GADIS KESAYANGAN CEO

GADIS KESAYANGAN CEO
BERTEMU ILA


__ADS_3

Keesokan paginya Galuh mengantar Ila kerumah Yurika sebelum ia berangkat ke kantornya. Ila terlihat sangat gugup saat tiba di halaman depan rumah Yurika. Galuh menggenggam tangan Ila untuk menenangkannya.


"Hei, imut! Tenanglah." Kata Galuh pada Ila.


"Aku takut jika mamaku menolak untuk bertemu denganku nanti." Kata Ila gugup.


"Yakinlah kalau mama Yurika akan menerima kedatanganmu." Ucap Galuh.


"Ya sudah, pergilah turun dan masuk ke dalam rumah. Aku akan pergi ke kantor. Setelah pulang dari kantor, aku akan menjemputmu." Kata Galuh seraya mengelus wajah Ila.


"Iya, hati-hati di jalan ya!" Ucap Ila.


Ila turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada Galuh yang akan pergi bekerja di kantornya. Ila melangkah masuk ke dalam rumah dan disambut meriah oleh para pelayan yang sangat merindukan dirinya. Ila sangat senang saat bertemu dengan para pelayan yang menyayanginya sedari kecil. Ia juga merasakan rindu kepada mereka semua.


Sari yang sangat penasaran dengan sosok Ila tak mau ketinggalan untuk bergabung dengan pelayan lainnya menyambut kedatangan Ila. Ia melihat sosok Ila yang sangat ramah dan murah senyum kepada semua pelayan disana. Ila melirik Sari yang berdiri tidak jauh darinya.


"Siapa kau? Apa kau pekerja baru dirumah ini?" Tanya Ila sambil tersenyum ramah pada Sari.


Sari tertegun melihat Ila tersenyum tulus padanya.


"Wah, dia memang sangat berbanding terbalik dengan nona Kia yang sombong itu!" Seru Sari dalam hatinya.


Ila masih menunggu jawaban dari pertanyaannya kepada Sari.


"Aku pelayan baru, nona! Namaku Sari." Jawab Sari sopan.


"Hai, aku Ila." Kata Ila sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Sari.


Sari semakin takjub dengan sikap Ila yang sangat baik dan ramah kepadanya. Sari menyambut tangan Ila dengan tatapan takjubnya.


"Apakah mamaku ada di rumah?" Tanya Ila pada kepala pelayan.


"Ada, nona! Nyonya Yurika ada di kamarnya." Sahutnya.


"Baiklah, aku akan bertemu dengan mamaku dulu, setelah itu aku akan ngobrol dengan kalian lagi." Kata Ila melangkah naik ke lantai atas menuju ke kamar Yurika.


Ila masih berdiri dengan perasaan yang sangat gugup saat itu. Ia mengetuk pintu kamar Yurika dengan perlahan.


"Siapa?" Tanya Yurika dari dalam kamarnya.


Ila diam saja dan kembali mengetuk pintu kamar itu lagi.


"Masuklah!" Kata Yurika.


Ila pun membuka pintu itu dan melangkah masuk ke dalam kamar Yurika. Yurika sangat terkejut saat melihat Ila masuk ke dalam kamarnya.


"Ila!" Ucap Yurika berlinang air mata.


"Mama." Ucap Ila.


Deg....


Jantung Ila berdetak kencang saat Ila memanggilnya dengan sebutan mama.


Yurika bangkit dari tempat duduknya dan melangkah cepat kearah Ila yang masih berdiri di depan pintu. Yurika berhenti di depan Ila dan mengelus wajah Ila dengan tangan yang bergetar hebat.


"Mama!" Ucap Ila lagi.


"Ila!" Ucap Yurika memeluk Ila dengan erat.


Ibu dan anak itu saling berpelukan dan menangis haru disana. Mereka saling menumpahkan rasa rindu mereka selama ini. Ila membawa Yurika kembali duduk di sebuah sofa yang ada di kamar itu. Ila duduk di samping Yurika dan kembali memeluknya.


"Maafkan aku!" Ucap Yurika sambil menangis.


"Ma, mama tidak perlu meminta maaf padaku! Aku sudah tau semuanya. Aku tau selama ini mama menderita sendirian." Kata Ila.


