
Keesokan harinya saat di sekolah, Kia kembali menemui Genta yang sedang bercanda dengan teman-temannya di kantin. Kia menepuk pundak siswa laki-laki nakal itu dengan keras sehingga membuatnya terkejut.
"Genta!" Ucap Kia seraya menepuk pundaknya dengan keras.
"Apaan sih! Mau apa kau?" Ujar Genta kesal melihat Kia.
"Aku hanya ingin bertanya saja padamu, apa kau tidak ingin membalas perbuatan si babu terhadapmu saat di toilet club waktu itu?" Tanya Kia.
Genta memalingkan wajahnya sambil tersenyum licik. Ia tau kalau Kia akan memanfaatkan dirinya lagi.
"Kalau kau ingin cari masalah dengan saudara perempuanmu itu jangan bawa-bawa aku!" Sahut Genta.
"Apa kau yakin?" Tanya Kia lagi dengan senyuman liciknya.
Genta hanya diam dan enggan menanggapi perkataan Kia padanya.
"Ya sudah kalau kau tidak mau! Padahal aku punya rahasia terbesar yang akan mempermalukan si babu itu." Sambung KIa lagi.
Genta menatap Kia dan merasa penasaran dengan rahasia yang dimiliki Ila. Sebenarnya Genta masih kesal dengan kejadian yang menimpanya saat di toilet club malam waktu itu, yang membuatnya harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
"Rahasia apa maksudmu?" Tanya Genta mulai tertarik dengan rencana Kia.
"Kia adalah anak haram yang dihasilkan oleh perselingkuhan ayahku dengan wanita simpanannya." Kata Kia.
Genta membulatkan matanya saat Kia mengatakan hal yang sebenarnya salah. Kia salah menanggapi ucapan Sari dan berasumsi kalau Almarhum Raldi semasa hidupnya memiliki wanita lain lalu dengan perselingkuhan itu lahirlah Ila yang di cap sebagai anak haram.
"Hehehe, dasar wanita bodoh! Itu adalah aib keluarganya, mengapa dia malah membocorkannya padaku?" Gumam Genta dalam hatinya.
Genta mendekat pada Kia dan menariknya untuk berbicara di tempat yang lebih sepi.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" Tanya Genta sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja! Aku tidak mungkin salah karena di rumahku aku memiliki mata-mata yang terpercaya." Sahut Kia.
"Jadi apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Genta lagi.
"Sebarkan rahasia yang menarik ini di internet! Dengan begitu Ila akan kehilangan mukanya dan kau dapat membalaskan dendammu." Jawab Kia.
Genta tersenyum tipis menanggapi apa yang di inginkan Kia darinya.
"Baiklah! Agar dendamku terbalas, aku akan menyebarkan berita ini ke internet." Sahut Genta.
Genta dan Kia saling tatap dan tersenyum licik di tempat yang lumayan sepi itu. Mereka tidak menyadari kalau pembicaraan mereka telah di rekam oelh Sandi yang bersembunyi di balik tembok bangunan. Sandi tersenyum tipis saat melihat rekaman video tentang rencana jahat Genta dan Kia.
"Setelah ini, kau tidak akan bisa lagi mengancamku dan keluargaku, Kia! Kau lihat saja nanti." Gumam Sandi kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Sandi duduk di dalam ruang kelasnya sambil memikirkan apa yang ia dengan dari ucapan Kia dan juga Genta. Sandi seakan tidak percaya pada ucapakan Kia yang mengatakan kalau Ila adalah anak haram hasil dari hubungan perselingkuhan.
"Aku tidak percaya dengan rahasia yang dikatakan oleh Kia barusan! Namun aku kalau di ingat-ingat saat kecil nyonya Yurika memang tidak pernah menyayangi Ila bahkan tidak menganggapnya sebagai anak." Gumam Sandi dalam hatinya.
"Oh, ya Tuhan! Betapa kasihannya Ila jika hal itu benar adanya." Gumam Sandi menghela nafas beratnya.
