GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
BUDAK CINTA 2


__ADS_3

Setelah menutup teleponnya, Ila menemui kedua sahabatnya untuk berpamitan. Fiqri sedang memilah-milah buku musik sedangkan Eri sedang mencari buku novel kesukaannya.


"Aku pamit pulang dulu ya." Pamit Ila pada kedua sahabatnya.


"Eh, kita baru saja sampai disini, kenapa tiba-tiba kau mau pulang?" Tanya Eri bingung.


"Apalah dayaku jika si beruang kutub sudah berteriak ingin aku segera pulang." Sahut Ila sedih.


Fiqri berbisik pada Eri.


"Hei, suaminya sedang rindu padanya, maklumi saja mereka kan pengantin baru. Hehehe." Bisik Fiqri pada Eri.


"Hehehe, kau benar juga." Sahut Eri.


Ila melihat kedua sahabatnya saling berbisik sambil meliriknya.


"Hei, jangan bicara yang tidak-tidak di belakangku." Kata Ila tidak senang.


"Hehehe, pergilah pulang dan temui suamimu." Bisik Eri pada Ila.


"Huh, menyebalkan!" Ujar Ila kesal.


Agar Ila segera sampai di apartemen, ia pulang dengan menaiki taksi. Tiba di seberang jalan apartemen, Ila teringat dengan kulkas yang sudah mulai kosong. Ila berniat untuk berbelanja keperluan dapur di toko yang ada di seberang apartemen. Tak lupa ia membeli beberapa cemilan dan makanan ringan di mini market yang ada di sebelahnya.


Saat sedang memilih makanan cemilan di mini market itu, ponsel Ila kembali berdering dan itu adalah panggilan Galuh untuk yang kesekian kalinya.


"Ya Tuhan, kenapa dia jadi gila seperti ini? Hampir setiap menit dia meneleponku." Gumam Ila.


Ila pun mengangkat telepon dari Galuh.


"Iya, kak." Ucap Ila.


"Kau dimana? Kenapa lama sekali?" Tanya Galuh yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ila.


"Aku sudah sampai di apartemen." Sahut Ila.


"Dimananya? Di depan pintu?" Tanya Galuh lagi.


"Aku berada di seberang jalan apartemen, aku sedang berbelanja cemilan di mini market." Jawab Ila.


"Tunggu disana, aku akan segera menjemputmu!" Kata Galuh sembari memutuskan sambungan teleponnya.


"Untuk apa di jemput sih? Aku kan hanya di seberang jalan saja." Gumam Ila.


Tak lama kemudian tampaklah oleh Galuh seorang gadis cantik yang sangat ia gilai. Ila terlihat sedang kerepotan membawa barang belanjaannya.


"Hehehe, gadis kecilku itu memang sangat imut!" Ucap Galuh dengan mata yang berbinar-binar menatap Ila di seberang jalan.


Galuh menyeberang jalan untuk mendekati Ila.


"Sini aku yang bawa sebahagian." Pinta Galuh pada Ila untuk membawakan barang belanjaannya.


Ila memberikan sebahagian barang belanjaannya kepada Galuh dan mereka pun menyeberang jalan lagi menuju ke apartemennya.


Tiba di apartemen, Ila segera masuk ke dalam kamarnya untuk pergi mandi. Saat sudah di dalam kamar mandi, Galuh mengetuk pintu kamar mandinya. Ila membuka sedikit dan melihat Galuh sudah telanjang di hadapannya.


"Ada apa?" Tanya Ila.


"Aku juga ingin mandi." Sahut Galuh.


"Kenapa kau tidak mandi di kamar mandi bawah saja?" Tanya Ila.


"Aku tidak mau!" Sahut Galuh langsung nyelonong masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku ingin mandi bersamamu." Bisik Galuh pada telinga Ila.


Galuh mengisi air di bathtup dan memberikan cairan sabun yang wangi kedalamnya. Setelah selesai Galuh masuk berendam di dalam bathtup tersebut dan memanggil Ila untuk ikut bersamanya. Dengan perasaan yang sangat malu Ila melangkah mendekati Galuh yang tersenyum mesum kepadanya. Galuh menarik tubuh Ila untuk duduk di atas pangkuannya. Ila sangat kaget saat bagian belakangnya merasakan ada benda keras yang mengenainya.


