatkan suntikan kontrasepsi untuk menghambat kehamilannya dikarenakan Ila masih sekolah, jadi mereka berniat untuk menunda memiliki anak.


"Astaga, kalian ini!" Ucap Hana kesal pada Galuh dan juga Roni.


"Demi Ila, ma!" Sahut Galuh.


"Hah, ya sudahlah! Lantas bagaimana kondisi Ila yang sebenarnya saat ini?" Tanya Hana.


"Tante, menurutku si Ila sepertinya hamil! Tapi kita juga harus memeriksanya secara medis." Sahut Roni.


"Cepat periksa menantuku! Kau kan dokter kandungan." Perintah Hana.


"Ma, jangan sampai Ila curiga! Nanti Ila marah, karena aku tidak bilang padanya kalau dia tidak mendapatkan suntik kontrasepsi lagi." Sahut Galuh.


"Iya, aku tidak akan mengatakan apa-apa pada Ila! Tapi ingat, jika Ila hamil, jaga dia dengan baik!" Kata Hana.


"Roni, kau juga harus memberikan apapun yang terbaik untuk Ila jika dia sedang mengandung cucuku!" Kata Hana lagi pada sang keponakan yang berprofesi sebagai dokter kandungan.


"Iya, tante!" Sahut Roni.

__ADS_1


Hana dan Yurika tertawa sambil meninggalkan ruang tengah itu. Mereka sangat senang dan juga berharap kalau Ila benar-benar sedang hamil. Mereka segera ingin memiliki cucu.


__ADS_2