GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
DASAR KONYOL!


__ADS_3

Didi pun menyiapkan semua kejutan yang akan diberikan kepada Kania yang sedang duduk dan fokus di salah satu ruang yang ada di kantor polisi itu. Sedangkan Hamka sudah bersiap-siap membawa seribu mawar dan juga sebuah cincin berlian yang indah yang ia pilih secara dadakan di toko perhiasan.


Kania yang sedang membaca berkas-berkas kasus yang ia tangani, kaget saat melihat beberapa balon yang terbang melintas di depan dinding kaca ruangannya. Dengan rasa penasaran Kania pun mendekati dinding kaca itu dan melihat keluar.


"Eh, bussseett!" Ucap Kania kaget.


"Itu kan si pria konyol!" Ucap Kania melihat Hamka yang melambaikan tangannya dengan sebuket bunga mawar merah.


Lalu mata Kania melirik pada balon-balon yang beterbangan sambil terikat pada sebuah spanduk besar yang bertuliskan "KANIA, POLWAN JUTEK KU! MENIKAHLAH DENGAN PANGERANMU INI, SAYANG!". Kania seakan ingin menembak kepala Hamka dengan senjata api miliknya. Ia begitu kesal saat melihat tulisan pada spanduk yang besar itu. Di tambah lagi, semua polisi yang ada di kantor polisi itu bersorak-sorai dan bertepuk tangan mendukung apa yang diperbuat oleh Hamka.


"Dasar konyol! Ingin ku tembak otaknya yang somplak itu!" Ujar Kania geram.


Kania pun keluar dari ruangannya dan menghampiri Hamka yang sedang menunggunya di halaman kantor polisi. Kania begitu gugup ketika semua polisi bersorak-sorai dan bertepuk tangan untuknya.


"Wah, letnan mau menikah!" Seru salah seorang polisi.


"Wah! Siapa sangka letnan Kania yang begitu dingin akan segera menikah dengan pria setampan itu!" Seru seorang polwan yang menyukai ketampanan wajah Hamka.


"Bubar semuanya!" Teriak Kania pada polisi yang berkerumunan di halaman kantor polisi.


Takut pada kemurkaan Kania, semua polisi di halaman itu bubar. Kini hanya ada Kania dan Hamka di halaman itu. Kania pun mendekati Hamka disana.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau mau membuatku malu lagi? Apa kau tidak puas semalam setelah kau menghinaku?" Tanya Kania ketus pada Hamka.


"Kania! Aku tau aku salah karena telah menghinamu!" Sahut Hamka dengan raut wajah yang menyesal.


"Kau bukan hanya menghinaku, tapi juga ayahku!" Kata Kania lagi.


"Iya, kau benar! Aku minta maaf." Ucap Hamka.


"Kania! Aku ingin melamarmu! Apa kau mau menikah denganku?" Tanya Hamka seraya menyerahkan sebuket mawar merah itu pada Kania.


"Te ri ma! Te ri ma! Te ri ma!" Seru polisi yang kembali berkerumunan di belakang Kania.


"Bubar!" Teriak Kania lagi yang membuat semua polisi dan polwan di kantor polisi itu bubar kocar-kacir.


Kania kembali menatap Hamka yang masih mengharapkan jawaban darinya.


"Aku tidak mau!" Ucap Kania ketus.


"Kania! Aku sungguh-sungguh." Kata Hamka lagi.


"Pergilah! Kau hanya membuang waktumu saja." Sahut Kania berbalik dan meninggalkan Hamka di halaman itu seorang diri.


Hamka terdiam sejenak dan menatap punggung Kania yang terus berjalan masuk ke dalam kantor polisi itu.


"Kania! Aku tidak akan menyerah! Cepat atau lambat aku pasti akan menikahimu!" Teriak Hamka.


Kania mendengar teriakan Hamka saat itu, namun ia terus saja berjalan tanpa mau menoleh kepada Hamka lagi. Kania kembali masuk ke dalam ruang kerjanya, dan duduk sambil memijat kepalanya yang terasa pusing karena ulah Hamka. Kania mengingat awal pertama ia bertemu dengan Hamka. Begitu banyak kekonyolan yang Hamka tunjukkan kepadanya. Tanpa disadari, Kania menarik garis senyumannya sedikit.


"Dasar pria gila!" Gumam Kania mengingat Hamka.