"Apa itu? Keras sekali!" Gumam Ila dalam hatinya.


Wajah Ila sangat merah saat Galuh mendekapnya dari belakang. Galuh mulai berbuat mesum terhadapnya. Ia menciumi pundak Ila yang membuat bulu kuduknya berdiri. Tangan Galuh meraba-raba buah dadanya yang sintal. Ila hanya diam merasakan apa yang Galuh lakukan kepadanya.


"Kak." Panggil Ila pada Galuh.


"Hemm?" Sahut Galuh yang sibuk menciumi pundak dan leher Ila.


"Apa kau tidak lelah?" Tanya Ila.


"Tidak!" Sahut Galuh.


"Tapi, aku lelah." Kata Ila.


"Siapa suruh kau pergi seharian setelah pulang sekolah? Sudah tau kau punya suami sekarang, malah keluyuran." Ujar Galuh.


"Aku tidak keluyuran, tapi aku pergi membeli buku." Kata Ila.


"Selama itu kah beli buku?" Tanya Galuh.


"Tadi aku pergi makan bakso dulu dengan teman-temanku." Ucap Ila.


"Lain kali kalau sudah waktunya pulang sekolah, kau langsung pulang ke apartemen, jangan keluyura lagi." Kata Galuh.


"Iya." Sahut Ila.

__ADS_1


"Ya sudahlah, aku akan menundanya jika kau lelah." Kata Galuh.


"Yes!" Sahut Ila senang.


"Oh, jadi kau sangat senang jika aku tidak melakukannya padamu, hah?" Teriak Galuh kesal.


"Hehehe, aku hanya sedikit bergurau saja tadi." Kata Ila ketakutan.


"Aku akan makan kau sekarang!" Ujar Galuh membalikka tubuh Ila dan menciumnya.


Di dalam bathtup yang penuh dengan busa, Galuh melakukannya bersama Ila. Galuh menuntaskan gairahnya kepada istrinya yang masih sangat muda itu di kamar mandi.


Selesai mandi, Ila benar-benar kehabisan tenaganya. Ila berjalan perlahan menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Hah, aku sangat lelah menikah dengan pria dewasa seperti dia." Ucap Ila duduk sebentar di meja makan.


Galuh diam-diam mendengar ucapan Ila tadi. Ia pun terkekeh saat mendengar keluhan Ila yang sangat kelelahan dibuatnya. Galuh duduk di samping Ila sambil menekan-nekan layar ponselnya.


"Sudah, tidak usah masak! Kita beli makanan dari luar saja." Kata Galuh.


"Kau mau pesan makanan apa?" Tanya Galuh pada Ila.


"Ayam lepas!" Jawab Ila.


"Ayam yang sudah lepas untuk apa kau pesan! Jelas-jelas dia sudah kabur. Hehehe." Ucap Galuh sambil cengengesan.


"Nama makanannya itu ayam lepas, kak!" Ujar Ila dongkol.


"Hehehe, iya iya, aku tau." Sahut Galuh.


"Sudah aku pesan, mungkin sebentar lagi akan sampai." Kata Galuh.


Ila memperlihatkan kedua matanya yang sudah sangat kelaparan kepada Galuh.


"Huh, miris banget sih! Bertahanlah sebentar." Kata Galuh.


Ting...tong.


Suara bel pintu berbunyi.


"Eh, cepat sekali datangnya?" Gumam Galuh menoleh ke arah pintu.


Ila hendak bangkit dari kursinya, namun Galuh mencegahnya. Galuh melangkah kearah pintu untuk melihat siapa yang memencet tombol bel pintu apartemennya. Galuh mengintip pada lubang pintu. Ia melihat wajah Hamka yang sedang berdiri di depan pintu.


"Hamka? Mau apa dia kesini?" Gumam Galuh bingung.


Galuh pun membuka pintunya dan tampaklah ketiga sahabatnya itu tersenyum lebar padanya.


