GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
HAMKA JATUH CINTA


__ADS_3

Keesokan harinya Galuh memboyong istri serta anaknya dan juga Ratih kembali pulang kerumahnya. Setelah semalam ia berhasil memperbaiki hubungannya bersama Ila. Sesampainya dirumah, Ila menyerahkan Gilang kepada Ratih untuk membawanya ke kamar. Sementara Ila duduk berbincang bersama kedua mertuanya yang sedang berada di halaman belakang.


"Ila, bulan depan ulang tahunmu kan?" Kata Hana pada menantunya itu.


"Iya!" Sahut Ila.


"Kau mau pesta ulang tahun di gedung mana, sayang? Nanti biar papa dan mama yang atur." Kata Hana lagi.


"Tidak usah lah ma! Aku tak perlu pesta ulang tahun mewah. Aku hanya ingin makan malam bersama dengan kalian semua. Ada mama papa, mama Yurika, Kia, kak Syakir, kak Roni dan kak Ririn, juga kedua sahabatku." Sahut Ila.


"Lalu aku tidak di undang nih?" Tanya Galuh auto sewot karena namanya tak disebut.


"Hei, kalau kau tidak perlu undangan!" Bisik Ila dengan menempelkan bagian dadanya pada lengan Galuh.


"Jangan menggodaku!" Bisik Galuh.


"Hei, kenapa kalian main bisik-bisikan sih!" Teriak Hana kesal.


"Kalian sudah baikan?" Tanya Antoni.


"Sudah dong! Ila yang tidak tahan jika berjauhan denganku, pa." Kata Galuh membuat Ila kesal.


"Hei, pintar banget ya memutar balikkan fakta! Kak Galuh tuh, semalam menyelinap masuk ke kamarku saat menginap dirumah mama Yurika." Sahut Ila sewot.


"Hehehehe, sewot amat tuh muka!" Ucap Galuh cengengesan.


"Hah! Tidak payah kau jelaskan, papa juga tak yakin dengan ucapan si Galuh! Kemarin dia panik setengah mati saat kami katakan kau melarikan diri." Sambung Antoni.


"Oh, begitu ya! Hehehehe." Ucap Ila menertawai Galuh.


"Pa! Kenapa papa bilang kalau aku panik kemarin? Itu kelemahan ku! Kalau nanti Ila kabur beneran gimana nasibku, pa?" Bisik Galuh pada Antoni.


"Makanya kau jangan buat menantuku kesal!" Sahut Antoni.


"Huh, sebenarnya siapa sih anak papa dan mama? Kenapa aku selalu saja disalahkan?" Gumam Galuh sewot.


Saat sedang berbincang, tak lama ponsel Galuh berdering. Galuh menerima panggilan telepon dari sahabatnya yaitu Hamka.


"Halo?" Ucap Galuh.


"Galuh! Tolong aku!" Teriak Hamka.


"Eh, kau kenapa?" Tanya Galuh bingung.


"Polwan itu menyandera ku!" Teriak Hamka lagi.


"Apa? Menyandera? Apa maksudmu?" Tanya Galuh panik.


"Datanglah ke apartemenku! Tolong aku!" Sahut Hamka.


Sambungan telepon itu pun putus begitu saja. Istri dan kedua orang tua Galuh kebingungan melihat ekspresi Galuh yang begitu panik.


"Ada apa, kak?" Tanya Ila.

__ADS_1


"Hamka di sandera oleh seseorang!" Sahut Galuh.


"Hah? Siapa?" Seru Hana dan Antoni.


"Nanti saja aku ceritakan! Aku pergi dulu." Sahut Galuh bergegas pergi.


Galuh pun membawa sekaligus Didi ke apartemen Hamka. Tiba disana mereka berdua langsung menuju ke ruang apartemen milik Hamka yang mewah itu. Galuh berkali-kali memencet bel pintunya. Dengan perasaan yang semakin panik, Galuh pun seakan tak sabar untuk segera masuk ke dalam apartemen itu.


"Sial! Kenapa tidak ada yang membuka pintunya?" Ujar Galuh panik.


"Bos! Sabar bos!" Sahut Didi.


Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampaklah Hamka berdiri dengan keadaan yang begitu kacau. Baju kaos oblong, celana pendek dan rambut acak-acakan. Galuh dan Didi menatap heran pada Hamka yang berdiri dalam kondisi baik-baik saja dan tidak terikat seperti orang yang sedang di sandera.


"Katanya lagi di sandera! Tapi kenapa keadaan tuan Hamka seperti orang yang baru saja putus cinta?" Ucap Didi bingung.


"Kalian masuklah dulu!" Kata Hamka lemas.


Galuh menerobos masuk dan celingak-celinguk kesana-kemari mencari Kania yang menyandera Hamka.