Sandi seakan mengingat kembali bagaimana dekatnya ia dengan Ila saat mereka masih kecil dan bersekolah bersama. Sandi bahkan mengingat janjinya pada Ila, akan menikahinya dan menyayanginya sepenuh hati. Sandi kembali menghela nafas dengan berat saat ia teringat bahwa ia pernah mengatakan hal yang menyakitkan bagi Ila. Sandi mengatakan kalau Ila bukanlah temannya lagi.
"Aku selalu merasa bersalah karena pernah menyakiti Ila." Ucapnya dalam hati dengan perasaan yang sangat di sesalinya.
Kia pulang dari sekolahnya di sore hari. Sari si penjilat langsung menyambutnya dengan senang. Kia masih bersikap tak acuh pada Sari yang sudah menjadi mata dan telinganya di rumah itu. Sari mengikuti Kia masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa? Kenapa kau mengikuti aku?" Tanya Kia dengan tatapan angkuhnya pada Sari.
"Nona, ada info penting untukmu!" Kata Sari.
"Ada apa?" Tanya Kia.
"Aku dengar dari pelayan yang bergosip itu katanya mereka sangat membencimu! Mereka ingin mencelakaimu dengan memberikan racun pada makananmu." Kata Sari menfitnah para pelayan di rumah.
"Apa kau bilang? Mereka akan meracuni aku?" Tanya Kia seraya membelalakkan kedua matanya lebar-lebar.
"Iya! Mereka ingin kau sakit perut dengan makanan yang mereka masak untukmu. Tapi nona tidak perlu khawatir, aku akan mengganti makanan untukmu dan aku juga telah membalas perbuatan mereka." Kata Sari.
"Maksudmu?" Tanya Kia.
"Aku telah menaburkan serbuk racun ke dalam makanan mereka! Mereka akan terkena diare setelah mereka makan nanti. Hehehe." Sahut Sari.
"Hahaha, ternyata kau sangat pintar ya!" Kata Kia tertawa senang mengetahui kejahatan yang di lakukan oleh Sari untuk para pelayan.
Kia mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya pada Sari sebagai imbalan. Sari merasa sangat senang mendapatkan uang dengan mudah dari Kia. Sari berniat untuk terus melancarkan aksinya agar dapat menguras habis uang milik Kia dengan rencana jahatnya di rumah itu.
Kia pergi mandi setelah Sari keluar dari kamarnya. Selesai mandi Kia memakai pelembab di wajahnya. Saat itu ia menoleh pada ponselnya yang berdering. Dengan senyuman liciknya Kia menerima panggilan telepon itu.
"Bagaimana? Kalian sudah melakukan apa yang aku perintahkan?" Tanya Kia melalu telepon selulernya.
"Semuanya beres sesuai permintaanmu!" Sahut seorang pria.
"Baiklah! Aku akan segera mentransfer sisa bayaranmu." Kata Kia seraya memutuskan sambungan teleponnya.
Kia menatap ke depan cermin dan tersenyum lebar.
"Setelah ini, tamatlah riwayatmu, Ila! Hahaha." Ucap Kia tertawa sangat senang.
Diam-diam Sari menguping dari balik pintu kamar Kia. Yurika yang hendak masuk ke dalam kamar, memergoki pelayan barunya itu.
"Sedang apa kau di sana?" Tanya Yurika pada Sari penuh curiga.
"Eeemm, aku..aku akan memanggil nona Kia untuk segera makan malam, nyonya." Jawab Sari gugup.
__ADS_1
Yurika melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini masih jam 6 sore dan Kia tidak pernah makan malam di jam ini." Kata Yurika.
"Maaf nyonya, saya masih baru jadi saya tidak tau." Sahut Sari.
"Ya sudah, pergilah sana! Lakukan pekerjaanmu." Perintah Yurika pada Sari.