"Woi, dasar pemiliki rumah yang tidak sopan!" Ujar Hamka kesal.


Galuh kembali membuka pintunya dan tertawa pada ketiga temannya itu.


"Masuklah!" Kata Galuh pada Roni, Hamka dan juga Syakir.


Ketiganya pun masuk dengan membawa bungkusan yang banyak di tangan mereka. Ila menoleh dan melihat Hamka yang tersenyum padanya.


"Hai, gadis kecil! Kami semua merindukanmu." Sapa Hamka pada Ila.


"Hai, kak." Balas Ila tersenyum ramah.


Mereka pun duduk satu meja di ruang makan dengan bungkusan makanan yang mereka bawa untuk Ila.


"Ila, aku bawakan pizza untukmu! Apa kau suka?" Tanya Syakir.


"Suka!" Seru Ila senang.


"Ila, aku bawa kue donat untukmu, apa kau mau?" Tanya Hamka.


"Mau!" Seru Ila lagi.


"Ila, aku bawa cilok pedas, apa kau mau?" Tanya Roni.


"Mau, kak!" Seru Ila dengan penuh antusias melihat cilok pedas.


"Hei, untukku mana?" Tanya Galuh pada ketiga temannya itu.


"Oh, kami lupa padamu, makanya kami tidak membelikan apapun untukmu." Sahut Syakir.


"Keluar kalian semua!" Teriak Galuh kesal pada ketiga sahabatnya yang sama gilanya seperti dia.


Ting...tong.


Bel pintu berbunyi lagi.


Galuh menghampiri pintu dan membukanya.


"Galuh! Aku bawa makanan untuk Ila!" Seru Ririn yang membuat Galuh semakin murka.


"Aaarrgghhh! Kenapa kalian tidak mati saja semuanya." Teriak Galuh sangat kesal.


Ririn langsung masuk tanpa memperdulikan Galuh yang berteriak seperti orang gila. Ririn menuju ke ruang makan saat mendengar suara yang ribut-ribut disana. Ririn dan Roni saling beradu pandang.


"Oh, my lovely! Ternyata ada dia disini. Kalau aku tau aku akan berdandan maksimal agar Roni segera jatuh cinta padaku." Ucap Ririn dalam hatinya saat menatap Roni.

__ADS_1


"Hah, apes banget sih! Kenapa dia ada disini?" Ucap Roni saat menatap Ririn.


Ririn mengambil tempat duduk di samping Roni.


"Hai Ila! Apa kau masih ingat aku?' tanya Ririn pada Ila.


"Maaf, aku lupa." Ucap Ila bingung.


"Dia adalah Ririn, seorang pengacara yang sering di perintah oleh Galuh! Dia sangat bucin pada Roni." Kata Syakir menjelaskan tentang Ririn pada Ila.


"Iya, dan kami semuanya adalah teman saat masih sekolah!" Sambung Hamka.


"Kecuali Roni! Dia siswa di sekolah antah berantah, jadi kami tidak mengenalnya." Sambung Hamka lagi.


"Hei hei, aku ini siswa terpintar di sekolahku dulu, kalian jangan asal bicara saja mengenaiku!" Teriak Roni tidak terima.


"Hei, kenapa kalian yang jawab, dodol!" Teriak Ririn tidak senang.


"Hehehe, kami hanya membantumu saja." Sahut Syakir.


"Huh, menyebalkan!" Ujar Ririn sewot.


Ila tertawa geli melihat semua teman-temannya Galuh yang sangat menghiburnya malam itu. Galuh menatap Ila dengan mata yang berbinar-binar saat Ila tertawa senang.


"Oh, si imut itu sangat menggemaskan!" Ucap Galuh dalam hatinya menatap Ila.


Ting...tong.


Bel pintu berbunyi lagi.


Galuh membuka pintu apartemennya sambil berdengus kesal.


Ternyata makanan yang ia pesan telah di antar oleh seorang kurir online.