"Kau cari siapa?" Tanya Hamka pada Galuh.


"Cari orang yang menyanderamu, bodoh!" Teriak Galuh.


"Orang yang menyanderaku sedang berada di kantor polisi!" Sahut Hamka.


"Oh, maksud tuan Hamka, orang yang menyandera itu sudah di tangkap oleh polisi ya?" Tanya Didi.


"Siapa yang menyanderamu?" Tanya Galuh.


"Kania, si polwan dingin itu!" Sahutnya.


"Lantas dimana dia sekarang?" Tanya Galuh dengan tingkat emosi masih diambang batas.


"Kan sudah aku bilang tadi! Kania itu kan polisi, ya dia sedang berkerja di kantor polisi lah!" Sahut Hamka.


"Kalau dia di kantor polisi, lalu bagaimana dia bisa menyandera mu?" Tanya Galuh.


"Kania bukan menyandera tubuhku!" Sahut Hamka.


"Lalu?" Tanya Didi.


"Kania menyandera pikiranku!" Sahut Hamka yang membuat emosi Galuh naik tingkat dewa.


"Didi! Seketika aku ingin membunuh orang!" Kata Galuh dengan emosi tingkat dewanya.


"Aaarrrggghhhhh!" Teriak Galuh emosi hingga berapi-api ingin menghajar Hamka yang membuatnya kesal.


"Bos! Sabar bos! Astaga! Pria-pria kaya ini pada gila gara-gara wanita!" Ucap Didi mencoba untuk menahan Galuh yang hendak menyerang Hamka.


"Kemari kau, *******!" Teriak Galuh pada Hamka yang bersembunyi di balik sofa.


"Bos! Bos harus sabar menghadapi pria gila yang sedang jatuh cinta." Kata Didi pada Galuh.

__ADS_1


"Hei hei, apa maksudmu kau bilang aku pria gila yang sedang jatuh cinta?" Tanya Hamka tak terima mengenai perkataan Didi untuknya.


"Hah! Tuan Hamka apa tidak sadar kalau ternyata tuan sedang jatuh cinta pada polwan itu?" Sahut Didi.


"Jatuh cinta apaan? Aku semalaman mikirin dia karena.......


Hamka tiba-tiba terdiam sejenak dan berpikir.


"Eh, tunggu! Kau bilang aku jatuh cinta ya?" Tanya Hamka pada Didi.


"Iya lah! Kalau tidak jatuh cinta, lalu ngapain tuh polwan dipikirin?" Sahut Didi.


"Oh iya! Benar juga ya!" Kata Hamka berpikir lagi.


Didi dan Galuh menatap Hamka yang sedang berpikir lagi mengenai perasaannya terhadap Kania.


"Aaarrgghhh! Aku jatuh cinta! Hahahaha." Teriak Hamka kegirangan yang membuat Didi dan Galuh kaget.


"*******! Ngagetin woi!" Seru Galuh dan Didi kesal pada Hamka.


Ketiga pria itu pun akhirnya berbincang dan duduk di sofa ruang tengah. Dengan beberapa cemilan dan juga minuman yang Didi ambil di dalam lemari pendingin, membuat ketiga pria itu betah ngobrol membahas mengenai perasaan Hamka pada Kania.


"Kau yakin mau menyatakan perasaanmu pada polwan itu?" Tanya Galuh.


"Iyalah!" Sahut Hamka.


"Apa kau tidak takut di tembak dengan pistolnya?" Tanya Galuh lagi.


"Hei, itu tidak mungkin! Aku kan punya juga punya pistol, jadi aku lah yang akan menembaknya! Hehehehe." Sahut Hamka cengengesan.


"Hei, pistol polwan itu beneran senjata api, lah sedangkan pistol tuan Hamka, cuma pistol air. Hehehe." Sambung Didi terkekeh geli.


"Walaupun cuma pistol air, tapi bisa membuat wanita ehem...ehem..." Sahut Hamka.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Galuh.


"Aku akan datang ke kantor polisi dan menyatakan perasaanku padanya! Aku akan melamarnya." Jawab Hamka bersemangat sekaligus percaya diri.


"Bantuin dong!" Pinta Hamka pada Galuh.


"Tidak mau!" Sahut Galuh.


"Ah, anying! Nyebelin banget sih punya sahabat seperti kau ini!" Ujar Hamka sewot.


"Tuan Hamka! Bagaimana kalau tuan membuat kejutan untuknya!" Kata Didi memberikan ide.


"Kejutan? Bagaimana caranya?" Tanya Hamka.


"Hehehehe, serahkan padaku!" Sahut Didi percaya diri.


"Oke!" Ucap Hamka percaya sepenuhnya pada Didi.


"Hah! Aku mencium bau-bau kegagalan." Gumam Galuh tepok jidat.

__ADS_1


__ADS_2