Sari cepat-cepat turun dan menuju ke ruang dapur untuk bergabung dengan pelayan lainnya. Yurika menoleh ke arah pintu kamar Kia sejenak.
"Anak itu bahkan tidak menyesali perbuatannya." Gumam Yurika sangat kecewa dengan sikap Kia yang tidak meminta maaf dan menyadari kesalahannya.
Yurika masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat setelah seharian di luar rumah dengan kesibukan bersama teman-teman sosialitanya.
***
Ila dan Galuh masih berada di istanbul. Mereka menghabiskan waktu bersama di sana. Banyak moment indah yang di rasakan Ila saat bersama dengan Galuh. Ruang memori pada ponsel Galuh penuh dengan foto-foto Ila yang sangat bahagia bermain salju dan mendatangi tempat-tempat wisata disana selama musim dingin.
Malam itu adalah malam terakhir untuk Ila dan Galuh di negara Turki. Mereka baru saja tiba di hotel setelah puas jalan-jalan.
"Hah, sangat lelah!" Ucap Ila menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Pergilah mandi agar tubuhmu kembali segar." Sahut Galuh.
"Iya, baiklah!" Ucap Ila bangun dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Galuh menarik tangan Ila dan menatapnya dengan tatapan mesum.
"Ila, di dalam sana ada sebuah bathtup yang sangat besar dan luas. Apa kau tidak ingin mengajakku berendam bersamamu?" Bisik Galuh yang menimbulkan semburat-semburat merah di pipi Ila.
"Huh, jika kau ikut denganku, bukannya berendam tapi kau akan melahapku di sana!" Ujar Ila sewot.
"Hehehe, Apa kau tidak mau?" Tanya Galuh lagi seraya mengelus wajah Ila.
Ila diam saja dan semakin malu saat Galuh bertanya padanya. Mata Galuh berbinar-binar melihat wajah Ila yang sedang memerah karena malu.
"Imut banget sih ya lord!" Ucap Galuh dalam hatinya.
Tidak ada jawaban apapun dari Ila, Galuh langsung saja menyeret Ila masuk ke dalam kamar mandi bersamannya. Di dalam sana, Galuh tanpa rasa malu lagi melucuti pakaiannya satu persatu. Ila masih malu-malu untuk membuka pakaiannya di hadapan Galuh.
"Kenapa belum membuka pakaianmu? Apa kau ingin aku yang melepaskannya? Hehehe." Tanya Galuh berjalan mendekati Ila.
"Ti,,tidak usah! Aku saja yang melepaskan pakaianku." Sahut Ila.
"Baiklah, imutku yang cantik." Sahut Galuh melangkah menghampiri bathtup dan membuka keran air panas.
Setelah air pada bathtup itu penuh, Galuh masuk dan menarik Ila untuk duduk di atas tubuhnya. Wajah Ila sangat memerah saat berhadapan muka dengan Galuh dalam posisi tubuh telanjang bulat. Galuh tersenyum saat menatap wajah Ila yang memerah malu.
"Kenapa kau masih saja malu? Kita sudah sering melakukan ini!" Ucap Galuh masih terus menatap Ila.
"Hahaha, kalau tidak di paksa kau pasti tidak akan mau, kan?" Kata Galuh sambil tertawa.
"Huh, dasar menyebalkan!" Ujar Ila dengan wajah sewotnya sambil menatap Galuh.
Ila bergerser dan duduk membelakangi Galuh. Galuh kembali mendekapnya dari belakang.
"Ila, apa kau tau? Mama dan papa ingin segera punya cucu." Kata Galuh.
Deg..deg..
Jantung Ila berdetak kencang.
"Be..benarkah?" Tanya Ila dengan nada gugup.
"Iya! Sebenarnya aku juga menginginkan hal yang sama dengan mereka. Aku ingin segera memberikan cucu untuk mama dan papa."Sahut Galuh.
"Eeemm, tapi aku masih sekolah." Kata Ila.