"Eh, kenapa aku malah senyum-senyum begini sih?" Gumam Kania lagi kebingungan dengan perasaannya terhadap Hamka.


*****


Galuh sedang duduk santai di balkon kamarnya sambil menggendong Gilang yang baru saja selesai mandi. Ila pun menghampiri Galuh dengan membawa sebotol susu untuk Gilang. Ketika itu, Ila tanpa sengaja melihat mobil Hamka masuk ke halaman rumah.


"Eh, bukannya itu mobil kak Hamka?" Kata Ila pada Galuh.


"Iya! Mau apa dia kesini?" Sahut Galuh.


Galuh yang masih menggendong Gilang pun turun ke lantai bawah dan menemui Hamka yang tampak kesal.


"Hei, Hamka!" Panggil Galuh.


"Galuh! Aku di tolak!" Teriak Hamka frustasi.


"Sudah ketebak!" Gumam Galuh.


"Di tolak apanya?" Tanya Ila


"Di tolak wanita lah, siapa lagi?" Sahut Galuh.


"Eh, bukannya kak Hamka tampan dan kaya? Kenapa di tolak wanita?" Tanya Ila bingung.


"Wanita yang dikejarnya itu bukan wanita matre seperti wanita yang biasa ia pacari!" Sahut Galuh.


"Lalu, siapa wanita itu?" Tanya Ila.

__ADS_1


"Apa kau masih ingat dengan polwan yang menangani kasus Ana waktu itu?" Tanya Galuh.


"Iya! Kak Kania kan?" Sahut Ila.


"Eh, kau mengenalnya?" Tanya Galuh kaget.


"Kenal! Kan dia putri dari temannya mama Yurika!" Sahut Ila.


"Di pesta pertunangan Kia dan kak Syakir semalam kan dia datang juga." Sambung Ila.


"Ila, apa kau kenal dekat dengannya?" Tanya Hamka.


"Tidak terlalu sih! Kenapa? Apa dia wanita yang sedang kakak kejar?" Tanya Ila.


"Iya!" Sahut Hamka.


"Urungkan saja niat kakak itu!" Kata Ila.


"Eh, kenapa?" Tanya Hamka.


"Kak Kania itu dulunya memiliki kekasih, bahkan mereka akan menikah! Tapi saat dua hari lagi akan menikah, kekasihnya meninggal." Sahut Ila.


"Kenapa?" Tanya Galuh.


"Mati di tembak oleh perampok Bank!" Sahutnya.


"Kekasihnya itu polisi juga?" Tanya Hamka.


"Iya!" Sahut Ila.


"Dari cerita yang aku dengar sih, katanya karena itulah kak Kania tak pernah mau memikirkan pria lain lagi apalagi memikirkan pernikahan. Sepertinya dia trauma karena sedih, deh!" Sambung Ila lagi.


"Oh, begitu!" Seru Galuh dan Hamka.


Hamka mondar-mandir sedang berpikir mengenai Kania.


"Hei, kau sedang apa? Nanti putraku pusing melihatmu mondar-mandir terus!" Kata Galuh pada Hamka.


"Apaan sih! Si Gilang lagi merem." Sahut Hamka melirik bayi mungil itu.


"Ulu...ulu...ulu..., Gilang gemas banget sih!" Ucap Hamka mencubit pipi Gilang.


"Jangan cubit pipinya!" Teriak Ila dan Galuh sewot pada Hamka.


Hamka kembali mondar-mandir memikirkan cara untuk mendapatkan Kania. Tak lama ia pun bergegas pergi dari rumah Galuh.


"Kau mau kemana?" Tanya Galuh.


"Ke rumah orang tuaku!" Sahutnya.


"Mau apa kau kesana? Bukannya kau sedang ngambek dengan orangtuamu makanya kau tinggal di apartemen sendirian?" Tanya Galuh lagi.


"Aku ingin bernegosiasi dengan mereka!" Sahut Hamka lagi yang terus berjalan keluar rumah.


Hamka pun bergegas pergi ke rumah orangtuanya. Tiba disana ia disambut oleh ibunya yang melemparkan sisir padanya. Sisir itu tepat mengenai jidat Hamka.


"Aduh!" Teriak Hamka.


"Untuk apa kau pulang, hah? Pergi sana!" Teriak ibunya.


"Ibu, aku ingin menikah!" Sahut Hamka yang membuat emosi sang ibu mereda seketika.