"Mama menderita karena kejadian yang kelam itu dan mama juga sangat menderita karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untukku! Aku tau semuanya, ma. Mulai sekarang, aku akan berada di sisi mama apapun yang terjadi. Aku akan berusaha untuk menghilangkan trauma itu dari mama." Kata Ila lagi.


"Tapi aku tak bisa! Trauma itu selalu saja menghantui aku." Kata Yurika.


"Aku akan mencari psikiater yang terbaik untuk mengobati trauma mama." Kata Ila.


Ila dan Yurika kembali berpelukan sambil menangis haru. Tak lama kemudian secara tiba-tiba Yurika mendorong tubuh Ila hingga Ila tersungkur di lantai. Yurika merunduk sambil menutup wajahnya.


"Pergi!" Teriak Yurika sambil gemetar ketakutan.


Ila cepat-cepat mendekati Yurika lagi dan mencoba untuk menenangkannya.


"Ma, tepislah ingatan yang kelam itu!" Kata Ila sambil memeluk Yurika.

__ADS_1


Tubuh Yurika meronta-ronta namun Ila terus saja memeluknya. Tubuh Yurika bergetar hebat seakan ia sedang merasakan ketakutan yang laut biasa.


"Ma, ini aku. Anak mama!" Ucap Ila membuat Yurika berhenti meronta.


"Ila." Ucap Yurika kembali tenang.


"Ma, cobalah untuk tenang dan berusahalah menepis ingatan yang kelam itu. Aku yakin mama pasti akan bisa sembuh dari trauma itu." Kata Ila.


Yurika kembali menangis dalam pelukan Ila. Ila terus berusaha agar Yurika merasa nyaman dan tenang saat berada di dekatnya. Saat Yurika kembali tenang, Ila memberikan secangkir air minum kepada Yurika.  Ila membaringkan tubuh Yurika di atas ranjang agar ia bisa istirahat.


"Mama istirahat ya! Aku akan kembali lagi nanti saat jam makan siang." Kata Ila.


"Temani, mama." Pinta Yurika.


"Iya, baiklah." Sahut Ila.


Ila duduk di atas ranjang untuk menemani Yurika beristirahat. Setelah melihat Yurika terlelap,. Ila keluar dari kamar sembari menghembuskan nafas lega. Ila menuruni anak tangga dan tanpa sengaja ia melihat Sari yang bersembunyi di samping tembok.


"Kenapa dia berdiri disana? Sedang apa dia?" Gumam Ila dalam hatinya.


Ila merasakan ada hal yang aneh terhadap Sari. Ila pura-pura tidak mengetahui posisi Sari saat itu. Ila berjalan menuju dapur untuk berbaur dengan para pelayan disana. Para pelayan sangat senang saat Ila berbincang-bincang dengan mereka sambil menyiapkan makan siang. Saat Ila sedang memotong sayuran, kepala pelayan menghampirinya dan berbisik padanya.


"Nona, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Bisik kepala pelayan pada Ila.


"Apa itu?" Tanya Ila.


"Lebih baik kita ngomongnya jangan disini, nanti ada yang mendengarnya." Kata kepala pelayan.


"Baiklah! Kita bicara di kamarku saja." Kata Ila.


Ila memberikan pekerjaan yang sedang dikerjakannya  kepada pelayan lainnya. Ila dan kepala pelayan itu pergi masuk ke dalam kamar Ila. Ila mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.


"Ada apa?" Tanya Ila.


"Nona, kemarin aku tak sengaja melihat Sari sedang menguping pembicaraan nyonya Yurika dan nyonya Hana di ruang tengah. Aku rasa ada hal yang mencurigakan dengan sikap Sari." Kata kepala pelayan.


"Aku juga tidak sengaja melihatnya sedang bersembunyi di balik tembok dekat kamar mama! Aku yakin dia sedang menguping pembicaraanku dengan mama tadi." Kata Ila.


"Untuk apa dia melakukan hal itu, nona? Apa untungnya bagi dia?" Tanya kepala pelayan.