"Tidak usah sekolah lagi!" Sahut Galuh asal bicara.
"Seenakmu saja kalau bicara!" Balas Ila kesal pada Galuh.
"Pokoknya aku mau kau segera hamil!" Ujar Galuh mengeluarkan sifat aslinya.
"Bagaimana mungkin aku hamil? Aku masih SMA! Masa iya seorang siswi pelajar hamil." Ujar Ila.
Galuh berdecak kesal dan memijat kepalanya yang terasa puyeng karena Ila menolak keinginannya.
"Kapan kau lulus sekolah?" Tanya Galuh.
"Paling lama 3 bulan lagi." Sahut Ila.
"Ya sudahlah, 3 bulan juga tidak terlalu lama." Ucap Galuh.
"Kalau begitu kau jangan mengeluarkannya di dalam, aku takut hamil." Gumam Ila.
"Aku tidak mau!" Sahut Galuh.
"Jika kau mengeluarkannya di dalam terus, kapan saja aku bisa hamil, kak." Ucap Ila.
Galuh mengambil ponsel di samping bathtup dan menghubungi Roni.
"Ada apa sepupuku sayang? Apa kau merindukan aku, hah? Hehehe." Ucap Roni menerima panggilan telepon dari Galuh.
"Hei, dokter cabul! Bagaimana cara aku bisa mengeluarkannya di dalam tanpa harus membuat Ila hamil?" Tanya Galuh.
"Huh, dasar pria yang hanya memikirkan kepuasan saja kau!" Teriak Roni kesal.
"Aku bertanya padamu, dokter cabul! Kenapa kau marah?" Teriak Galuh ikut kesal.
__ADS_1
"Hah, bawa Ila ke tempat praktekku setelah kau kembali dari bulan madu. Aku akan menyuntikkan obat KB untuknya." Sahut Roni menghela nafas menanggapi sikap sepupunya yang selalu ingin memaksakan kehendaknya.
Tanpa menjawab lagi, Galuh langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Roni. Roni yang sedang berjaga di rumah sakit, langsung kesal dan berteriak pada ponselnya. Semua orang yang ada di rumah sakit terkejut melihat aksi Roni. Semua orang berbisik-bisik sambil melirik kearah Roni.
"Dasar sepupu gila! Gara-gara sikapnya itu, aku menjadi bahan omongan orang-orang di sini. Huhuhuhuhu.." Ucap Roni nangis bombai.
Ila dan Galuh pun tiba di tanah air setelah perjalanan panjang dari bulan madu mereka. Galuh dan Ila terlihat masih kelelahan maka dari itu mereka berniat untuk menginap di rumah orang tuanya begitu mereka tiba. Hana dan Antoni menyambut dengan senang kepulangan mereka di rumah.
Hana dan Antoni saling pandang dan mengukir senyuman di bibir mereka saat melihat Galuh dan Ila pulang dengan tubuh yang sangat lelah.
"Sebentar lagi kita akan punya cucu." Bisik Antoni pada Hana.
"Iya! Aku jadi tidak sabar ingin menggendong cucu-cucu kita nanti. Hehehe." Sahut Hana.
Keesokan paginya Roni pulang dengan kantung mata yang sedikit menghitam. Roni duduk sarapan pagi bersama Hana, Antoni, Galuh dan juga Ila. Galuh menatap wajah Roni yang sangat lelah sepulang dari rumah sakit.
Setelah selesai sarapan, Galuh menarik Roni untuk ikut masuk ke dalam kamarnya. Di sana juga ada Ila yang sedang duduk di sofa. Ila bingung melihat Galuh dan Roni saling tarik menarik.
"Ada apa?" Tanya Ila pada Galuh.
"Ila, kau tidak ingin hamil sekarang kan?" Tanya Galuh.
Ila mengangguk sambil kebingungan. Galuh menarik tubuh Roni untuk masuk kedalam kamarnya. Setelah Roni masuk, Galuh celingak-celinguk sejenak lalu menutup pintu kamarnya.