"Apa? Kau ingin menikah?" Kata ibunya kaget.


"Siapa yang akan menikah?" Tanya ayah Hamka yang berlari menghampiri Hamka.


"Aku!" Sahut Hamka.


"Benarkah? Sama siapa? Cepat katakan!" Seru kedua orangtuanya.


"Yang pasti dia itu manusia dan berjenis kelamin perempuan!" Sahut Hamka yang mengundang emosi kedua orangtuanya lagi.


Ppplleeettaakk.....


Ppplleeettaakk.....


"Aduh! Selalu saja di ketok!" Gumam Hamka sambil mengelus kepalanya yang benjol.


Hamka dan kedua orangtuanya duduk bersama di ruang keluarga. Kedua orangtuanya tak sabar mendengar siapa wanita yang akan menjadi menantunya itu.

__ADS_1


"Katakan! Siapa wanita yang akan kau nikahi?" Tanya ibunya.


"Kania! Putri dari tuan Fatah!" Sahut Hamka.


"Yang polisi itu?" Tanya ayahnya.


"Iya! Ayah kenal?" Sahut Hamka.


"Enggak sih! Cuma tau saja kalau tuan Fatah memiliki seorang putri yang bekerja sebagai polisi." Sahut ayahnya.


"Hah! Kirain kenal." Gumam Hamka.


"Kelihatannya kau sedikit frustasi!" Kata ibu.


"Bukan sedikit, tapi aku sungguh-sungguh frustasi." Sahut Hamka.


"Kenapa?" Tanya ayah.


"Dia menolak lamaranku!" Sahut Hamka lemas.


"Hah! Sudah kuduga!" Ucap ibu yang mengerti segalanya mengenai raut wajah putra sulungnya itu.


"Kakak!" Seru Febi pada Hamka.


Febi berlari menghampiri kakak sulungnya itu


"Kak! Apa kau kembali karena uangmu habis?" Tanya Febi pada Hamka.


"Aku mau menikah, dodol!" Sahut Hamka.


"Hah? Apa? Menikah? Sama siapa? Apa kau akan menikah dengan wanita matre yang biasa mengejarmu itu?" Tanya Febi.


"Sama polwan cantik!" Sahut Hamka.


"Aku tak percaya!" Ucap Febi.


"Mana mungkin ada polwan yang mau menikah dengan pria konyol sepertimu!" Sambung Febi lagi.


"Kau somplak!" Ujar Hamka ketus.


"Kau manusia lebay!" Balas Febi.


"Kau gadis songong!" Balas Hamka lagi.


Plleettaaaakkk......


Plleettaaaakkk......


Sang ibu menghajar kedua anaknya yang saling menghujat.


"Ibu, ayah! Bantu aku mendapatkan Kania!" Rengek Hamka.


"Tidak bisa!" Sahut ayah.


"Kenapa tidak bisa sih? Ayah kan berteman lama dengan tuan Fatah." Kata Hamka.


"Eh, apa kakak mengejar Kania yang polwan terkenal dingin itu?" Tanya Febi yang ternyata mengenal Kania juga.


"Iya! Kau kenal?" Sahut Hamka.


"Tau sih, tapi tidak kenal dekat! Secara dia kan dingin banget orangnya." Kata Febi.


"Ayah! Ayolah, nikahkan aku dengan Kania." Rengek Hamka lagi.


"Kania sudah menolakmu, jadi untuk apa ayah melamarnya lagi?" Sahut ayah.


"Ayah, kenapa ayah tidak bicara dulu pada tuan Fatah? Bukannya tuan Fatah pernah memiliki hutang Budi kepada ayah?" Kata Febi.


"Oh iya ya! Hehehehe, putri bungsuku memang pintar!" Sahut ayah.


"Baiklah! Aku dan ibumu akan datang menemui tuan Fatah untuk melamar putrinya." Kata ayah.


"Ayah, jangan lupa! Kalau Kania tidak mau, paksa saja." Kata Hamka.


"Iya kau tenang saja! Urusan paksa memaksa, aku jagonya! Hahahaha." Sahut ayah tertawa jahat.


"Hah! Ternyata otak somplak kita diturunkan oleh ayah ya!" Ucap Febi.


"Iya, kau benar! Kali ini aku setuju denganmu!" Sahut Hamka.

__ADS_1


 


 


__ADS_2