Galuh membawa makanan yang akan menjadi makan malamnya bersama Ila. Saat akan memberikannya pada Ila, ia melihat Ila sudah duduk bersandar karena kekenyangan makan makanan yang di bawa oleh teman-temannya.


"Ini pesananmu, Ila." Kata Galuh menyodorkan bungkus makanan pada Ila.


"Aku sangat kenyang." Sahut Ila tidak bisa bergerak lagi.


"Huh, menyebalkan!" Ujar Galuh kesal.


Malam itu masih panjang karena teman-teman Galuh yang tidak kunjung bubar, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mereka berbincang dan tertawa semalaman di ruang makan itu. Makanan yang mereka baw ajuga sudah ludes semuanya. Ririn melihat Ila sudah tertidur di bahu Galuh.


"Galuh, bawa dia ke kamar sana! Sepertinya dia sangat lelah." Kata Ririn pada Galuh.


"Iya, kami juga akan pulang." Sahut Syakir.


"Baiklah, terima kasih untuk malam ini. Aku lihat Ila sangat senang kalian datang berkunjung kesini." Kata Galuh pada teman-temannya.


Galuh segera membawa Ila masuk ke dalam kamar setelah semua teman-temannya pulang. Galuh menatap Ila yang tertidur sangat pulas malam itu.


"Apa aku bayar jasa pelayan saja untuk mengerjakan pekerjaan rumah agar Ila tidak kelelahan? Hah, tapi aku tidak ingin ada orang lain apartemen ini. Aku ingin berdua saja dengannya tanpa ada gangguan dari orang lain." Gumam Galuh bingung.


"Aarrgghh! Nanti saja aku pikirkan. Yang penting sekarang aku akan tidur sambil memeluk si imut ini. Hehehe." Gumam Galuh lagi.


 


 


 


 


Sabtu pagi Ila berangkat pagi-pagi ke sekolah dengan di antarkan oleh Galuh seperti biasanya. Pagi itu Galuh juga berpesan agar Ila segera memberikan kabar padanya jika ia telah selesai pertandingan matematika dengan sekolah lain. Ila pun mengiyakan apa yang di katakan oleh Galuh padanya. Setelah mengantar Ila ke sekolah, Galuh pergi kerumah orang tuanya untuk menemui asisten dari kantornya untuk menanda tangani beberapa berkas penting selama ia tidak masuk bekerja.


Setelah semua urusan kantornya beres, Galuh mengajak Didi untuk pergi membeli beberapa keperluan untuknya dan Ila selama mereka berada di turki nanti. Didi mengendarai mobil membawa bosnya itu.


"Bos, dimana nona Ila?" Tanya Didi pada Galuh.


"Dia sedang bertanding dengan sekolah SMA cipta swara." Jawab Galuh.


"Wah, SMA cipta swara yang terkenal dengan siswa-siswanya yang tampan itu?" Seru Didi.


"Tampan? Maksudmu?" Tanya Galuh mulai khawatir.


"Iya, bos! Siswa di SMA itu banyak yang tampan dan juga dari golongan kaya." Kata Didi.


"Jika yang Didi katakan itu benar, maka Ila akan...." Pikir Galuh melayang entah kemana-mana.


Didi melirik Galuh dari kaca spion mobil.


"Bos, apa kau tidak takut kalau nona Ila akan kepincut dengan siswa-siswa tampan itu?" Tanya Didi menakut-nakuti Galuh.


"Tidak! Aku sih biasa saja." Sahut Galuh dusta.


"Ya sudah kalau begitu! Nona Ila kan cantik, pasti sekarang sedang digodain oleh cowok-cowok tampan disana." Ujar Didi.


"Putar mobilnya, begok! Kita pergi menuju ke SMA cipta swara sekarang juga." Teriak Galuh pada Didi.


"Hahaha, si bos bucin!" Kata Didi tertawa geli melihat tingkah bosnya itu.


Didi melajukan mobilnya pergi ke sekolah dimana Ila sedang bertanding membawa nama dari sekolahnya. Sementara Galuh sedang merasakan tidak tenang dan gelisah takut kalau ucapan Didi benar adanya mengenai Ila.

__ADS_1


__ADS_2