"Cepat lakukan!" Kata Galuh pada Roni.
"Iya!" Sahut Roni merogoh tasnya.
Ila masih kebingungan dengan dua pria yang berdiri di hadapannya. Roni mengeluarkan jarum suntik yang sudah terisi dengan cairan.
"Ila, sekarang bukalah pakaianmu sedikit." Perintah Roni pada Ila.
Ila dan Galuh kaget dengan ucapan Roni.
"Tunggu! Dimana kau akan menyuntikkanya?" Tanya Galuh pada Roni.
"Di paha atau mungkin di perut." Sahut Roni.
Pikiran Galuh kacau saat mendengar jawaban Roni. Galuh tidak ingin bagian tubuh Ila dilihat oleh pria manapun selain dirinya.
"Adakah cara yang lain?" Tanya Galuh.
"Ada! Tunggu sebentar aku akan mengambil alatnya." Sahut Roni.
Roni pun merogoh tasnya lagi dan mengambil sebuah alat KB yang berbentuk spiral.
"Ila, ayo buka celanamu!" Kata Roni yang membuat Ila dan Galuh semakin kaget.
"Hei, apa yang ingin kau lakukan pada istriku, hah?" Teriak Galuh kesal.
"Pasang alat ini." Jawab Roni.
"Dimana kau akan memasangkannya?" Tanya Galuh.
"Disitu!" Sahut Roni melirik bagian tubuh Ila.
"Dasar dokter cabul kau!" Teriak Galuh seraya menendang sepupunya itu.
Roni terduduk tidak berdaya di lantai sambil berurai air mata buayanya, sementara Galuh masih berdengus kesal.
"Dasar idiot! Itulah mengapa kau tidak lulus pelajaran IPA saat di SMA." Ujar Roni pada Galuh.
"Jika kau melakukan hal itu, berarti kau bisa melihatnya?" Teriak Galuh lagi.
"Memang itu pekerjaanku, tolol!" Sahut si dokter kandungan kesal.
"Lakukan cara yang lain!" Perintah Galuh.
"Kau saja yang melakukannya, aku muak meladeni keinginanmu itu." Sahut Roni.
"Kau itu dokternya, bagaimana mungkin aku yang melakukan hal itu?" Teriak Galuh lagi.
"Maka dari itu diamlah kau setan! Oh, ya ampun, aku hampir saja ingin membunuh sepupuku yang bodoh ini." Teriak Roni.
Roni kembali mendekati Ila yang masih bengong melihat pertengkaran antara dua pria yang sama konyolnya. Roni menyuruh Ila duduk dan menyingkapkan lengan bajunya ke atas. Lalu Roni menyuntikkan KB pada tubuh Ila. Galuh melihat Ila yang memejamkan matanya saat di suntik oleh Roni.
"Sudah selesai!" Seru Roni ceria pada Ila.
Galuh mendekati Ila dan menatap matanya.
"Apakah itu menyakitkan dirimu?" Tanya Galuh khawatir pada Ila.
"Tidak sama sekali!" Sahut Ila.
"Dasar bucin! Hanya karena di suntik khawatirnya tingkat dewa." Ujar Roni mengejek Galuh.
Galuh kesal dan menyeret Roni untuk keluar dari kamarnya. Roni jatuh terduduk di lantai saat Galuh melemparkan dirinya begitu saja.
"Dasar tidak tau berterima kasih kau!" Teriak Roni kesal pada Galuh.
Roni bangkit dan melangkah dengan berat menuju ke kamarnya.
"Setelah aku mendapatkan apartemen yang bagus aku akan keluar dari neraka ini." Gumam Roni yang sudah tidak tahan ingin beristirahat karena lelah menjadi dokter jaga di rumah sakit semalaman.
__ADS_1
Baca juga "CINTA SI BURUK RUPA" ya guys.