"Entahlah! Kita belum bisa memastikannya. Tapi menurutku, ada baiknya kita terus mengawasi gerak-gerik Sari dirumah ini. Aku takut dia akan membuat kekacauan dirumah ini nanti." Kata Ila.


"Aku tidak akan membiarkan kediaman nyonya Yurika menjadi tidak nyaman hanya karena perbuatan orang luar." Kata kepala pelayan itu lagi.


"Kau benar!" Sahut Ila.


Sari sedari tadi menguping dari luar pintu kamar Ila, namun ia kesusahan untuk mendengar pembicaraan Ila dan kepala pelayan karena mereka berbicara dengan berbisik pelan.


"Sial! Aku tidak bisa mendengar apapun dari tadi." Gumam Sari dalam hatinya.


Sari berlari menjauh dari kamar Ila saat tau pintu itu akan terbuka. Ila dan kepala pelayan itu sempat melihat Sari berlari menjauh. Mereka semakin yakin kalau Sari memiliki niat yang tidak baik dirumah itu. Ila kembali ke dapur dan membantu menyiapkan makan siang disana.


 


*****


Yurika keluar dari kamar saat ia merasakan lapar pada perutnya. Bagaimana ia tidak merasakan kelaparan, sejak tadi pagi ia belum makan apapun. Yurika menuju ruang makan dan melihat Ila sedang menyajikan makanan yang telah masak di atas meja.


"Mama, ingin makan siang?" Tanya Ila.


"Iya, aku sudah sangat lapar." Sahut Yurika.


"Duduklah disini, aku akan mengambil nasi untuk mama." Kata Ila.


Siang itu Ila dan Yurika makan bersama di meja makan. Salah seorang pelayan sampai menangis haru melihat Ila makan satu meja dengan Yurika. Mereka tau hubungan Yurika dan Ila tidak baik sebelumnya, namun dengan melihat pemandangan yang akrab itu, semua pelayan sangat bahagia.


Kia kembali dari sekolahnya dengan melintasi ruang makan saat akan menuju ke kamarnya. Ia melihat Yurika makan satu meja bersama Ila membuatnya terkejut. Perasaanya campur aduk saat itu. Ia sedih melihat Yurika yang tak perduli padanya lagi, dan ia juga merasa kesal karena ia merasa Ila telah merebut posisinya.


Kia berlari masuk ke dalam kamarnya sembari menangis. Sari melihat Kia yang sedang menangis, diam-diam ia pergi mengejar Kia saat itu. Sari berniat untuk menghasut Kia agar semakin membenci Ila dan juga Yurika.


"Nona, sudahlah jangan menangis lagi! Aku mengerti perasaanmu karena nona Ila telah merebut posisimu. Dia memang sangat jahat!." Kata Sari pada Kia.


Kia diam saja tak ingin menanggapi perkataan Sari padanya.


"Nona, aku ada info penting untukmu." Kata Sari.


"Apa itu?" Tanya Kia.


"Tadi aku dengar kalau nyonya Yurika sedang mengalami trauma. Sepertinya ada kejadian di masa lalu nyonya Yurika." Kata Sari.

__ADS_1


"Lalu apa lagi yang kau dengar?" Tanya Kia.


"Aku dengar katanya, Ila itu adalah anaknya nyonya Yurika." Kata Sari.


"Siapa yang mengatakan hal itu?" Tanya Kia kesal.


"Nona Ila sendiri yang bilang. Dia bilang sama nyonya Yurika kalau dia adalah anak kandung nyonya Yurika." Kata Sari.


"Dasar tidak tau malu! Berani sekali dia mengatakan hal itu pada mamaku! Jelas-jelas bahwa akulah anak kandung mama, bukan dia." Ujar Kia marah.


"Nona, jika nona adalah anak kandung nyonya Yurika, lantas nona Ila itu anak siapa?" Tanya Sari.


"Aku juga tidak tau pasti dia anak siapa? Mungkin saja dia anak yang di pungut oleh ayah Raldi." Kata Kia.


"Pergi cari informasi yang lebih akurat lagi! Aku akan memberikanmu uang yang banyak jika kau berhasil mendapatkan informasi yang lebih penting lagi." Kata Kia.


"Baiklah, nona!" Sahut Sari.


Sari keluar dari kamar Ila dan sangat terkejut saat Ila berdiri di hadapannya. Sari berdiri dengan kaki saat Ila menatapnya tajam.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Ila pada Sari.


"Nona Ila, aku hanya...aku hanya berniat untuk menawarkan makan siang untuk nona Kia. Dia baru saja kembali dari sekolahnya." Jawab Sari dusta.


Tak lama kemudian, Kia keluar dari kamar dan mendorong tubuh Ila dengan kuat. ila hampir jatuh namun ia bisa menahan dirinya agar tidak gontai.


"Mau apa kau, Ila? Apa kau tidak puas dengan apa yang kau rebut dariku, hah?" Teriak Kia marah pada Ila.


"Benarkah, aku yang menjadi perebut disini? Aku rasa kau salah besar, Kia!" Sahut Ila.


"Dasar anak haram!" Ujar Kia membuat Ila sakit hati.


Ppplllaaakkkk.....


Ila menampar wajah Kia dengan kuat. Sari tertegun dan kaget saat Ila menampar wajah Kia di hadapannya.


"Beraninya kau menamparku!" Teriak Kia kesal pada Ila.


Saat akan membalas tamparan Ila, tangan Kia yang hendak melayang ke wajah Ila, di tangkap oleh Yurika yang tiba-tiba muncul disana.


"Jangan pukul anakku!" Kata Yurika dingin kepada Kia.


"Mama." Ucap Kia terkejut mendengar perkataan Yurika.


"Ila, ayo kita masuk ke kamar saja." Ajak Yurika sembari menarik tangan Ila.


"Ma, aku ini anak kandung mama! Kenapa mama malah membela anak haram itu!" Teriak Kia.


"Hentikan ucapanmu itu, Kia! Jika kau terus mengatakan status Ila lagi, maka aku akan menendangmu keluar dari rumahku!" Teriak Yurika tersulut emosi.


Kia gemetar saat Yurika mengatakan akan mengusirnya dari rumah itu. Ia melangkah mundur dan seakan tidak bisa mengatur langkahnya. Kia terduduk di lantai dan menangis disana. Ia tak pernah menyangka jika akan mendapatkan perilaku yang tak baik dari wanita yang selama ini menyayanginya.


Yurika dan Ila masuk ke dalam kamar. Yurika duduk di tepi ranjang seraya menghela nafas dengan berat. Ila melihat raut wajah Yurika yang tampak sedih saat itu.


"Ma, mama tidak bersungguh-sungguh untuk mengusir Kia kan?" Tanya Ila.


"Ini adalah kesalahanku! Aku tidak bisa mendidiknya dengan benar. Dia memiliki sikap yang tidak baik terhadap orang lain." Kata Yurika.


"Ma, aku sangat ingin tau mengenai Kia. Tapi aku ragu ingin bertanya padamu." Kata Ila.


"Kia bukan anak kandungku!" Kata Yurika membuat Ila terkejut.


"Apa?" Ucap Ila terkejut.


"Kia dan kau adalah saudara sepupu! Kia adalah anak mendiang adikku bernama Nayun. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat saat Kia baru berusia beberapa bulan." Kata Yurika.


Yurika menceritakan semua mengenai orang tua kandung Kia yang sebenarnya. Yurika juga menunjukkan album foto dari orang tua Kia. Ila memperhatikan satu persatu foto yang ada di album itu. Yurika menceritakan kenang-kenangan saat dirinya masih bersama dengan Nayun di Jepang sebelum mereka menikah dan tinggal di Indonesia.


Yurika tak luput dari kesedihan itu dan meneteskan air matanya saat ia mengenang sosok adik perempuannya itu.


"Ma, kenapa mama tidak mengatakan yang sebenarnya pada Kia. Aku rasa Kia berhak tau siapa orang tuanya." Kata Ila.


"Aku takut ia tak bisa menerimanya!" Sahut Yurika.


"Tapi jika ia mendengar semua ini dari orang lain, itu akan lebih menyakitkan." Kata Ila lagi.


"Kau benar! Setelah semuanya tenang, aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Kia." Kata Yurika.


 

__ADS_1


 


__ADS_2